Wudhu

Cechgentong

 

Ingat dengan ungkapan seorang teman Almarhum Bapak

“Selama manusia sadar dirinya mempunyai mulut maka masalah dapat terselesaikan. Apalagi manusia yang mengerti bagaimana membersihkan mulut dengan WUDHU secara baik dan benar maka masalah lebih cepat lagi terselesaikan dengan senyum dan damai.”

Nah berkaitan dengan Wudhu, saya sempat mengenal seorang Kyai yang selalu ingin disebut ustad walaupun beberapa kyai di wilayahnya selalu minta nasehat kepada beliau.

Namanya KH Ali Hasan. Beliau meninggal dunia pada tahun 2013 pada usia 96 tahun. Beliau adalah pendiri pondok pesantren Mamba’ul Ulum Dusun Jetak Desa Benda Kec. Bumiayu Kab. Brebes Jawa Tengah. Beberapa orang menyebutnya ahli wirid karena kalau wirid lama sekali.

Selama beberapa tahun mengenal beliau, saya mengenalnya sebagai orang yang tidak pernah lepas dari Wudhu. Apabila merasa batal wudhunya maka beliau selalu berwudhu kembali. Beliau sangat rendah hati. Saat berbicara dengan seseorang, beliau selalu menunduk penuh penghormatan.

Walaupun banyak santrinya, saat makan bersama tamunya maka beliaulah yang menyediakan nasi dan lauk pauknya bahkan menuangkan air teh satu per satu kepada tamunya. Saat ngobrol dan tahu tamunya kehabisan rokok, beliau mohon pamit sebentar. Ternyata beliau beli rokok untuk tamunya dan uniknya merk rokoknya disesuaikan dengan apa yang dihisap oleh tamunya. Beliau tidak merokok tapi untuk menghormati tamunya beliau sering ambil satu batang rokok dan ditempelkan ke mulutnya tapi tidak dinyalakan rokoknya.

Beliau sepertinya tahu kalau tamunya kekurangan uang untuk pulang ke rumah maka itu beliau sering memberi sangu berupa uang untuk ongkos pulang. Itupun saya alami bahkan setiap saya ke pesantrennya maka selalu diberi sangu karena beliau tahu saat itu saya sedang susah. Walaupun kadang beliau bercanda dengan memberi sangu berupa satu batang rokok yang ternyata dalam lintingan rokok tersebut ada uang 100 rb rupiah padahal lintingan rokok tersebut baru dibuka kemasannya.

Saya pernah bertanya kepada beliau

“Pak Kyai, saya sering perhatikan dalam satu hari Pak Kyai sering kali berwudhu. Apa tidak capek ? Mengapa harus demikian? “

“Hehehe kamu perhatiin banget. Berwudhu bagi saya adalah cara untuk membersihkan diri mulai dari pikiran, pendengaran, ucapan, hati, langkah dan perilaku agar terhindar dari godaan syetan dan nafsu yang ada dalam diri manusia sehingga terjaga diri ini. Jadi sama halnya dengan syahadat . Jangan sampai batal syahadat kita. Maka itu harus selalu dijaga dengan benar.”

“Oh gitu. Tapi apa ga capek, Pak Kyai?”

“Hehe maka itu supaya tidak capek, jagalah wudhunya seharian penuh sebisanya. Kalaupun batal segeralah berwudhu. Ketenangan akal pikir, hati dan perbuatan akan diperoleh sehingga kita tidak sembarangan berpikir, berbicara dan berbuat. Semuanya terasa indah dan damai hidup di dunia ini.”

Benar juga dalam hati saya. Setiap ada masalah maka dengan berwudhu hati jadi tenang dan masalah jadi ringan serta emosi terjaga. Saya pikir boleh juga tuh dijalankan apabila kita ingin melakukan sesuatu sebaiknya berwudhu contohnya saat ber-medsos ria sehingga status, share info dan sebagainya terhindar dari perbuatan fitnah, hoax dan caci maki.

payung-jokowi

Ya gitu aja untuk pagi ini karena saatnya isi air ke dalam gentong, siapa tahu ada yang membutuhkan untuk berwudhu.

 

 

8 Comments to "Wudhu"

  1. fikri  11 October, 2017 at 17:28

    mas cechgentong… saya sangat butuh bantuan jenengan,,, jika berkenan saya minta kontak person berupa email atau nomor WA,.nya mas… terimakasih

  2. fikri  11 October, 2017 at 17:26

    mas cechgentog… kalau boleh saya butuh bantuan jenengan… mohon jika berkenan saya diberi kontak perasonnya.. entah email atau nomor WA… terimakasih

  3. Handoko Widagdo  5 December, 2016 at 14:25

    Sebuah ritual yang bisa mengingatkan upaya untuk selalu bersih luar dalam.

  4. cechgentong  5 December, 2016 at 11:11

    Makan pizgor harus berwudhu dulu biar halal rasanya dan kenyangnya hahaha

  5. cechgentong  5 December, 2016 at 11:10

    alvina, Dzikir dalam bahasa arab berarti “Mengingat” dan dzikir di dalam Al-Qur’an diartikan sebagai “Mengingat Allah”.Didalam Al-Qur’an tidak ada disebutkan kapan waktu khusus berdzikir (mengingat) Allah, akan tetapi yang sering adalah untuk berdzikir (mengingat Allah), kapanpun, dimanapun tidak bergantung pada waktu.Setiap orang beriman diwajibkan untuk berdzikir, karena jika lalai dalam berdzikir, maka termasuk dalam orang-orang yang merugi.

    Kata wirid mula pemakaian kata wirid adalah pada saat penyebaran agama Islam di nusantara ini. Wirid di gunakan sebagai kata untuk menjelaskan tata cara pembacaan kalimat-kalimat Allah yang dengan tujuan tertentu (Hajat).Hal ini masih bisa kita temukan pada para pelaku tarikat yang membaca kalimat-kalimat Allah tertentu. Misalnya: “Laa Ilaaha Illallah”.

    “Dzikir” dilakukan kapan saja dan bertujuan murni mengingat Allah SWT semata. Sedangkan “Wirid” diartikan sebagai ritual mengucapkan kalimat Allah di waktu-waktu tertentu dengan tujuan tertentu. Misalnya: (Hajat)

  6. Dj. 813  4 December, 2016 at 21:06

    Berwudhu hatinya agar bersih pikiran nya .

    Jangan lupa makan pisgor ya Chech .
    Salam sejahtera dari Mainz

  7. James  3 December, 2016 at 05:14

    Al, hadir nih hanya selama ini memang tidak mengetahui apa itu Wudhu, kalau Wushu tahu, bunyinya hampir sama kan ?

    Kenthirs lainnya belum muncul, apalagi yang di Kona ada di Indo lagi hantam kromo makanan lokal, buka Puasa makanan lokal

  8. Alvina VB  2 December, 2016 at 22:07

    Terima kasih buat tulisannya.
    Wah..baru tahu kl berwudhu bisa berulang kali, dulu saya pikir kl mau doa aja org2 berwudhu.
    Chechgentong: apa beda wirid dan dzikir? apa dzikir itu bagian dari wirid?
    Mari berwudhu sambil nungguin para kenthits muncul…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *