Mengandung dan Melahirkan Anak Cino

Handoko Widagdo – Solo

 

Buku Anak Cino akhirnya terbit. Ini sebuah hadiah akhir tahun yang menyenangkan bagi saya. Proses terbitnya buku ini bagaikan seorang ibu yang mengandung dan melahirkan. Ada rasa bahagia, cemas, lelah, takut tetapi berakhir dengan sukacita. Proses mengandung, mencari tempat persalinan dan proses kelahirannya pun penuh liku. Bahkan hampir melalui proses caesar. Untunglah akhirnya Anak Cino lahir dengan selamat dalam kebahagiaan.

Saya mulai menulis serius buku ini sejak tahun 2008. Dalam satu hari saya bisa menulis 4-10 halaman dengan penuh gairah. Semua cerita lisan yang saya simpan di otak selama ini mengalir deras melalui tombol-tombol keyboard laptop saya. Ini bagaikan gairah pengantin di malam pertama.

Penulisannya tidaklah lancar. Setelah awalnya menggebu-gebu mengalimatkan cerita-cerita yang saya dapat dari keluarga, tiba-tiba (suddenly – kata orang Amerika; ujuk-ujuk – kata orang Jawa) terhenti begitu saja. Semangat menulis itu terkikis habis karena tiba-tiba ada perasaan, untuk apa hal remeh-temeh ini mesti ditulis? Siapa yang mau membaca nantinya? Semangat itu timbul kembali saat saya membaca buku “Abad Bapak Saya” karya Gert Mak. Buku ini ditulis untuk menggambarkan bagaimana kebijakan nasional dan internasional berpengaruh kepada keluarganya. Buku ini menyemangati saya karena ternyata pengalaman keluarga biasa bisa sangat menarik untuk mengungkap sejarah yang lebih besar. Namun gairah itu kembali padam. Sebab saya melihat terlalu banyak bagian yang bolong dari karya yang akan saya hasilkan ini. Upaya untuk mencari referensi begitu sukar. Maka janin yang sudah tumbuh itu kadang aku biarkan tak terurus. Periode ini bagaikan seorang ibu muda yang hamil muda. Rasa mual, pusing, menyertai tiga bulan pertama kehamilan.

Setelah mendapatkan dukungan dari kawan-kawan Baltyra, semangat itu kembali tumbuh. Beberapa orang yang sangat intensif memberikan masukan adalah Josh Chen, Kang Putu Gunawan Budi Susanto, Endah Raharjo dan Iwan Kamah. Terima kasih. Proses penyelesaian Anak Cino menjadi lebih lancar. Apalagi saat Josh Chen (Baltyra) mengenalkan saya dengan Iwan Ong, wartawan KOMPAS yang bersedia membantu penerbitan buku ini. Rasanya saya seperti seorang yang hamil 6 bulan dimana setiap orang memberi senyum dan pujian. Bayi yang sudah mulai bergerak-gerak di kandungan membuat rasa senang yang tiada tara. Sebuah pengharapan besar akan lahirnya sang bayi yang hebat membuat saya – sebagai ibu, merasa bugar penuh suka cita. Sampai akhirnya selesailah naskah buku “Anak Cino”.

Dalam menyiapkan kelahirannya saya mulai mencari tempat bersalin. Berkat Iwan Ong, maka saya berketetapan hati untuk memilih Penerbit KOMPAS. Proses persalinan pun mulai dipersiapkan. Saya mendapat masukan dari Iwan Ong untuk memperbaiki naskah yang sudah saya serahkan. Saya dikenalkan kepada seorang editor yang akan menangani buku ini. Saya sempat bertukar email dengan editor tersebut. Ada rencana Anak Cino akan lahir di tahun 2013. Namun tanggal kelahiran ternyata meleset. Apakah karena saat itu isu bangkitnya PKI yang merebak secara nasional menjadi faktor sehingga Anak Cino batal lahir? Saya menduga begitu. Ada email yang saya dapat yang menyatakan begitu. Memang di salah satu bab di Anak Cino saya menulis tentang pembersihan PKI di Desa Kradenan. Sejak itu saya tidak pernah mendapat informasi apa-apa tentang rencana penerbitan Anak Cino.

Frustasi? Ya. Tentu saja. Dalam keputus-asaan tersebut saya memikirkan untuk mencari tempat bersalin lain. Ada beberapa pihak yang menyatakan kesediaan untuk menerbitkan karya ini. Salah satu yang cukup serius adalah sebuah penerbitan di Jogja. Salah satu editor di penerbitan tersebut adalah karib saya. Ia menawarkan untuk membantu menerbitkannya. Namun setelah melihat naskah, ia mengusulkan supaya naskah tersebut ditulis ulang sebagai sebuah novel. Alamak… menulis cerpen saja saya terseok-seok, apalagi menulis novel. Lagi pula Anak Cino sudah seperti bayi utuh yang siap lahir. Apakah tega saya memotong-motongnya menjadi bentuk lain? Namun karena frustasi dan khawatir bahwa Anak Cino tak akan pernah terwujud, saya sempat mempertimbangkannya dan mendiskusikan dengan istri. Untunglah proses mutilasi naskah akhirnya tak jadi dilakukan. Bayi Anak Cino selamat, meski tetap berada dalam kandungan tanpa jelas kapan akan lahir.

Saya telah lupa bahwa saya mengandung. Sejak proses penuh liku mencari tempat persalinan yang tak lancar di tahun 2013, saya tak lagi menyentuh naskah Anak Cino. Sampai suatu hari di awal tahun 2016, Josh Chen mengirim SMS kepada saya. Ia menanyakan apakah saya masih berminat untuk menerbitkan Anak Cino. Dengan asal saja saya ketik “Masih.” Kemudian Josh Chen tilpon saya dan mengatur pertemuan dengan “Orang Gramedia” sambil makan siang. Josh Chen minta supaya saya membawa print out naskah Anak Cino untuk diserahkan kepada orang Gramedia, yang ternyata adalah Ibu Theresia Emir. Kami pun berbincang sambil makan siang dan saya menyerahkan print out naskah kepada Ibu Threes. Beliau membaca sekilas dan manggut-manggut sambil sedikit senyum-senyum. Setelah selesai berbasa-basi akhirnya saya pamit karena masih ada pekerjaan di kantor. Sambil menjabat tangan saya dengan erat, Ibu Threes berkata: “Saya baca dulu ya. Sepertinya menarik bukumu.” Dan sejak itu bayi yang sudah lama tak bergerak itu kembali menendang-nendang di kandungan.

Benar saja. Suatu hari di bulan Mei 2016 saya mendapat SMS dari Ibu Threes yang mengucapkan selamat karena naskah saya lolos di Gramedia. Alhamdullilah haleluyah! Melalui email Ibu Threes memberikan nama editor yang akan menangani buku saya. Saya pun dengan penuh semangat segera membalas email Ibu Threes dengan ucapan terima kasih dan tak lupa memperkenalkan diri kepada editor yang alamat emailnya dicantumkan pada kolom cc. Dan naskah pun segera dibenahi. Sang editor bagai seorang dokter kandungan yang memosisikan bayi supaya bisa lahir dengan mudah dan cantik jelita.

Ternyata proses persalinan tidak berjalan lancar. Biaya persalinan ternyata di luar kemampuan kantong saya. Saya harus menyediakan anggaran Rp 65 juta! Karena saya harus mengambil 1000 eksemplar dari rencana 2000 eksemplar yang akan dicetak. Astaga! Ini seperti lahir caesar! Secara terus terang saya sampaikan bahwa saya tidak sanggup membiayai. Saya sampaikan bahwa saya hanya sanggup menebus 150-200 buku saja. Karena saya yakin saya bisa menjualnya kepada kawan-kawan sehingga saya tidak rugi. Mosok sih menulis buku kok malah rugi? Saya sampaikan kepada Gramedia bahwa saya akan berusaha untuk mencari sponsor. Sekali lagi saya merepotkan Josh Chen untuk membantu mencari sponsor. Saya harus mengucapkan banyak terima kasih kepada Josh Chen yang sudah berupaya keras, meski akhirnya tidak ada pihak yang bersedia menjadi sponsor. Kalau harus lahir caesar saya memilih untuk tidak melahirkannya sama sekali.

Alhamdullilah Gramedia akhirnya setuju untuk tetap menerbitkan dan saya mengambil 150-200 eksemplar. Artinya Anak Cino tidak jadi lahir caesar. Dan buku tersebut sekarang sudah dikirim ke meja saya sebanyak 175 eksemplar. Buku lainnya akan dijual di toko-toko buku Gramedia mulai tanggal 9 Januari 2017. Lega rasanya melihat Anak Cino bisa lahir dengan selamat. Semoga Anak Cino menjadi anak yang berguna bagi para pembaca.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

21 Comments to "Mengandung dan Melahirkan Anak Cino"

  1. Alvina VB  11 January, 2017 at 23:10

    Han: Congrats sudah melahirkan dgn selamat tanpa perlu cesar, selanjutnya diterjemahkan donk dlm Bahasa Inggris, he..he…. Banyak loh temen dan kenalan org Chinese yg lahir di Africa, Europe, Canada dan US yg mengalami hal yg hampir mirip2 dengan kamu, bahkan ada yg lebih sengsara lagi (mengalami diskriminasi, rasisme dan jegalan sana-sini yg gak masuk diakal) ttp rata2 happy ending ya….krn Perseverance yg hebat tenan…..salut….

  2. Handoko Widagdo  11 January, 2017 at 07:45

    Terima kasih Mas Dwi, semoga dikau segera mendapatkan buku saya di Surabaya.

  3. Dwi Setijo Widodo  10 January, 2017 at 16:52

    Wahhh…buku bagus buat tambah wawasan nih.
    Kalo pas jengukin ortu di Surabaya minggu ini, saya tak mampir ke Gramedia cari bukunya Pak Handoko.
    Matur nuwun sudah berbagi, Pak.

  4. Handoko Widagdo  10 January, 2017 at 07:46

    Lani, terima kasih banyak. Semoga “Anak Cino” bisa membawa berita baik di tengah-tengan kondisi Indonesia yang sedang marak dengan isu SARA.

  5. Lani  9 January, 2017 at 23:46

    James: sayangnya kenthir satu ini tidak pernah merasakan mutah2 dipagi hari, merasakan bayi nendang2 dan mulessssssssnya melahirkan kkkkkkkk

  6. Lani  9 January, 2017 at 23:44

    Hand: Alhamdullilah……….selamat………….congratulation akhirnya bayine wis lahir bahkan wis tuek saiki kkkkkkkkkk…………

  7. Handoko Widagdo  9 January, 2017 at 19:11

    Betul Linda, semuanya sudah berakhir bahagia. Tentu saja ini juga berkat dukunganmu yang beberapa kali mendengarkan keluhanku saat mules-mules dan saat mengalami nyidam.

  8. Linda Cheang  9 January, 2017 at 15:58

    Selamat, Pak Hand!

    Mules-mules sakit bersalinnya sudah selesai dengan terbitnya si Anak Cino

  9. Handoko Widagdo  9 January, 2017 at 13:17

    Terima kasih kepada JC, Iwan Kamah, Mbak Endah Raharjo, Mas Gunawan Kang Putu yang telah memberi jamu dan memijat saat Anak Cino masih di kandungan sampai dengan kelahirannya.

  10. James  9 January, 2017 at 13:13

    1…..congratulations yah mas Hand

    halo para kenthirs yang melahirkan Cino (tipe mobil Suzuki paling cilik)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *