Menjadi Atheis Sejati (1)

djas Merahputih

 

Setiap orang tentu memili’i prinsip hidup masing-masing, baik dalam hal pekerjaan maupun kehidupan spiritual. Yang terpenting adalah bagaimana setiap individu menjaga konsistensi, yaitu dengan memegang teguh setiap pilihan prinsip tersebut. Seorang muslim harus teguh pendiriannya atas pilihan memeluk agama Islam, ia harus menjadi penganut Islam sejati. Umat Kristen pun wajib menjadi Kristen sejati, demikian pula penganut Hindu, Bundha, Kong Hu Cu serta penganut kepercayaan. Hal tersebut amatlah penting sebab akan menunjukkan bahwa mereka memang tak salah dengan pilihan masing-masing.

Adapun kaum Atheis harus pula berusaha sekuat-kuatnya untuk menjadi Atheis sejati. Lagipula untuk menjadi Atheis sejati sesungguhnya jauh lebih mudah. Mereka tak perlu menjalankan ritual apapun. Mereka hanya perlu meyakinkan diri sendiri bahwa Tuhan itu tak ada dan memang tak perlu ada. Keberadaan Tuhan adalah kebohongan besar bagi kaum Atheis.

Meskipun bertentangan dengan keyakinan mayoritas penduduk Indonesia, penganut faham Atheis tetap layak mendapatkan hak hidup dimanapun di Bumi ini, termasuk di Indonesia. Syaratnya, selama mereka tak menyebarkan sikap permusuhan dengan warga sekitar. Dan juga, selama mereka tak melarang orang lain menjalankan ritual keagamaan masing-masingg. Atheis adalah sisi lain aliran kepercayaan. Yah, seperti halnya politikus yang memilih sikap sepakat untuk tidak sepakat, kaum Atheis memili’i sikap ketuhanan sendiri. Mereka memutuskan sikap; Percaya untuk Tidak Percaya. Nusantara seharusnya bisa menjadi tempat yang aman, bahkan bagi seorang Atheis sekalipun.

Sangat disayangkan, peristiwa 1965 telah menempatkan Atheis sebagai kambing hitam penyebaran Komunis di Indonesia. Komunis dianggap identik dengan Atheisme, pun sebaliknya. Itulah sebabnya perlakuan umum orang Indonesia terhadap kedua faham yang beda rahim itu mirip gejala alergi terhadap makanan atau kondisi tertentu, menyebabkan rasa ketidaknyamanan tanpa alasan yang jelas. Hanya alergi semata.

Bagi masyarakat dengan kultur animisme dan dinamisme cukup kuat seperti Indonesia, keyakinan kaum Atheis yang tak mengakui Tuhan tentu sulit difahami. Masyarakat nusantara telah lama percaya bahwa ada kekuatan eksternal di luar sana yang sanggup mengendalikan segala peristiwa dalam hidup mereka. Pasti ada Tuhan di luar sana. Mereka pun tak segan mengorbankan apa saja demi kesenangan Tuhan-tuhan mereka, sesuatu yang justru akan nampak aneh dan sia-sia bagi seorang Atheis.

Faham Atheis tumbuh subur di tengah kenyataan bahwa agama-agama yang seharusnya menyebarkan kedamaian justru lebih sering menjadi pemicu lahirnya tindak kekerasan dan pertumpahan darah. Peristiwa Perang Salib adalah legenda untuk hal ini. Meskipun terlihat berhubungan, mengaitkan peperangan dan agama sebagai pemicu perang tak serta merta merupakan sebuah hal yang mutlak. Banyak sisi perlu dipertanyakan.

Pertama, agama dan penganutnya adalah dua hal berbeda. Agama manapun akan selalu memili’i tafsir berbeda saat telah bersentuhan langsung dengan budaya dan tradisi masyarakat. Kedua, pengambil keputusan dalam hal memulai peperangan lebih sering dimotori oleh penguasa daripada pemuka agama. Ketiga, peperangan yang terjadi umumnya berlangsung brutal dan sadis, tak menunjukkan adanya aura kemuliaan manusia sebagai penganut agama. Agama mengajarkan kemuliaan bahkan saat harus berperang sekalipun. Perang dalam agama adalah soal penaklukan, bukan soal pembantaian apalagi penghancuran. Bahkan sepucuk surat pun bisa menjadi pertanda takluknya sebuah negeri, tak harus melalui perang berkepanjangan.

Nampaknya, apatisme terhadap agama dalam pandangan Atheis adalah hal final dan tak perlu diperdebatkan lagi. Kebiadaban para penganut agama telah mengubur eksistensi Tuhan dalam benak Atheis. Tuhan bukan saja tak ada, Tuhan bahkan tak perlu ada meskipun tanda-tanda akan keberadaan Tuhan itu kelak akan mereka temui. Mereka menciptakan tempurung nalar untuk membahas Tuhan. Kaum Atheis rupanya miskin imajinasi. Mereka tak sadar bahwa imajinasi itu lebih berharga daripada ilmu pasti (Einstein).

 

(Bersambung)

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Menjadi Atheis Sejati (1)"

  1. djasMerahputih  16 November, 2016 at 19:28

    Tika:
    Sory baru sempet balas komennya.
    Trus, trus… Temennya ngomong apa??

  2. Tika  28 October, 2016 at 23:10

    Aku paling seneng ngolok temenku yg atheis “Nenek moyang mu monyet”

  3. djasMerahputih  28 October, 2016 at 15:56

    Inti ajaran Atheis adalah penyangkalan. Tanpa penyangkalan seorang Atheis akan murtad, berkhianat pada Tuhannya sendiri. (….??)

  4. J C  28 October, 2016 at 09:49

    Kalau Itsmi menurut aku adalah seorang atheist yang paling relijius. Mencari Tuhan untuk disangkalnya habis-habisan…

  5. djasMerahputih  27 October, 2016 at 13:50

    Thanks sudah mampir Om DJ.

    Pancasila itu rangkuman karakter dasar orang Indonesia sebelum dimanipulasi kepentingan politik internasional. Jelas Atheis tak memiliki akar dalam budaya Nusantara. Atheis itu produk dunia moderen.

    Salam Kenthir..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.