We (Do) Speak English in Paris

Hariatni Novitasari

 

Dari semua negara (kota) tujuan saya, Paris-lah yang paling membuat saya agak keder. Pertama, sudah kuat rumor beredar bahwa orang Prancis tidak mau ngomong Inggris. Maunya pakai bahasa mereka sendiri yang aduhai sulitnya dipelajari itu. Kalaupun kita ngomong bahasa Inggris, mereka akan menjawab dalam mereka, “I don’t speak English….” Tidak satu dua orang yang ngomong, banyak orang lah.. Termasuk dua orang mahasiswa Indonesia di Hamburg yang saya temui tidak sengaja di Praha. “Bikin emosi saja, Mbak….” Matenglah saya kalau tidak ada yang mau berbahasa Inggris. Antisipasi saya, bertanya sebanyak-banyaknya pada petugas hotel, dan berpegang teguh pada peta dan signs.

paris-1

Kedua, banyak copet (konon), terutama di metro. Ditambah lagi, rampok disana tidak segan mengambil barang dengan kekerasan. Banyak orang pesen, “Hati-hati, copet, Mbak….” Ada teman yang tinggal di Paris, kehilangan iPhone di metro sebanyak dua atau tiga kali. Ketiga, perkembangan Paris atau Prancis yang kurang aman akhir-akhir ini. Seperti kejadian di Charlie Hebdo, kemudian penembakan di musik rock itu, dan terakhir kejadian di Nice. Pokoknya deh, Paris bikin jiper di awal-awal. Apalagi disana sendirian saja.

Tiba-tiba, jiwa preman saya tiba-tiba jadi jiper keciiiilll banget….. Tetapi, berhubung semua tiket sudah siap semua, apa daya. The show must go on! Kalau tidak jadi ke Paris, banyak hal yang harus dilakukan. Seperti membatalkan tiket Air France dari Praha ke Paris (yang saya tidak yakin dapat refund karena kita beli dari promo), tiket Thalys dari Paris ke Brussels, dan IC dari Brussels ke Schiphol. Belum lagi saya harus susun ulang perjalanan dan budgeting lagi. Masih panjang lagi lah urusannya. Berhubung saya orangnya “males”, akhirnya ya sudah deh, begitu saja. The show must go on. Bismillah saja resepnya.

penanda stasiun untuk Paris metro

penanda stasiun untuk Paris metro

Akhirnya, mencoba beberapa teman yang tinggal di Paris. Dari mereka, saya mencoba menggali informasi tentang Paris dan meminta saran-saran dari mereka. Bahkan, saya sering dikasih manual-manual begitu kalau saya bingung sama teman-teman saya. Meskipun, pada akhirnya saya masih bisa ketemu dengan semua teman-teman saya di Paris.

Well, anyways, Paris sebenarnya tidak seperti yang takutkan sebelumnya. Misalnya saja, tentang Bahasa Inggris. Mungkin teman-teman yang memberikan informasi ke saya memang mengalami masalah itu. Saya lagi rejeki saja, orang-orang yang saya temui berbahasa Inggris.

Ini dimulai ketika naik RER B Line dari Charles de Gaulle airport ke Gare du Nord – lokasi dimana saya akan menginap. Duduk di dekat saya seorang bapak-bapak berumur 50-an tahun. Saya ingat, bapak-bapak itu satu pesawat dengan saya dari Prague. Saya cuma tanya ke bapak itu, “Gare du Nord?” Dia jawab, “Iya.” Saya tenang karena berada di kereta yang benar.

paris-3

Selama perjalanan di kereta itu, pandangan mata saya selalu terpaku dengan peta stasiun kereta. Saya mulai menghitung di stasiun ke berapa saya akan berhenti, mengingat pengumuman berhenti di stasiun mana disiarkan dalam Bahasa Prancis. Nah, melihat saya agak bingung dan too focused sama stasiun-stasiun kita berhenti, bapak-bapak itu mulai mengajak ngobrol dengan saya. PAKAI BAHASA INGGRIS!!! Hahahaha.

Walaupun si bapak itu Bahasa Inggris-nya terbatas, paling tidak dia mencoba mengajak ngomong saya dalam bahasa Inggris. Dia bercerita bagaimana cantiknya Praha, terus kemudian pengalaman dia traveling ke Philipina. Si bapak juga kemudian memberikan saya beberapa tips selama di Paris, termasuk tempat-tempat untuk didatangi. Eh, di kursi di dekat kami, juga ada ibu-ibu sama anak gadisnya. Dan, somehow, mereka juga ikut ngobrol. Dalam Bahasa Inggris juga lah.. hahahahaha. Nah, si bapak ternyata turun di stasiun yang sama dengan saya. Dia bilang, dia tinggal di sub-urban. Dan harus ganti bis di Gare du Nord.

Gare du Nord neighbourhood. Gare du Nord is the busiest train station in Paris

Gare du Nord neighbourhood. Gare du Nord is the busiest train station in Paris

Bantuan si bapak belum berakhir. Dia tanya saya tinggal di hotel apa. Saya tunjukkan hotel dan alamat dimana saya akan tinggal. Merasa dia tidak tahu dengan lokasi hotel itu, dia kemudian pergi ke salah satu store yang ada di stasiun dan bertanya kepada yang jualan di toko itu dimana Boulevard Magenta dan exit mana yang harus saya ambil. Si bapak-pun akhirnya mengantar saya sampai di exit. Pesannya, “Kalau kamu nanti bingung cari alamat ini, kamu tanya saja di cafe atau hotel saja.” Saya ucapkan terima kasih sama bapak-bapak itu.

Kejutan selanjutnya saya dapatkan dari resepsionis hotel. Eh, wajarlah kalau dia ramah ya. Sebagai orang di industri hospitality, sudah sewarjanya dia ramah. Waktu check in itu, biasalah saya beramah-tamah dengan si mas berbekal satu kata Prancis “Bonjour” plus saya tanya ini dan itu. Saya juga cerita sama si Mas kalau saya lagi cari-cari pasar tradisional di Paris. Si mas bilang, “Kalau kamu disini, jangan lupa makan keju… Kejunya enak sekali….” Kontan saya jawab, “Nah itulah.. mengapa saya mencari pasar tradisional. Saya ingin beli keju!!!” Si Mas ketawa, “Kebetulan, itu ada pasar di seberang hotel. Namanya Marce St. Quentin. Mungkin jam segini belum tutup!” Saya gembira sekali. Saya bilang ke Mas-nya boleh tidak saya nitip tas saya dulu karena saya mau ke pasar karena takut pasarnya keburu tutup. Tahu reaksi si Mas???? “Eh nanti kalau kamu beli keju, kamu boleh taruh kejumu di kulkas hotel ini… Keju kan ga tahan lama…” Hahhaha. Duh, si Mas ini baik banget tooohhhh….

Montmartre!

Montmartre!

Ketika saya sampai di pasar, sebagian besar pedagang sudah mulai tutup. Memang, pasar ini tutup jam 8 malam. Kebetulan, ketika saya sampai di pasar itu, waktu sudah menunjukkan hampir jam 8 malam. Untungnya, warung keju masih buka. Yang jualan bapak-bapak tua. Umurnya 70-an tahun begitu. Saya sapa dia dengan kalimat sakti “Bonjour…” Dia tersenyum dan menjawab dalam bahasa Prancis yang cepat… Hahahaha. Saya langsung geleng-geleng dan tersenyum. Dia paham saya tidak paham Prancis. Bisanya hanya bilang Bonjour saja. Dia kemudian tanya, “English?” Saya mengangguk. Si bapak kemudian mulai berbicara dengan bahasa Inggris dengan kosakata yang terbatas. Kami bicara tentang keju, dan it ended up saya beli goat cheese yang lumayan gedhe seharga kurang dari 2 euro.. Hahahaha.

the best crepes I’ve ever tasted!

the best crepes I’ve ever tasted!

Paris ternyata tidak seperti yang saya bayangkan di awal. It turned out to be a great experience indeed. Teman saya yang tinggal di Paris saya ceritakan pengalaman saya ini. Kata dia, “Ajaib, Mbak….” Menurut dia yang tinggal di Paris selama 7 tahun terakhir ini, yang diceritakan oleh teman-teman saya itu tidak salah. Orang Prancis memang malas atau tidak bisa bahasa Inggris, terutama generasi yang tua. Sedangkan yang muda, mereka jauh lebih terbuka. Dan, seringnya mereka mau berbahasa Inggris (well, saya sering ketemu traveler Prancis here and there, dan mereka mau berbahasa Inggris. Tetapi mereka umumnya generasi muda). Ada dua analisa mengapa orang-orang ini berbahasa Inggris dengan saya, termasuk yang tua-tua.

Basilica Sacre Coeur or Basilica the Sacred Heart of Jesus in Montmartre

Basilica Sacre Coeur or Basilica the Sacred Heart of Jesus in Montmartre

Pertama, karena orang Prancis sekarang lebih terbuka karena kejadian-kejadian yang barusan. Kejadian-kejadian itu menyebabkan penurunan jumlah wisatawan di Paris (dan Prancis pada umumnya) secara signifikan. Kedua, ya orang-orang itu tiba-tiba saja timbul rasa “kasihan” sama saya karena jalan sendirian dan tanpa teman… Anak ini kasihan banget, layak ditolonglah. Satu ekspresi lagi yang biasanya saya gunakan ketika traveling, comical face and putting lots of smiles in my face!

Well, saya juga selalu ingat pesan teman-teman saya, “Hati-hati copet….” I kept that in mind. Wajarlah, kita harus tetap berhati-hati di mana saja. Apalagi di tempat yang kita belum-belum familiar. Tapi, memang harus saya akui, bahwa Paris memang ngeri-ngeri sedap begitu. Ketika saya berada di Paris, saya merasa seakan-akan berada di New York City. Kota yang sedikit kotor, dan metro (subway) yang sedikit creepy…

stasiun metro di Paris

stasiun metro di Paris

Though Paris was not my most favourite destination, I was able to enjoy Paris to the max anyway. From the beginning, my purpose to Paris had been to enjoy the foods. And, I made it – to enjoy the foods. I had anything I could find and enjoy: pastry, madeleine cookies, crepes, and French cuisines. This is the first time in my life when I really tasted the best crepes ever!!! And, I enjoyed in the best spot in Paris. It’s Montmartre!!!

this is: Paris Highlight!

this is: Paris Highlight!

 

Also available at:

We (Do) Speak English in Paris

 

 

8 Comments to "We (Do) Speak English in Paris"

  1. Linda Cheang  27 October, 2016 at 09:36

    timbul rasa “kasihan” sama saya karena jalan sendirian dan tanpa teman… Anak ini kasihan banget, layak ditolonglah. Satu ekspresi lagi yang biasanya saya gunakan ketika traveling, comical face and putting lots of smiles in my face!

    HUAHUAHAHAHAHA

  2. James  22 October, 2016 at 04:54

    ci Lani, memang kenyataan Paris itu banyak Copetnya, istri pernah mengalami dompet dan paspornya di copet, untung saja balik kembali setelah copet cewenya di uber dan dompetnya dikembalikan semcari si copet buka coatnya dan dia hanya berbikini doang

  3. Lani  21 October, 2016 at 13:30

    Mas DJ: baca komentarnya ngakak…….mbakyu Susi keblasuk menggunakan bahasa Jawa yg diajak ngomong siapa mas pd saat itu? Jian aneh tp nyata kok bs kliru ngomong Jowo……….yg diajak ngomong kaga ngerti pisan

  4. James  21 October, 2016 at 10:45

    HN, Mas DJ dan ci Lani, menurut saya kalau sedang guyon itu saya katakan bahwa Bahasa Perancis adalah Bahasa Jawa juga sebaliknya sedangkan bahasa Inggris ngerti karena saya samakan Bahasa Sunda…..wk wk wk

  5. Dj. 813  20 October, 2016 at 22:41

    Mbak HN . . .
    Hahahahahahaha . . .
    Itulah Peranciis . . . Lain dari yang lain .
    Jadi ingat sekitar 30 tahun yang lalu, karena Susi suudah 4 tahun belanjar bahasa Jawa .
    Dan dia yang sedikit bisa bahasa Perancis, karena rumah orang tuanya tidak jauh dari perbatasan .
    Nah setelah dia bercakap dengan seseorang . . .
    Dj jadi tertawa terbahak , Dj. kasih tahu . . .
    Itu kamu becara bahasa Jawa . . . ! ! ! Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Dia malah jawab , mbuh ah . . .
    Pokoknya dia mengerti apa yang aku maksud kan .
    Dan benar sekali, karena kami ingin mencari ticket untu parkir yang ternyata dijual di toko
    Tabak ( Kios )

    Jadi saran Dj. lain kali kalau pusing bicara dengan oreng Peranncil, pakai saja bahasa Jawa .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !

    Salam manis dari Mainz dan semoga sukses dalam ber Traveling .

  6. Alvina VB  20 October, 2016 at 21:09

    HN: Brava….kamu berani keluyuran sendiri di Paris dan termasuk yg untunggg banget gak mengalami kejadian yg aneh2. Cuman satu nasehat kl ke Paris lagi, jangan pernah masuk “No-Go” zone, spt daerah Aubervillers dan La Courneuve. Banyak cerita serem2 keluar dari daerah “No-Go” zone, lah polisi aja gak berani masuk kl cuman sendirian doang. Tanya org local di Paris kenapa para turis disarankan gak keluyuran di daerah “No-Go” zone.

  7. J C  20 October, 2016 at 17:54

    Asik bener ke Paris…

  8. Lani  20 October, 2016 at 14:13

    Emon: wah akhirnya kluyuran maning! Kali ini ke bbrp Negara di Eropa. Menurutku ttg Perancis, atau tepatnya Paris dan Montpellier yg aku kunjungi.

    Montpellier aku lebih suka banget, krn tenang, pemandangannya jg indah, sbg kota pelajar. Klu Paris terlalu bising, kotor, dan metronya suk2-an, bau lagi kkk
    Orgnya tdk ramah sptnya terburu-buru, terbirit-birit, mengenai orang Perancis songong krn tdk mau berbahasa Inggris itu jg pernah aku dengar, akan ttp ktk aku disana ndak pernah kontak langsung krn ada guide plg terpercaya jd manut tok anane hahaha

    Soal crepe mmg plg josssssssss……….wuenak tenan baik yg manis/savory, tp aku ndak mencoba spt apa yg ada difotomu escargot/keong? Kamu makan ati angsa jugakah? Itu kan delicacy nya makanan Perancis.

    Klu bakery/roti mmg Eropa terkenal plg enak, aku setuju dgn kamu, ada roti yg terkenal yg mirip pentung maling hahaha………baguette, mmg enak dicocol ke sup pas banget.

    James: menurutmu Perancis kayak apa???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *