Senjata Pusaka Bugis

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Senjata Pusaka Bugis
Penulis: Ahmad Ubbe, Andi M. Irwan Zulfikar, Dray Vibrianto Senewe
Tahun Terbit: 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 366
ISBN: 978-979-22-7729-6

senjata-pusaka-bugis

 

Polo bessi adalah istilah Bugis untuk senjata pusaka atau besi mulia, atau semacam tosan aji dalam Bahasa Jawa (hal. 19). Bugis memiliki berbagai jenis senjata dari besi. Di antaranya adalah badik, keris, parang, pedang dan tombak. Seperti halnya keris Jawa, senjata berbahan besi di Bugis juga memiliki pamor. Pamor inilah yang membuat senjata-senjata Bugis elok dipandang. Pamor yang dalam Bahasa Bugis disebut ure’ memiliki unsur visual sebagai simbol dan membawa arti tertentu untuk menginspirasi perbaikan jiwa, mental, dan ideologi seseorang.

Sejarah logam besi di Sulawesi sudah ada setidaknya dari abas 14. Luwu menjadi pengekspor besi ke Jawa dan daerah-daerah lain, seperti Maluku (hal. 31). Bahkan Luwu sudah mengekspor senjata berbahan dasar logam ke Maluku pada abad 16.

Polo bessi adalah benda kebudayaan, sedangkan pamor adalah arsip yang bisa mengungkap pandangan, gagasan, harapan dan perilaku pemiliknya. Membahas polo bessi dan pamornya adalah membahas budaya dimana polo bessi tersebut lahir. Sebagai benda wujud kebudayaan, polo bessi, pamor, dan perabotnya, diciptakan dan digunakan atas landasan pemikiran dan gagasan tentang tata nilai baik menurut kebiasaan hidup yang dihayati masyarakat yang melahirkannya (hal. 25). Buku ini berupaya membahas kaitan antara senjata-senjata logam masyarakat Bugis dengan budaya Bugis. Ahmad Ubbe menjelaskan hubungan antara polo bessi dengan kebudayaan (Sulawesi Selatan, khususnya Bugis), sejarah singkat pembuatan senjata logam di masyarakat Bugis, polo bessi dan pelapisan masyarakat, polo bessi dan kekuasaan dan polo bessi hubungannya dengan kekuatan dan landasan spiritual. Ubbe juga membahas secara khusus motif dan pola pamor.

Sedangkan Andi Irwan Zulfikar membahas ganjang (keris) Bugis dan teknik-teknik pembuatannya. Teknik pembuatan pamor di Bugis tak beda dengan teknik pembuatan pamor di Jawa. Untuk membuat pamor, mereka juga menggunakan percampuran beberapa jenis logam. Teknik untuk menciptakan pamor tertentu dilakukan dengan posisi pemrosesan penempaan logam tersebut. Namun, selain pamor-pamor yang diharapkan, seringkali juga muncul pamor yang tercipta tanpa diperkirakan sebelumnya. Pamor yang demikian disebut sebagai pamor tiban, yang umumnya lebih indah dan unik. Selain membahas pembuatan keris Bugis, Zulfikat juga menjelaskan berbagai asesoris ganjang. Ia membahas warangka, pangulu (pegangan) dan bentuk-bentuknya, passio atau tali yang mengikat bagian luar sarung ganjang.

Dray Vibrianto Senewe membahas secara khusus badik Bugis. Ia membeberkan beberapa jenis badik dan kegunaannya. Selanjutnya Senewe menjelaskan bahwa badik bagi orang Bugis bukanlah sekedar senjata tikam. Badik juga melambangkan status, pribadi, dan karakter pembawanya (hal. 169).

Buku ini dilengkapi dengan transliterasi dan terjemahan Lontara’ tentang tanda baik buruk (sisi’) keris, badik, pedang dan parang (hal. 173 – 186). Dalam terjemahan lontara’ ini dilengkapi gambar-gambar berbagai pamor senjata Bugis dan artinya. Di bagian akhir buku ini Ahmad Ubbe menyajikan berbagai keris (ganjang) Bugis yang terkenal (hal. 191 – 366) lengkap dengan foto-fotonya nan eksotik.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Senjata Pusaka Bugis"

  1. Lani  24 December, 2016 at 12:13

    Hand: jawabanmu ces-pleng……………

  2. Handoko Widagdo  24 December, 2016 at 08:53

    Lani, kekethiran itulah senjata para kenthir.

  3. Lani  21 December, 2016 at 12:39

    Hand: Pertanyaanku mmgnya senjata para kenthirs apa??????

  4. Handoko Widagdo  21 December, 2016 at 08:15

    Avy, sepertinya mereka juga punya ritual untuk memperlakukan senjata pusaka. Tapi saya tidak tahu apakah seperti “SURONAN” di Jawa. Buku ini tidak mengulasnya.

  5. Handoko Widagdo  21 December, 2016 at 08:14

    Kangmas Djoko, begitulah. Setiap orang punya senjatanya sendiri. Salam Natal untuk keluarga di Mainz. Dan ikut berduka atas peristiwa di Berlin.

  6. Handoko Widagdo  21 December, 2016 at 08:13

    James, semoga para kentirs muncul dengan membawa senjatanya masing-masing.

  7. James  21 December, 2016 at 05:19

    1….Badik Bugis menantikan para Kenthirs

  8. Alvina VB  21 December, 2016 at 00:42

    Han: Apakah senjata pusaka Bugis ini ada ritualnya spt keris di Jawa itu kan ada ritualnya, musti dimandikan di hari2 tertentu.

  9. Dj. 813  20 December, 2016 at 23:30

    Setiap daerah atau budaya, memiliki pusaka yang oleh daerah itu, pasti sangat disanjung,
    atau dihormati .
    Senjata Dj. adalah bonsai yang setiap 2 hari 1 X harus di mandikan .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Salam Damai dari Mainz

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *