Soul Travel in Baduy

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Soul Travel in Baduy
Penulis: Eni Martini Tahun
Terbit: 2013
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: viii + 131 ISBN: 978-602-02-0567-0

soul-travel-in-baduy

 

Perjalanan wisata bisa lebih bermakna jika kita bisa membangun nilai dari apa yang kita alami saat perjalanan tersebut. Makna wisata bukan sekedar menikmati indahnya alam, lezatnya kuliner dan merdu-gemulainya paparan seni. Makna wisata juga bisa dinikmati melalui ketenangan jiwa. Di buku yang mengsahkan perjalanannya ke Baduy ini, Eni Martini menawarkan sebuah cara menikmati perjalanan wisata melalui jiwa.

Eni Martini memberikan gambaran sejarah Baduy sebagai latar belakang. Sejarah masyarakat Baduy ini memberikan pintu gerbang bagi kita untuk ikut serta mengalami pengalaman jiwa dalam berwisata. Sebab sejarah Baduy sendiri adalah sebuah misteri yang hanya bisa difahami jika kita mengikut-sertakan rasa dalam menelaahnya. Masyarakat baduy adalah masyarakat yang memilih tetap bertahan dengan budayanya di tengah gempuran modernitas. Mereka tak tertarik untuk ikut serta menikmati ke-glamour-an era modern. Mereka bahagia dengan budaya yang telah digelutinya dari jaman lalu. Di sinilah letak keterlibatan jiwa jika kita ingin memahami dan ikut menikmati ketenangan jiwa orang Baudy.

Eni Martini juga mengunggah pengalaman mistisnya saat menuju ke Baduy dalam. Pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang tepat di saat yang tepat adalah contoh bagaimana Eni Martini memang telah ‘dijodohkan’ dengan komunitas Baduy. Perjalanan ke Baduy akan mengalami banyak rintangan apabila kedatangan kita ‘tak dikehendaki’. Eni Martini juga mengimbuhi ceritanya dengan peristiwa mistis di atas bukit. Ia seakan-akan mendengarkan suara adiknya di dasar jurang. Padahal itu hanyalah pengalaman mistis belaka. Kisah-kisah pertemuan dengan orang-orang yang tepat dan peristiwa di atas bukit meneguhkan pengalaman jiwani Eni Martini saat bersama dengan Baduy.

Sebagai sebuah buku perjalanan, Eni Martini tidak lupa memberikan berbagai tips untuk melakukan perjalanan ke Baduy dengan aman dan nyaman. Mengingat bahwa kampung Baduy adalah tempat yang tidak mudah dijangkau karena tempatnya yang terisolir persiapan-persiapan yang baik perlu dilakukan sebelum melakukan perjalanan. Eni memberi saran mulai dari persiapan fisik dan mental; persiapan rute perjalanan dan konsumsi yang perlu diadakan; sampai dengan persiapan finansial.

Di tengah era narsis-instan, di mana kehadiran kita di sebuah lokasi wisata dinyatakan dengan sebuah obyek selfie yang berfokus kepada wajah kita sendiri, cara Eni Martini berbagi pengalaman jiwaninya ini perlu dikagumi dan diikuti. Cara Eni ini lebih memberi makna yang dalam daripada sekedar pamer wajah yang seringkali malah merusak keindahan obyek wisata yang ingin kita tunjukkan. Terima kasih Eni Martini.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Soul Travel in Baduy"

  1. Lani  12 February, 2017 at 13:48

    Al: mau saja wisata ke tempat orang Baduy asal bersama rombongan dr Baltyra krn aku yakin punya guide yg mumpuni

  2. Handoko Widagdo  11 February, 2017 at 09:09

    Wah…senang sekali tulisanku dibaca oleh penulis bukunya. Salam kenal kembali Eni Martini. Yuk gabung nulis di Baltyra.

  3. Eni martini  11 February, 2017 at 00:55

    Oya, hampir lupa..salam kenal, Mas Handoko.Salam untuk keluarga tercinta

  4. Eni martini  11 February, 2017 at 00:53

    Terima kasih sudah membaca jejak aksara saya dalam Soul Travel In Baduy, semoga bermanfaat.
    Dapat menjemput sesuatu dalam semua perjalanan…

  5. Handoko Widagdo  16 December, 2016 at 11:05

    Avy katanya memang begitu. Orang-orang yang sudah dianggap anak akan diberi kemudahan untuk berkunjung. Dalam buku ini juga dinasihatkan untuk mengajak orang yang sudah berpengalaman ke sana.

  6. Alvina VB  16 December, 2016 at 10:55

    Han, baca tulisan ini, jadi inget pertemuan dengan org Baduy di thn 70an di pasar tradisional. Bapak ini jalan kaki tanpa alas dan dadanannya minimalis, atasan kain katun off white/cream. polos dan celana panjang hitam serta pake iketan kepala, bahan putih serta bawa tas selempang, spt tas anyaman. Nah kemarin pulang itu ditawarin kenalan, mau gak wisata ke Baduy? saya bilang wah blm ada persiapan sama sekali, he..he…krn menurut dia sudah diangkat anak sama kepala suku Baduy. jadi tahu jalan pintas yg mustinya jam-an ke kampung dalam; dia tahu jln pintas yg lebih singkat dan hanya suku dalem aja yg tahu. Dia bilang kl org pemerintah dateng, mereka mah diplonco, dikasih jln yg paling panjang ke perkampungan mereka bisa 3 jaman, he..he….para kenthirs mau wisata barengan ke sana gak?

  7. Handoko Widagdo  16 December, 2016 at 08:06

    Terima kasih Kangmas Djoko. Memang kita masik suka “umuk” suka pamer.

  8. Handoko Widagdo  16 December, 2016 at 08:04

    Selamat pagi James, badui (by the way) para kenthir belum pada muncul.

  9. Dj. 813  16 December, 2016 at 00:55

    Ketenangan itulah yang sebenarnya harus dicari .
    Agar baik jiwa ataupun raga turut istirahat dan kembali menjadi segar lagi .

    Terlepas dari Baduy . . .
    Banyak orang Indonesia ( Asia ) yang libran bukan untuk istirahat, tapi sekedar
    untuk jalan-jalan .
    Pokoknya sudah sampai disana dan sudah ambil foto .
    Yang nantinya bisa dipamerkan ke sanak saudara dan teman-teman .
    Juga ingat tetangga ( saat Dj. masih kecil ) dia naik haji, saat pulang . . .
    semua orang di kampoeng diundang, untuk melihat fotonya dan barang-barang yang dia beli .
    Tapi cerita soal begaimana saat dia menjalankan ibadah hajnya, sama sekalo null .

    Juga saat di Pantai Pandawa / Bali .
    Orang hanya sibuk ambil foto dan tidak ada yang istirahat .
    Rame sekali seperti di pasar .
    Hahahahahahahaha . . .

    Lain di pantai padang-padang yang 98% orang asing ( bule ) .
    Mereka benar-benar menikmati istirahat sambil berbaring baca buku .
    Juga banyak yang tertidur lelap. suasana sangat nyaman . . .

    Salam manis untuk keluarga di rumah .

  10. James  15 December, 2016 at 12:57

    1….Baduy Baltyra apakah para Kenthirs ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *