Emansipasi Sejarah Peradaban Manggarai Timur

Alfred Tuname

 

Menulis merupakan kerja keabadian. Dengan menulis, seseorang sedang meletakan tapak-tapak abadi dalam lintang sejarah manusia. Bukan hanya untuk keabadian harum nama penulis, tetapi juga subyek aktivitas manusia yang terpahat dalam setiap tulisan.

img_20161011_225739

Setidaknya itulah yang dikerjakan oleh empat jurnalis asal Manggarai Timur (Matim) dalam buku berjudul ‘Menghirup Wisata Peradaban Manggarai Timur” (Ledalero, 2016).  Keempat jurnalis tersebut adalah Frans Sarong (Kompas), Markus Makur (The Jakarta Post), Kanis Lina Bana (Kabar NTT) dan Fansy Runggat (Timor Express). Atas kerja reportase yang lama dan  mendalam (indepth), mereka mengenal baik budaya dan peradaban masyarakat Manggarai Timur.

 

Buku “Menghirup Wisata Peradaban Manggarai Timur” menyodorkan “wisata” uraian bernas tentang budaya khas, ritual magis dan eksotisme alam di Manggarai Timur. Uraian setiap judul ditulis dengan eksplorasi bahasa lokal dan renyah untuk dibaca. Semua disajikan dengan data dan gambar yang menambah pemahaman pembaca. Buku ini pantas dinikmati oleh semua orang yang mencintai Manggarai Timur.

 

Wisata Peradaban

Yang terhirup dari buku yang ditulis empat jurnalis Manggarai Timur itu bukan saja soal kental aroma pariwisata yang hendak dipromosikan. Ada juga sedap sosiologi budaya yang terunggah dengan jelas. Manusia sebagai subyek sejarah hadir dalam detail uraian-uraian ritus, adat, norma dan bahkan mitos. Semua itu membentuk suatu bagunan peradaban Manggarai Timur yang unik.

Foto: Markus Makur

Foto: Markus Makur

Peradaban awal Manggarai Timur timbul dari kedekatan manusianya dengan alam. Karena kedekatan itu, orang Manggarai selalu bersyukur atas alam yang ramah. Mereka hidup karena diberi “makan” oleh alam. Karena itu, berbagai ritual dan ritus adat orang Manggarai tak luput dengan dengan alam. Komunitas masyarakat seperti ini seorang filsuf Norwegia Arne Naess (dalam testimoni Wiratno, hal. xix) disebut deep ecology, “ekologi dalam”: nyaris tak ada batas pasti aktivitas manusia dengan lingkungan alamiahnya.

Frans Sarong mengurai dengan bagus aktivitas suku Tanda tentang ritual napo. Ritual napo itu sendiri merupakan ritual yang menghadirkan arwah leluhur sebagai pemberi jalan keluar atas sebuah persoalan. Ritual tersebut menggunakan lima batang belah bambu sebagai media dalam doa dan ritual.

Foto: Markus Makur

Foto: Markus Makur

Ada juga ritual we’e mbaru sebagai permohonan manusia akan hidup aman dan berhasil. Dalam tulisannya, Kanis Lina Bana menguraikan ritual itu dilakukan dengan cara memasang sebuah telur ayam kampung yang satu bagiannya sudah terbuka pada sebilah bambu dan ditancapkan di tanah, di dekat pintu rumah. Dengan ritual we’e mbaru, para penghuni yakin bahwa rumah dan segenap isinya akan aman dan secara simbolik kehidupan rumah tangga akan sejahtera.

Begitu juga dengan ritual paki kaba yang secara apik ditulis oleh jurnalis Markus Makur. Ritual paki kaba congko lokap itu sendiri bermakna pembersihan kampung  dan rumah adat dari “kotoran”, ancaman jahat, sekaligus ungkapan syukur dan penghormatan warga kampung kepada leluhur dan Sang Pencipta. Dengan penuh sungguh, Markus Makur menulis feature tersebut di kampung Pupung, Kecamatan Ranamese.

Foto: Markus Makur

Foto: Markus Makur

Masih banyak lagi uraian tentang ritual-ritual adat di Manggarai Timur yang menunjukan adanya relasi erat antara manusia, leluhur, Sang Pencipta dan lingkungan alamnya. Di antaranya, ritual nggua pada suku Nggeli, ritus nggore ngote sara jawa pada suku Rongga, dan tradisi kremo. Semua ritual itu itu melekat dalam diri komunitas ada orang Manggarai Timur yang terus menjadi warisan meski tanpa surat wasiat.

Selain warisan budaya, terulas pula keindahan alam yang menjadi keunggulan komparatif dalam bingkai pariwisata Manggarai Timur. Keindahan hamparan dan pelataran pantai (Cepi Watu, Watu Pajung), rimba hutan nan mistik (Pong Dode), Komodo Pota yang langka, air terjun (cunca) terjal (Cunca Rede), situs megalitik yang menggelitik (Watu Nggene) dan masih banyak lagi. Semuanya sangat dekat dengan mitos-mitos yang menjalar di telingga orang Manggarai. Melalui mitos, komunitas adat menjaga keserasian dan kelestarian alam sebab di dalamnya ada perintah dan larangan.

Robert Graves dalam New Larouse Encyclopedia of Mythology (1987) menulis, ada dua fungsi mitos. Pertama, to answer the sort of awkward questions.  Pertanyaan-pertanyaan yang janggal (awkward) itu biasanya muncul dari keluguan anak-anak atau orang baru di luar komunitas. Kedua, to justify an existing social system and account for traditional rites and customs. Mitos dijadikan “alat” penjelas atau pembenaran pada sistem sosial dan persoal nilai, kebiasan, norma dan ritus.

Foto: Markus Makur

Foto: Markus Makur

Di Manggarai Timur, pada ritus permintaan hujan pada leluhur suku Motu Poso di puncak gunung Poco Ndeki ada mitos tentang asal nenek moyang. Mitos leluhur suku Motu Poso itu dihubungankan dengan keberadaan batu yang mirip phallus (alat kelamin laki-laki) yang disebut  watu embu kodi haki dan liang merupai vagina disebut watu embu kodi fai. Fansy Runggat, menulis secara baik reportase tentang kedua “batu mistis” tersebut. Ritual pada kedua batu itu diyakini dapat mendatangkan hujan, di musim kemarau sekalipun.

 

Emansipasi

Dengan demikian, penciptaan mitos dan berbagai ritus yang lantas menjadi budaya merupakan usaha manusia untuk membangun peradaban yang aman dan ramah alam. Serjarah peradaban itu sendiri merupakan pergulatan dialektik manusia bukan untuk menakluk alam tetapi menjaganya. Komunitas tradisional hidup dalam pergulatan itu. Dari pergulatan itu, manusia mengenal local wisdom dan local genius. Local wisdom berkenaan kearifan nilai-nilai dan norma yang terselubung dalam cerita, nyanyian, tarian, ritual, dan kebiasan. Sedangakan local genius berkenaan dengan perangkat-perangkat teknis dan khas yang dekat dengan mata pencaharian masyarakat itu sendiri (rumah adat, piring, topi, kain, cara bercocok tanam, dll).

Semua itu merupakan kekayaan peradaban yang harus selalu dipelihara dan dijaga. Menulis kembali sebuah peradaban memungkinkan ia diletakan dalam sejarah. Tanpa tulisan (buku), kegaitan dan usaha manusia menjadi ahistori. Semuanya hilang ditelah zaman dan hilang bekas. Memberi catatan sejarah dan sosiologis atas kekayaan peradaban orang Manggarai Timur merupakan bagian kecil dalam “ensiklopedia” budaya nusantara. Meskipun kecil, semua itu penting  dari apa yang Reinhold Niebuhr sebut sebagai tenaga emansipasi sejarah: sebuah usaha hadir dalam sejarah bersama dengan budaya-budaya lain di belahan bumi ini.

Maka munculnya buku “Menghirup Wisata Peradaban Manggarai Timur” merupakan actus menyejarah sebab hingga suatu saat anak-cucu dapat mewariskan kebenaran sejarah. Buku ini pun memberi aksen sosiologi orang Manggarai Timur dalam ruang budayanya. Karenya itu, tidak benar bila buku ini dikhususkan sebagai “panduan pariwisata”. Jika memang (dapat) digunakan sebagai petunjuk pariwisata Manggarai Timur, maka aksi turisme itu pun harus beradab. Artinya, menghormati apa yang sudah ada, bukan seharusnya ada.

Akhirnya, selamat membaca!

 

Borong, 2016

Alfred Tuname

Penikmat Buku

 

Pernah dimuat di www.komodonews.info

 

 

7 Comments to "Emansipasi Sejarah Peradaban Manggarai Timur"

  1. djasMerahputih  16 November, 2016 at 19:49

    Wow.. Nusa Tenggara memang misterius.
    Mas Handoko saja sampe jatuh..!!

    Tapi lebih misterius lagi para Kenthir Baltyra.
    Itu kata bang James.

  2. J C  16 November, 2016 at 16:55

    Membaca artikel-artikel Alfred semakin menambah wawasan dan pengetahuan bahwa di Indonesia bagian timur sangat kaya budayanya…

  3. James  16 November, 2016 at 09:03

    ci Lani, dunia tanpa Kenthirs bagaikan sayur tanpa garam, kagak rame kagak seru lah,kan kalau ada Kenrhir2 an jadi anget ? gak beku kejang gitu

  4. Alvina VB  16 November, 2016 at 07:34

    Terima kasih buat bedah bukunya. Manggarai timur, indah ya kain tenunnya, seindah alam dan org2nya….

  5. Lani  16 November, 2016 at 05:37

    James: menurutmu tiada kenthirs dunia masih ada yg kurang ya???

  6. James  16 November, 2016 at 05:25

    Manggarai Indah tapi lbh indah Kenthirs Baltyra

  7. Handoko Widagdo  15 November, 2016 at 12:42

    Flores adalah tempat dimana aku jatuh cinta kepada alam dan budaya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *