Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich
Judul Asli: Odin den’ Ivana Denisovitcha
Penulis: Alexander Solzhenitsin
Penterjemah: Gayus Siagian
Tahun Terbit: 2016
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: vii + 172
ISBN: 978-602-424-020-0

ivan-denisovich

 

Revolusi selalu membawa korban. Dalam revolusi, siapa saja, terutama para politisi dan cendekiawan yang tidak sepaham ditangkap dan diasingkan ke suatu tempat terpencil untuk melakukan kerja paksa. Siapapun yang dianggap berbahaya bagi rejim yang sedang berkuasa akan ditanggap dan diasingkan.

Demikian pula revolusi yang terjadi di Rusia. Revolusi Rusia dianggap sebagai salah satu revolusi yang brutal. Itulah sebabnya dalam karya sastra Rusia dikenal pengelompokan karya-karya era revolusi. Pengelompokan karya sastra yang khusus menggolongkan karya-karya yang berbicara tentang revolusi ini menunjukkan bahwa meski para sastrawan dikekang, namun mereka tetap lantang menyuarakan kemanusiaan di saat kemanusiaan dikekang. Karya-karya dari era revolusi berisi betapa kejamnya perlakuan penguasa kepada para tawanan. Betapa brutalnya penguasa. Salah satu karya yang digolongkan dalam karya sastra Rusia di masa revolusi adalah “Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich,” karya Alexander Solzhenitsin.

Shukhov adalah seorang veteran perang dunia kedua yang didakwa sebagai mata-mata Jerman. Shukhov lolos dari kepungan tentara Jerman. Mereka terkurung tanpa makanan dan tanpa mesiu, sampai akhirnya mereka menyerah dan menjadi tawanan. Mereka berhasil kabur dari tawanan Jerman dan kembali ke Soviet. Namun sesampai di Soviet ia didakwa sengaja diloloskan oleh tentara Jerman untuk dijadikan mata-mata (hal. 65). Dakwaan tersebut mengakibatkan Shukhov diganjar hukuman 10 tahun kerja paksa di wilayah yang sangat dingin. Ia dihukum kerja paksa di sebuah pembangunan pabrik pembangkit listrik di wilayah bersalju.

Novel pendek ini bercerita tentang sehari kehidupan Shukhov alias Ivan Denicovich. Shukhov yang merasa tidak enak badan mempertimbangkan untuk pergi ke klinik di pagi hari. Itulah sebabnya ia terlambat apel. Akibatnya dia dihukum untuk membersihkan ruang Markas Besar (hal. 8). Selesai membersihkan Markas Besar, Shukhov pergi ke klinik supaya bisa dirawat. Namun klinik sudah terlanjur mendaftar 2 orang dalam daftar sakit, sehingga tidak boleh lagi memasukkan nama lain. Kuota harian orang sakit adalah maksimum 2 orang. Namun petugas klinik tetap mau memeriksa apakah Shukhov memang sakit. Setelah diperiksa dengan thermometer ternyata suhu badan Shukhov tidak cukup tinggi untuk dianggap sakit. Akibatnya Shukhov harus kembali ke regunya untuk bekerja.
Shukhov dengan regu 104 yang dipimpin oleh Tyurin bekerja memasang batu bata dalam suhu yang sangat rendah.

Untuk mengaduk pasir dengan semen, mereka harus memanaskan pasir dan mencairkan es supaya bisa mendapat air. Adukan pasir dengan semen harus segera digunakan untuk memasang batu bata supaya tidak menjadi beku. Shukhov adalah seorang pekerja keras dan cermat. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, meski pekerjaan tersebut adalah bagian dari hukuman yang harus dijalaninya. Sebab melalui pekerjaan tersebutlah ia bisa melupakan penderitaannya.

Solzhenitsin berkisah tentang betapa beratnya orang-orang hukuman di era revolusi. Mereka mendapatkan jatah makanan yang sangat minim, fasilitas pakaian dan sepatu seadanya dan lingkungan kerja yang sangat berat karena suhu berada di bawah nol derajat. Supaya tim kerja tetap mau bekerja diciptakan sebuah sistem kelompok kerja yang ada di atas menekan yang ada di bawah. Kemalasan dan kesalahan pekerjaan oleh orang bawah berakibat hukuman bagi orang-orang yang di atasnya. Akibatnya, supaya yang atas terbebas dari hukuman, mereka menekan dengan keras orang-orang yang ada di bawahnya.

Dalam situasi yang berat tersebut, sifat asli manusia menjadi tampak. Manusia cenderung untuk memperhatikan diri sendiri dan abai terhadap orang lain. “Kalau kita kedinginan, jangan berharap simpati dari orang yang merasa hangat” (hal. 21). Sifat licik untuk mendapatkan makanan dan fasilitas yang lebih baik, sifat mencari kesalahan kepada pihak lain dimunculkan oleh Solzhenitsin. Namun sifat setia kawan, sifat melindungi teman dan sifat berbagi juga muncul dalam hidup orang-orang yang sama-sama menderita.

Solzhenitsin menggunakan alur cerita kronologis dari pagi hari sampai saat makan malam. Dalam alur kronologis tersebut, Solzhenitsin kadang-kadang memakai kisah flash back untuk memberikan latar belakang cerita. Misalnya untuk menjelaskan siapa Shukhov dan tokoh Kapten. Solzhenitsin berhasil menggunakan kisah yang hanya sehari untuk menggambarkan kekejaman revolusi sekaligus menggambarkan bagaimana sifat-sifat manusia yang didorong dalam situasi ekstrem antara hidup dan mati. Kisah manusia-manusia yang harus mempertahankan hidupnya sehari demi sehari. Tentang apa saja yang dilakukan manusia ketika mereka harus bertahan hidup, menjilati mangkuk bubur, memakan remah roti dan termasuk memakan kaki bangkai kuda yang harus dicelup air untuk mencairkan dari beku oleh salju sehingga dagingnya cukup lunak untuk dimakan.

Buku ini adalah rangkaian dari terjemahan karya sastra dunia yang disajikan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Kita harus berterima kasih kepada KPG yang telah upaya memperkenalkan satra dunia kepada khalayak pembaca dalam bahasa Indonesia ini. Sebab melalui karya terjemahan ini kita menjadi semakin mengenal karya-karya sastra dari berbagai negara dan dari berbagai zaman. Saya yakin karya-karya ini akan membuat dunia sastra kita menjadi semakin kaya.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

10 Comments to "Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich"

  1. Handoko Widagdo  17 November, 2016 at 10:52

    Djas, demikianlah hendaknya kita saling memupuk rasa kesastraan.

  2. Handoko Widagdo  17 November, 2016 at 10:51

    Kang JC, bukunya ringan kok. Gak sampai sekilo.

  3. djasMerahputih  16 November, 2016 at 20:29

    Wuiiihh.. sarat sejarah..
    Terjemahan sastra luar negeri sdh pasti menambah kekayaan dunia sastra dalam negeri. Pun sebaliknya.

    Thanks review-nya mas Hand..

  4. J C  16 November, 2016 at 16:52

    Buku dengan genre seperrti ini rada terlalu berat dan kurang pas buat aku…

  5. Lani  11 November, 2016 at 14:21

    James: hahaha……….

  6. James  11 November, 2016 at 10:27

    ci Lani, saya tahunya cuma Ivana Trumph dulu, juga Ivan Hoe getu

  7. Handoko Widagdo  11 November, 2016 at 08:14

    Avy, betul sekali. Cerita Ivan ini kemungkinan besar adalah pengalaman dia sendiri saat dipaksa untuk kerja paksa. Salah satu ucapan beliau sebagai sastrawan yang paling terkenal adalah: “Kata yang benar lebih berat dari dunia.”

  8. Handoko Widagdo  11 November, 2016 at 08:13

    Lani, nama Ivan, Ilya adalah nama-nama umum yang dipakai di Rusia, seperti Lani,Endang dan Bagus di Jawa.

  9. Alvina VB  11 November, 2016 at 06:48

    Han: Bedah buku yg menarik. Ini cerita hampir sejalan/sealur dengan pengalaman penulisnya sendiri. Alexander Solzhenitsin itu seorg novelist, activist dan juga nobel prize winner in literature di thn 1970. Dia ikut perang WWII di German dan pernah ditangkep pas balik ke Rusia krn kritik Stalin dan dipenjarakan serta dikucilkan selama 11 thn. Apa yg dirincikan dlm novelnya ini, kemungkinan besar yg pernah dia alami selama 11 thn di penjara/ labor camps.

  10. Lani  10 November, 2016 at 23:16

    James: kamu tau siapa itu Ivan? Aku baru tau setelah baca artikel ini…………tp dr namanya aku langsung bs tebak ini pasti nama org Russia

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *