Persepsi, Interpretasi dan Refleksi

Juwandi Ahmad

 

~ Saya, kamu, dan banyak orang itu tak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya terjadi, entah di Suriah, Myanmar, atau di tempat lain. Ini adalah dunia yang penuh kepentingan, dimana peristiwa bisa direduksi, kejadian dapat dirancang, informasi dipalsukan, lalu digiring ke mana-mana. Dan pada level dan kadar tertentu nyaris semua orang berpolitik~

~ Kalau hanya lihat gambar, baca berita, lihat video, lalu kamu marah, mengutuk, menghujat, yang ini syiah, yang itu sunni, yang jahat Buddhist, yang dijahati Muslim, lalu sampai soal Amerika, Yahudi, kafir dan sebagainya, itu lebih pada tentang kamu, ketimbang fakta. Selain bahwa kamu juga sedang berpolitik, setidaknya politik identitas, yang ke depan akan terus berulang dengan peristiwa-peristiwa baru, namun dengan perspektif lama~

~ Orang dan terutama anak-anak yang menjadi korban konflik memang akan cepat membangkitkan emosi-emosi khas kemanusiaan. Dan itu baik, mulia. Tapi itu hanya bagian dari fragmen yang namanya konflik. Apa, mengapa, dan bagaimana kisah keseluruhan yang membentuknya kita tak tahu. Kalau kamu melihat gambar orang yang kepalanya pecah, berdarah-darah, yang ada dalam pikiranmu adalah itu akibat suatu kekejaman. Itu sudah lebih dari cukup membangkitkan emosi kemanusiaanmu. Dan bila gambar itu diberi narasi bahwa ia Muslim, yang dibantai Buddhist Myanmar, maka sempurnalah sudah untuk membuatmu marah dan mengumbar sumpah serapah. Efeknya, bisa jadi yang kamu benci bukan hanya Buddhist yang ada di Myanmar sana, tapi juga yang ada di sini. Tapi, sekali lagi, itu lebih pada tentang kamu, persepsimu, keyakinan-keyakinanmu, dinamika psikologismu, ketimbang fakta, Di situ, ada preduksian, penyederhanaan peristiwa ke dalam persepsi, keyakinan-keyakinan personal~

~ Maka, atas segala yang membangkitkan emosimu, yang kau setujui maupun yang tidak, yang kau suka dan yang kau benci, termasuk yang sejalan dan yang bertentangan dengan keyakinanmu, belajarlah untuk menahan diri, sabar, obyektif, adil, termasuk dalam mencari dan mengolah informasi. Kalau informasi yang diolah terbatas, kesimpulannya juga terbatas, bahkan menyesatkan. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu pada seseorang, pada suatu umat mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Apalagi kebencian yang dibangun dari pengetahuan dan pemahaman yang terbatas. Orang yang mudah terpengaruh dan terpanasi, bukan saja bisa bikin penyakit pada diri sendiri, tapi juga bikin susah orang lain~

 

 

8 Comments to "Persepsi, Interpretasi dan Refleksi"

  1. Evi  26 December, 2016 at 16:40

    Mudah-mudahan Saya tidak bikin susah orang lain, yaaaa…..!

  2. Swan Liong Be  21 December, 2016 at 17:51

    Aku maksud dengan celana itu “terbalik” bukan “kebalikan” supaya jelas maksudku, hehehe…..

  3. Swan Liong Be  21 December, 2016 at 17:46

    Secara keseluruhan saya setuju amat dengan apa yang tertulis diatas. Kenyataannya bagaimana? Bagi kita dari Baltyra tentu mengerti apa yang dimaksud , tapi bagaimana dengan mereka yang dengan sengaja dimanipulasi oleh bebrapa kelompok untuk kepentingan mereka? Mana bisa orang² ini bisa menahan diri apalagi kalo diberi “angpao” yang mereka sangat membutuhkan.
    @Handoko: celana apa yang kamu maksud ,kalo celana dalam bentuk segitiga ya, cuma kebalikan.

  4. James  21 December, 2016 at 05:11

    Mas Hand, hahaha setuju

  5. James  21 December, 2016 at 05:10

    Mas Hand, hahaha setuju

    Absenin para kenthirs

  6. Alvina VB  21 December, 2016 at 00:45

    “….belajarlah untuk menahan diri, sabar, obyektif, adil, termasuk dalam mencari dan mengolah informasi.”
    musti diasah dari masih kecil, kl dah dewasa kayanya otaknya dah karatan dan susah utk dicuci, ha..ha….

  7. Dj. 813  20 December, 2016 at 23:18

    Kita doakan saja, agar yang berbuat onar, satu saat insaf .
    Dan kembali kejalan yang benar .
    Siapapun mereka .
    Salam Damai dari Mainz .

  8. Handoko Widagdo  20 December, 2016 at 13:42

    Sekarang saya thu mengapa celana dalam bentuknya segitiga. Ternyata ada hubungannya antara pikiran, persepsi dan tindakan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *