Naik Kelas

djas Merahputih

 

Momen PILPRES dan PILKADA adalah ajang untuk menguji kedewasaan kita dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam momen tersebut seluruh perhatian dan interaksi sosial terpusat pada sosok calon-calon pemimpin negeri.

PILKADA merupakan indikator kedewasaan kita dalam menentukan pilihan terhadap sesuatu. Apakah perbedaan Anak Kecil, Orang Dewasa dan Manusia Mapan saat menentukan pilihan-pilihan mereka?

Anak Kecil menentukan pilihan berdasarkan rasa. Like and dislike. Anda cukup memberi “permen” untuk mendikte keputusan mereka. Pemilih yang menentukan calon pemimpin berdasarkan filosofi Wani Piro adalah termasuk dalam kategori ini. Mereka tak butuh informasi apa-apa tentang calon yang bakal dipilihnya. Maklum, wawasan dan kecerdasan mereka memang masih berada di level terbawah. Asal masih bisa makan, semua aman-aman saja.

Orang Dewasa menentukan pilihan melalui serangkaian analisa dan pengamatan. Mereka menggunakan nalar rasional. Tingkat pendidikan yang cukup membekali mereka kemampuan analisis dan sintesa memadai untuk menentukan pilihan. Rekam jejak Sang Calon sangat berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan pada kelompok ini. Mereka mandiri dan relatif sulit didikte.

Kelompok ketiga; Manusia-manusia Mapan, adalah warga negara berjiwa merdeka, arif, bijaksana dan berwawasan luas. Mereka mungkin tak memiliki tingkat pendidikan formal yang tinggi. Namun pengalaman hidup telah mengajarkan kepada mereka bahwa segala sesuatu memiliki isi dan kemasan. Mereka fokus pada isi, bukan kemasan. Pilihan mereka bisa saja mengejutkan kelompok orang dewasa.

Dalam kasus memilih permen, anak kecil cenderung akan memilih yang kemasannya paling menarik. Orang dewasa mengamati dengan cermat sebelum memilih. Ia bisa saja memilih permen dengan bungkus menarik, namun tetap terbuka peluang besar untuk memilih yang lain.

Manusia Mapan mungkin nampak tak beretika. Mereka akan mengupas seluruh bungkus permen yang ada sebelum menentukan pilihan. Bungkus bukanlah esensi, ia hanyalah pemanis pandangan. Manusia mapan tak akan pernah terjebak modus penipuan membeli kucing dalam karung. Mereka sangat mandiri dan berjiwa merdeka.

Tahapan Pilkada (DKI) barulah berada pada tahap penentuan calon. Namun gelegar hiruk-pikuk pertarungannya telah gegap gempita memenuhi berbagai media. Seperti biasa, calon yang berasal dari golongan minoritas akan dengan sangat mudah menjadi sasaran tembak.

Meskipun berkali-kali dibantah sebagai gerakan politik, mobilisasi puluhan ribu massa dari luar kota untuk menjatuhkan salah satu kandidat peserta Pilkada, sudah pasti akan berdampak politis. Umat Islam bergerak heroik membela kitab suci dan agama mereka. Sayang, mereka tak menyadari bahwa sekelompok Kepentingan akan sangat diuntungkan oleh aksi suci dan mulia tersebut.

Bebek jalan berbondong-bondong, Elang terbang sendirian. Itulah pepatah yang sering diungkapkan oleh Bung Karno saat menghadapi hujan demo mahasiswa di masa lalu. Bebek-bebek bergerombol berjalan sesuai kehendak Sang Pengembala. Mereka tak perlu argumen, mereka cukup diberi permen (demo=jihad=surga). Mereka bertindak berdasarkan rasa (ketersinggungan). Lantas, apa bedanya dengan anak kecil?

Satu hal patut dibanggakan. Dengan jumlah massa demikian besar, demo 411 berjalan tertib dan damai. Di luar perkiraan beberapa pengamat. Dalam hal ini sikap kedewasaan itu telah terlihat. Mereka bertindak memperhatikan nilai-nilai kepantasan sebagai warga negara yang baik. Nalar mereka bekerja hingga tak mempan diprovokasi.

Boleh dikata saat ini mereka telah Naik Kelas. Meskipun motivasi berdemo masih kekanak-kanakan, tindakan para pengunjuk rasa selama berdemo menunjukkan tingkat kedewasaan berfikir dan bertindak mereka. Namun, di tengah pergaulan dunia yang semakin mengglobal ini, ternyata sikap kedewasaan belumlah cukup. Kita butuh kemapanan fikir dan sikap.

Kepakan sayap kupu-kupu di Amazon sanggup memicu badai pasir di Gurun Sahara. Begitulah kerja semesta. Segalanya terhubung. Terkoneksi.

Bingo..!! Demopun berakhir ricuh.

Kericuhan di akhir demo bukanlah sebuah kejutan. Ia hanya mampu dibaca dan terdeteksi jauh-jauh hari oleh Manusia-manusia Mapan. Kelompok ini banyak belajar dari sejarah, bahwa tak semua yang nampak di permukaan merupakan sebuah fakta natural. Teknologi komunikasi memungkinkan satu cerita akan terlihat sebagai fakta. Banyak hal dalam sejarah yang sebelumnya dianggap fakta ternyata hanyalah pentas drama Reality Show.

Faktanya, masyarakat kita memang penggemar ilusi Drama. Apalagi jika mereka bisa terlibat di dalamnya. Namun, terlalu banyak drama akhirnya akan membuat kita Tinggal Kelas. Generasi penerus tak akan pernah Naik Kelas. Tak akan pernah sanggup menjadi Manusia-manusia Mapan. Menjadi Dewasa telah dirasa cukup.

lebarankuda

Yah.., mungkin kita tak akan pernah Naik Kelas lagi. Bahkan jika harus menunggu hingga Lebaran Kuda..!! Anda Mau..??!!

 

*****

Backlink

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

6 Comments to "Naik Kelas"

  1. Lani  7 January, 2017 at 04:13

    Al, James: hahaha aku jadi ingat ada kuda masuk pawon……….kkkkk

    Memang negeri ini sdh diguncang, terguncang dan banyak yg mengguncang dgn segala macam cara klu ribut, rusuh, kapan majunya? Tiap selangkah dijegal, disrimpete……..mmg payah benar……

    Kang Djas: mungkin tdk hanya nunggu sampai lebaran Kuda akan ttp nunggu sampai 12 shio muter hahaha…………itung aja 12 X 12 wah………para kenthirs wis duuuuuuuuut……………!

  2. djasMerahputih  20 November, 2016 at 14:40

    Sedih tapi harus tetap OPTIMIS dong, mba Henny..

  3. HennieTriana Oberst  19 November, 2016 at 23:10

    Sedih melihat kenyataan seperti ini

  4. djasMerahputih  19 November, 2016 at 07:57

    Pentulise hadir..

    mba AVY:
    Betul, mba. Semoga semua bisa naik kelas dan memacu kuda bersama. Jayalah NKRI..!!

    bang JAMES:
    Merdeka sudah 70 tahun, tapi masih mudah diadu domba. Pertanyaannya, selama ini belajar apa saja mereka?? Masa nggak bisa naik kelas juga, sih??

  5. James  19 November, 2016 at 07:15

    hadir nih Al….Indonesia lagi ramai lah….tuduhan Penistaan….Upaya Makar Presiden….Preman FPI bertingkah….Hukum dijadikan Mainan…Demo yang gak keruan dijadikan ajang Penjarahan …..Polisi dan TNI tidak dapat menepati janjinya…..kacau deh semuanya

    mendingan kaya para Kenthirs Baltyra damai adem ayem semua

  6. Alvina VB  19 November, 2016 at 05:29

    Absenin para kenthirs yg masih bobo….
    Semoga pada naik kelas thn depan dan lari kek kuda, gak lari di tempat doang, he..he….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *