Menjelajah Sulawesi Selatan 1: Kota Pare-Pare

Handoko Widagdo – Solo

 

Perjalanan menyaksikan indahnya Sulawesi Selatan aku mulai dari Kota Parepare. Setelah menyusuri jalan beton dengan ditemani birunya laut di sisi kanan jalan, kami memasuki Kabupaten Barru. Di tengah sawah kami menyaksikan pembangunan rel kereta api yang baru dimulai. Rel kereta api pertama di Pulau Sulawesi ini rencananya akan menghubungkan Kota Makassar ke Kota Pare-Pare. Setelah empat jam perjalanan sampailah kami di Kota Pare-Pare.

Pulau Buaya yang malas mengambang di seberang pelabuhan. Pulau yang rimbun oleh pepohonan itu semakin menghitam seiring turunnya mentari ke peraduan. Sebuah awan memayungi badannya dari sisa-sisa sinar yang semakin lembayung. Dan akhirnya mentari sembunyi di belakang punggung buaya. Menyisakan sinar surga yang memancar beberapa saat saja. Dan senjapun menjelang.

Kota kecil tempat kelahiran Presiden Habibie ini berada di tepi pantai. Pelabuhan Pare-pare adalah sebuah pelabuhan laut yang sangat penting di pantai barat Sulawesi. Pelabuhan ini selain melayani pelayaran ke Kalimantan juga melayani pelayaran langsung ke utara, yaitu Hongkong dan Taiwan.

Sebagai tempat kelahiran salah satu presiden Indonesia, kota Pare-pare menyimpan kenangan akan masa kecil beliau. Sebuah monumen yang menggambarkan kecintaan Pak Habibie kepada sang istri diabadikan di sudut alun-alun kota. Monumen tersebut bernama Monumen Cinta Habibie – Ainun. Selain dari monumen Cinta Habibie – Ainun, di kota ini juga ada patung salah satu tokoh pahlawan Sulawesi Selatan, yaitu Andi Abdullah Bau Massepe. Letjen Bau Massepe gugur dalam perjuangan melawan Belanda pada tahun 1947 di Pare-Pare.

Perjalanan ke Toraja kami tempuh di sore hari. Sayang mentari tak sabar mengantar kami sampai ke bukit nona. Kami hanya diantarnya sampai Kota Enrekang untuk sekedar mencicipi sup kepala ikan dan dadih susu yang digoreng. Setelah perut terisi penuh kamipun melanjutkan perjalanan ke Makale, menuju Hotel Pantan Toraja. Hotel dengan arsitektur tongkonan, rumah tradisional Toraja lengkap dengan patung kepala tedong bonga. Malam itu kami beristirahat untuk memulihkan tenaga setelah 5 jam perjalanan dari Parepare.

 

bersambung…

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Menjelajah Sulawesi Selatan 1: Kota Pare-Pare"

  1. Handoko Widagdo  22 January, 2017 at 12:34

    James, Avy dan Lani, terima aksih sudah komen di awal perjalanan menikmati indahnya Sulawesi. Semoga pembangunan segera merambah Sulawesi secara merata. Semoga keindahan Sulawesi tetap terjaga.

  2. Lani  21 January, 2017 at 10:30

    Han: Indonesia mmg indah, semuanya ada hanya dikelola sejak lama ditangan yg salah…………moga2 dimulai dgn presiden Jokowi memberi contoh pg penerusnya kelak………..Indonesia bukan hanya P Jawa.

  3. Alvina VB  21 January, 2017 at 02:32

    Nice city and beautiful pictures….semoga pembangunan juga merambah di Sulawesi, gak di P.Jawa melulu….

  4. James  20 January, 2017 at 15:00

    1……indahnya Sulawesi Selatan – Pare-pare

    menunggu para Kenthirs di Sulawesi ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *