Ndeso but Respect

Osa Kurniawan Ilham

 

Setelah dua malam di Barcelona, tiba waktunya melanjutkan perjalanan ke Roma. Saya menumpang maskapai Ryan Air dengan rute Girona – Roma dalam penerbangan pertama Minggu pagi. Saya menumpang maskapai murah meriah ini dengan hanya membayar tiket seharga 10 Euro saja (lagi-lagi rejeki anak sholeh…he…he…).

Walau murah tetapi penuh pengorbanan karena jam 3 pagi sudah harus bangun dan mandi. Lalu dengan tergesa berjalan ke arah terminal Barcelona untuk naik bis menuju Girona selama sejam karena di sanalah bandara kedua untuk penerbangan murah berada. Di jalanan Barcelona masih ramai penuh orang yang baru saja merayakan kemenangan derby antara Barcelona melawan Espanyol, padahal sudah subuh. Para pasukan kuning sudah mulai menyapu jalan dan para pedagang di pasar mulai berdatangan mempersiapkan kiosnya.

Di dalam penerbangan Minggu pagi ini tercium oleh saya bau alkohol dari mulut sebagian besar penumpang, pasti mereka habis ber-malam minggu semalam. Lagi-lagi terasa bau bule di kabin pesawat itu menandakan sebagian besar belum mandi. Saya tidak termasuk di dalamnya he..he..beruntunglah jadi orang Indonesia yang selalu berusaha mandi kalau keluar rumah. Suasana di kabin juga meriah karena orang-orang Spanyol ini ternyata sangat ramai dan berisik kalau berbicara.

Beberapa saat pesawat mengalami turbulensi saat berada di atas laut Mediterania antara semenanjung Spanyol dengan semenanjung Italia. Beberapa lama pesawat dalam situasi sulit sehingga suasana kabin menjadi seketika sunyi senyap.

Dan ini uniknya. Setelah melewati cuaca buruk di atas lautan, pesawat pun berhasil mendarat mulus di bandara Roma. Anehnya, saat kami mendarat langsung terdengar suara terompet di dalam kabin diiringi oleh tepuk tangan dan teriakan gembira para penumpang. Ramai sekali suasananya. Bravo…bravo….begitu mereka berteriak.

Pilot pun mengumumkan selamat datang di Roma dengan menggunakan pesawat Ryan Air yang sudah terbukti keselamatan dan ketepatan waktunya sebesar sekian persen. Terus terang saya sangat terkesan dengan suasana meriah saat mendarat tadi.

Bagi kita orang Indonesia, mungkin akan mengira teman-teman Spanyol ini sepertinya kampungan sekali…ndheso….tapi kalau saya renungkan bukankah ini sebuah penghargaan dari para penumpang kepada sang pilot, copilot dan awak pesawat?!

Sebuah penghargaan yang diekspresikan secara terbuka, tidak dipendam dengan diam-diam.

Saya memeriksa diri. Kita sebagai bangsa yang katanya ramah, saya belum pernah menjumpai hal yang sama terjadi di tanah air sebagai ungkapan terima kasih kepada para awak pesawat. Senyum pun mungkin tidak karena kita sudah terburu-buru untuk menyalakan HP dan memeriksa tas bawaan kita dengan gaya jaim bak pengusaha sukses yang nggak butuh para pramugari/pramugara itu,

Sejak itu saya berjanji pada diri sendiri…akan selalu memberikan senyum dan ucapan terima kasih kepada para awak kabin ketika akan keluar dari kabin pesawat. Apalagi kepada para pramugari yang sudah duluan tersenyum manis pada saya (jangan ge-er !! bukan hanya kepada saya saja tetapi kepada semua penumpang he..he…).

 

Antara Girona dan Roma, Desember 2007

 

 

11 Comments to "Ndeso but Respect"

  1. Osa KI  1 November, 2016 at 14:05

    Maaf Kawan-kawan…saya baru online lagi dan membaca komentar-komentarnya. Maaf karena baru saja bisa ikutan memjawab komentarnya.
    Ini sebenarnya tulisan lama tapi saya kira masih cocok dengan situasi sekarang.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *