Superior dan Inferioritas Psiko-Sosio-Kultural

Juwandi Ahmad

 

Telah mengakar secara psiko-sosio-kultural bahwa jabatan-kekayaan itu bermakna dihormati dan terutama dilayani, diperlakukan istimewa, dan sebaliknya. Itu diperkuat dengan kenyataan sehari-hari, yang memang menunjukan hal itu. Jadi, sejak kecil manusia Indonesia itu secara tanpa sadar dididik-ditanamkan dalam dirinya tentang bagaimana mereka harus memperlakukan orang kaya dan atau pejabat. Konsepsi itu, mengakar kuat dalam bawah sadar dan menanamkan superior dan inferioritas psiko-sosio-kultural.

Contohnya, pada saat acara hajatan saja, tamu yang kaya disambut dengan tergopoh-gopoh, penuh hormat, sementara kepada yang miskin biasa saja. Juga tempat duduknya, dibedakan. Mungkin juga hidangannya. Perilaku tergopoh-gopoh menyambut orang kaya itu adalah ekspresi inferioritas yang muncul secara tanpa sadar, spontan. Seolah-olah ada aturan yang mengharuskan itu. Meski, sejatinya, itu digerakkan alam bawah sadar yang telah bekerja secara otomastis.

Maka, bila ada yang superior dalam jabatan dan atau kekayaan melakukan hal hal yang kecil, sederhana, dan manusiawi, seperti makan di kaki lima, baju sederhana, memanusiakan orang, dll, akan dianggap sebagai perilaku dan atau peristiwa yang hebat dan luar biasa. Mengapa? Sebab hal itu menyimpang dari konsepsi, keyakinan atau bayangan psiko-sosio-kultural tentang orang kaya dan atau pejabat. Penyimpangan itulah yang memicu munculnya konsepsi bawah sadarnya. Disitu, sejatinya, inferioritas psiko-sosio-kultural tengah bekerja.

Dalam masyarakat semacam itu agak sulit nenanamkan karakter, “Bila kau miskin jangan rendah diri, dan bila kaya jangan besar kepala.” Kenapa sulit? Telah mengakar secara psiko-sosio-kultural, dan terus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Dan anak-anak kita bukan hanya sekedar belajar dari situ, tapi sekaligus mengalaminya. Itu seperti memasukan tisu kedalam air berwarna merah. Dan apapun tujuan dan kepentingannya, saya kira Presiden Jokowi, sedikit banyak mengubah tradisi itu.

Dan terlepas dari pencitraan atau spontanitas, Jokowi tahu bahwa melekat padanya kedudukan yang terhormat yang membuatnya tak perlu melakukan hal-hal yang menegaskan kedudukannya, statusnya. Misalnya, minta dan atau berharap diperlakukan secara istimewa. Melakukan itu, justru menjadi sebentuk pelecehan pada dirinya sendiri. Pakai sandal jepit atau sepatu, kaos oblong atau jas, melayani atau dilayani, dia tetap seorang presiden yang secara politik-kekuasaan adalah orang nomer satu di republik ini.

jokowi jokowi-papua

Maka, melakukan hal-hal kecil, sederhana, seperti menuangkan minuman untuk gubernur, memegang payung sendiri, dll, justru akan menegaskan dan menguatkan kualitas karakternya sebagai pribadi. Merendah dalam posisimu yang tinggi akan lebih meningggikanmu. Dan secara emosional-kognitif itu lebih kuat dan efektif dari pidato-pidato politik, terlebih bagi masyarakat Indonesia yang cenderung sentimentil.

Soal-soal kecil semacam itu penting untuk Jokowi. Diantaranya untuk mengimbangi gaya bicara-pidatonya yang untuk sebagian orang dianggap kurang intelek-akademis. Pun begitu, sekiranya itu dianggap sebagai kelemahan akademis, justru menjadi efektif sebagai gaya kemunikasi dengan rakyat: manusiawi, sederhana, lugas, tak bersayap-sayap-multitafsir. Yang manusiawi memberi pesan bahwa ia ada, di antara, bersama, dan untuk rakyat. Dan itulah esensi seorang pemimpin.

 

 

6 Comments to "Superior dan Inferioritas Psiko-Sosio-Kultural"

  1. Lani  28 October, 2016 at 12:22

    Al: sdh jd rahasia publik pejabat di Indonesia biar sdh ketahuan nyolong/korupsi sdh dicopot/dipecat mrk tdk punya malu spt apa yg kau paparkan di komentarmu……….ya begitulah, coba klu dinegara lain sdh krukupan kandel banget atau harakiri…………

    Pepatah mengatakan “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” msh klop dan sgt pas dinegeri ini

    Mmgnya kamu dipanggil ngadep utk apa? Mereka pikir semua org hrs tunduk sama dia hehehe……..

    Pesanmu benar jgn sampai salah pilih pemimpin…….klu mengenai Anies kan sdh ketahuan dulu kawan sekrng nyemplung jd anak buah bocor…………bocor……..iya kan?

  2. J C  28 October, 2016 at 09:53

    Jokowi adalah “mahluk langka” (sama langkanya dengan yang nulis artikel ini)

  3. Alvina VB  28 October, 2016 at 09:14

    Sayangnya kok gak banyak pejabat yg ngikutin teladannya pak Jokowi yak? Banyak pejabat2 Orba dan kroninya yg masih memiliki superior dan inferioritas psiko-sosio-kultural yg masih kentel dan terbawa terus sampe hari ini. Bbrp waktu y.b.l. saya ada di Jkt dan dpt undangan utk dateng ke pembukaan pameran di Jakarta Convention Centre. Ya saya org tak dikenal gak dpt sambutan donk…he..he….maka saya santai aja, masuk dan membubuhkan tanda tangan, lalu cari duduk yg enak di tengah-tengah. Sementara para pejabatnya Jokowi dan istri2 pejabat Orba dateng panitia hebooooh dan tergopoh-gopoh kasih tempat duduk khusus dan berbasa-basi dgn ibu2 tersebut yg gak lirik kiri dan ke kanan, hanya nempel di kursi khusus. Saya sich mesem2 aja liatin betapa ibu2 ini masih dengan arogannya tampil di pubik padahal para suaminya sudah copot jabatan dan tergugat korupsi serta pelanggaran HAM, dsb (kl di sini mah para koruptor dan istrinya pada ngilang, pindah kota/negara). Trus ada kenalan saya dateng dan saya dikenalkan ke panitianya. Lalu panitianya mengamit tangan saya dan bilang, mari bu diperkenalkan ke undangan yth. Saya sich pengen tahu aja, spt apa ya…kelakuannya mereka ini. Wuih….dasyat seperti gunung es, dinginnnn dan senyum aja susyah banget (apa krn botox yak?). Sebulan setelah pembukaan pameran tsb, ada pesen masuk di e-mail saya dari org yg saya gak kenal sebelumnya. Pesennya ibu X mau ketemu ibu hari dan jam sekian, bisa gak? Saya bilang tidak bisa, maaf saya sudah balik ke Canada. Emang disangka bawahannya kali setiap saat bisa dipanggil ngadep. Weleh..weleh….hari gini tradisi kolonialisme masih kentel di jajaran pemerintahan. Sangkain saya…. jaman Jokowi udah ada perubahan, karena pemimpinnya yg rendah hati, bawahannya sedikit banyak ngikut atasannya donk….ternyata cuman mimpi. Makanya, jangan heran Anies Basedan dicopot, lah kelakuan dia di balik layar publik banyak yg gak tahu, tapi toch sedikit demi sedikit publik akan tahu aslinya dia spt apa. Jangan salah milih Cagub makanya ya…..he..he…..

  4. Dj. 813  28 October, 2016 at 01:33

    Mas Juwandi . . .
    Terimakasih untuk artikel yang bagus .
    Hal ini bisa dilihat dimana-mana, terutama di masyarakat Jawa .
    Yang sejak kecil sudah diajar untuk mengormati mereka yang lebih besar .
    Baik umur, pangkat dan jabatan .

    Dan dalam satu iman percaya , ada tertulis . . .
    Bila kamu diundang orang dalam satu pesta, janganlah kamu langsung mau duduk didepan .
    Karena bila ada orang yang lebih terhormat daripada kamu, maka tuan rumah akan
    memintamu agar enkau memberikan tempat yang kau duduki .
    Sehingga kamu harus menanggung malu dan pendah dari tempatmu semula .

    Tapi duduklah ditempat yang belakang, bila tuan rumah melihat kamu duduk di belakang,
    maka dia akan memanggilmu untuk duduk didepan .
    Dengan demikian, kamu akan lebih dihormati .

    Dengan kata lain, tidak ada salahnya kalau kita mau merendah .

    Salam Sejahtera dari Mainz .

  5. Lani  27 October, 2016 at 12:33

    James: Jokowi mmg jossss……….rendah hati, andap asor tetep aja dia Presiden ndak perlu ditampilkan yg aneh2

  6. James  27 October, 2016 at 12:24

    1……sikap dan tindakan Jokowi menggambarkan tidak diskriminatif

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *