Pengajian Sore: Jaga Masjidmu!

Chandra Sasadara

 

Sore itu, empat atau lima tahun yang lalu. Ketua RT mengirim SMS, “Pak, mereka sudah datang.”Aku balik bertanya, “mereka siapa?” Ketua RT menjawab balik, “orang-orang yang akan meminta ijin untuk menyelenggarakan pengajian di mushala.” Aku pun bergegas ke mushala.

Di ujung gang perumahan, di dalam mushala kami yang kecil, telah telah duduk ketua RT, ketua Dewan Kemakmuran Mushala (DKM) dan bendahara DKM, beberapa jamaah dan imam mushala. Di depan mereka telah duduk enam orang menggunakan gamis, berjenggot, dan celana cingkrang (pada saat bersila, ujung celana itu mendekati lutut).

Pembicaraan dibuka oleh ketua RT, kemudian disambung oleh ketua DKM. Berikutnya para tamu itu dipersilahkan untuk menyampaikan apa keperluannya. “Kami ingin mendapat kesempatan untuk memberikan pengajian kepada umat Islam di mushala ini,” kata salah seorang dari para tamu itu.

“Pengajian tentang apa Pak?” ketua DKM bertanya.

“Tentang akidah.”  Salah seorang dari mereka menjwab.

“Kalau yang bapak-bapak maksud pengajian tentang akidah adalah untuk membid’ahkan dan mengkafirkan sesama Muslim, kami tidak mengijinkan.” Salah satu jamaah kami menjawab tegas. Para tamu itu kelihatan tidak senang dengan jawaban tersebut.

“Ini mushala orang Islam! Mengapa muslim seperti kami tidak diijinkan untuk berda’wah di sini?”

“Bukan maksud kami tidak mengijinkan bapak-bapak memberikan pengajian di mushala ini. Kami hanya ingin tempat suci ini tidak berubah menjadi tempat saling menghujat sesama muslim.” Ketua DKM memperkuat jawaban jamaahnya. Tapi kelihatannya para tamu itu belum bisa menerima alasan penolakan ketua DKM dan jamaahnya.

Berdebatan terus berlanjut sampai aku melihat ketua RT memberikan isyarat agar aku ikut berpendapat. Tapi aku tidak langsung bicara, aku melirik imam mushala. Aku harap beliau memberikan jalan keluar dari perdebatan yang tidak berkesudahan itu. Kelihatanya imam mushala tidak tertarik, belakangan setelah pasamuhan itu bubar beliau membisikan, “pembicaraan seperti itu bukan urusan imam mushala, itu urusan anak-anak muda seperti kalian.”

“Bapak-bapak yang kami hormati, kami senang kedatangan para juru da’wah seperti bapak-bapak.” Aku mulai bicara. Para tamu itu tersenyum.

“Benar yang disampaikan oleh Pak Ketua DKM,” lanjutku.  “Bahwa kami tidak sedikitpun punya niat untuk menolak da’wah yang akan bapak-bapak lakukan di mushala ini.” Aku berhenti sejenak sambil melihat wajah mereka satu persatu untuk memastikan reaksi mereka.

“Perlu bapak-bapak ketahui bahwa mushala ini telah memiliki jadwal untuk pengajian rutin.” Aku melanjutkan. “Tiap Rabu sore untuk ibu-ibu dan Sabtu sore untuk bapak-bapak. Pengajian tersebut bersifat tematik: tema dan ustadznya sudah ditentukan. Temanya tidak jauh-jauh dari thahara (bersuci), sunah-sunah dalam shalat dan puasa, kewajiban-kewajiban dalam bertetangga dan menjaga perilaku dalam pergaulan hidup. Kalau bapak-bapak berkenan, dengan senang hati kami menerima bapak-bapak mengisi pengajian dengan tema-tema yang telah kami tentukan.” Para tamu itu saling memandang. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan.

“Bisakah kami yang menentukan temanya?” tanya salah satu dari mereka.

“Kami ini orang-orang yang awam tentang agama, kalau temanya terlalu tinggi seperti yang bapak-bapak tawarkan, kami khawatir tidak akan bisa mengikuti. Jadi, jika mau silakan pelajari silabus pengajian kami. Akan kami kasih salinan silabusnya. Kalau setuju, hubungi kami.” Pungkasku sambil tersenyum.

“Baiklah kalau temanya tidak bisa diubah, akan kami pertimbangkan.” jawab salah seorang tamu itu.

“Tidak ingin membaca silabus kami?” tawarku.

“Tidak, terima kasih,” jawabnya.

Pasamuhan ditutup oleh ketua RT, kami bersalaman. Para tamu itu pulang.

“Apa maksudmu dengan pengajian tematik? Kapan kita pernah menyusun silabus pengajian?” ketua DKM memberondong pertanyaan kepadaku.

“Nanti aku buatkan silabus pengajian,” jawabku enteng.

“Jadi..?” ketua RT mendesak.

“Baru tahu ya?” Jawabku dengan tersenyum. Begitu sadar, tawa mereka pun meledak.

 

 

7 Comments to "Pengajian Sore: Jaga Masjidmu!"

  1. erni  31 May, 2017 at 13:47

    bijaksana sekali. ini yang dibilang cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

  2. uchix  10 May, 2017 at 12:54

    tjakep seandainya semua pengurus masjid atau mushola seperti ini, pasti masjid dan mushola tidak akan dijadikan tempat u/ kampanye2

  3. Alvina VB  24 January, 2017 at 08:12

    Ha…ha….cerdas utk ngakalin org2 tsb spy gak masuk dlm lingkungan yg udah nyaman…
    Mbakyu Lani dan James ngeributin pesawat, yg penting dua2nya dah mendarat di tempat…aku yg telat euy….naik kapal laut soalnya…he..he…..

  4. James  24 January, 2017 at 08:07

    ci Lani, iya sedang di proses disilikidiki karena KPK harus dapat membuktikan Suap sekelas Rolls Royce di SG sih

  5. Lani  24 January, 2017 at 03:58

    James: katanya tuh ex sdh ditangkap KPK?

  6. James  23 January, 2017 at 14:45

    mbak Lani, mesin pesawatnya belum diganti oleh Mantan Boss Garuda Emirsyah Satar jadi bukan telat saja tapi mangkrak

  7. Lani  23 January, 2017 at 11:55

    James: pesawatnya telat ya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *