Pengritik atau Penista

Juwandi Ahmad

 

Kalau Anda bilang, “Saya kira, ada banyak ayat Quran yang tak lagi cocok dengan jaman,” itu sebentuk kritik agama. Bagi saya pribadi, itu boleh-boleh saja. Apapun di dunia ini tak ada yang dapat steril dari yang namanya kritik. Di situlah kecerdasan pemeluknya ditimbang-timbang, sejauh mana kebriliannya menghadapi kritik. Dan yang namanya kritik itu ada logikanya, argumentasinya, bukti-buktinya. Maka, lebih mudah menghadapi pengkritik, ketimbang penista.

Penista biasanya dangkal logikanya, argumentasinya, juga bukti-buktinya. Dan ia lebih merupakan ekspresi ketidaksenangan, kebencian, dan kemarahan. Contoh penistaan yang saya ambil dari status facebook seseorang, misalnya, ”Qur’an itu kitab ******, Muhammad ***, Allah SWT ****.” Itu contoh terkeras dari penistaan. Sesuatu yang seharusnya tak dilakukan, apapun alasannya. Hal-hal yang sama sekali tak penting bagi kita, bisa jadi sangatlah penting bagi orang lain. Demikan halnya dengan sesuatu yang dianggap sakral, dengan seseorang yang diagungkan.

Dan bila Anda mengatakan, ”Bapak ibu tak bisa pilih saya. Dibohongi pakai ayat,” itu bukan kritik agama. Dan apalagi penistaan. Itu lebih pada kritik terhadap pemeluknya, manusianya, yang bukan tuhan, bukan nabi, bukan pula kitab suci, yang penafsirannya jelas beragam. Itu bukan hanya sesuatu yang lumrah, tapi syah-syah saja. Terlebih dalam konteks sosial-politik-kekinian-keindonesiaan, yang dapat dengan jelas diurai aksi dan reaksinya.

Dan yang pasti, reaksi orang itu memang beragam dalam mensikapi perkataan-tindakan yang berlainan atau bertentangan dengan pendapat dan keyakinan keagamannya. Itulah mengapa, dalam perkara yang sama, pendapatnya, sikapnya, tindakannya bisa beragam. Ada yang diam, ada yang biasa saja, ada yang marah, dan ada pula yang lebih dari itu.

Apakah sensitivitas-reaktif berkaitan dengan kuatnya keimanan atau kecintaan pada agama? Bisa jadi. Tapi tentu tidak sesederhana itu. Secara psikologis, ekspresi iman-kecintaan pada agama melibatkan banyak faktor yang sangat kompleks. Suatu cerminan dari totalitas pribadi, yang terbentuk dari keseluruhan pengalaman hidupnya. Maka, lumrah bila kemudian kita bukan hanya dapat melihat wajah Habib Rizieq, tapi juga Gusdur. Begitulah kehidupan, yang saya kira, akan terus begitu.

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

5 Comments to "Pengritik atau Penista"

  1. Handoko Widagdo  20 December, 2016 at 11:18

    Sesungguhnyalah banyak para pengritik yang nista.

  2. Swan Liong Be  17 December, 2016 at 22:53

    Aku heran kok sampai perkara “penistaan agama” sampai kepengadilan negeri, bahwa pengadilan sampe tunduk sama ormas² yang ber-koar² itu, seperti memebri kesan yang berkuasa sekarang ormas² dsn pemerintah jadi bonekanya. Anak kecilpun sudah tau bahwa gugatan penistaan agama itu samasekali gak ada buktinya, hanya diplintir kata²nya. Aku juga meragukan apakah bakal ada vonis yang benar, kemungkinan besar aja hakim sudah “dibeli” dan Ahok disalahkan. Terus terang aku mual kalo liat tindak tanduk beberapa oknum, keliatan sekali bahwa mereka samasekali tidak menghiraukan kepentingan bangsa melainkan kepentingan pribadi, bagi mereka indonesia adil dan makmur jika keadaan kembali seperti jaman sebelum Jokowi dan Ahok.Mungkin lebih senang kalo sampah bertebaran merampas duit rakyat secara santun dan senyum.
    Quo VADIS indonesia?!

  3. Lani  16 December, 2016 at 17:44

    Aku sdh balik dan belum bobo lagi nonton you tube rame banget nih dan you tube nya sdh aku kirimkan ke Al

  4. James  16 December, 2016 at 10:48

    halo Al hadir nih meski telat dikit tapi sedelapan juga dengan Komennya Al, itulah manusia Indonesia saat ini

  5. Alvina VB  16 December, 2016 at 10:25

    Gak mau komen yg serius ah….entar takut disangkain penistaan agama lage…Kl saya boleh bilang di Indonesia saat ini banyak org yg sensitip, kena senggol dikit langsung dech pada pecicilan, he..he…
    Mana nich para kenthirs masih pada bobo ya….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *