Menjadi Atheis Sejati (2 – habis)

djas Merahputih

 

Artikel sebelumnya:

Menjadi Atheis Sejati (1)

 

Tuhan mustahil dijumpai oleh pikiran ilmiah semata. Imajinasi merupakan jembatan bagi akal manusia untuk paling tidak mengenal tanda-tanda keberadaan Tuhan. Hal sederhana seperti pergantian siang dan malam sebagai akibat perputaran Bumi saja seharusnya sudah mampu merangsang imajinasi setiap orang akan adanya sosok “raksasa” yang bekerja memutar-mutar planet ini. Adakah penjelasan ilmiah bahwa sebuah massa begitu besar dapat bergerak sendiri tanpa ada penyebab eksternal dari luar dirinya sendiri?

Menurut Ai, beban untuk menjadi seorang Atheis sejati sesungguhnya lebih berat dan sulit daripada sekedar menjadi penganut agama sejati, apalagi jika harus menetap di Indonesia. Itulah sebabnya Ai selalu kagum pada sosok penganut faham Atheis yang bisa tetap waras menjaga prinsip dan jalan hidupnya. Tentu dibutuhkan nyali besar dan konsistensi sangat tinggi dalam diri setiap penganut Atheis sejati untuk mempertahankan keyakinannya. Bukan saja terhadap argumen para ulama dan tokoh agama tapi juga dan terutama terhadap argumen dari dalam diri mereka sendiri setiap menyaksikan sebuah fenomena alam yang tak mampu dijelaskan dengan nalar. Contohnya, ya seperti tadi; kok Planet Bumi yang gede ini bisa berputar sendiri?

Jika argumen Atheis adalah bahwa Bumi berputar dengan sendirinya tanpa ada penyebab eksternal, akan sama halnya dengan membenarkan argumen bahwa Tuhan itu ada. Tuhan ada dengan sendiriNya. Namun jika penyebab eksternal itu dianggap ada, maka sulit menemukan istilah bagi energi eksternal tersebut. Kaum Atheis tentu tak akan menggunakan istilah Tuhan untuk energi Maha Besar itu. Sebuah tantangan tersendiri tentunya bagi mereka menemukan istilah yang tepat. Ai nggak akan ikut campur.

Di awal tulisan sekilas terasa bahwa menjadi seorang Atheis sejati jauh lebih mudah daripada pilihan menjadi agamawan sejati. Mereka tak perlu mengutak-atik kitab suci, tak mesti membuktikan wujud asli Tuhan, tak harus menjelaskan ini-itu tentang Tuhan. Mereka cukup berkata bahwa Tuhan itu tak ada, titik.

Namun di pertengahan tulisan terlihat bahwa, mereka sesungguhnya butuh nyali cukup tinggi justru untuk melawan argumen dari dalam diri mereka sendiri. Mereka butuh cukup nyali semisal untuk menjelaskan perihal sebuah mimpi buruk. Sebuah fenomena tak nyata namun mampu memberi efek nyata pada tubuh. Mereka terhanyut ke alam materi. Materi itulah yang nyata senyata-nyatanya. Mungkin kitapun tak luput dari keterhanyutan ini. Manusia umumnya mudah terjebak pada keyakinan bahwa indra ragawi manusia adalah detektor terampuh dan paling sensitif bagi segala hal di alam semesta.

Padahal dalam lingkup mikrokosmos, dalam dimensi nano yang tak terjangkau indra ragawi manusia, dalam unsur materi terkecil yang bernama vibra, materi itu sesungguhnya tak ada. Materi hanyalah ilusi optik dan perangkap indra. Materi hanya terdeteksi oleh indra yang sepadan untuknya. Kuman itu sesungguhnya ghaib bagi mata manusia, tapi ada bagi sebuah alat bernama mikroskop. Pluto itu ghaib bagi indra manusia, tapi nyata bagi perkakas bernama teleskop. Cinta itu ghaib bagi para jomblo tapi akan terasa nyata senyata-nyatanya bagi sepasang kekasih. Dan terakhir, Tuhan itu ghaib bagi Atheis sejati namun akan terasa sangat nyata bagi Iman sejati.

Untuk itu, menutup tulisan ini, kaum Atheis haruslah tetap waspada. Mereka wajib untuk senantiasa menjadi Atheis sejati. Sebab seorang Atheis munafik tentu akan merasakan Tuhan yang remang-remang. Dan jika suatu saat mereka murtad sebagai Atheis, maka jangan salahkan Tuhan jika wujudNya tiba-tiba saja datang dalam mimpi suci di suatu malam, di sebuah tempat yang sepi dan hening.

Ketika tersadar, tiba-tiba saja ia merasakan sebuah kebahagiaan luar biasa yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Sebuah orgasme rohani tiada tara. Itulah sebuah misteri yang paling mengerikan!!

Itulah hantu paling nyata bagi kaum Atheis. Dan, sssst…., ternyata hantu itu bernama “HIDAYAH”. Sesuatu yang bahkan seorang Rasulpun tak sanggup mengendalikannya.

Hiiiiiii…..!!

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

13 Comments to "Menjadi Atheis Sejati (2 – habis)"

  1. djasMerahputih  16 November, 2016 at 19:25

    Itsmi:
    Djas, yg mempunyai psikis problem bkn yg ateis. Itu proyeksi aja dari kamu atau alvina. Kalau hanya bbrp org yg ber tuhan itu dalam psikologi di katakan psikose nah kalau banyak di katakan beragama..
    ————
    Bukan problem psikis, tapi mendorong konsistensi terhadap pilihan yang telah diambil. ATHEIS atau bukan tak ada masalah, yang penting konsistensinya.

  2. djasMerahputih  16 November, 2016 at 19:21

    Bang James:
    Makasih sdh bersedia mengabarkan para Kenthirs..

    Om DJ:
    Sepakat!! Asal tidak membatasi kebebasan orang lain..
    Mau pilih Soto atau Coto, kan terserah selera masing-masing…

  3. djasMerahputih  16 November, 2016 at 19:17

    Ami: Betul Ami, bahkan yang sedang beriman pun masih mungkin kehilangan hidayah.. Jangan sampai, ya..

    Tji Lani: Jawabannya ada di paragraf ketiga dari bawah..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *