Belajar dari Masyarakat Kampung Naga dalam Menghayati Kehidupan Beragama (3)

Wiwit Sri Arianti

 

Artikel sebelumnya:

Belajar dari Masyarakat Kampung Naga dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup Sehari-hari (1)

Belajar dari Masyarakat Kampung Naga dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup Sehari-hari (2)

 

Episode terakhir dari perjalananku ke Kampung Naga ini tentang penghayatan beragama dan penerapan nilai-nilanya. Menurut penuturan Pak Ijad, pemandu perjalanan kami ketika menyusuri kampung Naga, masyarakat di sini semuanya beragama Islam dengan menjunjung tinggi adat istiadat yang berlaku dan sudah dijalani sepanjang kehidupan sejak nenek moyang mereka.

Matahari sudah mulai condong ke barat ketika kami melanjutkan perjalanan berteman semilir angin nan lembut dari hutan terlarang menuju sebuah bangunan berbentuk rumah panggung berbahan utama kayu dengan atap sama dengan semua rumah yang ada di kampung ini yang terbuat dari anyaman daun atau sirap. Entah kenapa ada perasaan nyaman mengalir sejuk di sanubariku ketika kaki ini menginjak halaman masjid. Menurut penjelasan pak Ijad, struktur bangunan masjid menggunakan konsep seperti tubuh manusia yang memiliki kepala, badan, dan kaki sehingga bangunan dapat berdiri kokoh.

Yang disebut dengan kepala adalah atap, badan adalah badan rumah yang terdiri dari ruangan untuk mendirikan shalat lengkap dengan mimbar untuk imam, dan kaki adalah batu pondasi yang ada di bawah bangunan yang berfungsi sebagai penyangga. Disain bangunan yang terbuka dengan dinding berbentuk jeruji untuk memberikan kenyamanan bagi jamaah dan menjaga sirkulasi udara tetap baik dan tidak pengap karena melalui jeruji sinar matahari serta bias cahaya dari luar dapat masuk menerangi masjid, seperti foto di bawah ini.

kampung-naga-1

Ketika kami melihat dalam ruangan masjid tempat para jamaah mendirikan shalat, suasananya bersih dan menyejukkan mungkin karena dibangun dengan bahan utama kayu. Atau mungkin karena di tempat ini dalam sehari lima waktu menjadi media komunikasi antara Allah dengan hambaNya sehingga menebarkan aura kebaikan, aura supranatural.

Melihat dalamnya masjid ini mengingatkanku pada sebuah dojo, tempat latihan beladiri. Jeruji kayu tidak hanya ada pada dinding bagian luar masjid, namun ada juga di bagian dalam masjid yang berfungsi sebagai pembatas antara jamaah perempuan dan laki-laki. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan warga seperti rutinitas shalat berjamaah, Jum’atan atau shalat berjamaah yang dilakukan pada setiap hari Jum’at di siang hari seperti waktu shalat dzuhur dan upacara adat yang disebut hajat sasih. Kegiatan belajar membaca Al Qur’an atau mengaji dilakukan oleh kelompok anak-anak dan kelompok orang tua/dewasa. Pengajaran mengaji bagi anak-anak dilaksanakan pada malam Senin dan malam Kamis, sedangkan pengajian bagi orang tua dan orang dewasa yang lain dilaksanakan pada malam Jumat.

“Suasana tempat shalat di dalam masjid, terang dan bersih”

“Suasana tempat shalat di dalam masjid, terang dan bersih”

Seperti pada umumnya masjid di tempat lain, masjid di sini juga dilengkapi dengan bedug yang dengan setia menyediakan diri untuk ditabuh/dibunyikan setiap kali tiba waktunya shalat sebelum adzan dikumandangkan untuk memberi tahu warga agar segera bersiap-siap pergi ke masjid untuk mendirikan shalat berjamaah atau shalat di rumah masing-masing. Masjid ini dibangun bersebelahan dengan balai kampung, yang berfungsi sebagai tempat pertemuan warga untuk bermusyawarah membahas berbagai kebutuhan, rencana, dan permasalahan yang dialami warga agar saling diketahui dan dapat dicarikan solusi yang terbaik bagi semua.  Selain bedug juga ada kentongan yang terbuat dari kayu dan berfungsi sebagai alat komunikasi untuk memanggil warga maupun memberikan tanda atau pengumuman sesuai jumlah dan irama bunyinya.

“Bedug Masjid dan kenthongan Balai Kampung”

“Bedug Masjid dan kenthongan Balai Kampung”

“Bedug Masjid dan kenthongan Balai Kampung”

“Bedug Masjid dan kenthongan Balai Kampung”

“Tempat berwudhu yang terletak di antara masjid dan balai kampung”

“Tempat berwudhu yang terletak di antara masjid dan balai kampung”

Satu lagi sarana terpenting yang harus ada di masjid adalah tempat berwudhu, di kampung ini tempat mengambil air wudhu terletak di antara masjid dan balai kampung karena kedua bangunan tersebut dibangun saling berhadapan. Kalau kita lihat foto tempat wudhu di atas, berbeda dengan tempat wudhu di masjid lain. Perbedaan tersebut dapat kita lihat dengan jelas, di tempat lain ada tutup di setiap pancuran supaya air tidak mengalir terus menerus. Namun di masjid Kampung Naga ini, pancuran untuk wudhu dibiarkan terbuka dan air jernih mengalir deras menyegarkan. Air berasal dari air nyusu/air kehidupan/cikahuripan (baca penjelasan tentang air kehidupan pada tulisan sebelumnya). Sebetulnya air yang mengalir dari pancuran tempat wudhu tidak terbuang percuma karena air tersebut akan mengalir ke kolam ikan dan sawah mereka, sehingga tetap bermanfaat.

Di bawah ini foto etalase atau tempat mempromosikan barang-barang kerajinan hasil karya warga seperti berbagai barang anyaman dari bambu, rotan, dan kayu serta kain perca. Tidak semua barang dagangan hasil karya warga, namun sebagian berasal dari luar Kampung Naga yang diperoleh melalui barter atau tukar barang. Kita juga dapat membeli hasil pertanian seperti beras merah organik, gula aren, dan makanan khas Kampung Naga. Etalase ini terletak di samping Balai Kampung, ini tempat yang paling strategis, karena setelah berkeliling para tamu dapat berhenti di masjid, mendirikan shalat, dan beristirahat sejenak,  sambil melihat-lihat barang kerajinan dan hasil pertanian yang bisa dibeli sebagai buah tangan bagi keluarga atau sahabat supaya tertarik untuk datang juga ke Kampung Naga. Dengan meletakkan etalase di samping Balai Kampung dapat mempermudah pengurus dalam mengelolanya.

kampung-naga-6

Selain masjid dan balai kampung, tiga tempat penting lainnya adalah lumbung padi umum, tempat menyimpan padi hasil panen warga, jadi siapapun warga Kampung ini yang akan menyimpan padinya di lumbung umum dipersilahkan.

Bumi ageung (rumah besar), adalah rumah adat hanya dipergunakan untuk upacara keagamaan, tidak setiap warga bisa masuk, hanya pakuncen dan lebe yang bisa masuk. Meskipun namanya bumi ageung jika dibandingkan dengan bangunan rumah yang lain, mempunyai ukuran lebih kecil, namun memiliki arti dan fungsi yang besar. Bumi ageung bersifat sakral dan untuk menjaga kesakralannya, bumi ageung dipagari dengan bambu setinggi 2 meter atau lebih.

Saung lisung, adalah tempat menumbuk padi, letaknya di pinggir balong (kolam ikan) agar limbah dari menumbuk padi dapat ditampung di balong dan dijadikan makanan ikan, sehingga tidak tebuang percuma atau bahkan mengotori wilayah perumahan. Di bawah ini foto rumah lesung beserta perangkat lesungnya yang biasa digunakan oleh seluruh warga untuk menumbuk padi hasil panennya supaya menjadi beras dan bisa dikonsumsi oleh keluarganya.

kampung-naga-7

Ada yang menarik ketika kami masuk ke rumah lesung, mataku tertambat di atas pintu masuk oleh dua jenis ketupat kecil berbeda bentuk, yang satu dengan bentuk segi lima dan satunya lagi berbentuk segi tiga. Menurut pemandu, dua bentuk ketupat tersebut menjadi pengingat bagi warga agar dapat meraih keseimbangan dan keselamatan hidup, karena ketupat tersebut syarat dengan makna. Ketupat segi lima disebut ketupat selamat, maknanya adalah jika kita ingin selamat dalam menjalani kehidupan ini jangan lupa menjalankan shalat 5 waktu, yaitu shalat Isya’, Subuh, Lohor, Ashar, dan Maghrib. Sedangkan ketupat segi tiga disebut ketupat dupi, maknanya adalah selalu mengucapkan 3 hal penting yaitu mengucap Bismillah setiap kita akan melakukan segala kegiatan dan Alhamdulillah setelah selesai dan setiap kali mendapat kebaikan. Serta yang terakhir mengucap Astaghfirullah setiap kali menyadari kesalahan yang sudah dilakukan untuk memohon ampunanNya. Di bawah ini peralatan yang ada di rumah lesung, yaitu lesung tempat untuk menumbuk padi dan alu sebagai penumbuknya. Dan foto di bawahnya ketika aku mencoba merasakan aura kemakmuran yang menyebar memenuhi ruangan ini, dan membayangkan para perempuan berdatangan membawa padi hasil panen  dan menumbuknya dengan sukacita.

“Lesung dan peragaan menumbuk padi di rumah lesung”

“Lesung dan peragaan menumbuk padi di rumah lesung”

“Lesung dan peragaan menumbuk padi di rumah lesung”

“Lesung dan peragaan menumbuk padi di rumah lesung”

Diskusi bersama pemandu berlanjut tentang salah satu upacara adat yang penting dan cukup besar penyelenggarannya di Kampung Naga, namanya Hajat sasih, adalah upacara ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan RasulNya, Nabi Muhammad SAW atas  keselamatan, keberhasilan dan limpahan hasil bumi serta tanah yang subur. Upacara ini juga sebagai penghormatan kepada leluhur Kampung Naga yang menjadi cikal bakal Kampung Naga dan menurunkan  orang Sanaga. Upacara ini dilakukan oleh para lelaki warga Sanaga, sedangkan para perempuannya sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan. Selalu begitu, urusan domestik adalah urusan perempuan, hehehe…

Rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam upara hajat sasih antara lain adalah mengganti pagar bambu yang mengelilingi  Bumi Ageung, mencuci benda-benda pusaka, beberesih (mandi di Sungai Ciwulan), membersihkan makam leluhur (Eyang Singaparna), bersalaman dengan kuncen, dan makan bersama di Balai Patemon dengan makanan yang sudah dimasak dan disiapkan oleh para perempuan. Setelah selesai sholat, para wanita Kampung Naga membawa boboko berisi nasi tumpeng beserta lauk pauknya ke masjid untuk kemudian dido’akan oleh kuncen. Setelah dido’akan, boboko itu segera dibagikan kepada pemiliknya, setiap perempuan mengambilnya dengan tertib dan teratur, lalu membawanya pulang untuk disantap di rumah masing-masing. Mereka menyebutnya murak tumpeng

Bagi teman-teman yang tertarik untuk berkunjung ke Kampung Naga sekaligus dapat menyaksikan upacara hajat sasih, sebaiknya menyesuaikan dengan jadwal pelaksanaan hajat sasih. Ritual upacara Hajat Sasih ini dilaksanakan sebanyak enam kali dalam setahun, yaitu pada bulan Muharram, Rabi’ul Awwal (muludan), Jumadil Akhir, Sya’ban (Nisfuan), Syawal, dan Dzulhijjah. Di bawah ini foto pelaksanaan upacara hajat sasih (Sumber: Dinas Pariwisata).

kampung-naga-10

Seperti umumnya kehidupan bermasyarakat di pedesaan yang dipimpin oleh lembaga pemerintahan lokal, Kampung Naga juga mempunyai lembaga pemerintahan, tetapi masyarakat Kampung Naga sangat menjunjung tinggi lembaga adat. Lembaga adat dipimpin oleh seorang Kuncen, dengan didampingi Palebeh dan  Papunduh . Calon penerus lembaga adat, harus mempunyai keturunan dari sesepuh, agar dapat menjadi Kuncen, Palebeh, atau Papunduh, dan jika tidak mempunyai keturunan dari sesepuh maka tidak bisa menjadi seorang Kuncen. Kuncen tidak dilihat dari umur, melainkan dilihat tingkat kedewasaannya, pengetahuan, tangungjawab, dan kemampuannya dalam memimpin adat.

Saat ini sudah banyak warga Kampung Naga yang tinggal di atas atau di luar Kampung Naga karena terbentur dengan aturan bahwa luas lahan yang dimanfaatkan untuk pemukiman atau membangun rumah maksimal hanya 1,5 ha. Aturan tersebut ditetapkan dan dipatuhi oleh seluruh warga untuk menjamin lahan pertanian dan kebun tidak terkikis habis, sehingga ketersediaan pangan dan hasil pertanian tetap tercukupi.

Oleh sebab itu, jika ada keluarga baru dan sudah tidak tersedia lahan untuk membangun rumah, mereka akan keluar dari kampung naga dan membangun rumah di atas atau di luar kampung. Meskipun demikian, hubungan silaturahmi tetap terjaga dengan baik dan adat kebiasaan juga tetap dilaksanakan. Di bawah ini foto warga yang tinggal di atas datang membawakan berkat/makanan dari acara selamatan untuk warga yang masih tinggal di dalam Kampung Naga. Dengan merawat tali silaturahmi, hidup ini serasa lebih indah dan bermakna, rasa bahagia juga akan datang saat kita bertemu dengan saudara dan sahabat. Dan akhirnya, rejeki akan datang tanpa kita duga sebelumnya dari mana asalnya, maka aku menjadi semakin paham kenapa di dalam Islam sangat menganjurkan pentingnya silaturahmi.

kampung-naga-11 kampung-naga-12

Lembayung senja telah semburat di kaki langit, pertanda kami harus segera mengakhiri perjalanan ini. Sebelum meninggalkan Kampung Naga, kusempatkan berfoto dengan Pak Ijad, beliau adalah salah satu warga Kampung Naga yang bertugas menjadi pemandu para tamu yang berkunjung ke Kampung Naga, termasuk memandu kami saat blusukan di kampungnya. Aku belajar banyak dari beliau tentang kearifan lokal,  arti kesederhanaan, dan pengalaman kehidupan di Kampung Naga. Trimakasih ya pak Ijad, aku akan berdoa dan memohon pada Allah agar diberi kesempatan untuk bisa datang lagi dan menginap. Karena aku ingin menikmati nyanyian merdu binatang malam bersama alam di Kampung Naga, pasti akan lebih syahdu dari nyanyian malam di metropolitan, hehehe….  Sampai di sini teman-teman…cerita perjalananku ke Kampung Naga dan sampai bertemu lagi pada perjalanan yang akan datang di tempat lain di Nusantara negeri nan elok.

 

 

19 Comments to "Belajar dari Masyarakat Kampung Naga dalam Menghayati Kehidupan Beragama (3)"

  1. Lani  1 November, 2016 at 12:36

    Betul Bu Lani…hutan terlarang adalah hutan lindung yang ada di Kampung Naga, orang tidak diperbolehkan masuk dalam hutan lindung, apalagi mengambil kayu bakar, sangat dilarang agar hutan tetap terjaga untuk kelestarian alam dan kehidupan.
    +++++++++++++++++++++
    Aku kira hutan lindung=hutan terlarang itu bs dikunjungi sbg tempat wisata, jgn malah nyolong kayu bakar dan merusak
    +++++++++++++++++

    Jika masyarakat membutuhkan kayu bakar atau kayu untuk membangun rumah, mereka bisa mengambil dari pohon yang ada lingkungan tempat tinggal dengan mengikuti aturan pelestarian hutan. Bahwa setiap warga yang membutuhkan kayu harus menanam 2 pohon terlebih dulu. Setelah pohon yang ditanam sudah kelihatan tumbuh, barulah warga tersebut diperbolehkan memotong pohon dan meskipun aturan tersebut tidak tertulis secara resmi, namun seluruh warga kampung sangat mematuhi aturan tersebut. Keren ya bu hehe…
    ++++++++++++++

    Wah klu nurut aturan ya bagus itu, hrs dipertahankan agar dijaga kelestarian hutannya, tetep ijo royo2

  2. Wiwit  1 November, 2016 at 12:24

    Iya mbak Vina, semoga tetap terjaga indah. Aamiin…

  3. Alvina VB  1 November, 2016 at 09:34

    Semoga kampung ini tetep asri dan tetep menjaga budaya dan agama islam Indonesia (bukan islam kearab-araban yg ngikutin ajaran wahabi.) Saya rindu banget ngelihat Indonesia yg islamnya Indonesia banget.

  4. Wiwit  1 November, 2016 at 01:20

    Betul Mas Iwan, gotong royong itu yang masih sangat dipatuhi di Kp. Naga, tidak hanya soal mengelola hutan tapi juga dalam berbagai aktifitas kemasyarakat. Dan gotong royong justru sudah mulai luntur bahkan menjadi kebiasaan yang langka di perkotaan yang sudah mulai individualis. sayang banget ya…

  5. Wiwit  1 November, 2016 at 01:08

    Hayuk Mbak Tri, aku juga pingin kesana lagi dan nginap supaya lebih puas dan lebih banyak yang bisa kita pelajari. Tapi kapan ya mbak? Sepertinya setelah Januari tahun depan ya.

  6. Wiwit  1 November, 2016 at 01:05

    Sama2 Pak Dj….kapan mau datang kesana lagi? Kabari saya ya, siapa tahu waktunya pas jadi kita bisa jalan bersama-sama dengan mbak Tri Yudani juga karena beliau sudah ngidam pingin ke Kp. Naga hehe…

  7. Wiwit  1 November, 2016 at 01:02

    Pak James betul, suasana indah dan nyaman, tenteram, damai seperti di Kp. Naga sulit kita dapatkan di kota Metropolitan hi hi….

  8. Wiwit  1 November, 2016 at 01:00

    Mas Iwan….hal itu juga yang membuatku juga ingin menginap di Kp. Naga, menikmati makanan organik dan nyanyian alam di malam hari.

  9. Wiwit  1 November, 2016 at 00:57

    Betul Bu Lani…hutan terlarang adalah hutan lindung yang ada di Kampung Naga, orang tidak diperbolehkan masuk dalam hutan lindung, apalagi mengambil kayu bakar, sangat dilarang agar hutan tetap terjaga untuk kelestarian alam dan kehidupan.

    Jika masyarakat membutuhkan kayu bakar atau kayu untuk membangun rumah, mereka bisa mengambil dari pohon yang ada lingkungan tempat tinggal dengan mengikuti aturan pelestarian hutan. Bahwa setiap warga yang membutuhkan kayu harus menanam 2 pohon terlebih dulu. Setelah pohon yang ditanam sudah kelihatan tumbuh, barulah warga tersebut diperbolehkan memotong pohon dan meskipun aturan tersebut tidak tertulis secara resmi, namun seluruh warga kampung sangat mematuhi aturan tersebut. Keren ya bu hehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *