Menang Tanpa Ngasorake

Osa Kurniawan Ilham

 

Renungan harian saya hari ini mencoba mempelajari teladan seorang jenderal di masa akhir perang saudara AS, Jenderal Joshua Chamberlain.

chamberlain01

Joshua Chamberlain adalah perwira yang memimpin pasukan Perserikatan pada hari berakhirnya Perang Saudara AS. Pada upacara penerimaan pengakuan kalah dari pasukan konfederasi di selatan itu ia berpikir keras bagaimana caranya supaya upacara itu nantinya tidak bermakna menghina pihak yang kalah. Dia berpendapat bahwa bagaimana pun juga mereka yang kalah dan salah itu adalah sesama warga AS pula.

Akhirnya demikianlah upacara itu disusunnya. Para prajurit yang dipimpinnya berbaris di kedua sisi jalan sambil menyaksikan pasukan Konfederasi yang telah menyerahkan diri berjalan di antara mereka. Satu ucapan yang tidak patut atau satu tindakan agresif dapat membuyarkan perdamaian yang telah lama diidam-idamkan itu. Sampai saat itu susunan upacara masih sesuai dengan yang dia rencanakan. Pasukannya ternyata sangat menjunjung tinggi disiplin walaupun sebelumnya mereka dalam posisi berlawanan.

chamberlain02 chamberlain03

Ternyata tidak hanya sampai di situ. Lewat tindakan yang brilian sekaligus menyentuh hati, Chamberlain memerintahkan pasukannya untuk memberi hormat kepada lawan mereka!

Tidak ada celaan atau makian—hanya ada senapan dan pedang yang diangkat sebagai tanda penghormatan.

Jenderal Chamberlain rupanya memahami falsafah “menang tanpa ngasorake” atau menang tanpa harus mengalahkan.

Dia mengingat perintah utama ini:

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Hendaklah kamu murah hati…sama seperti Bapamu juga murah hati.”

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

5 Comments to "Menang Tanpa Ngasorake"

  1. J C  16 November, 2016 at 16:39

    Falsafah luar biasa yang masih relevan sampai hari ini…

  2. Lani  8 November, 2016 at 07:17

    “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Hendaklah kamu murah hati…sama seperti Bapamu juga murah hati.”
    ++++++++++++++
    OsaKI: aku copy paste alinea yg plg aku suka, wlu sgt susah utk melakukannya, itulah sifat manusia kdg gampang mengucapkan dimulut akan ttp sulit utk melakukannya.

  3. James  8 November, 2016 at 05:10

    Ini namanya Perang Bedil Sundutbyah mas DJ ? Kata urang sunda mah

  4. Dj. 813  8 November, 2016 at 00:30

    Bung Osa Kurniawan Ilham . . .
    Terimakasih, satu renungan yang menguatkan .
    Inilah pemikiran modern, walau kata-kata itu sudah muncul sekitar 2000 tahun yang lalu .
    Hanya menusia yang memiliki “KASIH” mereka bisa memaafkan, bahkan mengasihi mereka yang
    membenci .
    Hal itu saat ini malah dikatakan pencitraan . . .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !

    Karena mereka tidak mengenal KASIH itu .

    Salam Damai dari Mainz

  5. James  7 November, 2016 at 13:06

    1. Tindakan dan jalan pikiran yang bijaksana

    Halo para Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *