Penari

Dwi Klik Santosa

 

Mbak Pipin Putri adalah senior saya. Beliau adalah isteri Mas Padhik, senior juga, seorang pelukis yang punya intensitas dan keunikan tersendiri menyangkut karya-karyanya yang bertekstur relief. Mbak Pipin yang saya tahu adalah penari Jawa dan pernah menjadi koreografer pada pementasan Bengkel Teater Rendra, seingat saya sewaktu pementasan “Kisah Perjuangan Suku Naga” yang dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki tahun 1996. Pada waktu itu saya nyantrik di Bela Studio, berguru pada Mas Edi Haryono dan pada pementasan itu saya diserahi tugas membantu manajemen pementasan.

Karena tugas itu, diam-diam saya bergaul dan mengenali dengan baik, satu per satu aktor dan punggawa seni yang terlibat. Termasuk diam-diam belajar bagaimana mbak Pipin mengoreografi tari-tarian pada pementasan kolosal yang beritanya di muat di halaman headline harian Kompas, ditulis oleh redaktur kebudayaan Mas Bre Redana, dan ditengarai dalam salah satu adegan pentas itu, yaitu gerak para ksatria Suku Naga di kala pagi seiring dengan terbitnya fajar dianggap sebagai bloking teater terbaik yang pernah dilihatnya. Mbak Pipin, bahasanya kenes, sebagaimana layaknya putri Solo, selain yang selalu dilebih-lebihkan sebagai yang klemak-klemek seperti macan lapar, tapi kekenesan beliau adalah punya daya yang mengeluarkan artikulasi yang jelas dan enak didengar telinga. Bertemu beliau di beberapa kesempatan, memang sepertinya lebih senang menggeluti profesi MC di beberapa kegiatan seni.

Sedangkan penari satunya adalah Ibu Satiri, yaitu ibuku sendiri. Beliau pada masa gadisnya, konon adalah penari kondang wayang wong di lingkup desa bahkan hingga sekecamatan di kaki pegunungan Manyaran, Wonogiri. Secara tidak langsung, beliau adalah guru tari bagi kami, yaitu tiga bersaudara yang pernah juga menari. Yaitu Mas Agus kangmas saya, Dik Witri, adik ketiga saya dan saya. Hanya karena kecemburuan yang berlebihan barangkali dari ayah saya, sehingga Ibu Satiri semenjak menikah itu tidak lagi berkeblak sampur. Tapi diam-diam beliau pernah mengajari kami nari, dan aneh memang, karena kami tiga saudara yang menari pun ternyata justru diminta Bapak, agar mau mengisi pentas-pentasan level kampung, yaitu acara-acara tujuhbelasan dan hajatan nikahan saudara dan kerabat kami.

penari

Ibu Satiri konon dulunya spesialis menarinya sebagai Arjuna dan Gambiranom. Dan soal perannya itu lalu yang diteruskan Mas Agus, tetapi sebagai Cakil .. ahikhik. Sedangkan Witri adikku karena gesturnya memang luwes, maka sering menarikan putri-putrian gitulah .. Srimpi, Gambyong, Kukila dsb. Dan justru hal yang tak terduga, atau memang nasib kiranya, jenis tari-tarian yang saya perankan malah menjadi Bagong, yaitu panakawan anak Semar yang bungsu. Ya, namanya tidak baku, asal ada bunyi gending terdengar, maka menarilah saya … sebagai Bagong yang nakal, usil dan sekenanya memainkan gerakan-gerakan silat, menjadi layang-layang, sebagai daun jatuh .. bahkan sebagai orang yang suka kepleset .. ahikhik…

 

 

8 Comments to "Penari"

  1. EA.Inakawa  19 November, 2016 at 10:45

    Berarti keluarga ini semuanya keluarga seniman,salam sehat

  2. djasMerahputih  16 November, 2016 at 20:11

    The Dancer..
    Selalu terpesona dengan tari2 tradisional.. kaya nilai dan simbol..!!

  3. J C  16 November, 2016 at 16:54

    Apik!

  4. Alvina VB  15 November, 2016 at 00:54

    Artikel yg menarik. Seneng ngikutin kaprah para penari jadul….jadi inget lagu 4 penari….

  5. Dj. 813  15 November, 2016 at 00:02

    Bung Dwi Klik Santosa . . .
    Terimakasih untuk ulasan tentang penari .
    Dj. bangga membaca , bahwa mmasih banyak masyarakat kita yang
    sayang akan budaya kita yabg sungguh indah .
    Sayang nya juga banyak yang lebih senang mengambil budaya
    orang lain dengan dalih ” agama ”
    Badahal Indonesia kaya akan budaya yang sungguh mengagumkan .

    Semoga sukses selalu .
    Salam Sejahtera dari Mainz .

  6. Lani  14 November, 2016 at 22:55

    James: cha…….cha………cha……..betul katamu tarian zaman baheula

  7. James  14 November, 2016 at 13:21

    mbak Lani, saya tidak berbakat Penari Nasional bisanya Menari, cik u cik, twist, klin n jerek, caca, ha ha ha kuno semua ci Lani

  8. Lani  14 November, 2016 at 12:41

    James: apakah kamu tertarik jd penari? Kali ini kamu telat……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.