Al Maidah Effect

Juwandi Ahmad

 

SECARA historis, al-Maidah membicarakan tentang sekelompok umat yang sedang berseteru, bermusuhan, terlibat perang. Namanya juga sejarah, ada konteksnya (tempat, waktu, dan terutama hal-hal yang membentuk peristiwanya). Jadi, al-Maidah tidak membicarakan tentang kita yang tak tahu menahu dan tak terlibat dalam perseteruan itu. Hukum adalah satu hal. Dan perkara adalah hal lain. Artinya, kita bisa dikenai atau mengikuti hukum yang dibuat ratusan tahun yang lalu. Tapi kita tak dapat dikaitkan dalam suatu perkara permusuhan yang kita tak terlibat di dalamnya.

surah-al-maidah

Masuklah pengajaran agama, yang kebanyakan indoktrinasi. Apa akibatnya? Secara psikologis yang tertanaman-terekam dalam jiwa bukan kenyataan (sejarah) melainkan keyakinan (iman). Inilah yang susah. Ketika sejarah, kenyataan, fakta-fakta, direduksi menjadi perkara keimanan, maka di situ orang akan cenderung mengabaikan fakta, konteks, terjebak sejarah, tersandera kitab suci, tekstual, terpaku pada iman, dan melakukan generalisasi.

Maka mudah difahami mengapa hari ini (sekali lagi hari ini) banyak Muslim kukuh menolak menjadikan non Muslim sebagai pemimpin, orang terdekat atau kepercayaan. Sebaik, semulia, dan setinggi apapun kualitasnya kalau non Muslim wajib ditolak. Tampak tak masuk akal. Tapi itulah keyakinan akan ayat Allah yang difahami sebagai larangan. Bahwa orang-orang non Muslim di hari ini (sekali lagi hari ini), juga Muslim sendiri tak tahu menahu dan tak terlibat secuil pun dalam perseteruan 1400-an tahun silam, tak lagi jadi pemikiran. Orang lalu tergoda untuk bertanya, bisakah perseteruan orang-orang 1400-an tahun silam digunakan sebagai rujukan untuk menolak dan atau memusuhi orang-orang di hari ini yang tak tahu menahu, tak terlibat dalam peristiwa itu?

 

Menakar al-Maidah

Ayat-ayat keagamaan susah bila ditakar dengan rasio juga sains. Pun begitu, jika ayat-sudah bersinggungan dan mempengaruhi aspek psikologis, sosial, politik, dan budaya suatu masyarakat, maka ia bukan lagi melulu perkara iman, tapi sudah menjadi fenomena sosial. Menakarnya menjadi wajar dan masuk akal. Itulah mengapa, di antaranya ada yang namanya psikologi agama.

Secara teoritis, al-Maidah, mensyaratkan adanya kepastian-kemutlakan, yakni siapapun, di manapun, dan kapanpun yang namanya non Muslim itu pasti buruk, jahat dan tak bermutu. Hanya dengan begitu, al-Maidah menjadi logis, valid, tak terbantahkan. Bila itu tak terpenuhi, maka dengan sendirinya tak dapat jadi sandaran. Sebab, teori yang gagal menggambarkan, menjelaskan, dan atau bertentangan dengan kenyataan pada akhirnya akan ditolak. Adakah bukti empiris yang menunjukkan bahwa yang Muslim cenderung lebih baik dari yang Kristen, Hindu, Buddhist atau Atheist? Atau bahwa semua Muslim cenderung baik?

Ada yang menyanggah, “Ini tentang ayat, tentang keimanan. Anda hanya tinggal pilih saja mau patuh atau tidak.” Masuk akal. Namun, ada yang kemudian beragumen, “Sepenuhnya yakin dengan ayat itu boleh bahkan harus. Seringkali tak perlu juga pakai dasar, akal, logika, penalaran, bukti-bukti. Namun, ayat itu sendiri lebih pada perkara sosial, yang nyata, real yang bersinggungan langsung dengan eksistensi orang lain, yang dengan begitu mensyaratkan dasar logis, bukti empiris, ketimbang perkara ghaib yang tak terjangkau, yang dengan begitu cukup diterima dengan iman.”

Jadi, bila al-Maidah hendak dipakai untuk menilai orang-orang di hari ini, masih ada problem teoritis di dalamnya, yakni belum ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa yang Muslim cenderung lebih baik dari yang Kristen, Hindu, Buddhist atau pun Atheist. Atau bahwa semua Muslim bercenderungan baik.

 

Membenci Apa yang Allah Benci

Bila demikian lalu orang tergoda untuk bertanya: adakah kekeliruan konsepsi dalam al-Maidah? Atau lebih tepatnya, sebegitu tidak masuk akalkah al-Maidah dalam menjabar sesuatu yang terkait langsung dengan kehidupan dan hubungan antar manusia? Muslim punya jawaban. Quran keliru, pastilah tidak. Bila ada ayat yang terasa janggal dan atau tampak bertentangan dengan kenyataan itu pasti soal manusianya. Dan Muslim tetap berkeyakinan bahwa Quran pasti benar dan terbebas dari kekeliruan, bahkan kekeliruan setitik debu pun adalah suatu kemustahilan. Bila demikian, apakah harus percaya bahwa siapapun, dimanapun, dan kapanpun yang namanya non Muslim itu pasti buruk, jahat, dan tak bermutu?

Ada yang memberi penjelalasan. “Kau perlu tahu bahwa ini bukan tentang apakah non Muslim itu pasti buruk, jahat, tak bermutu ataukah tidak. Ini tentang orang-orang yang ingkar. Mereka, orang-orang non Muslim itu, yang tak beriman kepada Allah, tak berpegang pada Quran, dan tak mengikuti Rasulullah, sebaik, semulia, dan sehebat apapun kualitasnya, tetaplah golongan orang-orang yang mengingkari Allah. Tak pantas bagimu wahai Muslim menjadikannya pemimimpin, orang terdekat, kepercayaan. Pantaskah bagimu wahai Muslim menjadikan mereka yang ingkar kepada Allah itu orang penting dalam hidupmu? Bagaimana mungkin kau mendekatkan diri pada orang yang dengan terang-terangan menjauhi Allah, dan Allah pun menjauhi mereka?” Bahasa gampangnya, psikologisnya, menjadikan non Muslim sebagai pemimpin, orang terdekat atau kepercayaan itu sungguh menyakiti hati Allah. Artinya, mereka yang menjauhi dan ingkar kepada Allah adalah orang-orang yang juga harus dijauhi oleh Muslim. Hanya dengan begitu mereka dapat dikatakan bersama dengan Allah, tidak menyakiti-Nya. Membenci apa yang Allah benci, itu bagian dari ketaatan. Dan itu terdengar sangat logis.

Dan bila itu yang jadi ukuran, maka bahkan tanpa al-Maidah pun dan atau ayat-ayat sejenis, seorang Muslim, dalam banyak hal, dapat merasa perlu menolak siapapun yang tak seagama dengannya.

Sampai sedemikian jauh, akhirnya al-Maidah juga tentang momentum, yang difahami dalam dua corak ideologis. Pertama, momentun untuk menegaskan tentang teks keagamaan, sekaligus menegaskan Islam sebagai suatu ideologi politik. Seruannya, “Kita sedang memperjuangkan agama. Kedua, momentum untuk menegaskan tentang keindonesiaan-konstitusi, negara bangsa-nation state. Seruannya, “Kita sedang menegaskan keindonesiaan.” Karena bersifat ideologis, maka pilkada DKI bukan hanya soal warga Jakarta. Itu yang membuat pilkada serasa pilpres.

Apakah al-Maidah yang ditafsir secara politik berkonstribusi mengalahkan Ahok? Atau dengan kata lain apakah umat Islam akan berpegang pada penafsiran bahwa haram bagi Muslim memilih pemimpin kafir-non Muslim, seperti Ahok? Saya kira, al-Maidah 51 dan sejenisnya tidak akan mudah masuk dalam pikiran umat dimana ayat-ayat itu secara politik ditujukan untuk mereka. Mengapa? Sebab konsepsi umat Islam itu sendiri beragam dalam hal memilih pemimpin, teman dekat, atau orang kepercayaan. Dalam, hal ini, setidaknya, ada lima jenis Muslim.

Pertama, mereka yang berpikir rasional, realistis, praktis bahwa baik buruk, mampu dan tidak mampu bekerja, tak ada kaitannya dengan agama yang dianut oleh seseorang. Mereka ini adalah Muslim terdidik dan atau tidak terpapar fanatisme.

Kedua, mereka yang nasionalis yang lebih berpijak pada konsepsi kebangsaan-keindonesiaan dan bukan keagamaan.

Ketiga, mereka yang cenderung sekuler yang tak menghendaki agama terlalu ikut campur dalam urusan kenegaraan. Semakin sekuler semakin tinggi penolakannya atas ayat yang ditafsir secara politik, untuk kepentingan politik, dan juga fanatisme keagamaan.

Kempat, mereka yang punya penafsiran, pemahaman dan sudut pandang yang berbeda atas ayat-ayat yang dapat ditafsir secara sosial, politik, dan budaya. Misalnya, memahami ayat dari konteks sejarahnya dan atau konteks penerapannya. Inti pemikirannya, misalnya, al-Maidah ayat 51 tak ada kaitannya dengan soal memilih pemimpin di hari ini.

Kelima, Muslim yang lebih menekankan pada substansi beragama, berkehidupan, berbangsa, dan bernegara. Mereka ini adalah ulama, kyai-kyai yang tidak terlibat dalam politik praktis, tidak suka berfatwa yang menimbulkan kegaduhan sosial, politik, dan cenderung kritis terhadap gagasan yang berpotensi memecah belah.

Tentu saja bukan berarti kelima jenis Muslim itu akan cenderung memilih Ahok. Namun setidaknya, itu menggambarkan bahwa al-Maidah 51 dan sejenisnya tidak akan mudah masuk dalam pikiran umat dimana ayat-ayat itu secara politik ditujukan untuk mereka.

Dari kelima jenis Muslim itu Ahok paling diuntungkan dan dikuatkan oleh Muslim jenis keempat dan kelima. Mengapa? Dengan merujuk pada keduanya, Muslim yang sejak awal menaruh perhatian pada Ahok akan semakin yakin untuk memilihnya, sebab ia merasa tak bertentangan dengan al-Quran. Dan mereka yang sebenarnya menaruh perhatian pada Ahok, tapi ragu dan atau terhalang oleh fatwa yang melarang memilih non Muslim, menemukan tafsiran yang lain. Itu dapat menjadi dasar untuk akhirnya memilih Ahok.

Saya berharap tak ada yang tanya, “Kamu jenis Muslim yang mana?

 

 

10 Comments to "Al Maidah Effect"

  1. nnk  18 November, 2016 at 04:31

    Bravo dimas Juwandi. Sekarang, bagaimana mengupayakan artikel dimas agar bisa dibaca dan dimengerti oleh masyarakat dan penggerak Nov.04 yang lalu.
    Salam dari negeri yang mulai cepat gelap dan kadang ada lapisan es di kaca-kaca mobil yang diparkir di luar….Juga sangat ……Brrrrrrrrrrrrrr….

  2. Sena  6 November, 2016 at 18:23

    Smoga Buni Yani, MUI, dan sodara2 Muslim bisa ikut baca ini…bahwa klo Al-Maidah cuman diartikan secara keimanan, kita akan kesulitan dalam hidup…misal naik angkot, supirnya (pemimpin di angkot supirnya kan?) non-Muslim, brarti harus pindah cari angkot lain..kerja kantoran..bos nya non-Muslim..gak bisa jg..okelah..kita batasi aplikasinya cuman utk milih pemimpin daerah..brarti di Indonesia beda agama beda provinsi beda wilayah..smua Muslim di Jawa, Kristen di Sumatera, dst jd bisa milih pemimpin yg sesuai..apa bisa bgt?…
    …smoga bangsa kita smakin cerdas…

  3. Juwandi Ahmad  24 October, 2016 at 17:16

    Efa Fadillah: Oh bisa, silahkan hubungi via facebook (chat). Barangkali saya bisa berikan informasi yang relevan untuk penelitian anda. Thanks.

  4. Dewi Aichi  24 October, 2016 at 03:17

    Efa…aku sampaikan ke mas Juwandi barangkali belum baca komentar anda….

  5. Efa fadillah  21 October, 2016 at 21:15

    Selamat malam. Saya mahasiswa psikologi universitas ciputra yg sedang melakukan penelitian terkait waria
    Saya lihat anda telah melakukanpenelitian tentang waria di tempat pengajian waria al ikhlas surabaya
    Apakah saya bisa menghubungi anda untuk mendapatkan informasi tentang tempat pengajian tersebut

  6. James  21 October, 2016 at 10:33

    ci Lani, si James sih lebih cenderung ke prihal yang Damai dari pada Ribut semakin Butut

  7. Dj. 813  20 October, 2016 at 22:18

    Mas Juwandi . . .
    Matur Nuwun mas . . .
    Tulisan atau pencerahan yang sangat bagus .

    Maaaaf sedikit pendapat Dj
    Persoalan nya kan karena A Hok yang menyampaikan itu didepan masyarakat P. Seribu .
    Dan kalau Dj. simak kata-kata A Hok, dia sebenarnya malah menganjurkan ke Masyarakat disana .
    Agar tidak memilih dirinya, bila tidak sesuai dengan iman nya .
    Olehnya dia juga berkata, jangan memilih saya .
    Hanya ada embel-embelnya, jangan mau dibohongi ORANG yang menggunakan ayat . . . .
    Jadi menurut Dj. bukan masalah ayat itu sendiri, tapi A Hok ingin agar masyarakat di P. Seribu itu
    memilih dengan sendirinyaa, tanpa ada pengaruh dari luar .
    KKata kasarnya, mau milih saya silahkan, kalau mau memilih yang lain ya silahkan .
    Jjadi, disini . . . A Hok malah memberi kebebasan kepada masyarakat yang saat itu dihadapan nya. Atau yang dia ajak berbicara .
    Seandainya A Hok mempersoalkan itu ayat, Dj yakin masyarakat disana saat itu sudah pasti marah .
    Nah, kemarahan tersebut malah dari luar dan bukan dari masyarakat di P. Seribu .
    Karena telah melihat Video yang sudah dipotong-potong dan bukan aslinya .
    Jadi . . .
    Menurut Dj. hal ini memang disengaja untuk menjegal A Hok .
    Pada setiap kesempatan sekecil apapun, mereka akan membikin hal itu menjadi besar .
    Agar masyarakat yang taraf berpikirnya kurang intelegen, dengan mudah dipengaruhi .
    Kadang kasihan juga, karena mereka dibayar untuk ikutan demonstrasi, tanpa tahu apa masalahnya .

    Dilain pihak, A Hok harus berterimakasih kepada para lawan politik nya .
    Dimana, mereka telah membikin A Hok jadi semakin dikenal dan terkenal .
    Bukan hanya üersoalan apa yang telah dia lakukan saja ( pembangunan kota Jakarta Modern ) .
    Tapi melalui tekanan-tekanan tersebut, malah banyak menarik sympatisaan untuk A Hok .
    Bukan saja dari mereka yang seiman denga dia .
    Tapi banyak juga masyarakat muslim yang telah terbuka mata hati nya dan melihat kebenaran tersebut.
    Dengan demikian, banyak sekali yang mendukungnya .
    seperti Gubernur di Papua ( Jaya Pura ), Masyarakat püemuda NTT juga di seantero Indonesia ya bahkan diluar Indonesia, nama A Hok jadi sangat terkenall .
    Apalagi seandainya dia sampai mati Terbunuh oleh lawan nya .
    Dj tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi, demi seorang A Hok .
    Karena dia bersih , pekerja keras dan memiliki cita-cita yang suci untuk memajukan
    rakyat Indonesia . Terutama mereka yang walau 71 tahun merdeka , tapi belum bisia menikmati kemerdekaan tersebut .

    Sekali lagi, ini hanya pendapat Dj saja .

    Salam manis untuk keluarga dirumah .
    TUHAN MEMBERKATI . . . ! ! !

  8. Alvina VB  20 October, 2016 at 20:54

    Ikutan menyimak…
    Terima kasih buat pencerahannya mas Juwandi.

  9. J C  20 October, 2016 at 17:55

    Keren! Sangat membuka wawasan!

  10. Lani  20 October, 2016 at 13:59

    Kang Juwandi: maturnuwun pencerahannya……….

    Gimana nih James hal ini yg bikin ributttttttt………….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *