Harimau Nan Salapan

Chandra Sasadara

 

Harimau Nan Salapan adalah nama Dewan Revolusi Kaum Wahabi di Tanah Minang pada abad ke-19. Mereka adalah Haji Miskin dari Pandai Sikat, Tuanku Nan Renceh, Tuanku di Kubu Samang, Tuanku di Ladang Lewas, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalu, dan Tuanku di Lubuk Aur. Gerakan Wahabi di Minang dibawa oleh tiga orang yang baru pulang dari Tanah Arab, mereka adalah: Haji Miskin, Haji Abdurahman dari Piobang, dan Haji Arif dari Sumanik.

harimau-nan-salapan01 harimau-nan-salapan02

Tiga haji yang baru pulang itu ingin meniru gerakan yang dilakukan oleh Kaum Wahabi di Tanah Arab untuk membersihkan cara-cara beragama Islam yang dianggapnya tidak sesuai. Kaum Wahabi di Arab menghancurkan kubah-kubah kuburan, hiasan makam Nabi SAW, kain sutra penutup Ka’bah (Kiswa) dengan jalan kekerasan (Sumber: Ensiklopedi Islam). Melakukan pembunuhan umat Islam Karbala, Thaif, Uyainah, Ahsaa, Makka, Madinah bahkan membantai jamaah haji dari Yaman dan Iran. Mereka juga membakar jutaan kitab dan puluhan perpustakaan yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran mereka (Sumber Buku: Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi).

Harimau Nan Salapan gagal meyakinkan seorang ulama sepuh bernama Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat untuk mengikuti cara mereka. Ulama tua itu pun dituduh telah keluar dari Agama Islam. Namun mereka berhasil mengajak ulama tua lainya berjuluk Tuanku di Mensiangan dan menjadikanya sebagai “Imam Perang”, tapi Imam Perang sesungguhnya tetap Tuanku Nan Renceh. Berikut beberapa panglima perang Kaum Wahabi di Tanah Minang terdiri dari: Saidi Muning, Haji Hassan, Peto Syarif gelar Tuanku Bonjol, Zafullah Ali gelar Tuanku Hitam, Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao, Hamongan Harahap gelar Tuanku Tambosai, Mansur Marpaung gelar Tuanku Asahan, Jatengger Siregar.

Gerakan Wahabi di Minang ini melarang sabung ayam, melarang minum arak, melarang mengunyah sirih, wajib membawa pedang, wajib mengaji sedikitnya satu juzz Al Qur’an, wajib berbaju/pakaian putih dll. Urusan berpakaian putih ini sangat keras, orang-orang yang tidak berpakaian putih boleh dibunuh dan dirampas hartanya. Bahkan Ibunda Tuanku Nan Renceh yang dijuluki “The Grand Old Lady Rangkayo” pun diesekusi karena lebih memilih menggunakan kain nilo (indigo) seperti umumnya perempuan Minang atau Batak saat itu dan bersirih (Sumber Buku: Tuanku Rao).

Gerakan mereka yang ingin mengusai seluruh Sumatera dimulai dengan menundukkan Tanah Minang, berikutnya merebut Dataran Tinggi Tapanuli, kemudian menaklukkan Tanah Rencong. Mereka hampir berhasil merebut Tanah Batak, tapi perlawanan Sisingamangaraja X membuat laju mereka terhenti meskipun harus dibayar dengan kematian Raja Batak tersebut. Mereka tidak sanggup melintasi seluruh dataran tinggi Tapanuli.

Front yang tersebar di sepanjang Tanah Minang, hingga Tapanuli. Dari Gunung hingga Pantai Barat Sumatera membuat mereka kehabisan tenaga. Kekuatan mereka habis saat berhadapan dengan Inggris dan Belanda di Pantai Barat, serta perlawanan kaum-kaum adat dan penguasa Pagaruyung yang tidak berhenti. Kaum Wahabi generasi pertama di Indonesia ini gagal menjadikan Sumatera sebagai Tanah Persemaiannya.

 

 

9 Comments to "Harimau Nan Salapan"

  1. buyuang kamang  13 January, 2017 at 03:14

    kalau ndak tau ang apo aratinyo jan ang artian lo

  2. Aby fatih  8 November, 2016 at 21:09

    ada kerancuan sejarah disini, kaum padri (1809 – 1837) tidak pernah bertemu dengan sisingamangaraja XII (1887) jadi rulisan anda ini ngasaaaaaaal.

  3. Lani  28 October, 2016 at 12:14

    James: mahalo penjelasannya………aku yakin yg kenthirs lebih dr 9 wakakak…..

  4. Alvina VB  28 October, 2016 at 10:40

    Bung Chandra: Kaum Wahabi jaman ini mencungul lagi ya di Indonesia? terutama di Sumatra?
    James: ha…ha….salapan? saha atuh? ayeuna, tilu/opat wae….

  5. J C  28 October, 2016 at 09:51

    Keren, keren…baru tau aku…

  6. Dj. 813  27 October, 2016 at 01:28

    Ada haji miskin . . .
    Miskin kok bisa naik Haji .
    Setahu Dj. untuk naik haji itu sangat mahal, apalagi saat itu .
    Mungkin ada yang mensponsori . . . ? ? ?
    Terimakasih dan salam .

  7. James  26 October, 2016 at 14:39

    mbak Lani, ini terjemahannya : para Kenthirs ada sembilan gak sih ? atau cuma 4 – 5 saja

  8. Lani  25 October, 2016 at 23:00

    James: jangan pakai bahasa Croatia aku kaga ngarti hehe………..

  9. James  25 October, 2016 at 12:25

    1…..kalau dalam bahasa Sunda Harimau nan salapan = Harimau Cuma Sembilan

    para Kenthirs aya salapan teu yeuh ? atawa nan 4 – 5 wae

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *