Sedikit tentang Myanmar

Dwi Setijo Widodo

 

Air minum gratis berlimpah di Myanmar

Sejak saya tiba di Yangon dan menjelajahi ibukota Myanmar hingga di Bagan, saya dengan mudah menjumpai periuk-periuk tanah liat berbentuk dan bermotif unik yang berisi air minum gratis bagi siapapun yang membutuhkan terletak dimana-mana, di sudut-sudut jalan, di depan gerbang menuju pagoda, di dalam kompleks pagoda. Jadi saya ingat masa kecil dulu di kampung di Jawa dimana dijumpai juga kendi-kendi tanah liat berisi air minum segar bagi siapa pun yang sedang kehausan di panas terik. Tidak perlu membayar. Gratis.

Karena rasa ingin tahu, saya pernah mencoba meminumnya saat saya melakukan keliling kota Yangon bersama kawan-kawan seperjalanan. Benar-benar segar, dingin, dan dahaga saya di panas terik pun hilang.

Lokasi: Kompleks Pagoda Gunung Popa, Bagan, Myanmar (50 menit perjalanan mobil dari Bagan) – 30/12/2016

 

Nongkrong di pinggir jalan di Yangon, Myanmar

Air minum dalam periuk ternyata melepas haus sementara. Begitu ketemu penjual es podeng yang mangkal di trotoar tidak jauh dari Kantor Pos Besar Yangon (Merchant Rd). kami bertiga berhenti untuk melihat dan ingin tahu. Wangi santan dan rupa semangkuk minuman itu menerbitkan air liur kami berdua yang orang Indonesia untuk mencoba.

Kawan kami yang dari Argentina menolak saat ditawarin pesan. Ya, saya sadar kalau daya tahan perut mereka berbeda dengan perut saya dan kawan saya. Jadilah kami nongkrong duduk di bangku plastik kecil dan menikmati semangkuk es berdua sambil dilihatin beberapa pelanggan karena kami sibuk mengambil foto semangkuk es berisi agar-agar, mutiara, roti tawar, dan air santan manis itu sebelum kami santap habis. Juga mengambil foto-foto kesibukan mereka.

Kami berdua sepakat kalau es podeng a la Yangon ini kena di lidah kami. Rasanya, persis seperti es podeng di Indonesia.

 

Ibu penjual bunga teratai di gerbang masuk Htilominlo Temple, Bagan, Myanmar

Bunga teratai, selain aster, gladiol, dan jenis bunga lain, adalah termasuk bunga persembahan bagi umat Buddha di Myanmar. Tak heran di setiap pintu gerbang pura di sana selalu ada ibu-ibu penjual bunga ini. Seperti di salah satu gerbang masuk Pura Htilominlo, saya menemui ibu yang di gambar ini. Sambil asyik menikmati cerutunya yang sesekali asap tebal keluar dari bibir beliau yang langsung tersenyum dan mengangguk saat saya meminta ijin mengambil gambar beliau. Beberapa foto saya ambil dengan kamera hape dan SLR dan beliau pun asyik berpose untuk saya. Saya mengakui Myanmar masih ramah untuk hal-hal seperti ini. Saat selesai, saya memperlihatkan hasil dokumentasi saya ke beliau. Kami tertawa bersama. Ah, Myanmar memang ramah.

Nah, sekalian menjawab pertanyaan kawan sebelumnya tentang kain serupa batik yang dipakai para perempuan di mana-mana di sepanjang perjalanan di Myanmar, termasuk oleh ibu tua ini. Sama ingin tahunya, saat diajak blusukan di pasar di Taunggyi, sebelum berkunjung ke Pagoda Kakku, akhirnya saya menemukan jawabannya di beberapa toko kain di sana. Ternyata batik dari Pekalongan dan juga produk batik seperti Batik Keris telah lama pelesiran di sana. Saya kalah duluan dengan mereka. Hehe… Hmm…pantas…motif-motifnya sangat saya kenali…

 

 

12 Comments to "Sedikit tentang Myanmar"

  1. Dwi Setijo Widodo  16 January, 2017 at 19:41

    Dengan senang hati, Om JC. Myanmar negara yang menyenangkan menurut saya. Selama sembilan hari di sana, lebih banyak pengalaman yang menyenangkan. Betul kata teman saya, kalau mau ke Myanmar, sebelum dikuasai mass tourism, sat ini adalah saat yang tepat mengunjungi negara ini.

  2. J C  12 January, 2017 at 18:35

    Mas Dwi Setijo Widodo, terima kasih reportasenya. Sudah lama ingin ke Myanmar, setelah membaca ini, melengkapi kebulatan tekad untuk menjadwalkan jalan-jalan ke sana..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *