Aku Memang

Dian Nugraheni

 

Kemaplok…

Kemaplok itu, gini, karena apa yang aku lakukan, orang jadi ga suka, bahkan jadi pengen “ngaplok” alias nampol, alias nampar.

Ini kisah sore tadi di tempat kerja. Crew dapur yang cuma 8 orang, sudah lebih dari 2 minggu, kurang 2 orang. Yang satu, orang indo, pulkam, katanya Ibunya sakit. Satunya lagi, orang Spanish, dia harus jagain anaknya yang sedang sakit parah di sini. Jadi otomatis, crew yang sisa 6 orang ini harus cover kerjaan 2 orang crew yang lagi absen panjang ini.

Sore tadi, jam 2.30, sebagian crew dapur, 3 orang, makan siang. Sisa 3 orang lainnya, stand by. Yang 2 terima order, satunya, aku. Jam segitu kerjaanku adalah cleaning dua buah meja, nata Bagel sisa, nyuci perabotan di meja bar, keringkan, kembalikan ke meja bar lagi.

Biasanya jam segitu, customer agak sepi. Tapi, tadi itu rame banget. Dan banyak juga “gerombolan si Berat” yaitu customer-customer yang biasa diistimewakan nggak perlu ikutan antri di barisan antrian reguler, karena mereka mahasiswa atlit. Mereka dibolehkan langsung nrobos di jalur sebelah kiri, langsung nemuin orang dapur dan pesan. Pada rombongan ini, aku satu-satunya crew yang mostly, ga pay attention dan nggak mau begitu saja melayani para slononger ini, karena aku nggak setuju dengan sistem pengistimewaan dengan cara begini. Menurutku, cara ini tetep ga fair…

Sampai, si Joe, store majaner mendekat dan bilang, “Dayen, please help them…” Them yang dimaksud adalah gerombolan siBerat, slonongers…

Aku, “No, I’m cleaning…”

Joe, “Please Dayen, sekali ini saja…”

Aku, “Noo…”

Lalu Joe ke depan, balik lagi bawa tiket, kayak kalau ada call order. Kalau call order, harus ditulis apa ordernya pada sebuah tiket, secarik kertas, lalu tiket itu dikasih ke orang dapur. Kalau call order, serepot apa pun, bagi aku, adalah oke..aku bisa terima.

Joe mendekat lagi, ngasih ke aku tiket orderan. Padahal aku tau, itu cuma bohongan. Itu adalah pesanan gerombolan siBerat yang sudah berdiri di sebelah kiri, bukan murni call order.

“Dayen, please…”

Aku, berhenti sejenak bebenah meja, “Hei, Joe, don’t push me..I’m cleaning now..”

Joe pegang pundakku pelan, halus, merayu, “pleasee…”

Aku, “Aku bilang don’t push me…kalau kamu push me, I go home now..I’m an employee, not a slave..!”

Joe, “Whaat..? You will go home now..? Ohh my God…!”

Lalu Joe nggloyor balik ke posnya di depan. Aku tetep cleaning, dua orang temanku berjibaku kerepotan melayani costumer di regular line, dan para gerombolan siBerat alias slononger harus lamaaa..nunggu sampai crew dapur lain yang sedang break makan siang, selesai…

Aku tau, para slononger itu menatapku penuh gemas, dan..pengen…ngaplok itu tadi…hai..hai…

Embeeer…ahhhh…! Jadi pengen koprol, deh…he…he…

 

 

5 Comments to "Aku Memang"

  1. Lani  21 December, 2016 at 12:34

    Dian: betuuuuuuuuul kuaplok mereka para slononger

  2. James  21 December, 2016 at 05:17

    Hadir dibelakang mas Hand sembari absenin Kenthirs yg msh absen

  3. Alvina VB  21 December, 2016 at 00:40

    Hebring…..memang org kek gitu musti dikasih pelajaran….

  4. Dj. 813  20 December, 2016 at 23:25

    Kalau di Jerman ada Firma yang meminjamkan pekerja .
    Kalau satu perusahaan kekurangan pekerja,maka bisa meminjam untuk beberapa hari atau sebulan atau lebih .
    Tapi kalau seorang pekerja, mangkar . . .
    Yang jelas akan mendapat kesulitan atau di pecat .
    Salam Damai dari Mainz .

  5. Handoko Widagdo  20 December, 2016 at 13:47

    Huueeeebattt.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *