Ulama Juga Manusia

djas Merahputih

 

Demo bersambut. Demo dibalas demo. Dua bulan sudah energi terbuang untuk demo. Meskipun banyak yang khawatir akan rusuh, nyatanya dua demo setelah demo rusuh 411, tetap berjalan dengan aman. Demo 212 dan 412 berakhir damai. Namun tak demikian halnya di media sosial.

Twitwar tak terelakkan. Para supporter saling klaim jumlah demonstran. Kedua pihak membanggakan kebesaran demo masing-masing, mirip kebanggaan yang biasanya dimiliki para supporter sepak bola. Juga mirip buih saat membanggakan jumlah gelembungnya, meskipun terus dipermainkan gelombang, tak punya daya dan energi merubah sistem. Bukankah lebih baik menjadi intan meskipun seupil? Seupil tapi sanggup menggores kerasnya permukaan kaca?

Demo pertama (411) sendiri berawal sekaligus dilegitimasi oleh keluarnya fatwa (pesanan?) MUI tentang penistaan agama. MUI secara sadar ataupun tidak telah menempatkan diri di tengah pusaran benturan kepentingan-kepentingan politik yang ada. Di tengah peran strategis MUI tersebut, legalitas dan derajat para Ulama di tanah air sedang dipertaruhkan, sebagaimana pun derajat para habib dipertaruhkan.

Kita tentu berharap kemuliaan para Ulama jangan sampai terdegradasi oleh aksi para penumpang gelap di tubuh MUI sendiri, apalagi jika ditumpangi oleh agen-agen politik dari luar. Bisa jadi, pepatah nila setitik rusak susu sebelanga akan menjadi kenyataan dalam lembaga tersebut.

Memandang MUI adalah sebagai satu-satunya representasi umat Islam Indonesia, dari segi sejarah pun mungkin sedikit berlebihan. Sebab ulama-ulama NU dan Muhammadiyah saja masih sulit bersepakat, misalnya dalam hal penetapan hari raya Idul Fitri setiap tahun. Artinya, sangat sulit menemukan sebuah lembaga yang benar-benar bisa menjadi rujukan tunggal umat Islam seluruh Indonesia.

Rakyat awam mengenal Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah berkumpulnya para alim ulama Indonesia. MUI adalah perwakilan para Ulama. Namun, apakah fakta di lapangan demikian pula adanya? Pandangan berbeda soal penistaan agama dari Syafi’i Ma’arif dan Gus Mus mungkin bisa menjawab pertanyaan ini.

Ulama memang pewaris nabi. Tapi jangan lupa, Ulama juga manusia. Jika seorang Muhammad berbuat keliru segera ditegur oleh Allah melalui Jibril, maka siapakah yang akan menegur seorang Ulama saat ia berbuat keliru? Apakah kebenaran kini mutlak berada di tangan Ulama?

Rakyat seharusnya bisa semakin cerdas, jangan sampai kalah cerdas oleh gawai di tangan (Smartphone). Seluruh informasi selintas di media hanyalah informasi permukaan. Hanya buih. Ia harus diselami untuk memperoleh konteks berita terdalam. Caranya, yaitu dengan membaca situasi di seputar frame informasi permukaan tadi.

Sulit disangkal bahwa hiperbolisasi kasus penistaan Al-Quran adalah berkaitan dengan proses Pilgub yang sedang berlangsung di DKI Jakarta. Timing dan motifnya terlalu telanjang dan vulgar bagi seorang Generalis. Seseorang yang memandang persoalan dari berbagai sudut dan perspektif.

Bisakah kita bayangkan demo 212 akan sebesar ini andai saja si penista Al-Quran bukanlah seorang Calon Gubernur?

Apakah standar ganda kini juga telah berlaku dalam hukum Islam?

Mungkin usaha untuk menjegal karir politik seseorang akan lebih elegan jika tak harus melibatkan sentimen suku dan agama di dalamnya. Itulah pertarungan para Ksatria.

Kekhawatiran terhadap sosok “sembilan naga” di belakang Ahok tak perlu memaksa kita bertindak – membakar lumbung demi membasmi 9 ekor tikus – dalam sistem demokrasi yang ada. Hidup berbangsa dan bernegara adalah sebuah sistem. Biarlah rakyat DKI menentukan sendiri pemimpin pilihan mereka.

Di sisi lain, Ulama sebagai pewaris para nabi memiliki tanggungjawab menuntun umat ke arah yang diridhoi Allah SWT. Tak terjebak ke dalam politik praktis. Kepekaan terhadap tuntutan jaman seperti halnya adaptasi fleksibel masing-masing tafsir pada keempat Mazhab para Imam terdahulu, akan membuat Ulama semakin dicintai dan diagungkan umat Islam Indonesia.

Bung Karno berujar, “Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagian besar, ialah oleh karena Islam tak mau membarengi jaman.”

Ulama haruslah bijak dan berwawasan luas. Sebab jika tidak, jika pandangan para Ulama cenderung sempit dan tetap statis, apalagi politis, mungkin suatu saat di negeri ini akan muncul sebuah lembaga MUI tandingan, untuk memperbaharui pola pikir dan sudut pandang para Ulama.

Sebuah kemungkinan yang bukan mustahil akan terjadi. Kita harus segera sedapat mungkin mencegah hal ini. Ulama adalah panutan umat, bukan pedagang fatwa, bukan pula pebisnis ayat. Waspadalah potensi lahirnya MUI tandingan itu, waspadalah kalian akan lahirnya Majelis Ubaru Indonesia.

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture’nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Ulama Juga Manusia"

  1. djasMerahputih  27 December, 2016 at 08:13

    Tammy:
    Banyak orang nggak siap berlomba dengan kecerdasan buatan manusia (Smartphone). Gawai di tangan kadang lebih cerdas dari pemiliknya.

  2. djasMerahputih  27 December, 2016 at 08:11

    >>mba Avy:
    Setuju. Saat agama bersinggungan dengan kekuasaan maka kebenaran mudah berpihak/dimonopoli oleh pihak berkepentingan. Mana mungkin sekelompok orang merasa berhak mengatasnamakan sikap umat Islam seluruh Indonesia yang juga beragam?

  3. djasMerahputih  27 December, 2016 at 08:03

    >>Tji Lani:
    Bahkan merasa lebih benar dari ulama panutan seperti Buya Syafi’i Ma’arif dan Gus Mustofa Bisri.

    >>Evi:
    Setuju. Ulama seharusnya tak hanya menjadi panutan bagaimana beragama yang baik tapi juga bagaimana bernegara yang pantas.

  4. Tammy  27 December, 2016 at 07:14

    Gontok-gontokan di media sosial semakin tak terkendali. Tiap hari ribut soal agama. Energi habis buat itu. Herannya kok ya banyak orang yg gampang terpengaruh. Dunia udah canggih, informasi dan ilmu pengetahuan semakin gampang diakses, kok bayak orang yg nggak tambah pinter malah tambah dungu.

  5. Alvina VB  27 December, 2016 at 05:15

    Trima kasih buat tulisannya Djas (Merah Putih). Kata Soekarno:
    “Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagian besar, ialah oleh karena Islam tak mau membarengi jaman.”
    Saya rasa bukan Islamnya saja, ttp penganutnya dan terutama org yg bertanggung jawab menyebarkan agama itu sendiri. Banyak ulama di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya yg cetek pengetahuan islamnya dan tentunya pengajarannya juga jadi cetek dan salah tafsir. That’s just my two cents…

  6. Evi  26 December, 2016 at 16:35

    Saya juga sependapat dgn anda, apa yg Saya pikirkan sudah terwakilkan oleh penulis, saya turut kecewa dgn apa yg terjadi saat ini. Jaman sudah maju dan bertekhnology informatif Tapi penduduknya Masih terbelakang. Orang Indonesia mudah dibodohi dan mudah dihasut, seharusnya gali lebih dalam lagi permasalahannya dan pelajari baik-baik, gunakan juga akal dan hati nurani, gunakan ayat-ayat dalam kitab Suci yg mendukung dan mendorong kebaikkan umat manusia bersama.

    Para tokoh penting, ulama, tokoh agama, pendidik diwajibkan dan seringlah mengedukasi pentingnya bernegara, solidaritas, Kebhineka’aan dan kedamaian, keamanan, kemajuan orangnya, keluarganya, sekolahnya, kerjanya dan yg Lebih luas dan besar lagi sampai negaranya sendiri.

  7. Lani  26 December, 2016 at 10:27

    Betul kang Djas mereka bukan malaikat hanya kadang2 saja mrk keblingeeeeeeeeer…………..merasa lebih dari manusia lainnya yg bukan ulama……

    Betulkah James?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *