Praktis Saja

Dian Nugraheni

 

Bukan berarti tidak hormat atau tidak menghargai pihak lain.

Sejak di Indonesia dulu, bahkan sejak masih muda, aku memang sudah dianggap aneh, bahkan dibilang melawan arus dalam berpikir maupun melakukan tindakan.

Salah satunya, aku mengamini, bahwa bila memang menungkinkan, menikah usia muda (tapi bukan kanak-kanak ya), itu sah-sah saja. Menikah, sebelum lulus kuliah, lalu punya anak, ya nggak apa-apa…Tapi yakin ya, itu pikiranku yang demikian itu, susah diterapkan di Indonesia. Gitu hari, maksudnya waktu itu, aku sendiri udah diunyek-unyek sama keluarga besar, bahwa pemikiranmu itu “sak enakmu dewe..!” Haiiiisssh..!

Pas udah hidup di Amrik, ternyata apa yang jadi pola pikirku saat itu, cocok diterapkan di sini. Meskipun kamu muda, kemudian memutuskan menikah, punya anak, atau bahkan tidak menikah, punya anak.., maka kamu masih akan sangat punya banyak sekali kesempatan untuk meneruskan kuliah, mendapatkan pekerjaan yang baik, berpenghasilan bagus, dan seterusnya.

Intinya, punya anak, menikah, bukan penghalang bagi seseorang untuk tetap maju dan meraih kehidupan lahir batin yang jauh lebih baik, yang tentunya sangat diinginkan oleh setiap orang.

Dulu banget pas muda, aku juga selalu bilang, “aku cuma mau akad nikah, makan-makan dikit, sudah..ga mau pesta-pesta banyak orang..ribet, banyak ongkos..”

Lagi-lagi sama keluarga diomelin,”Ini soal harga diri keluarga..bla..bla..bla..”

What a heck..?

Sekarang, ketika ngobrol sama anak-anak tentang menikah di Indonesia dengan segala pestanya, anak-anakku terlolong-lolong, “Duitnya banyak banget ya, Mah..”

Aku, “Ya yang kaya sih, memang punya uang, atau bahkan jual rumah hanya buat biaya pesta kawinan, atau mereka rela hutang dulu buat bikin pesta, ngandelin nanti dapet sumbangan, trus buat bayar hutang itu. Kalau ketutup dari sumbangan ya bagus, kalau enggak..? Tetep punya hutang setelah menikah dong..?”

Anak-anak, dengan ekspresi nggak percaya, “whaat…?”

Aku, “Ya, begitulah…Ntar kalau kalian menikah, Mamah sarankan, nggak usah pesta besar-besaran sampai segitunya, kalau punya uang lebih, mending buat DP beli rumah atau yang lain…”

Anak-anak manggut-manggut, artinya, ini make sense buat mereka.

 

 

5 Comments to "Praktis Saja"

  1. Swan Liong Be  16 January, 2017 at 17:24

    Memang bener komentar² teman Baltyra disini; cuma harus diperhatikan bahwa komentar² tsb. datangnya dari mereka yang sudah tinggal lama diLuar Negeri. Pandangannya sudah berbeda jauh dengan dulu sewaktu masih diIndonesia.
    Tapi coba diskusi dengan mereka yang belum pernah tinggal diLN, mungkin mereka setuju dengan argumentasi kalian, masuk akal, tapi toch mereka akan tetap menjalankan “TRadisi” yang mereka kenal. Sulit untuk mereka meninggalkan kebiasaan, masih sangat tergantung dengan ikatan keluarga dan masyarakat sekelilingnya. apalagi soal pernikahan, kehormatan keluarga salah satu prinsip penting. Mana ada diLN orang tua ikut mengundang dalam undangan, se-tidak²nya dijerman atau eropa barat lho!

  2. Lani  16 January, 2017 at 14:37

    Dian: aku copy paste pernyataan diartikelmu “Aku, Ya yang kaya sih, memang punya uang, atau bahkan jual rumah hanya buat biaya pesta kawinan, atau mereka rela hutang dulu buat bikin pesta, ngandelin nanti dapet sumbangan, trus buat bayar hutang itu. Kalau ketutup dari sumbangan ya bagus, kalau enggak..? Tetep punya hutang setelah menikah dong..?”
    +++++++++++++
    Nampaknya hal itu msh banyak terjadi apalagi yg di-desa2 drpd mereka malu diomong oleh tetangga, atau bahkan orang sekampungnya.
    +++++++++++++
    Aku setuju dgn komentar Al dan mas DJ. Ngapain menikah dgn mengundang tamu sampai ribuan orang, ngasih makan orang2/tamu undangan dimana pasangan yg menikah tdk pernah mengenal, bahkan mungkin baru pertama kali ketemu/melihat, salaman juga baru pertamakalinya.

    Lebih baik uangnya untuk hal2 yg lebih diperlukan drpd dibuang percuma, aku jd ingat ketika menikah semuanya kami persiapkan sendiri, bahkan tamu undangan jg kurang dr 25, semua masakan aku masak sendiri, kami menikah tdk sewa gedung atau apa akan ttg menikah dirumah sendiri, semuanya itu membawa kenangan yg sgt indah dan berkesan.

    Cake pengantin tdk bertingkat hanya satu lantai saja hahaha……..tp sgt berkesan krn hiasannya tdk menggunakan icing akan ttp dari bunga segar sungguh indah dan unik ide dr teman kami yg menyumbang cake pernikahan tsb

    Benar2 sgt sederhana dan murah meriah………..menurutku bukan pesta pernikahan yg utama akan ttp bagaimana membangun, menjaga pernikahannya itu sendiri kedepannya…………

    Gimana James, Al dan mas DJ??????

  3. Alvina VB  15 January, 2017 at 06:16

    Dian & James, ha..ha….idem…itu yg suami bilang, kita sich mau yg praktis aja…Duluuu waktu mau kawin heboh tenan…abis catatan undangan org tua udah di atas seribuan. Trus kata suami…kita praktis saja dech, pesta besar hanya untuk orang lain bukan untuk yang menikah, ngasih makan banyak orang lain yg kita gak kenal dekat dan lagian mungkin gak akan ketemu lagi seumur-umur, ngapain lage…… Akhirnya diputuskan kawin di sini aja, undangan tetep disebar banyak….kawinan kita sederhana utk ukuran org kita, kl utk org sini termasuk besarlah. Org tua cuman nyeletuk ini kaya pesta ultah di tanah air aja ya.. ha…ha….wedding cakenya cuman 2 tingkat aza, dibandingin sama kawinan adik saya duluuu di Bandung yg kuenya ngilani…2 meteran lebih (katanya sich itu kado dari tante mempelai laki2), dipotongnya aja pake pisau kaya pedang samurai, wwkkkkkkkk….spy terjangkau sampe yg di atas getu…..kl dipikir-pikir itu duit bisa utk beli rumah euy…..ngapain lagi ngasih makan banyak org yg mereka juga gak kenal semuanya, biasanya ini mah buat gengsi para org tua yg kawinin anak2nya. Itulah Indonesia….ttp gak juga sich….di sini sama aja ternyata, kl kel. Italia/Greek/Jewish yg kaya raya, kawinan bisa milyaran dollar punya. Kemarin itu kenalan anaknya kawin sama org Jewish yg pengusaha sukses, pesta kawin lengkap sama kembang api dan ngundang penyanyi ngetop segala …price tag utk weekend kawinan tsb 3 juta dollar hadew….eman2…itu bisa beli rumah dan travelling around the world kan….

  4. Dj. 813  14 January, 2017 at 00:05

    Memang masih banyak orang Indonesia yang mempertahankan gengsi ..
    Saat kami menikah catatan sipil, hanya mertua dan kaka ipar, lain tidak ada .
    Ssat menikah di Gereja ada beberapa teman yang datanag, tapi tidak lrbih dari 20 orang .
    Saat Ulang Tahun pernikahan ke 25, yang datang 250 orang lebih, karena saat itu Dj. pimpin persekutuan.
    Jadi ada 3 Jemaat yang datang, bahkan mereka yang membikin acaranya .#Kami hanya menyewa gedung saja .
    Ulang Tahun ppernikahan ke 40 kami brdua saja ada di Bali .

    Kalau lkami ingat, saat kami nikah, Dj. batu berumur 23 dan Susi pas umur 18, tapi sudah 2 tahun pacaran.
    Hanya untuk menikah harus nunggu Susi umur 18:

    Buktinya sampai sekarang kami masih seperti pada awal nya .

    Hahahahahahahahahaha . . . ! ! !

  5. James  13 January, 2017 at 15:23

    1….betul itu yang perlu yang praktis saja, pesta besar hanya untuk orang lain bukan untuk yang menikah, ngasih makan banyak untuk orang lain

    menantikan para Kenthirs yang belum muncul

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.