Tidak Selamanya Diam itu Emas

Anik Cahyanik

 

Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda meski dilahirkan sekandung. Hal itulah yang membuat terjadinya perselisihan di rumah. Apalagi orangtuaku dikaruniai tiga anak dan aku adalah anak bungsunya. Kadang, suasana rumah bisa menjadi ricuh…

Masih kuingat bagaimana aku sering bertengkar dengan kakak perempuanku hanya karena masalah sepele. Sebelum kakakku menikah dan aku masih duduk di bangku SD, aku masih begitu labil dan bersikap kekanak-kanakan. Sering melakukan hal sesukaku tanpa memedulikan orang lain. Aku pernah membuka almari kakakku yang lupa dikuncinya. Kutemukan jilbab baru di dalamnya, apalagi warnanya cocok dengan bajuku. Tanpa meminta izin, aku memakainya ke pengajian. Setelah dia tahu jilbab baru yang belum pernah dipakainya tergantung di kamarku, dia marah seketika.

“Kamu mencuri jilbabku!” tuduhnya seraya menunjukkan jilbabnya di hadapanku.

“Aku hanya meminjam, Kak.” Aku membela diri.

“Meminjam tanpa izin itu ghasab namanya. Tetap saja kamu dosa.”

“Kita serumah, apapun yang ada di dalam rumah ini milik kita bersama.”

“Aku hanya tidak suka jilbab baru yang belum pernah kupakai dipakai orang lain, ini sama saja aku memakai bekasmu.” Kakakku bersungut-sungut memarahiku. Aku menangis histeris dan masuk kamar sambil membanting pintu. Ibu yang mendengar suara keras itu langsung berlari ke arah kamarku. Kakakku menjelaskan semuanya kepada Ibu. Di dalam kamar kudengar dia menyindir habis-habisan. Tangisanku semakin kencang membuat Ibu kewalahan melerai adu mulut kami.

Lain lagi dengan kakak pertamaku. Dia adalah satu-satunya anak laki-laki di rumah ini. Dia lebih menyebalkan dari kakak perempuanku. Sering mengeraskan volume televisi saat aku tidur siang, memakai handukku lalu dibiarkan tergeletak begitu saja di kasur sampai basah, mandi pagi begitu lama sampai aku ketiduran menunggunya. Semua ulah menyebalkannya tak akan cukup diceritakan satu-persatu. Sekali pun aku marah sampai menangis dan berulang kali mengingatkannya, tetap saja sikapnya tak pernah berubah.

Bukan hal yang asing bagi kedua orangtuaku saat mendapati anaknya saling tak bertegur sapa. Permasalahan kecil bisa menjadi masalah yang berlarut-larut tak terselesaikan. Karena aku sendiri sudah menyimpan perasaan begitu bencinya kepada kedua kakakku.

silence-is-not-always-golden

Tak jarang, Ayah dan Ibuku menjadi penengah di antara kami. Diam-diam mereka berbicara empat mata denganku secara bergantian. Membujukku untuk mau memaafkan sikap kedua kakakku. Mereka juga mengingatkan bahwa marah dan diam tak akan menyelesaikan masalah. Yah begitulah, ucapan Ibu selalu halus dan berhasil membuatku luluh. Tapi itu hanya sementara. Beberapa hari lagi jika kakakku melakukan kesalahan, aku tetap akan marah dan mendiamkan mereka seperti biasanya. Aku tahu sikapku sudah keterlaluan, tapi aku termasuk tipe orang yang suka blak-blakan. Aku tidak tahan memendam perasaan benci. Lebih suka meluapkan semua amarahku agar lega.

Suatu ketika, aku benar-benar marah dengan kakak laki-lakiku. Ada suatu hal yang membuatku membencinya. Sampai hampir sebulan aku tidak menyapanya. Meski dia mencoba mengajakku berbicara, tapi aku selalu mengabaikannya. Aku hanya berbicara seperlunya jika ada kepentingan. Orang tua yang mengetahui hal ini tentu menjadi beban untuknya. Melihat anak-anaknya yang tidak akur membuat mereka selalu berusaha menyatukan kami. Saat Ibu mencoba mengingatkanku, kutentang semua ucapannya. Aku meluapkan semua amarahku. Hingga Ibu mengucapkan sesuatu yang begitu menohok hatiku. Ucapannya halus tapi mampu menamparku begitu keras.

“Kamu umat Nabi Muhammad, kan?” tanya Ibu membuatku mengerutkan kening.

“Tanpa aku jawab, Ibu sudah tahu jawabanku.”

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, tidak halal seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah memulai mengucapkan salam.”

Aku tertegun mendengar penjelasannya. Tidak ada alasan lagi untuk menentangnya.

“Kemarin saat di pengajian rutinan Ibu dijelaskan, seseorang yang sengaja mendiamkan orang lain lebih dari tiga hari ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah. Percuma kamu selama ini rajin ibadah jika hubungan dengan saudaramu sendiri tidak kau jaga, Nak. Bukankah kamu sendiri tahu bahwa manusia mempunyai dua ibadah, yaitu kepada Allah dan sesama manusia?”

“Aku mengerti, Bu,” jawabku singkat. Aku tidak mengeluarkan ucapan pembelaan lagi. Perintah Rasulullah adalah hal yang wajib dilaksanakan tanpa mengenal kata tapi.

“Jika kamu tidak bisa memaafkannya, cukup ingatlah semua kebaikan kakak-kakakmu, Nak. Dengan begitu, pasti kebencian itu akan luntur dengan sendirinya. Ingatlah! Kita berkeluarga bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Salinglah menuntun, bukan menuntut!” Ibu menambahkan penjelasannya untuk meyakinkanku.

Semenjak saat itu ucapan Ibu selalu kujadikan pedoman di mana pun aku berada. Semakin aku beranjak dewasa, semakin banyak orang yang aku temui. Mereka datang dengan membawa sikap yang menyebalkan. Tapi aku tidak lagi meluapkan emosiku seperti dulu. Sekali pun aku membencinya, aku tetap menyapanya seperti biasa. Aku selalu memohon kepada Allah agar dihindarkan dari sifat yang mudah membenci dan marah.

Sekarang, anak-anak Ayah dan Ibuku sudah tumbuh dewasa. Semenjak SMP aku tinggal hanya bersama kedua orangtuaku. Kakak-kakakku sudah mempunyai kehidupan sendiri bersama pasangan hidupnya. Tak jarang mereka datang ke rumah dengan membawa cerita-cerita perihal kehidupan barunya. Tapi aku melihat ada sisi yang berbeda di antara mereka semenjak beberapa tahun sebelum menikah. Mereka jarang memarahiku jika aku salah dan mereka lebih bersikap dewasa. Pertengkaran di antara kami juga nyaris tak pernah terdengar. Hanya omelan-omelan kecil yang sering kakak perempuanku lontarkan jika aku sudah benar-benar keterlaluan. Dia tidak lagi mengucapkan kata-kata kasar. Kakak laki-lakiku juga sudah lebih tahu bagaimana harus menempatkan diri sebagai panutan adik-adiknya.

Suatu waktu pernah kakak perempuanku menceritakan masalahnya dengan mertua dan tetangga barunya kepadaku. Masalah orang dewasa sangatlah rumit. Tapi kakakku lebih memilih tetap bersikap baik kepada mereka. Saat aku tanya  kenapa Kakak bisa berbuat baik kepada orang yang telah berbuat dzolim? Kakak menjawab, ada ucapan Ayah yang sampai sekarang masih kuingat. Beliau pernah mengingatkanku jika tidak menyapa seseorang lebih dari tiga hari, ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah.

Aku tertegun mendengar ucapan kakakku. Ayah dan Ibu mengucapkan hal yang sama. Sekarang aku tahu, apa yang membuat kakak-kakakku berubah kepadaku selama ini. Aku teringat ucapan Ibuku, Kita berkeluarga bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Salinglah menuntun, bukan menuntut! Sekarang aku paham, keluargaku adalah teman sehidup sesurgaku.

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

4 Comments to "Tidak Selamanya Diam itu Emas"

  1. Alvina VB  2 November, 2016 at 06:53

    Iya, bener James kl diem, dipendem entar malah sakit lage, mendingan dikeluarin aja unek2nya. Para kenthirs demen berkicau, kl diem aja ya bukan kenthir namanya. Mana nich si mbakyu Lani???
    Sumonggo: ha…ha…..

  2. Sumonggo  1 November, 2016 at 23:09

    Silence is golden
    Kenthir is diamond

  3. James  31 October, 2016 at 15:39

    yang jelas kalau selalu Silence itu sangat berbahaya, stres dan dapat memicu kanker

    bagaimana para Kenthirs ? maka Kenthirs gak pernah diem silence selalu hadir di Baltyra

  4. awesome  31 October, 2016 at 11:16

    nice sharing

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *