Suluk Tambangraras

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Suluk Tambangraras – Runtuhnya Giri Kedhaton

Penulis: Damar Shasangka

Tahun Terbit: 2016

Penerbit: Prameswari

Tebal: 832 ISBN: 978-602-71780-4-5

suluk-tambangraras

 

“Manakala hal itu terjadi, maka tanah ini, tanah leluhur ini, akan menjadi ajang bertumbuhnya manusia-manusia yang bernilai kacung belaka, yang hanya bisa mengikut dan mengekor apa-apa saja yang datang dari Atas Angin” (hal. 88).

Demikianlah ujaran Raden Mas Gusti Sugandi yang lebih dikenal dengan Raden Adipati Anom, calon raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ujaran penuh kegeraman tersebut menunjukkan betapa gawatnya manusia Jawa setelah kekalahan demi kekalahan dialami oleh Kerajaan Mataram Islam. Kerajaan yang dulu mampu menantang orang Eropa di lautan itu kini sudah terpecah belah. Bahkan untuk bertahan dari sengketa dengan pecahannya masing-masing, para penguasa ini meminta bantuan kekuatan Eropa (Belanda dan Inggris) yang dulu diperanginya. Akibatnya beberapa wilayah harus diserahkan kepada para penguasa asing tersebut.

Kisah penggarongan kekayaan pustaka Kerajaan Ngayogjakarta Hadiningrat oleh Raffles membuat Adipati Anom, yang adalah putra mahkota Keraton Surakarta menjadi semakin khawatir. Hilangnya kekayaan intelektual tersebut bisa berakibat kepada hancurnya martabat manusia Jawa – seperti diungkapkan di atas. Kekhawatiran bahwa Belanda akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Inggris di Jogja, membuat Raden Adipati Anom berinisiatif untuk menulis semua pengetahuan Jawa ke dalam sebuah buku. Raden Adipati Anom membentuk tim penulis yang terdiri atas Raden Tumenggung Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Sastradipura dan Raden Tumenggung Sastranegara atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Ngabehi Yasadipura II. Tim ini dibantu oleh Pangeran Jungut Mandureja, Kyai Mukamad Mindad dan Kyai Kasan Besari (hal. 11).

Dalam persiapan untuk menulis, Adipati Anom menugaskan Tumenggung Ranggasutrasna mengumpulkan bahan ke arah timur sampai ke Selat Bali. Raden Tumenggung Sastranegara diperintahkan untuk mengumpulkan bahan ke arah barat sampai Tanah Priangan. Sedangkan Raden Ngabehi Sastradipura diminta untuk mengumpulkan bahan dari Tanah Arab sambil menunaikan ibadah haji (hal. 94-95). Sepulang dari berhaji, Raden Tumenggung Sastradipura berganti nama menjadi Kyai Haji Mukamad Elhar.

Bahan-bahan yang terkumpul kemudian disusun menjadi sebuah buku babon pengawikan Jawa (ensiklopedi). Alih-alih memilih bentuk entry by lema, ensiklopedi Jawa ini memakai bentuk tembang macapat yang dirangkai dalam sebuah kisah cerita. Kisah Ki Amongraga dari Giri Kedhaton yang mengembara untuk mencari pengetahuan dijadikan wahana untuk mewadahi mutiara-mutiara pengetahuan Jawa. Kisah Amongraga adalah perjalanan keturunan Susuhunan Ageng Giri setelah hancurnya Keraton Giri karena digempur oleh Mataram. Ensiklopedi Jawa ini diberi nama Suluk Tambangraras, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Serat Centhini. Serat Centhini ditulis pada tahun 1815.

Novel sejarah “Suluk Tambangraras – Runtuhnya Giri Kedhaton” adalah pengisahan bagian pembuka dari Serat Centhini.

Damar Shashangka (DS) mula-mula menjelaskan tentang latar belakang mengapa Sang Adipati Anom berkehendak menulis ensiklopedi Jawa. Ia menelusuri sejarah untuk mengurai kerajaan Jawa yang mulai terancam.

DS kemudian mengisahkan latar belakang berdirinya Kedaton Giri dengan menelisiknya sampai dengan jaman akhir Majapahit. Kedaton Giri didirikan adalah untuk menjaga perkembangan agama Rasul di wilayah timur Jawa yang saat itu tak terperhatikan oleh Demak. Demak sebagai penguasa baru Jawa terlalu sibuk dengan urusan di bagian tengah dan barat Jawa. Demak juga sibuk dengan masalah internal yang menyita perhatiannya. Sehingga kehadiran sebuah kedaton yang bisa menjadi panutan dan disegani oleh para penganut agama Rasul dan penentangnya di wilayah timur Jawa sangat diperlukan. DS menunjukkan bahwa sesungguhnya para penguasa di Majapahit, Demak, Ngampeldhenta, Pajang, Giri, Blambangan dan kemudian Mataram adalah saling berkerabat. Para penguasa Jawa ini memiliki darah campuran antara Jawa, Champa, Pasai, Arab, dan China. Politik, agama dan perseteruan keluarga berkelindan mewarnai pergantian tahta.

Cikal bakal penguasa Giri Kedhaton adalah keturunan Syekh Maulana Ishaq dari Retna Dewi Sekardhadhu – putri penguasa Blambangan, Menak Sembuyu. Syekh Maulana Ishaq adalah ulama dari Pasai yang memiliki kemampuan pengobatan. Ia menikahi Retna Dewi Sekardhadhu karena berhasil memenangkan sayembara dalam mengobati sakitnya sang putri. Namun karena Menak Sembuyu tidak setuju dengan penyebaran agama Rasul di wilayah Blambangan, maka Syekh Maulana Ishaq diusir. Bahkan anak dari Syekh Maulana Ishaq yang adalah cucu dari Menak Sembuyu diserahkan kepada Nyi Gedhe Pinatih, seorang syahbandar di Tandhes keturunan China dari Palembang. Cucu Menak Sembuyu tersebut kemudian bernama Raden Paku.

Mengikuti pupuh yang ada di bagian pembuka Serat Centhini, DS menarasikan kisah berdirinya kerajaan Mataram di Jawa bagian tengah. Diawali dengan berdirinya Demak yang meruntuhkan Majapahit, kisah berlanjut kepada kerajaan Pajang dan kemudian Mataram. Raja-raja Mataram adalah keturunan dari Bondan Kejawan, anak dari Kertabhumi – penguasa terakhir raja Majapahit.

Saat Mataram berdiri, sesungguhnya Jawa telah terpecah menjadi beberapa kerajaan. Ada Banten dan Batavia di bagian barat, Cirebon, Giri, Surabhaya (yang merupakan kelanjutan dari Ngampeldhenta) dan Blambangan. Di era Sultan Adiprabhu Anyakrakusuma, upaya untuk menyatukan Jawa kembali digiatkan. Penyatuan wilayah timur dilakukan dengan peperangan. Pangeran Pekik, sebagai penguasa Surabhaya menyerah dan dinikahkan dengan Ratu Ayu Pandhansari – adik dari Adiprabhu Anyakrakusuma.

Setelah penaklukan Surabhaya, Giri Kedathon adalah sasaran berikutnya. Mengingat bahwa Giri Kedhaton adalah sebuah kerajaan yang memiliki kharisma karena sebagai kiblat agama Rasul, maka Sultan Adiprabhu Anyakrakusuma menugaskan Pangeran Pekik dan Ratu Pandhansari untuk memimpin upaya penaklukan Giri Kedhaton. Pemilihan Pangeran Pekik sebagai panglima perang didasari kepada posisi Pangeran Pekik sebagai keturunan dari Susuhunan Ngampeldhenta. Ngampeldhenta memiliki perbawa yang lebih tinggi daripada Giri. Strategi yang jitu dari penguasa Mataram ini membawa hasil. Giri Kedhaton runtuh dan menyerah.

DS memakai teknik cerita berbingkai. Cerita utamanya adalah kisah pengumpulan bahan-bahan oleh tiga penulis Suluk Tambangraras, yaitu Raden Tumenggung Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Sastradipura dan Raden Tumenggung Sastranegara atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Ngabehi Yasadipura II. Mereka berkumpul kembali setelah perjalanan pengumpulan bahan yang memakan waktu lebih dari tiga tahun. Beberapa bagian yang sudah ditulis kemudian dibahas dengan cara ditembangkan secara berurut. Bingkai kedua adalah penarasian pupuh-pupuh tembang yang sedang dibaca oleh ketiga penulis tersebut secara bergantian.

Berbekal pupuh-pupuh tembang dari Suluk Tambangraras, DS telah berhasil merangkai kisah yang sangat rumit tentang sejarah Jawa di era akhir Majapahit hingga runtuhnya Kedhaton Giri. DS terbukti piawai membuat alur yang bisa menjelaskan berbagai etnis dan kekuatan politik yang mewarnai kepemimpinan di Jawa. Ia juga berhasil menempatkan agama Rasul sebagai faktor yang signifikan dalam kepemimpinan di Jawa.

Dalam seluruh kisah ini DS tidak menghilangkan pandangan Jawa tentang takdir. Di berbagai penggalan sejarah, ia menempatkan kejadian yang sudah menjadi takdir yang memang harus terjadi. Kembalinya keturunan Kertabhumi sebagai penguasa Jawa dan runtuhnya Giri Kedhaton adalah dua contoh kejadian yang tak bisa dielakkan karena sudah ditakdirkan. Para pemuka agama biasanya adalah pihak yang diberi anugerah untuk weruh sak durunge winarah (tahu sebelum kejadiannya terjadi). Sehingga para pemuka agama inilah yang bisa menyampaikan nubuat kepada para pemimpin.

Buku setebal 832 halaman ini adalah penarasian pupuh-pupuh dalam pembuka Serat Centhini. Sedangkan Serat Centhini sendiri memuat pengetahuan Jawa yang dituturkan melalui perjalanan para keturunan Susuhunan Giri, yaitu Raden Jayengresmi, Raden Jayengsari dan Niken Rancangkapti yang ditemani santri Gathak dan Gathuk melawat ke barat. Perjalanan mereka inilah yang sesungguhnya dipakai oleh tiga penulis Suluk Tambangraras sebagai sarana tutur kearifan Jawa.

Mari kita tunggu DS melanjutkan penarasian bagian Suluk Tambangrasas berikutnya.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

31 Comments to "Suluk Tambangraras"

  1. J C  16 November, 2016 at 16:35

    Lho ini masih pembahasan kuda masuk dapur?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.