Anak Cino: Pencarian Jati Diri Keluarga Cina di Pedesaan Jawa

Chandra Sasadara

 

Membaca buku ini berasa membaca kisah orang yang selalu bahagia dan berkecukupan sepanjang hayat. Buku ini ditulis dengan ringan dan menyenangkan: seolah kepahitan telah berlalu dan hanya perlu diceritakan kembali sebagai sebuah pelajaran. Padahal buku ini berisi tentang perjuangan bertahan hidup dan pencarian jati diri di tengah sentimen etnis yang tak pernah reda.

Terlahir dan hidup sebagai minoritas di Indonesia, khususnya etnis Cina memang tidak mudah. Penulis buku ini membuktikan hal tersebut: menjadi korban bully sejak SD; melihat usaha orang tuanya jatuh bangun; melihat ekonomi keluarganya terpuruk; bahkan melihat Papahnya keluar masuk penjara. Namun di tengah kesulitan hidupnya, dia justru menemukan kesejatian, “kasih adalah jawaban untuk semua persoalan,” tegasnya.

Lahir dari keluarga yang tidak mementingkan agama tidak membuat dirinya gersang tak bermakna, pencariannya kemudian dipertegas dengan pembastisannya pada saat duduk di SMA kelas 2. Jalan untuk mewujudkan nilai kasih yang diyakininya menemukan bentuknya dalam pekerjaan yang dipilih: bekerja di badan pangan dunia; mendidik petani; dan terakhir menjadi bagian dari upaya memajukan pendidikan dasar di Indonesia.

Sejumlah peristiwa menguji konsistensi nilai kasih yang dipegangnya: dia rela bertengkar sengit dengan Papahnya untuk membela pernikahan adiknya dengan laki-laki Jawa; dia juga berusaha meyakinkan keluarga besarnya agar adik laki-lakinya mendapat restu menikahi gadis Jawa; dan dia rela menunda pernikahannya demi kulia adiknya.

Dari kisah tentang leluhurnya, keisengannya, perjuangannya, hingga keberhasilan menemukan jati dari, ada satu pertanyaan dalam buku ini yang seharusnya menjadi pertanyaan bagi semua orang beragama: untuk apa berburu surga, jika (kita lebih pandai) menciptakan neraka bagi orang lain?

Selamat membaca buku bagus ini!

 

 

18 Comments to "Anak Cino: Pencarian Jati Diri Keluarga Cina di Pedesaan Jawa"

  1. Lani  31 December, 2016 at 02:32

    Al: utk bisa mendptkan buku ini tdk usah hrs pulang ke Indonesia ora cucuk karo ongkose mungkin bs nitip teman, atau mungkin dijual online? Tanyakan pd pentulise

  2. Handoko Widagdo  30 December, 2016 at 19:22

    James, terima kasih untuk Suzukinya.

  3. Handoko Widagdo  30 December, 2016 at 19:21

    Linda, terima kasih banyak. Semoga bisa kesampaian untuk share buku ini di berbagai kota. Tapi sayangnya saya tidak ada budget untuk itu, dan kurang paham tata caranya melakukan bedah buku.

  4. Handoko Widagdo  30 December, 2016 at 19:20

    Avy, sekarang banyak yang lebih condong ke teori bahwa migrasi pertama ke Nusantara adalah dari Taiwan (Austronesia) baru kemudian datang orang-orang dari Yunan (Mongoloid). Ya semoga buku ini membantu para peranakan Tionghoa untuk memikirkan jati dirinya.

  5. Handoko Widagdo  30 December, 2016 at 19:19

    Lani, secara resmi buku ini baru terbit tanggal 9 Januari 2017.

  6. Handoko Widagdo  30 December, 2016 at 19:18

    Maturnuwun Kang Makinuddin Candra Sasadara.

  7. James  30 December, 2016 at 16:52

    Ci Lani, dah gak tidur dong cuma itu napa artikelnya baru muncul sekarang ? kok telat ditempatku malah harus di klik reload

    he he Cino ingat mobil Suzuki paling cilik di Ozi

  8. Linda Cheang  30 December, 2016 at 10:14

    Asyik. Matur nuwun mas Makin, atas informasi bukunya walau singkat.

    Jika ada niat mau dibuatkan diskusi bukunya di kotaku, asal mau dilaksanakan di dalam pasar, ayo, kontak aku, yah, Pak Hand

  9. Alvina VB  30 December, 2016 at 06:53

    Bung Chandra: Trima kasih buat bedah bukunya. Pengen baca kl bisa dpt bukunya on-line/ kudu balik ke Ind dulu ya….
    Han: Congrats buat terbit buku (spt memoir ya?); semoga bermanfaat bagi org2 yg masih mencari jati dirinya (terutama buat anak2 yg lahir dari keluarga Tionghoa di tanah air). Sukses terus di thn 2017 ya….
    FYI, saya sudah ketemu dgn org keturunan Yunan belakang (asal dari nenek moyangnya org Indonesia). Muka, adat dan budaya mereka mirippppp banget dengan Indonesia (terutama di P. Jawa, Kalimantan dan Sumatra tergantung dari etnik tertentu di Yunan tsb). Kaget2 saya dikasih kado thn baru, 2 cangkir teh yg di dlmnya ada perak berbentuk bunga lotus. Saya bilang kok designnya hampir mirip dgn kerajinan perak di Yogya. Dia bilang perak tsb akan ganti warna kl ada org yg taruh racun dlm teh kita, jadi jangan takut diracunin org, he..he….kaya jaman raja2 dulu aja….

  10. Lani  30 December, 2016 at 04:00

    Han: apakah bukumu ini sdh terbit? Spt yg pernah aku komentari pasti isinya sgt menarik……..

    Kang Chandra: terima kasih ulasannya yg apik

    James: kamu msh tertidurkah???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.