Dahlan Iskan bukan Ahok

Prabu

 

Semua rakyat di negeri ini tentu paham soal siapa dan apa yang dikerjakan AHOK. Sebab Gubenur DKI, Basuki Tjahaya Purnama ini, namanya tentu tidak asing lagi baik di kalangan pendukung maupun pembenci. Andai Ahok petinju, sejumlah pukulan strike, hook, jab dan bogem mentah hingga tendangan curang oleh lawan ternyata tak menggoyahkannya, atau bikin KO. Justru lawan terkuras energinya, akhirnya loyo! Berbulan-bulan di demo. Duh, tidak juga Ahok masuk bui.

Begitu pun seorang Dahlan Iskan. Publik juga sudah paham. Namun yang tidak saya pahami, baru kena satu jab, langsung klenger! Lalu digiring ke terali besi.

Padahal, siapa sih yang tidak kenal sosok Dahlan Iskan?

Beliau ini punya integritas personal yang sudah teruji. Ia sosok CEO yang handal. Belasan perusahaan privat dan Jawapos Grup yang dipimpinnya maju dengan pesat. Begitupun keshalehan sosialnya, derajatnya bukan abal-abal. Maka ia pantas menyandang beragam jabatan terhormat seperti dewan penasehat, dewan pendiri, penyantun dan seterusnya di sejumlah pesantren di Jawa Timur khususnya dan lembaga sosial tingkat nasional maupun internasional. Belum lagi, ribuan tulisannya yang tersebar di media mainstream serta puluhan judul buku yang dibuatnya. Semuanya itu, sungguh telah menyihir jutaan public dan menginspirasi kaum muda. Termasuk saya

Karena waktu kelas 1 SMP saya pernah kerja di perusahaannya, sebagai loper koran Jawa Pos dan jualan buku-bukunya. Saat itu internet belum ada. Televisi pun pun bapak saya ga gablek beli. Tapi pengetahuan umum saya lebih bagus dari teman-teman sebaya saat itu. Sebagai loper koran yang terbit pagi, saya mesti berangkat ke percetakan Jawa Pos yang terletak di Kembang Jepun, Surabaya, sebelum kumandang adzan subuh. Dan nyebarin sekitar dua ratus koran ke kampung-kampung butuh waktu 2 jam lebih. Saya juga selalu mengikuti tulisan-tulisannya. Lebih-lebih soal perlistrikan yang penuh dengan data dan analisa tajam. Maka, ketika beliau ditunjuk sebagai Dirut PLN, saya pribadi girang. Sebab isteriku tidak pernah ngomel lagi. Karena pasokan listrik selama kepemimpinan Dahlan Iskan, tak pernah byar-pet lagi. Terang terus. Terus terang, Dahlan pancen oye!

Selanjutnya ketika SBY kepilih presiden ke dua kali. Dahlan ditunjuk jadi menteri. BUMN lagi. Maka saya dan isteri girangnya muncrat lagi. Saya ingat, melihat sosok Dahlan bersepatu kets dipadu baju putih lengan panjang dengan ujung lengan dilipat, datang ke Istana, Jakarta. Sudah barang tentu kelakuan yang nlyeneh ini menjadi viral. Publik menerima dengan positif. Lalu massa semakin orgasme histeris, saat melihat menteri Dahlan Iskan “ngamuk” di pintu gerbang tol Gatsu, Jakarta. Begitu pun syahwat kekepoan public makin muncrat setiap Dahlan melakukan talk show bahwa ia tak mengejar jabatan. Kekayaannya tak akan habis dimakan tujuh turunan. Benar, ketika ia menjadi pejabat negara, ia tak ambil fasilitas yang diberi negara. Sebab mobil dan rumah dinasnya, lebih mewah. Begitupun, gaji pejabat yang kecil tak menyilaukannya. Maka, lengkaplah sudah citra positif yang dibangunnya sebagai pribadi yang penuh integirtas dan orisinal!

Sayang, semua kekaguman itu menjadi runtuh, ketika saya menyaksikan Dahlan dipakein rompi oranye. Betul, public meragukan seorang Dahlan mana mau korupsi (uang)? Cuma yang saya sesalkan adalah pengelakannya bahwa ia tidak korupsi, namun hanya menandatangani dokumen yang disodorkan anak buah. Mantan menterinya SBY ini juga tidak kaget ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan ia sudah dincar oleh penguasa (Jokowi) sebagai target atas apa yang dikerjakannya saat menjabat Dirut PT Panca Wira Usaha, sebuah BUMD milik Pemprov Jawa Timur.

“Saya tidak kaget dengan penetapan sebagai tersangka. Menjadi tersangka bukan karena makan uang, bukan karena menerima sogokan, bukan karena menerima aliran dana tapi hanya karena harus tanda tangan yang disiapkan anak buah. Selebihnya, biar penasihat hukum yang memberikan keterangan,” tegas Dahlan.

Secara tersirat Dahlan Iskan ingin menegaskan bahwa dirinya adalah orang jujur. Sungguh, betapa bodohnya pejabat model ini. Maaf, saya terpaksa mengulangi “pejabat bodoh” dalam tulisan ini. Meskipun ada fans yang tidak suka yang kirim inbox.

Saya katakan “pejabat bodoh”, bukan “orang bodoh”. Karena pejabat bodoh dengan orang bodoh itu beda. Begitupun, integritas personal itu tidak sama dengan integritas public.

Di sinilah kaum pemuja belum banyak yang memahami. Di negeri ini, jelas banyak stock orang yang memiliki integritas personal. Namun ironinya, ketika menjadi pejabat public/negara, terjerembab ke penjara. Andi Mallarangeng dulu dikenal aktivis idealis dan jujur, mantan ketua HMI Anas Urbaningrum, mantan menteri Kesehatan Fadilah, mantan menteri agamanya SBY dan seterusnya mungkin bisa Anda tambahkan. Sementara yang masih hangat, Marwah Daud, seorang intelektual dengan integritas personal yang terukur, kini masuk dalam jaringan pesantren abal-abal yang dipimpin oleh gerombolan ustadz palsu bin unyu-unyu.

Lalu pertanyaan pentingnya, kenapa orang-orang macam itu bisa masuk penjara?

Karena memilih pejabat yang bermodal integritas personal, sopan santun ditambah hapal Pancasila dan pandai baca kitab suci, bukan jaminan tidak masuk penjara. Justru sebaliknya, pemimpin demikian akan menjadi media empuk bagi maling dan mafia birokrasi di negeri ini.

dahlaniskan-ahok

Sebaliknya, pejabat yang mentasbihkan dirinya sebagai preman resmi, bergaya plonga-plongo, bertato, kasar bicaranya namun memiliki integritas public dan teguh pegang konstitusi akan bikin maling dan mafia mati.

Atau, mungkin mantan yang dulu punya jawaban lain?

Itulah sebabnya kenapa Jokowi dan Ahok dibenci setengah mati. Maka nikmat mana yang ingin kamu dustakan?*

 

 

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Dahlan Iskan bukan Ahok"

  1. Sierli FP  7 November, 2016 at 21:43

    Mantap ulasannya mas Prabu..
    Terimaksih atas artikelnya..

  2. Lani  3 November, 2016 at 10:28

    Al: mmg kasihan dia dijadikan korban oleh anak buahnya/staff, tp pepatah mengatakan “nasi sdh jd bubur” akan ttp bagaimanapun utk masalah tanda tangan dlm soal apapun hrs dibaca dulu jgn asal pokok-e cret…cret…..tanda tangan, ndak taunya kena getahnya/ketiban awu panas.

    Kasihan tp mau gimana lagi?

  3. Alvina VB  1 November, 2016 at 09:24

    Kl kasus DI saya kagak tahu kebetulannya gimana…krn gak kenal baik dgn Bapak ini, ttp menurut kawan saya yg suka uplek2 sama pejabat RI, ini tipe Bapak yg demen diagung-agungkan publik (termasuk para artist dulu waktu dia masih jadi mentri), termasuk anak buahnya yg mendewakan dia dan pada akhirnya ya menjebloskan dia ke penjara.

  4. Alvina VB  1 November, 2016 at 09:17

    Mbakyu Lani, itulah namanya org kadang kePDan sama anak buahnya,krn apa? anak buahnya kelihatannya setia banget, menagung-agungkan dia setengah mati (dah kek dewanya dia aja….ketemu sama org yg kek gini, musti ati2 banget) dan org bisa saja terlena, percayaaaa aja. Kasusnya duluuuu pernah nyangkut kenalan keluarga dekat. Ini bapak emang tipe2 yg demen banget dipuja2 anak buahnya (tangan kanannya) dan kl anak buahnya bawa perjanjian kontrak utk ditanda tangani wis tanda tangan aja, tanpa diperiksa dengan teliti lagi. Padahal anaknya,isrinya serta temen2 deketnya sudah memperingati jangan asal tanda tangan aja, coba tolong dibaca dengan teliti; jawabannya apa? Ah..situ2 kan gak tahu dia, saya tahu dia dah lamaaaa, puluhan tahun dan percaya kok dia org baik. Halah…[email protected]#$%&*
    Nah sekali waktu anak buahnya ini masukin sesuatu dlm perjanjian yg semustinya gak ada di situ. Anak buahnya kilaf mata, dibayar sama rekan bisnis kerjanya itu Bapak; ya namanya duit dan org bisa lupa apa itu loyalitas? apa itu pelanggaran/dosa? Ya, si Bapak ini kena tuntutan rekan bisnisnya yg dianggap tidak menepati perjanjian yg itu Bapak gak pernah bikin sebetulnya, ttp dia tandatangani. Ruame je…. tuntut menuntut di pengadilan yg jelas anak buahnya cuci tangan, gak merasa bersalah donk….yg tandatangani surat2 tsb siapa? ya itu Bapaklah. Org2 di pengadilan, termasuk jaksa penuntut gak percayalah, masa iya…gak baca isi perjanjian tsb baik2? Lah itu dia….org percaya sama bawahan gak bisa membabi buta kaya gitu, kl nyangkut surat2 penting, musti tetep dibaca dengan teliti. Org banyak jatuh krn org terdekatnya (yg sudah dianggap keluarganya sendiri) yg justru menjerumuskan dia. Dan loyalitas cuman isapan jempol belaka. Siapa yg diuntungkan dari kasus tsb? Pengadilan Indonesia yg sangat teramat korup, para lawyer yg enak aja dpt duit, semakin lama kasus gpp, semakin banyak duit yg masuk ini. Kita mah gak bisa bikin apa2. Kl dipanggil utk bersaksi ttg karakter ini Bapakpun, pengadilan dan publik pasti meragukan, BIAS… kan kel. dan kenalannya yg bilang, pasti dibela donk itu Bpk., walaupun itu benar tetep aja dianggap salah. Item di atas putih, itu Bapak menandatangani surat perjanjian tsb. bukan anak buahnya, bukan org lain.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *