Hikayat Cinta Lelaki Perantau dan Gadis Pribumi

Djenar Lonthang Sumirang

 

Kisah cinta sejoli Cina – Jawa yang harus berakhir di senjakala Perang Jawa

SEBONGKAH nisan bertanda Emak Kempiang atau Nyai Tan Ing Hwat, teronggok di antara 13 nisan lain di komplek makam Adipati Anden, pendiri daerah Loano, Purworejo. Sebuah nisan Tionghoa di dalam sebuah kompleks makam penguasa lokal, tentu menarik untuk ditelisik. Jika diamati, nisan Emak Kempiang itu terlihat lebih baru dibanding nisan-nisan lainnya.

“Sebenarnya awalnya sama dengan nisan lainnya. Namun pada 1980-an, nenek saya dari Hongkong berkunjung ke Loano, dan memugar nisan itu,” terang Irwan Prasetia atau Ong Han Ling, 43 tahun, keturunan ketujuh Nyai Tan Ing Hwat.

Sebenarnya siapakah Emak Kempiang atau Nyai Tan Ing Hwat ini?

Menurut keterangan peneliti sejarah Loano, Erwan Wilodilogo, nama asli Emak Kempiang atau Nyai Tan Ing Hwat adalah Raden Ayu Sindip, putri Gagak Handoko, Adipati Loano terakhir yang berkuasa hingga 1835. Putri berdarah biru ini lahir sekira tahun 1800. Menginjak usia 15 tahun, Sindip dinikahkan dengan seorang pemuda Tionghoa bernama Tan Ing Hwat.

Kala itu, sebelum perang Jawa meletus 1825, wilayah Bagelen -sekira Purworejo sekarang-, tulis Peter Carey dalam Orang Cina, Bandar Tol, Candu dan Perang Jawa, dihuni sekira 128 orang Tionghoa. Daerah Bagelen, menurut Peter Carey, memang tersohor banyak bermukim orang Tionghoa yang utamanya berprofesi sebagai pemungut pajak dan pengumpul pajak tahunan. Sedangkan mengenai profesi Tan Ing Hwat, kurang begitu terang. Bisa jadi ia adalah salahsatu pachter itu atau pedagang. Sebab, untuk dapat menikahi seorang putri bupati, kala itu -bahkan hingga saat ini-, tentu bukanlah orang sembarangan.

Gagak Handoko -sebagai adipati Loano- tentunya tidak asal pilih menantu, apalagi menikahkan putrinya kepada seorang Tionghoa. Meskipun, tulis sejarawan Abdurrahman Suryomiharjo dalam pengantar buku Tan Jing Sing, perkawinan campuran antara keturunan bumiputra dengan keturunan Tionghoa adalah wajar karena suasana pergaulan antar golongan etnik itu.

Namun yang pasti, Tan Ing Hwat memiliki keahlian khusus bidang kuliner yang kemudian ditularkan kepada istrinya, yaitu membuat kue kompyang.

“Raden Ayu Sindip dulu menurut cerita juga berjualan kue Kompyang di sekitar pasar Kutoarjo. Keahlian membuat kue ini sangat mungkin diajari oleh Tan Ing Hwat, suaminya. Dan nama Kempiang besar kemungkinan adalah sebutan bagi Sindip yang mahir membuat kompyang ini,” ujar Yemima Tuk Maryati, 79 tahun, salah satu keturunan keenam pasangan Tan Ing Hwat dan Sindip kepada penulis. Kue kompyang merupakan kudapan khas dari daratan Tiongkok yang bertekstur keras dan biasanya dikonsumsi saat perang atau ketika berkelana.

Pada 1813, dua tahun sebelum pernikahan Sindip dan Tan Ing Hwat, situasi politik di Loano menjadi dinamis.

Pada tahun itu, Tan Jin Sing yang sebelumnya kapitan Cina di Magelang diangkat Sultan Hamengkubuwana III sebagai bupati Yogya dan bergelar Raden Tumenggung Secodiningrat. Atas pengangkatan ini, seperti tersua dalam Orang Cina, Bandar Tol, Candu dan Perang Jawa,Tan Jin Sing mendapat tanah warisan dengan 1000 cacah atau kepala keluarga. Cacah bawahan Tan Jin Sing itu sebagian besar berada di bekas perkebunan merica dan nila milik VOC dahulu di Loano, sisi timur Bagelen. Sejak itu, situasi politik di Loano pun menghangat.

Situasi ini berkembang menjadi memanas saat permulaan perang Jawa meletus. Saat itu, Gagak Handoko berada di seberang Diponegoro.

“Dalam Buku Kedung Kebo (tekst Leiden – LOr 2163, hlm. 297-99) dan ternyata hanya ada dua referensi kepada Gagak Handoko di teks – dua2nya sebagai sekutu komandan hulptroepen (pasukan bantuan -red) Belanda, Ngabehi Resodiwirio (pasca-1830, Raden Tumenggung Cokronegoro; kelak Raden Adipati Cokronegoro, menjabat 1830-62),” tulis sejarawan Peter Carey dalam surelnya kepada penulis.

Resodiwiryo, tulis Radix Penadi dalam Riwayat Kota Purworejo dan Perang Baratayudha di Tanah Bagelen Abad XIX, mulanya adalah seorang mantri gladak Surakarta yang berasal dari Bagelen. Ia menjadi penasehat pribadi Pangeran Kusumayuda, komandan pasukan Surakarta yang dikirim ke Bagelen dan Banyumas untuk membantu pasukan Belanda menghadapi Diponegoro.

Meski semula melawan Diponegoro, menurut Erwan Wilodilogo, Gagak Handoko kemudian menyeberang ke kubu Diponegoro. Bahkan kemudian dia membantu logistik bagi pasukan Diponegoro. Namun sejak Diponegoro kalah pada 1830, nasib Gagak Handoko sudah ditentukan: kadipatennya dihapus, dimasukkan dalam wilayah Purworejo yang dipimpin mantan sekutunya, Cokronegoro.

Kemudian bagaimana nasib pasangan Tan Ing Hwat dan Sindip?

Setelah perang Jawa berakhir, kedua sejoli ini berpisah. Tan Ing Hwat diusir keluar dari Loano, sementara Sindip masih didalam kadipaten. Tan Ing Hwat pun berkelana. Sindip pun hidup merana, sebab ayahnya, lebih dulu meninggal dalam kesepian pada 1835. Sindip bertahan hidup dengan keahlian yang dimilikinya: berjualan kue kompyang di Kutoarjo. Kesepian ditinggal suami membuatnya meninggal dengan merana pula pada 1836.

Tan Ing Hwat sudah tidak tahu kabar istrinya. Ia berkelana dari satu desa ke desa lainnya. Hingga dalam satu saat, sekira 1838, menantu Gagak Handoko itu diculik segerombolan begal, dan dibawa ke desa Kalinongko. Disitu, Tan Ing Hwat menemui ajal dan mayatnya dibuang ke sungai.

Penduduk Kalinongko mengetahui pembunuhan itu. Mereka mengenali mayat Tan Ing Hwat lalu membawanya kembali ke Loano dan dikuburkan di sana.

Namun ‘rumah terakhir’ pasangan ini tidak dalam satu kompleks. Sindip atau nyai Tan Ing Hwat, berada satu komplek dengan makam Adipati Anden, pendiri Loano. Sementara makam Tan Ing Hwat berada jauh dari makam sang istri.

Walau dimakamkan tidak dalam satu kompleks, kedua makam ini masih tetap dirawat, meski baru makam nyai Tan Ing Hwat saja yang baru dipugar oleh keturunannya.

“Peristiwa 1965 membuat keluarga kami tercerai berai. Kakek saya, Cie Ging Hwat, aktivis Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia –red) di Purworejo diciduk. Sebagian dari keluarga kami keluar negeri, seperti ke Hongkong. Nah, nenek dari Hongkong inilah, namanya Cie Lun Jie, yang berinisiatif melakukan pemugaran,” terang Irwan Prasetia, yang juga bergiat di komunitas Desawarnana.

Kisah Sindip bersama Tan Ing Hwat memberikan contoh bahwa perang dapat meluluhlantakkan segalanya, termasuk urusan cinta.*

 

 

11 Comments to "Hikayat Cinta Lelaki Perantau dan Gadis Pribumi"

  1. Rosalia Indri  14 May, 2017 at 11:03

    Terima kasih telah ditulis kisah cinta leluhur saya walo tragis dan menguras air mata.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *