Literasi dan Radikalisme

Chandra Sasadara

 

Perdebatan, tepatnya pertengkaran di dunia maya, tidak jauh-jauh dari isu: agama, aliran keyakinan, perbedaan etnik, dan preferensi politik. Perdebatan semacam itu tidak jarang masuk dalam ranah radikal (memaksakan kehendak dengan jalan kekerasan): tidak sekedar berkata-kata kasar dan menyerang pribadi, tapi mulai melakukan ancaman kekerasan dan menyebarkan kebencian kepada kelompok maupun golongan lain.

Rasanya tidak salah jika ada pertanyaan semacam ini: Apakah radikalisme yang sedang marak di Indonesia, di dunia nyata maupun dunia maya, ada kaitannya dengan tingkat literasi orang Indonesia yang rendah?

Hasil survey UNESCO tahun 2012 menyebutkan bahwa indeks membaca orang Indonesia 0,001. Hanya 1 dari 1000 orang yang memiliki minat baca serius, hanya 250.000 orang dari 250.000.000 penduduk yang suka membaca. Penelitian lembaga yang sama pada 2014 menyebutkan bahwa rata-rata anak Indonesia hanya menyelesaikan 27 halaman buku dalam satu tahun. Bandingkan dengan pengguna internet yang menembus angka 88,1 juta.

Tahun 2012, BPS punya data menarik: 91,67% anak Indonesia lebih suka menonton dibanding membaca. World’s Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016 menyebutkan: peringkat literasi kita berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti!

Rendahnya minat baca ini terpelihara bersama suburnya kampanye politik yang menggunakan sentimen agama dan etnik untuk mendapat simpati pemilih demi merebut kekuasaan. Para promotor ideologi radikal transnasional yang bekerja lintas negara, lintas benua, dan lintas aliran tahu betul memanfaatkan kemelut politik berbasis sentimen agama dan etnis. Jadilah Indonesia sebagai ladang subur faham radikal, akibat dari minat baca yang kurang dari 18%.

Kalau radikalisasi muncul dan bersemai akibat literasi yang rendah, maka deradikalisasi harus memilih jalan menggerakkan literasi. Jika literasi dimengerti sebagai kualitas melek huruf (membaca dan menulis) serta kemampuan memahami (mengurai, menalar, dan memadupadankan) ide/wacana, maka gerakan literasi harus mampu menyediakan taman bermain, lembaga pendidikan, perpustakaan, dan lingkungan kerja yang bisa menjadi “rumah” bagi peminat baca.

Baca! Membaca bisa mengobati penyakit ‘sok tahu’ yang sedang kau derita bung!

 

 

5 Comments to "Literasi dan Radikalisme"

  1. Sumonggo  5 January, 2017 at 05:26

    Gara-gara malas membaca muncullah “tragedi Fitsa Hats” …. ha ha …..

  2. Lani  4 January, 2017 at 04:54

    James: salah satu saran yg bagus dgn membaca Baltyra maka dunia akan damai ya apalagi klu ditambah ketularan kekenthiran anggotanya hahaha……….pasti manusianya akan bahagia dan tambah sehat

  3. Dj. 813  3 January, 2017 at 21:23

    Banyak baca, tapi kalau yang dibaca yang salah , ya sama saja .
    Tapi keadaan saat ini di Indonesia, di pengaruhi soal ekonomi juga .
    Banyak provokator yang berhasil membagikan kekayaan nya untuk
    kepentingan dinastininya .

    Dan mereka yang berpendidikan rendah, dengan mudah menjadi mangsa .
    Salam,

  4. Linda Cheang  3 January, 2017 at 14:19

    Aku membaca, maka aku ada!~ *plesetan kutipannya Descartes “Cogito ergo sum”

    Masalahnya : aku susah membaca suatu buku manapun sampai benar-benar tuntas!!!

  5. James  3 January, 2017 at 08:09

    1….baca Baltyra saja agar tidak radikal

    mari para Kenthirs diabsenin agar muncul semua

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *