Pecinan Semarang

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Pecinan Semarang – Sepenggal Kisah, Sebuah perjalanan
Penulis: Ananda Astrid Adrianne dan Anastasia Dwiarahmi
Tahun Terbit: 2016
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: xvii + 231
ISBN: 978-602-424-020-0

pecinan-semarang

 

Membicarakan Semarang tak bisa dipisahkan dengan pecinan. Sebab dari sejak berdirinya kota ini di abad ke-6, orang-orang Tionghoa sudah berniaga dan menetap di wilayah pelabuhan yang dulunya bernama Pergota ini. Kota Semarang memiliki peninggalan sejarah yang berhubungan dengan orang-orang Tionghoa. Kelenteng (Masjid) Sam Po Kong dan pecinan Semarang dengan kelenteng-kelengtengnya adalah dua contoh peninggalan yang menjadi saksi bahwa masyarakat Tionghoa berakar di Kota Semarang.

Buku Pecinan Semarang karya Ananda Astrid Adrianne dan Anastasia Dwirahmi ini memberikan informasi yang mendalam bagi kita yang ingin menikmati keindahan Semarang dengan titik berangkat Tionghoa. Adrianne dan Dwirahmi memandu kita mengunjungi gang-per-gang di wilayah pecinan dengan segala keunikannya. Pemilihan penuturan gang-per-gang ini menjadikan buku berasampul merah ini bisa menjadi panduan saat kita berwisata di wilayah pecinan Semarang. Kita bisa menyimak paparan buku ini sebelum melangkahkan kaki ke gang-gang yang dimaksud.

Kita diajak masuk melalui pintu gerbang, menyusuri Gang Warung, Gang Lombok, Gang Pinggir, menyeberang ke Wot Gandul, menikmati pasar pagi di Gang Baru, memotong Gang Cilik, balik melalui Gang Gambiran. Sayangnya urutan kemudian melompat ke Petudungan yang tempatnya lebih dekat ke Gang Lombok dan kemudian melompat lagi ke Sebandaran yang letaknya persis berada di samping Wot Gandul. Namun tak apalah, sebab di Petudungan kita diajak menikmati wayang potehi dan barongsay, yang mungkin memerlukan waktu yang lebih lama daripada sekedar jalan saja. Sedangkan di Sebandaran kita diajak mengunjungi dua kelenteng yang tersisa dari 10 keleteng yang ada di wilayah pecinan ini.

Apa saja yang bisa kita nikmati saat berwisata ke Pecinan Semarang? Semuanya ada. Bagi yang suka bangunan kuno, kita bisa menyaksikan rumah-rumah kuno dari abad ke 17 dan kelenteng-kelenteng serta bangunan rumah abu. Rumah-rumah dengan atap pelanan memang sebagian besar sudah menghilang. Namun kita masih bisa menemukannya di komplek Pecinan ini.

Semarang memiliki 11 kelenteng, dimana 10 diantaranya berada di komplek Pecinan. Dari dewa yang dipuja, kesepuluh kelenteng tersebut bisa dikelompokkan menjadi: (1) kelenteng Dewi Welas Asih, yaitu kelenteng Tay Kok Sie di Gang Lombok; (2) kelenteng Dewa Bumi, yaitu kelenteng Tong Pek Bio di Gang Pinggir, kelenteng Siu Hok Bio di Wot Gandul dan kelenteng Ho Hok Bio di Gang Cilik; (3) kelenteng dewa kekayaan, yaitu kelenteng Lin Hok Bio di Gang Pinggir; dan (4) kelenteng Dewa Laut, yaitu kelenteng See Hoo King di Sebandaran.

Ada dua kelenteng yang menarik karena menggambarkan akulturasi budaya. Kelenteng Tek Hay Bio adalah kelenteng untuk memuja dewa lokal bernama Kwee Lak Kwa. Kwee Lak Kwa adalah seorang pemimpin Tionghoa yang berperang melawan Belanda. Saat perlawanan melemah Kwee Lak Kwa kemudian menghilang. Sejak itu banyak nelayan yang melihat Kwee Lak Kwa di laut dan selalu menolong para nelayan yang mengalami kesulitan di laut. Dewa Kwee Lak Kwa yang selalu ditemai oleh seorang Nepal dan seorang Jawa hanya dikenal di pesisir Jawa bagian utara saja. Satu lagi kelenteng yang menggambarkan akulturasi budaya adalah kelenteng Hwie Wie King yang terletak di Sebandaran. Kelenteng milik keluarga Tan ini bergaya Eropa. Sebab para pendirinya memang dekat dengan orang Belanda.

Jika anda suka wisata kuliner, Pasar Semawis adalah tempatnya. Pasar kuliner yang dibuka di wilayah Pecinan ini menyajikan makanan-makanan khas Tionghoa dan makanan Jawa. Anda bisa menikmati berbagail berkaraoke. Lunpia Gang Lombok adalah tempat kuliner yang tak boleh dilewati. Lunpia yang racikannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Semarang ini adalah hasil akulturasi citarasa Tionghoa-Jawa. Ada lagi kue bulan dan Pia di Gang Pinggir. Atau kalau anda penyuka wedang, tersedia berbagai wedang kacang di Wot Gandul. Cicipilah berbagai suguhan wedang di Warung Wedang Cap Kauw King.

Bagi wisatawan yang suka kerajinan tangan, Pecinan Semarang memberikan suguhan Chinese Painting dan Kaligrafi Tan Eng Tiong di Gang Warung, kerajinan Rumah Kertas Ong Bing Hok di Gang Cilik, kerajinan Batu Bong Pay di Gang Gambiran, Wayang Potehi di Petudungan dan keray di Sebandaran. Khusus untuk wayang potehi dan barongsay, kalau kita beruntung kita juga bisa menyaksikan pertunjukannya.

Jika anda adalah wisatawan yang suka dengan perniagaan dan obat tradisional, Pasar Pagi di Gang Baru dan Toko Obat Toen Djin Tong bisa mengobati dahaga anda. Pasar Gang Baru adalah pasar tradisional yang tercipta karena kebutuhan. Saat Belanda melarang orang-orang China keluar dari pemukiman, maka para pedagang pribumi membawa dagangannya ke Gang Baru. Itulah sekelumit sejarah pasar pagi Gang Baru yang menyajikan berbagai keperluan dapur sehari-hari. Sedangkan Toko Obat Toen Djin Tong yang telah berdiri sejak tahun 1800 masih tetap diserbu pengunjung untuk mendapatkan obat-obat tradisional China.

Adrianne dan Dwirahmi melengkapi buku ini dengan peta sederhana yang bisa dibawa terpisah. Selembar peta ini bisa memandu kita saat berkunjung ke Pecinan Semarang tanpa harus membawa seluruh buku. Buku Pecinan Semarang juga dilengkapi dengan foto-foto yang luar biasa bagus yang sangat merangsang minat untuk berkunjung. Terima kasih kepada Ananda Astrid Adrianne dan Anastasia Dwirahmi yang telah meronce berbagai keindahan Pecinan Semarang dari berbagai sudut pandang.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

18 Comments to "Pecinan Semarang"

  1. Lani  17 December, 2016 at 13:56

    Hand: aku senang sekali bisa berkunjung ke Semarang lagi walau hanya 2 malam, 3 hari saja. Akan tetapi dlm waktu sesingkat itu aku muyer tanpa henti, jalan2, makan2 kesana kemari, aku senang sempat ketemu dgn tante kost ku yg sdh sepuh 89 tahun akan ttp msh punya semangat berjualan selain tentunya ketemu teman akrabku dan ketemu sama Meita dan Ulin, ketemu temanku sepekerjaan di Nusantara Travel, keluar terus sampai sikilku arep poklek dan capai tapi jelas senang!

  2. Handoko Widagdo  17 December, 2016 at 09:43

    Lani, alhamdullilah haleluyah akhirnya dikau bisa menyambangi Semarang kembali.

  3. Lani  17 December, 2016 at 08:17

    Han: sgt menyenangkan bisa berkeliling Semarang lagi, apalagi sambil mengudap makanannya……….semuanya enak dan wuenaaaaaaaak

  4. Alvina VB  9 December, 2016 at 04:49

    Han: Nungguin kl ada yg ngundang, he..he…just kiddling…iya, nanti dech kl pulkam lagi.

  5. Handoko Widagdo  7 December, 2016 at 07:50

    Avy, cobalah sesekali sempatkan waktu untuk menikmati Semarang.

  6. Handoko Widagdo  7 December, 2016 at 07:48

    Kangmas Djoko, Semarang adalah kota pelabuhan yang berkembang berdasarkan perdagangan. Kota yang berkembang tanpa konsep. Jadi begitulah adanya.

  7. Alvina VB  7 December, 2016 at 07:27

    Han: gak bisa ngebayangin pecinan di Semarang, krn cuman lewat di atas kotanya doang, gak pernah singgah di sana. Mungkin di lain waktu dah.

  8. Dj. 813  7 December, 2016 at 01:57

    Mas Handoko . . .
    semarang, tetap sembarangan . . .
    Pokok e, berjalan baik .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !

    Bagaimanapun, Semarang adalah tempat lahir beta .
    Dan kerinduan akan kota semarang selalu ada .
    Olehnya, setiap mudik, tidak mungik tidak ke Semarang .
    Apalagi, ingat akan makanan yang enak-enak .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !

    salam manis untuk keluarga di rumah .

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *