Lagu Seruling Pantai Klayar

Dwi Klik Santosa

 

“Kenapa selalu kau pandangi? Mengapa betah saja engkau diam dan berdiri di tempat itu? Hikmatkah kau resapi sewujud bebatuan Pantai Klayar melebihi nyanyian ombak dan berisik gemuruh angin galak menerpa karang?”

“Alunan suara seruling itu merdu. Selalu menyenandungkan lagu-lagu syahdu kepedihan. Tak kalah sendu dari kata-kata bunyi batinnya yang merindu dan mengiris kalbu.”

“Oh, kau ini tidak sedang mengigau, bukan? Alunan suara seruling, yang mana? Bunyi batin siapa?”

“Coba diamlah engkau sejenak dan hening saja. Pandangi baik-baik batu-batu tegar di pantai itu dan lalu pejamkan matamu.”

seruling-pantai-klayar

Prenjak si burung mungil itu berusaha memenuhi permintaan Sri Gunting, burung mungil pula serupa ia tapi tidak sama benar dengan dirinya. Memang hanya debur ombak yaitu angin yang berhembus keras dari kejauhan samodera, menggiring permukaan air laut pesisir Kabupaten Pacitan menuju darat, membentur-bentur badan karang lalu pecah … byaaarrr! Berdebum menjadi serpih-serpih air. Dan gulungan air yang terus berjalan menjumpai darat, yaitu ombak yang mengguyur pasir-pasir dan kembali lagi ke tengah menuju asalnya yang asin. Bergemuruh, gaduh bagaikan tabuhan yang tak sudah-sudah suka dimainkan kanak-kanak kampung yang gembira memanja suka di padang purnama.

“Apakah telingaku sedang bermasalah, atau perasaanku yang tak peka, atau jangan-jangan memang benar prasangkaku bahwa kau ini hanya senang berhayal saja?”

“Tidak! Aku tidak sedang berhayal. Ini hal yang nyata. Mungkin kau sedang tak fokus dan dihanyut prasangka buruk, sehingga kehampaan rasamu tak mampu menangkap.”

Tak ingin mendengar lebih banyak lagi keterangan Sri Gunting, dilepas kuat-kuat udara itu dari jalan nafas Prenjak. Dihirupnya hikmat-hikmat angin senja Pantai Klayar yang sepoi, selama mungkin, sekehendak batinnya hingga sampai pada menutupnya mata. Serasa kosong dunia Prenjak. Hanya sepi, sunyi dan pelan melebur menjadi hening. Bulu-bulunya yang lembut dibiarkan saja bergerak-gerak dipermainkan angin. Dalam keheningan, kehendak batinnya mudah menangkap gejala dan pertanda.

Alunan suara seruling yang merdu. Tapi sedih, menyayat-nyayat hati. Seperti roh yang menyentuhi dinding kalbu. Suara seruling itu menggema seakan memanggili sukma. Tertiup dari bibir pemuda yang pilu sedang dimasygul cinta.

“Airmatamu meleleh-leleh …”

“Ya, aku mendengarkan alunan seruling itu. Nadanya sedih, seperti mengajak batinku ikut merasai kepedihannya. Siapakah si peniup seruling itu? Duka apa sedang disandangnya?”

“Oh, baiklah, jika kau ingin tahu. Akan kubagi kisah itu kepadamu, sekiranya hal ini akan menjadi kisah yang berguna bagimu.

Setidaknya sebagai caramu memahamiku kenapa selama ini aku suka mendatangi tempat ini dan terpaku menatapi karang batu yang tegar di pantai itu. Dan siapa tahu kelak akan kau bagi juga kepada siapa pun yang bertanya kepadamu dan ingin mengetahui kandungan sebuah rahasia. Yaitu cinta yang melatari makhluk terbaik Tuhan mengenal cita-cita.”

~

Sejak Anggraini putri Panji Kudanawarsa, patih Kerajaan Jenggala tewas karena menikamkan tubuhnya dengan keris keramat milik Sang Raja, masygul Panji Nilaprabangsa dan dihantui perasaan merasa bersalah. Ialah putra tertua Prabu Lembu Amiluhur. Tentu saja ia mendapatkan kepercayaan dari ayahandanya untuk bersumbangsih terhadap kegamangan peristiwa yang sedang mendera tubuh keluarga.

Perjodohan Panji Inu Kertapati dengan Dewi Sekartaji adalah perjanjian yang mengikat kedua wangsa keturunan perintis Kerajaan Kahuripan, Prabu Airlangga. Bahkan diyakini oleh Dewi Kilisuci, kakak kedua raja tersebut sebagai cara untuk mengakhiri pertikaian.

“Ayah kita adalah raja yang tidak suka perang. Jika beliau pun pada akhirnya memimpin perang, hanya karena sebuah kehendak yang diminta oleh segenap rakyat yang dipimpinnya. Dimana-mana laku perampok dan bromocorah yang keji selalu menjadi hantu bagi kedamaian hidup di masyarakat. Jika kemudian ayah kita memeranginya, apakah itu sebuah kesalahan? Jika kemudian juga, sepasukan tempur kerajaan Kahuripan kita yang gagah lalu memerangi Kerajaan Wura-Wari yang menjadi momok selama ini di perairan Laut Jawa dan pernah menjadikan Kerajaan Medang tinggalan leluhur kita Prabu Teguh Darmawangsa runtuh bahkan diratakan dengan tanah, apakah itu juga sebuah kesalahan? Nah, Amiluhur dan Amisena adikku, atas nama apa, kalian kini bertikai dan selalu membawa pasukan kalian yang gagah itu bertemu untuk saling menghancurkan?”

Pada dasarnya, tahta Kerajaan Kahuripan adalah hak bagi Dewi Sanggramawijaya Tunggadewi, putri tertua Prabu Airlangga. Tapi karena sang putri lebih memilih menjalani hidup sebagai brahmanacari dan tinggal di keheningan Hutan Kepucangan, lantas kemudian hak atas tahta diperebutkan oleh dua saudara, adik sang Dewi.

Lembu Amiluhur dan Lembu Amisena adalah dua ksatria yang sama-sama mengagungkan budiluhur dan teladan Airlangga, ayahanda mereka. Akan tetapi sebagai putranya, mereka berdua menuntut hak yang sama atas tahta Kahuripan.

“Baiklah putraku. Dengan berat hati, saya menerima nasihat dari Kakak Empu Barada, pujangga kerajaan kita yang bijak. Dengan terpaksa Kahuripan harus dipisah menjadi dua, Kerajaan Panjalu agar diperintah Ananda Amisena, dan Kerajaan Jenggala agar diperintah Ananda Amiluhur.”

Namun sekalipun telah diberikan kebijaksanaan, kerajaan besar itu dipisah menjadi dua dan diperintah oleh masing-masing pangeran Kahuripan, tetapi perang acapkali terjadi. Karena disebabkan hal-hal yang sebenarnya bersumber kepada kecintaan belaka kepada Airlangga, sang maharaja yang selama ini memberi mereka panutan dan teladan yang mulia.

“Kenapa tak kau izinkan aku membangun Candi Patirtan di Jalatunda, adikku,” kata Prabu Lembu Amiuluhur, “bukankah baik belaka jika Kakak dirikan monumen itu untuk mengenang budi luhur ayah kita.”

“Tapi, daerah itu wilayah kerajaan Panjalu, Kakak. Bukankah, kita sama-sama menghormati peraturan itu telah ditetapkan Sang Bijak Empu Barada di depan ayah kita?”

Demi kecintaan belaka kepada ayahanda, Prabu Lembu Amiluhur mengabaikan kata-kata adiknya. Terdorong oleh hatinya yang masygul karena selalu terkenang ayahanda, Prabu Lembu Amiluhur nekad membangun Candi Patirtan di Jalatunda. Prabu Lembu Amisena amat marah, karena menjadi haknya barangkali melakukan penghormatan itu kepada ayahanda tercinta. Maka perang yang memakan banyak korban pasukan di antara kedua belah pihak pun tak terhindarkan.

Betapa sedih hati Dewi Kilisuci, memikirkan kedua adiknya yang saling berperang untuk saling rebut kepantasan, mana anak paling berbakti kepada ayahanda. Sebuah upaya akhirnya ingin dilakukan oleh sang petapa suci. Kedua adik tercinta itu dipanggil agar menghadapnya di pertapaan Hutan Kepucangan.

“Saya tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi di antara kalian. Tapi yang saya tahu, kalian adalah kedua adikku yang saling menyayang satu sama lain. Dan kita bertiga ini adalah saudara yang sangat berhutang budi kepada kasih sayang ayah kita. Saya masih sangat berharap terjadinya keutuhan itu abadi di antara kita. Maka, sekiranya berkenan, mari kita perjodohkan putra dan putri yang terlahir dari permaisuri kalian, agar kelak dari persatuan ini akan menyatukan lagi Panjalu dan Jenggala menjadi Kahuripan.”

Prabu Lembu Amiluhur dan Prabu Lembu Amisena sangat menyayangi kakak mereka. Mereka berdua pun saling berpelukan dan mengucurkan air mata. Saran Dewi Kilisuci itu adalah keputusan yang terbaik dan akan menyatukan kecintaan mereka, yaitu hidup dalam kejayaan dan kerukunan meneladani kearifan Airlangga, ayah mereka.

Menjodohkan Panji Inu Kertapati, pangeran Kerajaan Jenggala dan Dewi Sekartaji, putri Kerajaan Panjalu adalah wasiat dan amanah agung yang harus dipegang teguh oleh kedua raja.

Akan tetapi, seiring dengan perjalanan waktu dan makin dekat kesepakatan tentang hari perkawinan itu, Panji Inu Kertapati justru terpikat Anggraini, putri sang patih dari ayahandanya yang terhormat. Tentu saja, Prabu Lembu Amiluhur sangat terpukul batinnya. Dengan lugu Panji Inu Kertapati, putra kebanggaannya itu justru berani menyatakan niatnya ingin nekad menikahi putri sang patih.

Bagaimana ia akan mempertanggungjawabkan kesanggupan dan memenuhi janjinya kepada Prabu Lembu Amisena atas pertunangan Inu Kertapati dengan Dewi Sekartaji sebagai ikatan luhur menjunjung tinggi persaudaraan mereka. Bukankah semenjak Prabu Airlangga, ayah mereka wafat, hanya perang saja mereka jalani. Baikkah sesama saudara saling berperang? Untuk kepentingan apa? Pertanyaan Dewi Kilisuci, kakak tercinta itu bagai hantu selalu terngiang di telinga.

“Nah, Brajanata. Kepadamu kupercayakan keris keramat ini sebagai cara dan jalan. Jika ayahmu kini menangis, karena sudah tak mampu lagi memberi kebijaksanaan yang lain.”

Kata-kata Prabu Lembu Amiluhur itu seperti tikaman keris itu sendiri yang menusuk ulu hati Panji Nila Prabangsa. Tak dapat ia berkata tidak atau menolak. Sekalipun ia tahu, bahwa bagaimana pun Anggraini adalah pilihan adinda tercinta Inu Kertapati. Bukan hal yang remeh, sekalipun ia hanya anak seorang patih. Tapi, Anggraini memiliki semua hal yang indah dan pantas sebagai perempuan. Tidak saja jelita, tapi ia sangat mengerti bagaimana cara menghibur dan menentramkan batin Inu Kertapati. Ksatria yang mana tak jatuh hati merenungkan lagak perempuan seluwes Anggraini. Bahkan, ketika Panji Nila Prabangsa hendak menjalankan tugasnya.

“Baiklah, kakak Brajanata. Engkaulah kakak yang sangat dihormati Kanda Inu Kertapati. Engkaulah terpercaya dalam menjalankan tugas dan kewajiban. Jangan, jangan tangan kakak berlumur darah saya, tapi biarlah saya sendiri mati demi menebus kesedihan hati sang raja, ayahanda kakak.”

Secepat itu tangan mungil Anggraini meraih keris jagal Jenggala, secepat itu pula keris itu tanggal dari kerangkanya, dan lalu menusuk dengan cepat ke tubuhnya yang gemulai. Di bawah Pohon Angsana, di tepi Pantai Kamal, senja yang merambat menuju gelap menjadi saksi peristiwa yang mengiris hati dan tak terduga itu.

Tak disangka-sangka, jika peristiwa di Pantai Kamal itu bukanlah jawaban bagi rencana ayahanda sang raja. Tapi justru akan menjadikan kisah hidup yang berkelindan di tubuh keluarganya, berketerusan bahkan menjadi hampa dan tak keruan. Begitu mendapati isterinya terkasih hilang dan tewas tak tentu kuburnya, Panji Inu Kertapati menjadi gila dan kemudian lebih rela pergi dari kerajaan. Tak bertujuan, tak mau kembali. Untuk waktu yang lama dan bahkan selama-lamanya. Oh, inikah jalan terbaik untuk memuluskan rencana perkawinan itu dengan pihak Panjalu? Ah, tapi justru Jenggala kini kehilangan salah satu ksatria terbaiknya. Gila dan pergi entah kemana? Bahkan kabar yang telah sampai, Inu Kertapati telah hilang keberadaannya karena melakukan pelayaran dari Pantai Kamal dan di tengah laut perahunya dibenamkan ombak.

Ingin pergi sejauh mungkin dari Jenggala, agar tak terkenang lagi akan kekasih tercinta dan dendam karena tak berdaya membela kematian kekasihnya. Bukankah ini kabar yang menusuk hati. Bagi Prabu Lembu Amiluhur tentunya. Dan bagi Panji Nila Prabangsa sudah pasti. Bukankah ia sejatinya penyebab kematian Anggraini, kekasih Inu Kertapati? Bukankah ia yang membawa Anggraini ke Pantai Kamal dan menceritakan perihal kesedihan sang raja. Dan lalu dengan keris yang dibawanya sebagai amanah dari sang raja, adik ipar itu rela membunuh dirinya?

Oh, akukah Patih Brajanata. Ksatria yang terpilih untuk melaksanakan tugas mulia? Akukah Panji Nila Prabangsa, kakak yang sangat dihormati dan dipercayai Inu Kertapati, adik tersayang dan tercinta kami semua di negeri Jenggala yang agung? Tapi kenapa justru aku kini menjadi perantara adikku, ksatria kebanggaan kami, gila dan rela meninggalkan tanah lahirnya dengan menanggung luka sedemikian nganga. Tak akan kembali jika kekasih tercinta tak diizinkan sang maha pencipta hidup kembali. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati akan hidup kembali? Bagaimana bisa, adiknya yang sangat ia sayang itu akan kembali?

“Oh, adikku Panji. Jika bukan sejak bayi, aku tak ikut merawat, menjaga dan membesarkanmu, mustahil aku tak mengenali dan mengerti siapa kamu. Engkaulah ksatria terbaik di keluarga ini. Engkaulah dibanggakan nanti menyambung kebesaran Sang Airlangga kakek kami. Oh, tapi kemana engkau pergi adikku. Maafkan kakakmu ini …”

Semenjak itu Panji Nila Prabangsa gila tak beda Panji Inu Kertapati. Bahkan seorang diri, Panji Nila Prabangsa berperahu jua, meninggalkan kemewahan istana Jenggala, rela bergelut dengan sepi mencari dimana adiknya itu terdampar dan terlempar perahunya oleh arus ombak Laut Jawa yang ganas. Tapi malang baginya, karena perahunya pun telah jauh dan tanpa arah digerus arus ombak. Mendayung dari Pantai Kamal, perahunya karam di Selat Bali. Bangun dan menemukan perahu lagi, tapi kandas di Semenanjung Blambangan. Toh, kabar keberadaan Panji Inu Kertapati tak juga didapatnya.

Terapung-apung dan tak tahu arah di tengah samodera luas, Panji Nila Prabangsa. Tapi tetap tegar ia, tak patah semangatnya. Bahkan ombak Lautan Selatan yang terkenal ganas, tanpa ampun menyeretnya tanpa perlawanan hingga sampai di Klayar. Tapi kiranya Tuhan maha penyayang, maha pengasih untuk memberkahi semangat hidup anak manusia yang merasa bersalah dan ingin menemukan lagi kebahagiaannya.

Di bebatuan Klayar yang tegar, memang seperti menantang keganasan ombak Pantai Laut Selatan. Tapi toh, sekalipun ditabrak dan diterjang-terjang tak berbilang kali jumlahya, tetap tegar ia sebagai batu karang. Di tempat itu terkadang Panji Nila Prabangsa sengaja berdiri berlama-lama memandangi luas samodera yang ganas. Sengaja untuk memahami arti pencariannya dan kemudian mengurai makna, akankah ketabahan itu seperti batu karang yang tegar itu? Air matanya meleleh-leleh. Rambutnya yang panjang, dibiarkan saja tergerai-gerai beruraian dimainkan angin, menutupi wajahnya yang sesungguhnya lembut dan tampan.

“Laut sedemikian ganas. Sebegitu luas. Sekalipun aku sangat mengenalnya, tekad dan semangat itu, tapi bukankah aku sendiri mengalami kini. Siapakah manusia di tengah maha bahaya dan tak terbatas sunyinya ini. Oh, adikku ….”

Tapi sekalipun digayuti gundah, namun Panji Nila Prabangsa meyakini bahwa jika ia masih hidup kini, sekalipun sendiri saja didera keputus-asaan, tapi barangkali Panji Inu Kertapati pun masih hidup pula sepertinya, sekalipun dalam keadaan nelangsa yang tak terkira.
Di antara bebatuan Pantai Klayar, seringkali Panji Nila Prabangsa meniup serulingnya untuk mengisi jenuh dan sekadar menghibur sepi batinnya. Ditumpahkan perasaan hatinya yang pilu dan dipujikan kepada kekuasaan maha pencipta agar Panji Inu Kertapati adiknya tercinta diberikan hidup dan berkah keselamatan.

~

Sri Gunting yang asyik bercerita pun tak terasa mengucurkan airmata. Air bening itu berlinang-linang di pipinya. Prenjak yang mendengarnya, tak urung dihanyut haru yang sama. Kedua mahluk ini memang manis belaka. Jika mudah mereka menangis disebabkan kesedihan karena ikut merasakan duka dari makhluk lainnya yang sedang didera nelangsa, niscaya mereka itu golongan para pecinta yang gemar mengagungkan nilai-nilai keindahan dan kedamaian.
“Sudahkah kau mengerti apa menjadi kandungan dari kisah seruling laut di Pantai Klayar itu, Prenjak?”

“Mungkin belum sepaham kamu. Tapi setidaknya menjadi bahan perenunganku, bahwa Tuhan maha berkehendak. Semua yang terjadi dan menjadi nasib para makhluknya adalah bentuk pergulatan kisah menjalani nasibnya.”

“Ya, tidak harus bahkan kita ingin tahu bagaimana nasib yang akan menggulirkan kisah kakak beradik Panji Inu Kertapati dan Panji Nila Prabangsa, dua ksatria Jenggala putra Prabu Lembu Amiluhur yang agung itu. Tapi sekeyakinanku, siapa yang lugu dan sejati dalam mencari, niscaya Tuhan akan memberikan yang terbaik sebagai hadiah bagi akhir kisahnya.”

“Oh, aku mengerti maksudmu. Apakah akhir kisah itu adalah bahagia?”

“Sebaik-baiknya cinta diperjuangkan dengan sepenuh daya, tidak akan pernah ada kesia-siaan. Niscaya akan menjadikan kebahagiaan bagi yang memercayai kebesaran Pencipta.”

“Hmm …. Baiklah. Aku mengerti .. akan kuserap dengan baik kisah yang mengharukan di Pantai Klayar ini. Akan kujadikan laguku. Akan kunyanyikan nanti ke segenap telinga. Akan rajin kudatangi rumah-rumah itu, siapa tahu para penghuninya punya kepekaan dalam mendengar dan ingin menghayati inti dari sebuah kisah pencarian.”
Di penghujung senja, sebelum hari menjadi benar-benar gelap, kedua burung mungil itu pun saling berpamitan. Menuju ke sarang masing-masing untuk saling berbagi kehangatan dengan sesama jenis burung, keluarga mereka.

Prenjak adalah burung yang oleh kebanyakan orang Jawa pada setiap hadirnya dianggap menandai gejala. Jika telah terdengar nyanyinya yang tak henti-henti. Di pojok kampung, di pinggir sungai, di tepi sawah, di keheningan pagi beranjak siang yang mengisi rona-rona romantisme penghuni rumah-rumah manusia, nyanyian Prenjak adalah berkah sebagai penanda akan datang tamu membagi berkah gembira.

“Kebahagiaan. Sebenarnya itu kabar yang kubawa sebagai lagu nyanyiku. Tak ada makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna. Tapi akan benar ada dan nyata bahagia itu, hidup di dalam sosok-sosok yang lugu. Yaitu pribadi yang mudah merasa bersalah dan tidak takut menempuh bahaya demi ingin mencari jalan untuk menebus kesalahannya itu. Kegagahan jiwa, sungguh bertempat kepada mereka yang berani berkorban demi untuk meyakini cinta dan apa menjadi sebab kecintaannya.”

 

 

 

7 Comments to "Lagu Seruling Pantai Klayar"

  1. J C  28 October, 2016 at 09:53

    Apik…

  2. James  28 October, 2016 at 09:01

    A, belom summer nih masih bulan terakhir Spring, summer tar bulan desember baru mulai, sekarang pagai masih dingin siang sore agak panas, hanya masih banyak hujan

  3. James  28 October, 2016 at 08:58

    mbak Lani, iya nih cuma beda beberapa detik saja, melototinnya waktu yang sama hanya satu pake satelit Ozi satu lagi pake satelit Kona, gede mana tuh ?

  4. Alvina VB  28 October, 2016 at 05:08

    Bener James, inget di tengah sawah, ada aja petani yg bawa seruling bambu sambil ngangon kerbaunya, he..he…Udah Summer ya di Ausie?

  5. Dj. 813  28 October, 2016 at 01:35

    Benar James . . .
    Apalagi dengan santai sambil makan nasi panas, sambal terasi dan lalapan .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Terdengar suara seruling bambu nan mengalun merdu .

  6. Lani  27 October, 2016 at 12:34

    James: seruling kenthir dr Kona mencungul………aku baru saja melihat komentarmu tampil langsung aku susul………nampaknya kita sama2 dgn melototin computer nih hanya beda waktu beda tempat…………aneh tp nyata banget!

  7. James  27 October, 2016 at 12:29

    1….ingat Seruling itu mengingatkan kalau berada ditengah sawah waktu kecil tempat bermain bersama teman2

    mana Seruling para Kenthirs yah ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *