Sutra Samatoa

Ary Hana

 

Discover the Silk Farm

Free Daily Guided Tours

Free Shuttle Bus

      Artisans d’Angkor

 

Tulisan di belakang tuktuk itu menarik perhatianku. Rupanya ada juga tur gratis di Siem Reap ini. Tak hirau tawaran sopir tuktuk untuk membawa saya keliling Angkor Wat dan Kampung Phluk, aku memilih berjalan menuju gedung Artisan d’Angkor dekat pasar malam.

tulisan di tuk-tuk yang menggugah selera

tulisan di tuk-tuk yang menggugah selera

“Kami orang Khmer-Kamboja tak biasa membuang barang begitu saja. Setelah kokon dipisahkan dari serat sutra, akan kami goreng sebagai camilan. Rasanya gurih, kaya protein, dan lemak.”

Keterangan pemandu wisata itu membuatku tersenyum kecut. Ingat akan bagian kepala, kaki, usus, brutu, dan hati ayam yang kerap dibuang oleh tukang jagal Malaysia. Tapi sejak orang Indonesia banyak bekerja di sana, bagian yang dianggap menjijikkan itu dijual murah meriah. Pembelinya tentu saja orang Indon. Tapi memakan serangga, apalagi kokon alias kepompong ulat yang berwarna kekuningan itu? Ah, rasanya aku harus banyak belajar dari negeri ini.

Lelaki pemandu itu lalu menuju ke bagian pewarnaan benang sutra. “Kain sutra buatan kami memanfaatkan pewarna alami. Misalnya dari kunyit, daun kipa, kecubung. Bahkan untuk menghasilkan warna merah atau coklat aneh, kami menggunakan karat dari paku atau sampah logam.” Senyum kemenangan menghias wajahnya.

Aku tertarik pada benang warna karat yang digantung pada papan kayu di dekatku. Belakangan ini, sejak Angkor Watt ramai dikunjungi turis, Kamboja semakin gencar memasarkan produk sutranya lewat jalur wisata. Sutra alam, begitu selalu mereka menyebut. Tak kurang ada sekitar tujuh atau delapan perkebunan sutra di seluruh negeri Sihanouk. Itu belum termasuk yang dikembangkan keluarga-keluarga secara mandiri.

kokon, calon sutra

kokon, calon sutra

Artisan d’Angkor di Siem Reap misalnya, rajin mempromosikan perkebunan sutranya di Samatoa yang masuk distrik Pouk. Bahkan mereka menyediakan tur gratis, lengkap dengan transportasi dua kali sehari bagi turis, pukul 09.30 dan 13.30. Kesempatan ini banyak dimanfaatkan para turis untuk mengenal dunia persutraan di Kamboja.

Tur sepanjang satu jam ini meliputi melihat kebun murbei, proses pemberian makan ulat sutra dengan daun murbei, pembentukan kokon atau kepompong ulat sutra, pemisahan serabut sutra, pembuatan benang, pewarnaan hingga proses menenun kain sutra. Kain sutra berkualitas tinggi serta produk jadinya kemudian dipajang di galeri yang menjadi satu dengan pabrik. Tur berakhir di museum kain sutra, lalu pengunjung dipersilakan berbelanja di galeri atau makan di restoran di luar. Sayangnya, kamera benar-benar dilarang untuk memotret produk galeri. Takut disainnya dicuri, mungkin.

Kamboja sudah menjadi penghasil sutra sejak abad ke-10. Sutra asli Kamboja berwarna putih. Dari peternakan sutra, 80% kokon menghasilkan serat warna kuning. Yang menarik, sutra Kamboja masih diolah secara tradisional menggunakan tenaga manusia. Nyaris sama dengan berabad lalu. Misalnya pada pemisahan kokon dengan serabut sutra, kokon direbus dalam panci aluminium di atas kompor yang memanfaatkan gas elpiji. Mesin pemintal serabut sutra menjadi benang digerakkan oleh roda sepeda bekas. Bahkan, banyak alat pintal dibuat dari kayu bekas. Lama berada di bawah rejim Polpot membuat rakyat Khmer dipaksa kreatif, dengan memanfaatkan semua sumber yang ada.

Upah yang diberikan pabrik sutra ini lebih tinggi dari UMR yang ditetapkan pemerintah Kamboja. Jika UMR sebesar 70 USD, maka buruh pabrik yang mayoritas perempuan ini menerima 120 USD untuk masa kerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu. Menjadi buruh di peternakan sutra merupakan cita-cita sebagian besar warga Siem Reap. Artisan d’Angkor sendiri memilik sekitar 400 buruh, mayoritas wanita muda usia.

Kalau diperhatikan, ada dua jenis sutra. Sutra kasar yang dihasilkan dari serabut dalam kokon, dan sutra halus dari serabut luar kokon. Umumnya satu kokon mampu menghasilkan 1000 meter benang halus, dan 300-400 meter benang kasar. Dari sekitar 10 kg kokon, akan dihasilkan 1 kg serat sutra.

pekerja wanita di pabrik kain sutra

pekerja wanita di pabrik kain sutra

Sutra halus kerap dijadikan bahan busana, sarung, syal atau scarf. Sedang sutra kasar untuk sarung kursi, bantal, tas, dompet, dan produk rumah tangga lainnya. “Sutra Kamboja itu kokoh, halus, tidak luntur, dan tahan di dalam mesin cuci asal mencucinya dengan kecepatan pelan.” Sang pemandu akhirnya mengakhiri penjelasannya.

Setidaknya ada 100 ribu ton produksi sutra dunia yang dihasilkan dari 600 milyar kokon. Sutra asal India, China dan Jepang masih merajai pasar dunia. Namun jika melihat pesatnya perkembangan industri sutra di Kamboja, bukan tidak mungkin sebentar lagi negara ini bakal merajai sutra dunia. Apalagi jika dilihat dari tingginya jumlah wisatawan ke Angkor Watt, mencapai lebih dari 3 juta wisatawan setahun.

Usai mengunjungi Artisan d‘Angkor, aku masih menyusuri pasar-pasar di Siem Reap dan Phnom Penh untuk berburu sutra. Aku ingin membuktikan apa benar sutra Kamboja itu kuat dan tidak luntur. Sempat aku membeli syal yang tebal, sutra alami juga, seharga 7 dolar. Kawanku malah memborong scarf sutra tipis yang dipasarkan anak-anak sepanjang candi-candi kawasan Angkor. Harganya 1,5 dolar per helai. Syalku tidak luntur atau koyak, entah milik kawan itu.

Aku kemudian mulai berangan, kapan ya industri sutra Indonesia bisa mendunia? Tak melulu batik sutra yang bahannya diimpor dari China itu. Bukankah Indonesia juga kaya sentra industri sutra rakyat seperti di Bogor, Ciamis, Tasikmalaya, Garu, Temanggung, Soppeng dan Bili-bili di Sulawesi Selatan. Sumber daya ada, tanah untuk membangun kebun murbei ada, pasar dalam negeri luas, tapi kenapa susah mengembangkan industri sutra di tanah air? Anganku lalu ditelan angin musim panas.

 

Bisa juga dibaca di:

Sutera Samatoa

 

 

8 Comments to "Sutra Samatoa"

  1. jalanjalankitadotcom  17 July, 2017 at 15:07

    wah sepertinya soal pengemasan cara mengenalkannya ke dunia saja yg kita sepertinya blm bersaing yah, kalo tur serupa rutin digelar , rasanya sutra Indonesia juga bisa mendunia

  2. Linda Cheang  22 November, 2016 at 16:30

    Di Kabupaten Bandung sudah ada, Garut juga sudah ada bahkan sudah ekspor, di Sulsel (aku lupa nama lokasinya) juga sudah ada, tapi nggak terekspos, walau untuk tur seperti di artikel ini, ada juga bisa dibuat dengan perjanjian lebih dulu.

  3. djasMerahputih  16 November, 2016 at 20:24

    Jadi ingat kisah JALUR SUTRA.
    Di India namanya KAMASUTRA, eh.. salah ya..?? (Gagal fokus)

  4. J C  16 November, 2016 at 16:53

    Setuju James dan Lani, aku tidak suka pakai sutra…

  5. Lani  11 November, 2016 at 14:23

    James: betul sekali klu pakai baju terbuat dr sutera pas summer jd lengket…….

  6. James  11 November, 2016 at 10:25

    mbak Lani, gak suka sutera karena kalau pakai pakaian sutera langsung nempel sama badan alias lengket kalo summer

  7. Alvina VB  11 November, 2016 at 06:26

    Ary, thanks buat artikelnya. Yg saya denger2 di Bali udah ada yg mulaii. Pendirinya kl gak salah org Canada yg kawin sama org Bali. Semoga angan2 kamu jadi kenyataan. Saya juga berangan2 beli silk dari Indonesia, bukan dari China (kualitasnya semakin menurun)/Italy yg kualitasnya jauh lebih baik ttp tambah muahal euy…..

  8. Lani  10 November, 2016 at 23:15

    James: suka sutra? bukan sutris lo ya hahaha………….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *