Pindahan

Louisa Veronica Hartono (Nonik)

 

Siapa yang sudah pernah pindahan? Hampir semua orang pasti menjawab, sudah pernah. Gimana kalau pertanyaannya diganti, siapa yang belum pernah pindahan? Entah itu pindah kos, pindah rumah, pindah pekerjaan, pindah sekolah, atau mungkin pindah istri/suami…. Uupps :p

Gue termasuk orang yang sering pindah alias hidup nomaden. Selepas SMA, tidak lagi hidup dengan orang tua dan sudah pindah-pindah kota dan negara untuk kuliah dan kerja. Selain pindah kota dan negara, kepindahan yang sering gue lakukan adalah pindah kos, dan itu yang mau gue ulas di sini.

Kenapa pindah kos? Faktor pertama dan terutama adalah cari biaya kos yang murah! Di sini berlaku peribahasa ‘’ada harga ada rupa”. Semakin mahal harga kos, biasanya semakin banyak fasilitas yang didapatkan. Buat yang berduit, bisa sewa apartemen atau studio, atau kos-kos’an mewah yang ada satpamnya atau fasilitas gym-nya sekalian.

Gue ngekos pertama kali pas pindah ke Bandung. Berhubung itu ngekos pertama dan hidup jauh dari ortu untuk pertama kalinya, so papa mencarikan kos yang ‘enak’ walaupun harganya mahal, Rp 1.150.000 untuk tahun 2008. Waktu itu harga tersebut cukup mahal. Fasilitasnya standar: ada meja, lemari, dan tempat tidur, TV kabel (tapi kabelnya doang, TV harus bawa sendiri), dan kabel internet – waktu itu belum banyak yang punya wifi. Supernya, kos pertama ini nyatu dengan rumah makan yang menunya cukup komplit dan enak, plus letaknya langsung di seberang kampus, jadi super comfy banget kalau mau kuliah, tinggal nyebrang doang 5 atau 10 menit sebelum perkuliahan dimulai. Bahkan di antara kelas satu dengan kelas berikutnya, bisa pulang sebentar untuk bobok siang kalo ada jeda waktu hohoho…

Seiring berjalannya waktu, gue jadi tau bermacam-macam jenis dan harga kos dari teman-teman. Mulai dari yang sangat sederhana – harga yang super murah tapi kamar kosongan dan letaknya mencil dari mana-mana, sampai yang super mahal dengan fasilitas satpam dan tempat fitness. Hasil obrolan dan main ke tempat kos teman-teman itu membuat gue jadi berpikir untuk pindah ke tempat kos yang lebih murah, meskipun kos pertama gue itu enaaaak banget. Cuma ya berat di kantong. Walhasil, gue Cuma bertahan di kos pertama selama 9 bulan.

Woman with Moving Boxes — Image by © Royalty-Free/Corbis

Setelah mencari ke sana dan ke sini, akhirnya gue ketemu tempat kos yang dengan harga Rp. 750.000. Kamarnya bagus, tapi ga ada fasilitas TV kabel or internet. Letaknya masih dekat dari kampus, tapi harus masuk gang yang jalannya menurun – sehingga kalau mau ngampus harus jalan nanjak, kira-kira 10 menit jalan kaki.

Gue ga inget apa yang menyebabkan gue pindah ke kos ketiga, kalo ga salah sih pengaruh terbesarnya gara-gara harga juga. Pas gue lagi main ke 2 orang teman gue, gue tergiur melihat kamar mereka yang gedeeee banget, dengan harga Rp 400.000 sampai Rp 650.000 sebulan! Kebetulan ada kamar kosong dengan jendela gede, langsung dah gue ambil. Harganya Rp 475.000 sebulan. Pindahannya cukup ribet, dimana gue harus nyewa pick up buat angkut barang-barang termasuk TV, rice cooker, dan bantal guling.

Dipikir-pikir, gue heran juga sih gimana gue bisa survive di kos-kos’an itu dengan kondisi kamar yang paling jelek dibanding 2 kos sebelumnya dan fasilitas yang seadanya. Ga ada layanan air panas – malah di kos’an itu, air termasuk susah didapat so harus hemat air. Hanya ada 2 kamar mandi untuk 9 orang anak kos. Jelas ga ada TV kabel atau internet, dan rumahnya udah kuno. Di malam pertama, gue sempet menyesali keputusan buat pindah kos. Tapi akhirnya itu semua bisa diakali. Ga ada TV kabel gapapa, nonton siaran lokal udah cukup – beruntung ada bapak kos yang mau masangin antena luar ke TV di dalam kamar. Internet akhirnya gue langganan dengan provider luar dengan biaya Rp 120.000 per bulan, dan koneksinya oke. Air dingin mau gamau harus ditahan, karena pas itu Bandung dingin banget booo! (Sepertinya sekarang Bandung udah panas ya?). Gue bertahan di kos ketiga ini paling lama, bahkan setelah wisuda pun gue masih ngekos disitu sebelum gue liburan ke Purworejo untuk kuliah di Swiss.

Lalu, gue pindah ke Swiss.

Sebelum ke Swiss, sangat-sangat dianjurkan – bahkan kesannya udah seperti mandatory – buat mahasiswa baru untuk udah punya tempat tinggal. Nah cari kos-kosan alias student housing di sana susyeeeeh-nya bukan main. Semua dicari lewat internet dan harus booking online atau tulis email ke landlord/land lady-nya, kecuali loe punya saudara untuk ditinggali, punya duit bejibun buat tinggal di hotel, or nyali yang besar buat ke sana tanpa akomodasi dan mau langsung cari on the spot, yang biasanya udah pada penuh. Setelah dengan bersusah payah mencari dan menghubungi sekitar 20-an student housing, singkat cerita gue dapat tempat tinggal berupa studio dari kakak kelas yang lagi exchange student di tahun keduanya, so studio-nya disewain deh. Studio ini bisa ditinggalin 2-3 orang dengan biaya sewa 500 CHF per orang (1 CHF= Rp 12.500 tahun 2012). Bayangin perbedaan harganya dengan harga kos di Indo!! Tapi karena mencari tempat tinggal itu susah sekali – dimana semua orang pada rebutan dan berjibaku buat dapetin kamar, akhirnya gue ambil aja tuh kamar.

Gue tinggal di studio itu bersama 2 orang lainnya, cewek Singapore dan cewek Peru. Si Cewek Peru cuma tinggal 2 minggu doang karena dia sudah mendapat kamar asrama milik universitas, sedangkan cewe Singapore bakal tinggal selama 3 bulan sampai dia balik lagi ke Singapore (dia cuma ikut program semester pendek di Swiss). Walhasil, gue harus cari-cari kos-kosan lain setelah mereka berdua pindah karena bakalan berat banget untuk bayar kos sendiri. Atas rekomendasi teman, gue akhirnya dapat info kalau satu orang di kos’an dia bakalan keluar di bulan depan. Gue langsung gerak cepat dan titip nama gue ke pengelola kost, bahkan gue rela bayar 1 bulan sewa tanpa gue tinggalin dulu biar kamar itu ga ditinggali orang lain.

Kost kedua ini harganya 520 CHF per bulan (silakan dikonversi sendiri ke Rupiah hehehe) dan gue tinggali hingga selesai kuliah. Buat itungan Swiss, ini harga udah termasuk murah, walaupun kalau tahu tips, tricks, dan channel website “rahasia” kita bisa dapat kamar kos seharga 250 CHF (perebutan kamar kos murah ini sangat bergantung pada faktor luck yang besar). Harga sewa student housing milik universitas itu antara 700-1100 CHF per bulan (dengan style dan desain yang lebih chic tentunya), dan itu bisa lebih dari setengah uang beasiswa yang dikasih kampus buat para mahasiswa dari negara-negara berkembang.

Sudah jadi rahasia umum bahwa harga sewa akomodasi di Swiss itu muahalnya luar binasa. Unless you are super rich atau bekerja di organisasi internasional dengan gaji minimal 20.000 CHF per bulan, kita ga bisa beli rumah di sana. Sebagian besar tinggal di apartemen dengan harga sewa antara 2.500 sampai 4.000 CHF per bulan, tergantung ukuran, fasilitas, usia gedung serta lokasinya. Buat sebagian besar orang, harga sewa apartemen biasanya sudah menghabiskan minimal 30% gaji mereka, belum termasuk pajak.

Sebagai gambaran, gaji pekerja kasar di Swiss – seperti pegawai restoran, kasir, cleaning service, sopir angkutan umum – itu sekitar 3,500 – 4,000 CHF per bulan. Ini baru pegawai kasar lho ya… Tahun kedua gue tinggal di Swiss, ada referendum untuk menaikkan UMR menjadi 4,000 CHF sebulan. Kalau sudah kerja di perusahaan atau organisasi internasional, jangan ditanya… minimal 6,000 CHF. Apalagi kalau udah posisi manajer atau direktur, waah, 10,000 CHF dapet deh. Sedangkan “gaji”anak magang rata-rata “hanya” 1,500 – 2,000 CHF per bulan. So, udah ngerti kan kenapa Swiss bisa dikategorikan sebagai salah satu negara termahal di dunia? (Btw, gue ga habis mikir kenapa kurs CHF dengan IDR bisa njomplang begitu besar, walhasil gue bisa bawa sisa uang beasiswa ke Indonesia untuk ditabung kembali).

Kepindahan ketiga dan terakhir gue di Swiss terjadi di 2 bulan terakhir sebelum balik ke Indonesia. Kali ini, kost-nya berada di Prancis selatan yang 30 menit jauhnya ke Geneva naik bis. Di “kost” ketiga ini gue tinggal di rumah keluarga pasangan Indonesia-Prancis, sekaligus menjadi fille au-pair atau baby sitter buat kedua anak lelaki mereka. Sistim au-pair disini enak, cewek yang jadi baby sitter ga dapat gaji, tapi tinggal di keluarga angkat plus dapat makan disana. Beberapa ada yang kasih uang saku juga, tergantung kesepakatan awal. Au-pair ini semacam konsep home stay nya dikembangkan, dimana si gadis biasanya berasal dari negara lain dan mau belajar Bahasa dan kebudayaan negara tujuan. Biar lebih nancep dan ngena budayanya serta bisa langsung praktik bahasa, maka mereka harus tinggal dengan keluarga angkat.

To cut the story short, si ibu yang asli Indonesia ini lagi kesulitan nyari au pair buat jagain 2 anaknya selama dia dan suaminya bekerja. Berhubung pas itu gue udah selesaiin thesis en lagi nganggur sembari terus apply kerjaan, gue menawarkan diri, yang langsung disambut dengan bahagia. Selain dapat tempat tinggal gratis di rumah yang nyaman, gue juga dapat uang saku sebesar 500 Euro (atau 600 CHF) per bulan plus makan :D  LUMAYAAAAN BANGET BUAT SAVING!! Plus, gue bisa praktik Bahasa Prancis gue sama 2 bocah (katanya salah satu cara belajar Bahasa asing terbaik itu dari anak-anak) dan dapet pengalaman mengasuh anak plus tinggal di Prancis hohoho.

Cara pindahannya? Gue nyicil pindahin barang-barang gue dari Swiss ke Prancis naik bis bo…. Berhubung di Swiss kalo nyewa jasa pindahan mahalnya bujubuneng, so mau ga mau gue harus mandiri (saat tinggal di luar itu rasanya gue jauh lebih mandiri daripada saat tinggal di Indo!).

Lalu gue kembali ke Indonesia, dan ini adalah kepindahan juga – yang cukup ribet dengan 2 koper besaaaar.

Di Indonesia, gue liburan 1 bulan di Purworejo, lalu pindah lagi ke Makassar untuk kerjaan pertama. Harga sewa Rp 1.500.000, kamar luas dan fasilitasnya enak. Tapi banyakan yang tinggal di situ bapak-bapak :( Karena satu dan lain hal, gue hanya bertahan 2 bulan di Makassar, lalu pindah ke Surabaya.

Kost pertama di Surabaya bukanlah kos sebenarnya, melainkan tinggal di sebuah rumah besar milik mertuanya bos gue dan dijadikan panti asuhan (haaha!). Gue diberi kamar yang sangat besaaaar, jauh lebih besar daripada kamar papa gue di Purworejo dan isinya hanya 1 kasur dan 1 lemari baju. Ga ada meja kursi, yang harus gue beli sendiri karena gue ga betah kalau ga bisa nulis, baca, atau buka laptop di meja. “Kost” ini gratis karena bos gue mengijinkan gue tinggal di sana, jaraknya dengan kantor juga super dekat, hanya 2 menit jalan kaki. Tapi suasananya ga enak; selalu gaduh setiap malam karena penuh anak-anak, serta lagi ga kondusif juga dengan bapak dan ibu panti. Setelah 2 bulan, gue putuskan untuk pindah kos.

Akhirnya dapet, harga Rp 950,000 per bulan. Selain di Swiss, so far ini kost paling favorit gue selama di Indonesia karena privasi dan kenyamanan sangat didapat di sini, plus cici dan kokonya baik banget. Dengan penghasilan gue yang belum sebesar sekarang saat di Jakarta, harga sewa kos ini hampir menghabiskan 25% gaji gue (now I knew how the Swiss felt about the rent!), tapi benar-benar worth it dengan semua yang gue dapatkan. Jaraknya ga terlalu jauh dari kantor, 7 menit naik motor atau 15 menit jalan kaki.

Kemudian, gue dapat kerjaan di Jakarta dan setelah pergumulan 3 bulan, gue memutuskan untuk mengambil tawaran ini dan pindah ke Jakarta. Pencarian kos di Jakarta cukup mujizat, dimana dalam waktu 30 menit gue sudah mendapat tempat kos yang enak, walaupun harganya mahal, Rp 1.750.000. Tapi berhubung tempatnya dekat dengan kantor – 6 menit jalan kaki – dan gue membudget harga kos sebesar 2 juta rupiah, maka gue ambillah kos itu. Fasilitasnya oke: ada AC, kamar mandi dalam, wifi, bahkan dapat tivi!! Tivi flat yang nempel ke dinding gitu. Ada dapur juga dan air minum (ini sangat lumayan untuk mengurangi pengeluaran untuk beli air minum atau water dispenser sendiri). Kepindahan ke Jakarta ini bertepatan dengan liburan gue ke China. Karena setelah liburan gue hanya ada waktu seminggu sebelum mulai kerja dan tidak efisien jika harus balik Purworejo dulu, maka sebagian barang gue kirim ke Jakarta ke tempat kos yang baru.

Setelah 1 bulan bekerja, mempelajari ritme dan dinamika kerjaan, gue pun mulai berpikir untuk pindah kos lagi yang lebih murah. Karena dipikir-pikir, pengeluaran Rp 1.750.000 per bulan itu besar juga dan memberatkan di kantong…. Walaupun untuk ukuran Jakarta itu mungkin termasuk harga normal. Untuk ukuran harga kost di daerah Jakarta Barat, itu termasuk harga wajar. Temen-temen gue yang tinggal dan bekerja di daerah “elite” seperti Cikini, Menteng, Slipi, dan Kuningan, harga kost-an rata-rata 2 juta’an, bahkan lebih. Tapi pengalaman pindah kos berkali-kali membuat gue percaya bahwa pasti ada tempat kos yang lebih murah dan nyaman.

Tebakan gue benar :D Setelah ngobrol-ngobrol dengan teman-teman kantor mengenai tempat kos dan mendatangi beberapa tempat kos yang masih bisa dijangkau dg jalan kaki dari dan ke kantor, gue pun akhirnya menemukan 1 tempat yang nyaman dengan fasilitas yang baik. Ada AC (sepertinya hampir semua kos di Jakarta sudah umum pake AC), wifi, dan kamar yang nyaman. Kamar mandi ada di luar, tapi buat gue ini ga masalah; dan ga ada tivi di dalam, yang buat gue juga ga masalah karena gue juga ga pernah betul-betul menonton televisi di kost saat itu. TV hanya gue nyalakan biar ada suara saja di dalam kamar, en sebagai “lampu tidur” di malam hari dengan suara yang dimatikan :p  Tidak ada dapur tapi itu juga ga masalah, karena dengan dapur umum pun, gue sangat jarang masak (kecuali masak Indomie malem-malem kalo gue laper). Kost ini – meskipun jaraknya lebih jauh dari kantor, 17 menit jalan kaki – memiliki kelebihan sendiri: di lantai 3 ada ruang santai yang nyaman untuk nongkrong, ada ruang bersama/ruang tengah dengan tivi yang gede, dan mas-mas penjaga dari Ngawi yang sumeh alias ramah banget.

Harganya? 1 juta rupiah. Lumayan banget booow bias nabung Rp 750.000 sebulan!! Duit segitu bisa gue investasikan ke reksadana, atau buat tambah-tambah duit makan dan transport :D. Listrik bayar sendiri sih, tapi saat di Surabaya gue juga bayar listrik di luar kos dengan harga sekitar Rp 120-150 ribu sebulan. Gue ga terlalu ngitung itu karena tetap aja, jumlah yang ditabung lebih besar daripada jumlah yang keluar. Beda cerita kalau harganya Rp 1,5 juta dengan fasilitas komplit, mending sih ga usah pindah karena cuma beda 250 ribu (males pindahannya). Gue baru tau bahwa tempat kos yang baru ini dekat dengan Metro TV, en denger-denger gaji orang2 yang kerja di media itu kecil, so ga heran ada kos dengan harga segitu.

Sebenarnya di kepindahan ini gue udah merasa lelah sekali hidup berpindah-pindah tempat. Gue bertanya kepada diri gue sendiri, “duh Nik, sampe kapan sih lu mau pindah-pindah terus…? Kapan lu mau settle down en kawin? Semua temen lu udah pada married en punya anak… ada yang udah punya 2 malah. Lu kapan?” Dan gue tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Hasrat untuk pergi keliling-keliling dan jalan-jalan dunia serta mencoba pengalaman baru selalu ada dalam diri gue.

Ga bisa gue pungkiri, pindahan itu ga enak. Apalagi kalau barang kita banyak. Yang nyebelin itu saat gue beli beberapa furniture karena tidak disediakan di tempat kos, tapi ketika pindah ke tempat kos yang baru, furniture yang kita beli justru disediakan di sana. Seperti misalnya meja belajar, kursi, rak buku, bahkan lemari baju! Ada lho kamar kos yang kamarnya sudah full furnished, dapat lemari baju yang lebar, meja belajar + kursi, beberapa bahkan dapat rak buku 3 atau 4 susun – terserah mau dipake untuk naruh apa. Seperti yang terjadi di kos gue sekarang: kos lama ga ada meja sehingga gue harus beli meja untuk gue nulis dan ngerjain kerjaan kantor, tapi ketika pindah kos baru, ternyata meja disediakan. Serasa mubazir kan :(  Mau dibuang sayang, mau dibawa tapi sudah tersedia fasilitas yang sama. Alternatifnya, biasanya meja/furniture dari kos dikeluarkan dan kita pakai yang kita beli (kecuali yang dari kos itu lebih bagus hohoho ^^).

Hal lain yang susah saat pindahan adalah mengangkut barang-barang yang bejibun. Untuk pindahan kali ini gue pake jasa pindahan Go Box, karena gue perlu ngangkut meja, kursi, rak buku, 3 buah koper dan tas-tas lain. Waktu di Swiss, mau gamau pindahannya harus diangkut sendiri + minta bantuan temen, dan kalau barang-barangnya banyak, harus dicicil pindahannya.

Penyesuaian dengan tempat baru juga bisa sama susah dan menantangnya. Bila tempat yang baru ternyata ga senyaman or seenak yang kita bayangkan, waaah…. Susah banget. Dipikir-pikir… biasanya tempat kos yang gue tinggalkan itu selalu lebih nyaman daripada kepindahan ke kost kedua. Tapi demi harga (!!), gue bela-belain pindah. Dan gue heran dengan diri sendiri, kok gue bisa ya bertahan hidup? Di tempat kost yang lebih jauh, fasilitasnya tidak komplit, dan letaknya lebih jauh dari tempat kerja?

Dan dari sinilah, gue tersadar bahwa kepindahan ini mengajarkan gue banyak hal. Belajar untuk bertahan hidup, untuk survive, untuk berjuang; belajar prihatin dan bersyukur bahwa tidak semua orang memiliki tempat tinggal yang layak – apalagi nyaman. Jadi ya gue pikir, pindahan sekali lagi (hopefully ga pindah-pindah lagi abis ini) ga ada bedanya. Toh bisa nabung Rp 750.000 itu terasa gede sebulan. Teman-teman di kantor banyak yang tempat tinggalnya juga jauh-jauh, ada yang di Cengkareng, Tangerang, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, bahkan bos gue tinggal di Bekasi bo…. Dan mereka ga pernah ngeluh, bahkan fine-fine aja ngantor setiap hari meskipun jaraknya jauh-jauh. Hidup terus berlanjut, man. Sedangkan kos gue masih terjangkau dalam radius jalan kaki. So… gue ga patut ngeluh beralasan malas pindah karena tempat yang lebih jauh dan kamar kos yang tidak besar. Dulu pun gue juga bisa ngekos di tempat yang tidak nyaman untuk kuliah, so kali ini juga pasti bisa.

Bagaimana dengan para Baltyrans sekalian? Silakan sharing cerita pengalaman pindahnya…

 

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Pindahan"

  1. Dj. 813  20 December, 2016 at 23:53

    Nonik . . . .
    Dj sejak kecil ( umur 10 tahun sudah terlalu sering pindah .
    Tapi yang paling sering saat 2 tahun pertama di Mainz, ppernah pindah 11 X
    Dari appartment ke appartment yang lain .
    Tapi setelah itu tidak pernah pinda lagi .
    Kerjaan juga tidak pernah pindah, apalagi pindah istri .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Salam manis dari Mainz

  2. Budi Margomuljo  20 December, 2016 at 18:33

    Saya juga merasakan sering merasakan repotnya pindahan..
    Mulai kost setelah bekerja di Jakarta sejak pertengahan tahun 90an.
    Selalu cari kost yang murah dan dekat kantor, karena awal bekerja di Jakarta gaji masih kecil.
    Lumayan agar dana bisa disisihkan untuk tambah uang makan + uang transport.
    Sampai beberapa kali pindah kost, karena pindah perusahaan yang lokasi kantor berbeda, dari daerah kota, kebon jeruk, Sudirman dan Gatot Subroto.

    Setelah pindah kerja di Abu Dhabi, sempat kost juga. Harganya termasuk mahal dibanding dengan kost di Jakarta.
    Sekarang setelah menikah, harus sewa sendiri apartemen agar nyaman dengan keluarga.

  3. Handoko Widagdo  20 December, 2016 at 09:47

    Nonik, saya termasuk tipe setia. Saat pertama kost, waktu masuk SMA, saya tidak pindah sejak masuk sampai lulus. Demikian juga saat masuk universitas. Saya juga tidak pernah pindah kost sejak masuk sampai lulus. Saat S2 pun demikian. Satu kamar dari sejak masuk sampai selesai.

  4. Linda Cheang  20 December, 2016 at 09:11

    Kost ku dulu di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, sewaktu aku jadi siswi magang di fasilitas perawatan pesawat terbang maskapai penerbangan pemerintah di Cengkareng . Dari Cengkareng ke Kemayoran ada bus jemputan karyawan jadi lumayan hemat ongkos transpor.

    Nggak lama, sih, cuma 1 bulan saat libur kenaikan kelas. Tapi ngalamin juga saat harus pindahan gara-gara ibu kos salah hitung waktu. Akhirnya dapat juga, masih di Kemayoran tapi di seberang lokasi kos dulu

    Bener, kalo soal nggak ada TV, itu nggak masalah. Soal jalan-jalan, ada transportasi umum, waktui itu masih ada bus tingkat, ke Blok M, nggak masalah. Tapi kalo jadi anak kos, yang bikin repot itu pindahannya.

    Ceritanya mirip sama cerita pindahan kos kamu, Nonik. hehehehe

  5. Lani  20 December, 2016 at 06:25

    Al: betul sekali pindahan sekalian bersih2 semua barang yg sdh tdk diperlukan lagi, dikasihkan ke orang lain, atau yg tdk layak langsung ke bak sampah goodbye kkkkkkkk

    Sdh biasa tinggal sendirian jd nyaman2 aja

  6. HennieTriana Oberst  19 December, 2016 at 22:13

    Pengalaman pindahmu banyak Nonik hehehe… Aku juga lumayan sering pindah kos selama di Jakarta, ribet memang, tapi gitu itu, alasannya selain kenyamanan juga harga
    Setelah pindah ke Jerman aku kira nggak pindah-pindah lagi, tapi ternyata masih pindah-pindah juga bahkan ke tiga negara. Pengalaman yang sangat berharga.

  7. Alvina VB  19 December, 2016 at 14:22

    Wah…Nonik kl mau diceritaiin ttg pindahan kos2an dulu, pengen ketawa dech…krn banyak kejadian yg lucu2 dan temen2 kosnya bisa dibikin cerita drama bersambung. Dan jaman saya kos2an duluuuu blm juta2an euy…padahal daerah di deket jln. Jendral Sudirman, jadul yg namanya 50.000/75.000 rups aja dah termasuk mahal banget. Sampai saat ini, saya masih keep in touch dgn bbrp temen2 kos yg juga tinggal di luar; kita sering ketawa kl inget jadul kos2an dan tentunya kita masih lajang dan merdeka, ha..ha…..
    Iya, James masih betah, blm rencana mau pindahan, he..he…
    Mbakyu Lani, memang betul kl pindahan itu kaya bersih2 sekalian ya…ada yg dibuang dan ada yg dikasihin org lain kl mau, silahkan ambil aja…

  8. Lani  19 December, 2016 at 13:35

    Nonik: aku setuju pindahan itu ribet, resek, apalagi klu barangnya sak-ambreg2.

    Aku sdh pernah pindah 3 kali, ini pindah antar state, kmd pindah antar studio krn studio yg aku tinggali di renovasi, pindah ketempat baru hanya 2 bulan tp pindahannya amit2 dah ampyuuun!

    Tiap kali pindahan sdh jelas tempat yg akan ditinggalkan hrs dibersihkan, krn tiap kali menyewa hrs bayar 2 kali harga sewa, krn klu tempat yg ditinggalkan msh kotor uang jaminan dipotong.

    Nah aku tdk akan membandingkan soal harga menurutku kost2-an yg kamu sebutkan semuanya lebih murah krn aku bayar 10.800.000 ribu/bulannya! Ediaaaan to jumlahnya sgt fantastis! Tp studioku furnished semuanya baru ktk aku masuk, dan skrng setelah direnovasi semakin asyik (kompornya induksi, cabinet dan sink dikamar mandi baru, faucet di dapur baru, semua dicat lagi, internet gratis, lemari gede ada dua) air, sampah, listrik dibantu tiap bulannya kelebihan pemakaian bayar sendiri. Aku sdh tinggal ditempat yg sama selama 8 tahun!

    Lokasinya sgt strategis dipusat kota, modalku hanya mersikil kemana saja, tdk perlu mobil, dan di Kona transportasi umum boleh dikatakan agak sulit, kebanyakan orang punya mobil pribadi.

    Tiap kali pindah banyak barang yg aku berikan ke orang lain, jd pindahan selain ribet, resek, keuntungannya sekalia bersih2 barang2 yg tdk diperlukan lagi, dan aku mmg tdk suka nyusuh/hoarder, klu bisa tdk ada barang baru kecuali ada yg dibuang dulu, dipertahankan tetap sama jumlahnya, aku jg tdk suka tempat yg amburadul hrs rapi jali dan kinclong! Mmg sdh terbiasa hidup begitu.

    Aku juga tdk suka punya roommate bikin pusing!

    Nah ini OOT ktk aku mudik sempat ketemu papamu, tp dia ndak mengenaliku hehehe……..

  9. James  19 December, 2016 at 09:53

    1…..selama ini baru ngalamin pindahan sebanhayk 4 kali seumur hidup nih, ribet lah kalau terlalu sering Pindahan, apalagi kalau Pindahan Pasangan jangan coba2 nanti semakin puyeng kepala dan batin

    halo para Kenthirs jangan pindahan dari Baltyra yah ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *