Founding Farmers: Unfinished Business in Washington DC

Hariatni Novitasari

 

“You should go to Founding Farmers once you’re in DC. They have really a good brunch!” kata Lauren reman baikku. Brunch adalah breakfast and lunch. Jadi kira-kira yang makan tengah-tengah antara sarapan dan makan siang. Harusnya ya sekitar jam-jam 9 pagi sampai 12 siang gitu (jam makan sing). Brunch ini sangat ngetrend di Amerika Serikat. Hampir semua restoran menyediakan menu brunch yang biasanya weekend.

the famous Founding Farmers

the famous Founding Farmers

“Benar-benar enak ya. Iya, nanti aku agendakan brunch di sana?”

Sejak saat itu, Founding Farmers juga menjadi agenda kuliner “utama” selama di Washington DC. Untungnya, restoran itu tidak terlalu jauh dari hotel tempat menginap di malam pertama. Sama-sama di Penn Avenue. Hanya berbeda blok saja. Restoran ini di blok 1924, sedangkan hotelku di 2430. Jadi hanya butuh jalan beberapa blok untuk kesana.

Keesokan hari setelah sampai (Minggu), pergi ke restoran ini menjadi the first thing to be done in the morning sebelum ke Dupont Circle. Mengapa harus pagi-pagi? Ya karena aku sudah tidak makan hampir 20 jam (sejak di Seattle). Jadi, sudah sangat kelaparan sekali. Dua orang teman tagging along.

akhirnya makan kayak gini di Paul’s

akhirnya makan kayak gini di Paul’s

Meskipun satu jalan, ternyata Penn Avenue tidaklah “lurus.” Agak berbelok sedikit kena Washington Park dan George Washington University (I (Eye) Street). Sempat tanya-tanya orang arah ke 1924. Nah, sudah ketemu jalan yang “benar.”

Setelah jalan beberapa saat, restoran ini mulai terlihat. Di bangku-bangku depan restoran, banyak orang sudah bergerombol. Begitu juga di dalam. Di kursi tunggu sudah berjejer puluhan orang. Ada yang berdiri malah. Akhirnya, kita cobalah masuk. “Do you have table for three?” Ditanya mas-mas cakep di belakang komputer. “Sudah reservasi?” Belum. “Ya sudah, coba tunggu 30-45 menit, nanti cek lagi disini ya…” ujar si mas sambil mencatat namaku.

Paul’s big menu

Paul’s big menu

Berhubung sudah sangat gemetar karena tidak makan, akhirnya harus “nyerah” dengan makan di bakery “Paul” yang di seberang Founding Farmers. Makan pagi yang besar: croisant, omlet, salad, sourdough, dan hot chocolate. Tanpa aku sadar, kedua orang temanku heran melihatku makan sebanyak itu. Hahahaha.

Besoknya, aku konfirmasi dengan Rachael – salah satu orang yang membantu dengan thethek bengek selama di Washington DC, apa benar Founding Farmers itu enak, dia bilang, “Their brunch is really good. You should try….”

croissant!

croissant!

Aku konfirmasikan “kegagalan” ini pada Lauren. “Did you make reservation?” Kagak. Hahaha. “You should have made a reservation!.” Ini dibenarkan oleh Rachael. We need to make a reservation.

Failed for the first trial. Tidak putus asa dong… Ketika Yoko yang tinggal di New York City akan nyamperin aku di Washington DC, kutawarkan “Wanna to have brunch in Founding Farmers?” Yoko menjawab “Sure, why not.. I heard it’s good!” OK, brunch di sana sudah diagendakan. Minggu pagi. Kami sudah excited akan brunch di sana. Tapi, sekali lagi kita tidal membuat reservasi. Ini namanya sebenarnya adalah “uji keberuntungan.” Seperti kalau di Surabaya akan makan di satu tempat. Kalau kita tidak dapat parkir, ya berarti saatnya belum boleh makan di sana, hehehe. Jadi, kalau kali ini dapat seats di Founding Farmers, ya rejeki sudah waktunya makan di sana.

crabcake Benedict at Circa @Dupont

crabcake Benedict at Circa @Dupont

Jam 9 kita berangkat dari Georgetown. Karena kita memang ingin molor pagi itu. Dan, ketika kita sampai di tempat itu, yang ngantri dua kali lipat dibandingkan dengan Minggu sebelumnya. Hahahaha. Ngakak deh. Yoko dan aku akhirnya memutuskan untuk brunch di Circa @Dupont. “I saw it crowded all the time.” Aku bilang ke Yoko. “Fine, let’s try this one..” Akhirnya kita coba di sana. Crabcake Benedictnya enak. Service bagus. Begitu tahu kita sharing, sama mas pelayan pesanan kita langsung dibagi dua – crabcake atau saladnya. Sayangnya, salad dan hot chocolate-nya sangat manisssssssssss…. Yoko yang awalnya pesan membatalkannya. Kalau punyaku sudah terlanjur. Akhirnya kita sharing juga, dan tetap tidak habis. Sumpah, eneg banget. Rasanya itu sirup coklat (Hersey), bukan cacao powder. :(Ternyata, tidak sesuai harapan benar-benar. Ga tau juga mengapa ramai gitu ya) tapi kemudian lambat laun baru sadar kalau restoran-restoran di DC selalu penuh dengan manusia-manusia, persis dengan SF).

the hell sweet hot chocolate!

the hell sweet hot chocolate!

Failed at the second try.

OK, mungkin aku harus coba weekdays. Kebetulan, saat itu dari kantor WB di 18th Street. Jadinya tidak begitu jauh. Kelar dari WB sekitar jam 6.30. Kebetulan, pas waktu makan malam. Ternyataaaaaaaaa…. Hahahaha. Gila, tidak jauh beda dengan brunch yang dua hari Minggu itu. Akupun juga tidak sempat masuk. Hanya melihat dari depan saja. Sudah cukup lah. Tiga kali gagal berarti sudah tidak boleh makan di sana. Kesimpulan ngawur, hehehe.

with Rachael in one of the best pizzeria in Georgetown. Till next time, Rach!

with Rachael in one of the best pizzeria in Georgetown. Till next time, Rach!

Ketika aku bertemu dengan Rachael keesokan harinya, aku bilang masalah Founding Farmers. Ngekek lah si doi. “Kamu seharusnya memang membuat reservasi. But never mind, put it on your agenda when you come to DC next time. You’ll come back. I’m sure. But if you still want to try a restaurant from the same owner, there’s one in the Harbour..” Dia kemudian menyebutkan nama restorannya. Ya, daku melihatnya waktu jogging kapan hari. Aku masih penasaran kenapa selalu ramai dan apa benar enak beneran. Jawaban Rachael adalah “Iya, enak beneran. Dan mengapa dia ramai karena ada di buku turis. Jadi tempat ini jadi jujugan turis,” Yo wes lah kalau begitu. Belum jodoh. Seperti belum jodoh ketemu yang lainnya, hehehe.

Tapi ya, waktu sudah tidak memungkinkan. So, I ended up leaving DC without eating Indian & Mexican Foods, and certainly FOUNDING FARMERS! So little time, so much to eat.

 

 

Bisa juga dibaca di: Founding Farmers: Unfinished Business in Washington DC

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

3 Comments to "Founding Farmers: Unfinished Business in Washington DC"

  1. Alvina VB  16 December, 2016 at 11:41

    HN: Memang musti reserve dulu kl mau makan di founding farmers…, semoga cita2nya tercapai sekali waktu dech….OOT, kemarin itu founding farmers (yg katanya sich ada lebih dari 40,000 kel. petani) voted for Trump. Karena apa? waktu kampanye kemarin si Trump bicara ttg “The Waters of the United States Rule” yg controversial dan Hillary gak nyinggung sama sekali.

  2. Dj. 813  16 December, 2016 at 00:34

    Hhhhhhhmmmmm . . . .
    Yummmy . . . . ! ! !
    Kkelihatan sangat lecker . . .
    Salam manis darii Mainz .

  3. James  15 December, 2016 at 12:56

    1…..kalu sudah lapar tapi resto nya penuh seperti itu, langsung batal saja lah, mana tahan lapernya ?

    para Kenthirs mau antri begitu panjang untuk makan ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *