A Short History of Indonesia

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: A Short History of Indonesia – The Unlikely Nation

Penulis: Colin Brown

Tahun Terbit: 2003

Penerbit: Allen & Unwin

Tebal: xviii + 270

ISBN: 1-86508-838-2

history-of-indonesia

 

Indonesia adalah sebuah negara yang dibentuk dari keragaman yang luar biasa. Keragaman secara geografis, penduduk yang menghuninya, adat budaya dan agama. Secara geografis Indonesia terbentuk dari lempeng Asia di bagian barat dan lempeng Australia di sebelah timur. Dari segi penduduk, orang Indonesia terdiri atas orang-orang keturunan Melanesia dan Austronesia, belum lagi para immigran yang datang kemudian (kebanyakan dari China). Adat budaya di setiap suku sangat beragam. Bahkan dari segi bahasa, banyak penduduk yang tinggal dalam satu pulau tidak saling paham bahasanya. Agama-agama besar, seperti Hindu, Budha, Islam dan Kristen dianut oleh penduduk Nusantara. Belum lagi agama-agama lokal yang sudah ada sebelum agama manca datang.

Dari segi terbentuknya menjadi sebuah negara dengan nama Indonesia, negara ini mengalami sebuah proses yang panjang dan penuh dinamika. Bahwa wilayah ini telah memegang peranan penting dalam perdagangan global dan kebudayaan sejak abad 1 Masehi tak diragukan lagi. Namun bentuk pemerintahan dan luasan wilayah selalu berubah dari abad ke abad. Indonesia baru menemukan bentuknya yang sekarang sejak Hindia Belanda terbentuk pada abad 19. Upaya yang dilakukan oleh Sukarno untuk membuat Indonesia bermakna sosial bagi para penghuninya telah memberi hasil yang luar biasa. Namun berbagai permasalahan, baik yang sifatnya etnis, agama maupun teritori terus saja dihadapi oleh negeri ini. Pertanyaan apakah Indonesia akan tetap seperti sekarang ini, adalah sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh bangsa Indonesia. Colin Brown membahas sejarah Indonesia sebagai “Unlikely Nation” sebuah negara yang hampir mustahil bisa ada.

Brown menyampaikan bahwa wilayah ini telah menjadi wilayah penting dalam perdagangan global sejak abad pertama. Kejayaan Mataram Kuno, Sriwijaya dan Majapahit adalah bukti bahwa pada abad 1 sampai abad 15 wilayah ini telah mampu mengorganisir diri menjadi sebuah negara. Penjajahan Belanda diklaim oleh Brown sebagai titik awal terbentuknya negara Indonesia yang sekarang ini. Sebab wilayah Negara Republik Indonesia ini adalah wilayah yang dulu disebut sebagai Hindia Belanda. Dinamika kewilayahan Republik Indonesia masih terus berubah dari sejak kemerdekaan 1945 sampai dengan lepasnya Timor-Timur. Brown juga mengajak kita memikirkan apakah Republik Indonesia masih dalam bentuknya yang sekarang di masa depan.

Dalam buku ini Colin Brown berargumen bahwa wilayah yang sekarang disebut Indonesia, khususnya Jawa telah lahir sebuah ‘negara’ sejak abat 1 Masehi. Wilayah ini memiliki peran yang sangat penting di masa lalu. Tempat yang sekarang disebut Indonesia itu bukan sekedar pelabuhan atau daerah jajahan para pedagang dari Arab, India atau China, tetapi sebuah institusi negara yang sangat kuat dan berkedudukan sejajar dengan negara-negara dagang lainnya. Borobudur adalah bukti bahwa di wilayah yang sekarang disebut Indonesia tersebut telah berdiri sebuah negara besar yang mampu membangun sebuah simbol peradaban adiluhung. Kemudian jaman Majapahit sekali lagi Nusantara menjadi sebuah negara besar yang bisa menguasai area (vassal-maritim) dari Malaya sampai ke Papua Nugini dan dari Philippina Selatan sampai Jawa (hal. 26).

Menarik untuk mencermati argument Colin Brown tentang menyebarnya budaya India, termasuk agama Budha dan Hindu di Nusantara. Alih-alih mengikuti pendapat bahwa penyebaran budaya India dilakukan oleh para pedagang India yang bermukim, Brown berpendapat sebaliknya. Brown berteori bahwa pedagang dari Nusantaralah yang secara selektif membawa budaya India ke Nusantara. Sebab menurut Brown, pada abad ketiga Masehi, Orang China sudah mencatat bahwa kapal-kapal dari Jawa yang berukuran besar telah mampu melayari lautan luas. Brown mengutip sebuah sumber dokumen China sebagai berikut: “One Chinese document, for instance, dated to the third century CE, says of boats from the region that ‘the large ones are more than fifty meters in length and stand out from the water four to five meters . . . They carry from six to seven hundred persons, with 10,000 bushels of cargo” (hal. 15). Kapal-kapal Jawa berukuran 50 meter panjangnya dan mampu mengangkut 600-700 orang. Alasan ini digunakan oleh Brown untuk mengklaim bahwa para pedagang Jawalah yang justru datang ke India dan membawa budaya India ke Indonesia. Untuk memperkuat pengetahuan agama, kemudian para pedagang dan penguasa di Jawa mengundang para Brahmana dari India untuk bermukim dan mengajar agama di Indoneisia.

Brown menyampaikan bahwa pedagang Nusantaralah yang membawa budaya India ke negeri sendiri. Brown juga menyampaikan bahwa Sriwijaya tidak pernah tunduk kepada China, melainkan bersahabat. Kiriman hadiah dari Sriwijaya ke China bukanlah sebentuk tanda takluk, tetapi lebih sebagai hadiah untuk menjamin terjaminnya akses pasar di daratan China (hal. 21). Sriwijaya menjadi pusat kebudayaan (Budha) dimana orang China justru datang untuk belajar (hal. 22). Pendapat lain dari Colin Brown yang menarik adalah tentang kemampuan Indonesia membangun kapal besar untuk pelayaran jarak jauh. Di jaman Sriwijaya misalnya, menurut Brown, sudah mampu membuat kapal yang bisa berlayar ke Arab (ke barat) dan ke Kanton (ke timur). Bahkan orang-orang Sriwijaya telah bermukim di negeri lain sebagai pembuat kapal (hal. 20).

Dalam buku ini Colin Brown memakai teori lapisan kebudayaan berbasis agama yang dilanjutkan dengan kedatangan orang Eropa untuk menjelaskan perkembangan sampai terbentuknya negara yang bernama Indonesia. Mula-mula kerajaan-kerajaan yang berbasis budaya Hindu-Budha (abad 1 – 13), kemudian Islam (abad 14 – 16). Sejak kedatangan orang-orang Eropa ke Nusantara (abad 15) dan akhirnya memerintah Hindia Belanda (abad 17), Indonesia menemukan bentuknya yang sekarang. Seperti telah ditulis oleh banyak pakar sejarah, lapisan budaya Indonesia adalah lapisan yang bergradasi dan tidak terpisah tajam. Mataram Islam misalnya tetap menggunakan pemahaman harmoni Hindu-Budha dalam memandang hubungan antara manusia dengan alam, antara rakyat dengan negara (hal. 38).

Menarik untuk melihat argument Brown tentang bagaimana proses adopsi Islam di Nusantara. Ia berpendapat bahwa para pedagang Nusantaralah yang mula-mula memeluk Islam, bukan para penguasa. Alasan utama para pedagang memeluk Islam adalah untuk menjalin hubungan dagang dengan para pedagang dari India, Timur Tengah dan China yang kebanyakan beragama Islam. Mereka mudah memeluk Islam karena penduduk wilayah ini bukanlah orang-orang yang terlalu peduli akan agama. Dengan memeluk agama Islam para pedagang ini mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Keuntungan jaringan dagang dan sekaligus keuntungan spiritual (hal. 31). Pendapat Brown sangat masuk akal kalau melihat bahwa Islam memang berkembang dari pelabuhan-pelabuhan dagang seperti Pasai di Sumatra dan Banten, Gresik dan Demak/Jepara di Jawa serta Ternate, Buton dan Makassar di timur Indonesia. Konversi para penguasa lokal menjadi Islam memberi keuntungan legitimasi politik dan kekuatan militer, karena pada saat itu kekuatan Kekaisaran Otoman yang beragama Islam sedang kuat-kuatnya.

Kehadiran Eropa di Nusantara telah memberi kontribusi terhadap terbentuknya negara Republik Indonesia. Pelayaran ke timur adalah upaya orang Eropa untuk mencari sendiri sumber rempah-rempah yang menjadi produk perdagangan penting saat itu. Mula-mula Portugis datang ke Malaka dan menguasai pelabuhan dagang yang saat itu menjadi satu-satunya pelabuhan penghubung. Namun para pedagang mulai mengembangkan pelabuhan lain dan tidak lagi menggunakan pelabuhan Malaka. Pelabuhan Johor, Pidie, Banten adalah pelabuhan-pelabuhan baru setelah Malaka dikuasai Portugis.

Kehadiran para pedagang Eropa ini pada awalnya tidak terlalu dianggap oleh para penguasa lokal. Sampai kemudian VOC memilih untuk menjadi pemain lokal dalam perdagangan di Nusantara. VOC merasa bahwa perdagangan jarak jauh dari Nusantara ke Eropa kurang menguntungkan dibanding kalau mereka terlibat dalam perdagangan intra-Asia (hal. 40). Itulah sebabnya VOC mulai membangun pelabuhan sendiri (Ambon dan Batavia – setelah gagal menggunakan Banten sebagai pusat pergudangan). Keputusan untuk terlibat dalam perdagangan intra-Asia ini menyebabkan Belanda berkonflik dengan penguasa-penguasa lokal. Dengan kekuatan militer yang dimiliki dan memainkan peran dalam pertikaian antar penguasa lokal (politik adu domba – Brown setuju dengan teori ini: hal. 70). Mataram yang awalnya tidak terlalu mempedulikan kehadiran Belanda, pada akhirnya wilayahnya banyak diambil oleh Belanda (hal. 43) dan Mataram terpecah menjadi empat kerajaan kecil yang lemah. Demikian pula dengan Maluku (Ternate dan Tidore) yang akhirnya dipaksa untuk membuat kesepakatan dengan Belanda (hal. 44), kemudian Makassar (hal. 65). Sejak itu Belanda memiliki wilayah kekuasaan di Nusantara. Sejak itu VOC berubah dari lembaga perdagangan menjadi lembaga kekuasaan (hal. 46). Sejak saat itu pula usaha dagang dari penguasa lokal mulai surut dan tergantikan oleh kekuatan imperialism Eropa.

Mengapa kekuatan dagang para penguasa lokal ini cepat sekali surut? Padahal sampai dengan awal abad 17, mereka masih sangat kuat dan terlibat aktif dalam perdagangan antar benua? Brown, mengutip pendapat para sejarahwan Eropa menyampaikan pendapat bahwa tidak adanya pengakuan kepada hak-hak individulah yang menjadi penyebab utama hancurnya kemampuan dagang Nusantara. Ketika para penguasa yang sekaligus pemonopoli jatuh, maka keseluruhan sistem perdagangan yang berada di bawah kekuasaan lokal juga hancur (hal. 53). Dengan tidak adanya pengakuan hak inividu, maka investasi jangka panjang menjadi tidak menarik.

Langkah lanjut VOC, setelah berhasil mengalahkan Portugis dan Inggris di Nusantara adalah masuk dalam produksi produk perdagangan. VOC menguasai kebun-kebun rempah di Maluku, membangun perkebunan gula di sekitar Batavia dan membangun persawahan padi di Jawa. VOC juga menanam kopi di beberapa daerah di Nusantara (hal. 84) usaha perkebunan oleh Pemerintah Belanda ini semakin aktif di jaman Daendels. Usaha perkebunan ini lebih dikenal dengan istilah culture stelsel. Ketika VOC bangkrut pada tahun 1799, pemerintahan di Hindia Belanda diambil alih oleh Kerajaan Belanda. Sejak itu wilayah Hindia Belanda menjadi koloni dari Kerajaan Belanda. Pada era pemerintahan Daendels Hindia Belanda mulai memiliki pemerintahan definitif. Pemerintahan lokal diambil alih, penguasa lokal diberi anggaran hidup/pensiun dan Belanda terlibat langsung dalam pengangkatan bupati dan para penguasa kerajaan. Sistem pengadilan kolonial mulai diterapkan.

Culture stelsel yang diperkenalkan pada akhirnya mendorong Hindia Belanda memiliki berbagai aturan tentang perdagangan. Di Hindia Belanda juga mulai ada sistem pelayanan keuangan dan bank. Dengan demikian Hindia Belanda bukan saja sebuah wilayah yang menghasilkan suatu produk, tetapi telah menjadi sebuah entitas ekonomi yang memiliki kekuatan hukum secara internasional. Pada era Daendels infrastruktur, yaitu jalan raya dan jaringan rel kereta api mulai dibangun.

Harus diakui, Kerajaan Belandalah yang telah menciptakan wilayah yang sekarang menjadi Indonesia. Kerajaan Belanda menggunakan istilah Hindia Belanda (Netherlands Indie) untuk menamakan wilayah jajahannya di timur ini. Dengan adanya pemerintahan Kerajaan Belanda, wilayah ini menjadi sebuah wilayah administratif. Sistem pemerintahan, pengadilan, fiscal dan hukum telah terbangun pada era Hindia Belanda (tahun 1800 – 1945). Infrastruktur pun juga telah berkembang di era Hindia Belanda.

Sejak tahun 1920 gerakan kemerdekaan Indonesia mulai muncul. Puncaknya terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam konggres pemuda, disepakati untuk menggunakan nama Indonesia sebagai negara yang dicita-citakan. Bahasa Indonesia dipilih sebagai Bahasa Nasional. Pemilihan Bahasa Melayu (Riau) sebagai Bahasa Nasional ini adalah sebuah keputusan yang sangat brillian yang bisa menghilangkan dominasi etnis Jawa dalam negara yang dicita-citakan (hal. 107). Brown menyatakan bahwa peran Politik Etik yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda memberikan andil yang besar dalam menciptakan kelompok terpelajar yang akhirnya memotori gerakan kemerdekaan (hal. 108). Politik etik, selain memberikan pelayanan pendidikan kepada rakyat secara langsung oleh negara, juga telah memberi peluang kepada para tokoh untuk membangun sekolah secara partikelir. Sekolah Boedi Oetomo, Sekolah Taman Siswa, Muhammadiyah adalah beberapa contoh sekolah partikelir yang muncul akibat dari politik etik. Meningkatnya tingkat pendidikan telah membantu menjembatani jurang antar etnik.

Meski telah memiliki cita-cita yang sama, yaitu kemerdekaan Indonesia, namun gerakan kemerdekaan sesungguhnya masih terpecah-pecah dalam berbagai faksi. Faksi sekuler tradisionalis, faksi Islam tradisional, Islam modernis dan lain-lain masih cukup menonjol dalam perjuangan. Dari segi ideologipun mereka terpecah-pecah. Ada kelompok komunis, kelompok nasionalis dan kelompok Islam.

Brown secara khusus membahas posisi etnis China di Indonesia (hal. 111 – 113). Gerakan kemerdekaan ini mendapat dukungan yang baik dari etnis China peranakan. Namun tidak semua China yang di Indonesia saat itu mendukung ide kemerdekaan. Beberapa peranakan mengidentifikasikan dirinya sebagai warga negara Belanda. Sedangkan kelompok lainnya, khususnya imigran baru lebih berorientasi ke negeri China. Para imigran baru ini rata-rata tidak menikah dengan perempuan lokal, seperti para pendahulunya. Sebab para imigran baru ini tidak terbatas hanya para lelaki saja.

Meski gerakan kemerdekaan ini dipelopori oleh kelompok etnis yang berbeda-beda, faksi-faksi yang berbeda dan ideologi yang berbeda, namun kelompok-kelompok ini berhasil menjembatani jurang di antara mereka ketika mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka berhasil menyepakati dasar negara yang bisa menampung semua golongan, ideologi, agama dan etnis.

Brown menganggap bahwa kedatangan Jepang ke Hindia Belanda memiliki keran dalam mendorong kemerdekaan Indonesia. Kedatangan Jepang telah menghancurkan prestise pemerintahan Belanda di Hindia Belanda. Secara politik dan militer Belanda telah kehilangan kekuatannya karena invasi Jepang (hal. 139).

Setelah merdeka, Indonesia menghadapi tuntutan dari rakyat untuk segera mewujudkan cita-cita negara. Brown menengarai bahwa para pemimpin yang menjadi pelopor kemerdekaan ini tidak memiliki kapasitas untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut (hal. 156). Pada saat yang sama pemimpin negara yang masih baru tersebut juga direcoki dengan klaim sepihak dari Belanda yang ingin kembali memerintah Indonesia (hal. 159). Berikutnya mereka diributi dengan pemberontakan-pemberontakan daerah, pemberontakan kelompok komunis dan pemberontakan kelompok Islam yang kurang puas dengan kemajuan kesejahteraan yang dicita-citakan bersama. Di saat yang sama Indonesia belajar menerapkan berbagai sistem pemerintahan. Setelah gagal dengan sistem parlementer, Indonesia menggunakan sistem demokrasi terpimpin dimana presiden memiliki kekuatan yang besar dalam mengatur negara. Sukarno berupaya untuk membangun penduduk Indonesia sebagai bangsa. Ia terus berkampanye untuk membuat orang-orang Indonesia bangga menyebut dirinya Bangsa Indonesia. Ia juga berupaya menyatukan berbagai ideologi, utamanya Nasionalis, Agama dan Komunis untuk memperkuat kesatuan bangsa.

Brown berasumsi bahwa kejauthan Sukarno adalah disebabkan karena rivalitas antara Partai Komunis dengan Militer (hal. 197). Puncaknya terjadi pada tanggal 30 September 1965 dimana ada 7 jenderal yang diculik dan dibunuh. Sejak saat itu kepemimpinan Suharto mulai naik. Setelah berkuasa Suharto segera menghancurkan kekuatan PKI. Suharto juga mulai menyingkirkan kekuatan ekstrim kanan. Pada tahun 1973 Suharto melakukan penyederhaan sistem partai (hal. 202). Namun pada akhir masa jabatannya, yaitu pada tahun 1990-an Suharto mulai berdamai dengan kelompok Islam. Ia mengangkat Habibie menjadi Wakil Presiden dan menempatkan Habibie sebagai ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Di era Suharto, atas restu Amerika dan Australia Timor-Timur dianeksasi. Timor-Timur dijadikan provinsi ke-27. Namun aneksasi Timor-Timur ini tidak berjalan lancar. Terjadi banyak pembunuhan yang klimaksnya terjadi di kuburan Santa Cruz (hal. 211). Akhirnya, saat Suharto tumbang dan Habibie menjadi presiden, Timor-Timur lepas dari Indonesia.

Masalah lain yang dianggap Brown belum selesai adalah gerakan separatis di Aceh (hal. 212). Dan Papua (hal. 242). Buku ini berhenti sampai dengan era Megawati menjadi presiden, sehingga selesainya masalah Aceh tidak termasuk yang dibahas.

Judul yang dipilih oleh Brown sangatlah provokatif, yaitu unlikely nation. Memang Indonesia sejak belum lahir sudah mengalami berbagai pergumulan. Namun sudah terbukti bahwa semua pergumulan tersebut berhasil diatasi, meski seringkali dengan pertumbahan darah yang besar. Demikian pula di era Republik Indonesia. Berbagai permasalahan terus dihadapi. Baik persoalan ideologi, kedaerahan dan berbagai persoalan etnis muncul dalam sejarah Indonesia. Namun demikian Republik Indonesia juga berhasil mengatasi masalah-masalah tersebut, setidaknya sampai dengan Republik ini berumur 70 tahun.

Seringkali ditanyakan apakah Republik Indonesia masih akan ada 100 tahun lagi? Kalau masih ada apakah wilayahnya akan tetap seperti sekarang? Apakah bentuknya akan tetap Negara Kesatuan? Jawabnya tergantung dari kita sebagai bangsa. Jika kita tetap menghendaki NKRI seperti sekarang sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama, maka mari kita pertahankan. Bukankah semua negara mengalami persoalannya masing-masing?

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "A Short History of Indonesia"

  1. Swan Liong Be  19 January, 2017 at 17:29

    @Lani: Indonesia dikuasai orang² yang salah? Lha dikuasai orang² benar ya juga disalahkan kok, cpontohnya saat ini!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *