Cerita di Kereta Sore Ini

Dian Nugraheni

 

Aku nggak nyalahin, kalau para orang tua sangat berhati-hati untuk mengijinkan dengan siapa, anak-anaknya bergaul. Tentunya, salah satu alasannya demi keamanan dan perkembangan baik anak-anaknya tersebut.

Sore ini, tumben-tumbenan banget, pulang kerja, naik kereta, di dalam sudah ada 6 cowok remaja belia, kira-kira kelas 2 SMPan lah, semua berkulit hitam. Mereka saling bercanda dengan agak keterlaluan. Selain teriak-teriak, “begajikan” dalam kereta, juga saling lempar-lemparan permen bulat kecil yang aku tau itu agak keras. Aku duduk di kursi paling depan, jadi berhadapan langsung dengan para remaja belia ini.

Lalu, kalau kereta stop di suatu stasiun, mereka ngeriung berdiri dekat pintu. Ketika pintu membuka, penumpang turun, lalu menjelang pintu tertutup, mereka ramai-ramai melempari orang-orang yang ada di peron dengan permen bulat kecil tersebut.

Sangat riuh. Beberapa penumpang dewasa berkulit hitam hanya ketawa-ketawa, sementara penumpang bukan kulit hitam menunjukkan ekspresi muka sebal, jengkel, gemes, seolah-olah pengen njewer. Sedangkan aku, serasa aku sih, ekspresi mukaku enggak jutek, malah kadang aku tersenyum, soalnya serese-resenya mereka, aku sadar bahwa mereka masih cukup kecil, ada lucu-lucunya juga ekspresi mereka ketika saling lempar permen. Juga ga salah-salah amat mereka ini, yakin banget bahwa tingkah laku demikian pastilah pengaruh dari culture dalam keluarga atau lingkungan di mana mereka hidup.

Salah satu Nyonya agak tua, dengan penampilan seorang yang intelek berseru, “kalian dari sekolah mana..?”

Anak-anak ini tidak menjawab, hanya tertawa-tawa dan mengabaikan.

Menjelang stasiun kereta di mana aku akan turun, sebelumnya aku sudah bersiap menenteng tas kresek berisi belanjaanku sore ini, ketika salah satu anak remaja belia itu, berbaju atasan putih, yang kulihat paling sopan, berkata, “Dia akan turun, jangan lempari dia…”

Cowok lain berkata, “Nggak apa, lemparin aja..”

Cowok berbaju putih, “jangan, jangan lemparin dia, dia pregnant…”

Cowok lain berkata, “She’s look fat, not pregnant…!”

Dalam hati aku tertawa, hwakakakakak…dasyaaar bocah kecil, enak aja bilang si Mak pregnant, yang ada mah, iya, si Mak gendut..hadeeeh…! Jotos juga nih anak-anak..hixixixi…

_Sore ini sudah dingin, jadi aku pakai celana panjang dan jaket yang agak kegedean gitu, selain emang gendut, juga jadi nampak makin mlembung aja kali ya…duhh…!_

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

5 Comments to "Cerita di Kereta Sore Ini"

  1. J C  28 October, 2016 at 09:49

    Selalu mak nyeeeesss maca artikelmu…

  2. Dj. 813  27 October, 2016 at 01:32

    Nah ya . . .
    Namanya juga remaja . . .
    Kita semua pernah jadi remaja dan berbuat yang mana mungkin untuk orang disekitar kita
    sangat aneh .
    Olehnya Dj. berusaha untuk memakluminya.
    Bahkan sambil membayangkan, kalau Dj. muda, mungkin juga berbuat yang sama .
    Hahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakaksih dan salam .

  3. Sierli FP  26 October, 2016 at 15:48

    hahhaaa…sabar ya yu…

  4. Lani  25 October, 2016 at 23:02

    James: namanya anak2 yg lebih penting adalah bagaimana orang tuanya mendidik mereka………….klu dibiarkan liar yg disalahkan jelas ortunya

  5. James  25 October, 2016 at 12:30

    1…..anak2 dimana-mana sama saja suka nakal out of control yang paling menyebalkan adalah kalau mereka vandalism

    mana patra Kenthirs nij ? he he kemaren sy keduluan tanya mas DJ mana artikel makanannya, padahal hari ini adalah hari Selasa, sorry ya mas DJ

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *