Menelisik yang Tersirat dari Pernyataan SBY

JC – Global Citizen

 

Beberapa hari belakangan ini heboh hiruk pikuk (lagi) urusan persidangan Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal dengan Ahok. Pernyataan Ahok dan Tim Kuasa Hukumnya sewaktu meng’counter kesaksian KH. Ma’ruf Amin menimbulkan kegemparan dan hiruk pikuk baru.

Artikel ini tidak membahas dan ikut-ikutan menganalisa reaksi dan sikap para nahdliyyin (massa Nahdlatul Ulama), GP Ansor, dan kemudian ada juga yang disebut NU Garis Lurus, NU Garis Miring dsb. Bukan domain dan kompetensi saya untuk membahas organisasi Islam dan keislaman karena saya tidak paham. Tulisan ini hanya sekedar mencoba menelisik apa yang (mungkin dan bisa jadi) tersirat dari apa yang disampaikan oleh SBY yang sekaligus adalah mantan presiden Republik Indonesia ke 6.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2017/02/02/06060071/ini.transkrip.lengkap.pernyataan.sby.soal.telepon.ke.ma.ruf.amin.

Sayang sekali saya belum punya kesempatan bertemu dengan presiden kita, Bapak Jokowi. Kalau bertemu Presiden, saya ingin bicara blak-blakan.

Siapa yang melaporkan kepada beliau, yang memberikan informasi intelijen kepada beliau, yang menuduh saya mendanai aksi damai 411, menunggangi aksi damai itu, urusan pengeboman dan juga urusan makar.

Seingat ingatan saya yang pendek. Tak satu pun pernyataan Istana atau pemerintah atau Jokowi yang mengatakan demikian. Biasanya semakin seseorang ingin menutupi sesuatu, semakin intens seseorang tersebut menyangkal atau mencoba menjelaskan. Yang menarik adalah kata “aksi damai 411”; semua mata dunia melihat bahwa aksi di hari itu TIDAK DAMAI sama sekali.

Siapa yang melaporkan kepada beliau, yang memberikan informasi intelijen kepada beliau, yang menuduh saya mendanai aksi damai 411, menunggangi aksi damai itu, urusan pengeboman dan juga urusan makar.

Saya ingin sebetulnya menyampaikan klarifikasi yang baik dengan niat dan tujuan baik. Supaya tidak menyimpan, baik Pak Jokowi maupun saya, prasangka, praduga, perasaan enak dan tidak enak, atau saling bercuriga.

Beliau Presiden Republik Indonesia, Presiden kita, saya juga pernah memimpin negeri ini sebelum beliau. Karena itu, bagus kalau bisa bertemu, saling blakblakan-lah apa yang terjadi, apa yang beliau dengar. Supaya ada dialog mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Saya diberi tahu konon katanya, ada tiga sumber yang memberi tahu saya, beliau ingin bertemu saya. Cuma dilarang oleh dua-tiga orang di sekeliling beliau.

Nah dalam hati saya, hebat juga ini orang yang bisa melarang Presiden bertemu mantan sahabatnya yang juga mantan presiden.

Entah disengaja entah tidak, ini pernyataan yang sangat keras menurut saya. “Mantan sahabat”, berarti dulunya bersahabat, sekarang tidak! Tembakan dari pernyataan pembukaan SBY ini bukan pernyataan sembarangan dan enteng. Tembakannya mengarah ke mana-mana; yang kita paham dan mahfum ke mana. Tembakannya memang ngawur dan tidak bisa membidik dalam gelap; karena sebenarnya memang mungkin SBY hanya sekedar ‘throw the bait’ atau seandainya memang benar sekalipun, berarti SBY juga bisa ‘dituduh menyusupkan’ orang-orangnya di lingkar Ring 1 Istana. Intinya seperti orang Jawa bilang: “lha nek ora rumangsa berbuat, kok krasa-krasanen karepe dhewe” (lha kalau tidak merasa berbuat, kok terasa begitu sendiri) atau “nuding wong liya amarga awake dhewe sing berbuat” (menuding orang lain, karena diri sendiri berbuat).

Itu pengantar. Nah, sekarang intinya, teman-teman, para wartawan, saya kira semua mengikuti kemarin dalam sebuah persidangan dikatakan, ada rekaman atau transkrip atau bukti percakapan saya dengan KH Ma’ruf Amin. Begitu bunyinya.

Saya coba ubek-ubek pemberitaan dari mana-mana, sepertinya saya belum menemukan pernyataan Ahok dan Tim Kuasa Hukumnya mengatakan: “ada rekaman” ataupun “transkrip” yang saya pernah lihat pemberitaannya. Kalau “bukti percakapan” memang ada pernyataan seperti itu. Sangat terasa kegugupan dan (mungkin) kepanikan di bagian ini.

Nah spekulasi langsung macam-macam. Nah saya ingin menyoroti masalah itu, karena kalau betul percakapan saya dengan Pak Ma’ruf Amin, atau percakapan siapa pun dengan siapa, disadap, tanpa alasan yang sah, tanpa perintah pengadilan dan hal-hal yang dibenarkan dalam UU, namanya itu penyadapan ilegal.

Sekali lagi saya ubek-ubek seluruh pemberitaan tentang ini, tak satupun ada pernyataan “disadap” dan “penyadapan”, baru dari SBY inilah muncul pertama kali “disadap” dan “penyadapan”. Apa maksudnya? Bukankah ini satu blunder besar dimana bisa jadi ini adalah strategi untuk mendapatkan satu ‘pengakuan sukarela’? Apakah sebelum SBY mengadakan konferensi pers tidak memikirkan apa-apa yang akan disampaikan dan apakah tidak ada penasehat politiknya yang menyampaikan masukan? Atau ini tersirat jelas bahwa memang ada percakapan itu, namun dengan mencoba strategi ‘teriak duluan’ bahwa ‘itu ilegal lho’ untuk mendapatkan minimal dua hasil: teralihnya perhatian dan sekaligus pasang rambu-rambu “itu ilegal lho”.

Satu, dari aspek hukum masuk dan dari aspek politik masuk. Saya kira teman-teman masih ingat Skandal Watergate. Dulu kubu Presiden Nixon menyadap kubu partai politik yang sedang dalam kampanye pemilihan presiden.

Memang Nixon terpilih sebagai presiden, tapi skandal itu terbongkar. Ada penyadapan, ada tapping, ada spying. Itu yang mengakibatkan Presiden Nixon harus mundur, resign. Karena kalau tidak, beliau akan di-impeach.

Ini yang DAHSYAT! Terang-terangan ada ancaman impeachment! Masalah sadap menyadap saja belum jelas juntrungan dan kejelasan berikutnya, malah sudah terlontar ancaman yang sangat serius dan menyeramkan ini. Dan tidak tanggung-tanggung menunggu lama, tidak sampai 1×24 jam Demokrat dengan cepat sudah mengawali dan mengusulkan hak angket di DPR. Dan dengan sigap didukung oleh Fahri Hamzah.

(http://nasional.kompas.com/read/2017/02/02/13064321/selidiki.dugaan.penyadapan.ke.sby.demokrat.galang.hak.angket. dan http://nasional.kompas.com/read/2017/02/02/19425941/fahri.hamzah.usulkan.dpr.bentuk.pansus.penyadapan)

Ujungnya jelas: impeachment! Dan Demokrat ngotot menggalang hak angket ini. (http://nasional.kompas.com/read/2017/02/03/16581131/polri.dan.bin.sangkal.ada.penyadapan.demokrat.bersikeras.lanjutkan.hak.angket)

Dalam pilpres maupun Pilkada, penyadapan ini sangat bisa membuat kandidat kalah karena ketahuan semua strateginya. Karena memang akan ketahuan semua, mau dirahasiakan seperti apa pun akan ketahuan semua.

Dari bagian ini sekaligus sudah ancang-ancang semisal Agus Harimurti Yudhoyono kalah, itu dikarenakan “kecurangan” pihak lawan yang ‘menyadap’. Implikasinya luas. Pertama menyiapkan ‘exit strategy’ bahwa kekalahan AHY-Sylvi adalah karena ‘kecurangan’ sekaligus melontarkan ancang-ancang ‘amunisi’ di depan, sekiranya kalah, isu ini diharapkan akan menimbulkan dan melanjutkan kegaduhan ‘sadap menyadap’ ini. Dari kubu AHY-Sylvi sudah mengakui bahwa elektabilitas dan popularitas pasangan calon nomor 1 ini memang terus turun. (http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/01/21105871/roy.suryo.akui.debat.cagub.sebabkan.elektabilitas.agus-sylvi.turun dan http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/02/07152071/kenapa.elektabilitas.agus-sylviana.turun.signifikan.)

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG

Sangat jelas bahwa Paslon nomor 1 ini menghindari debat publik yang diadakan oleh penyelenggara non KPU (Komisi Pemilihan Umum) dengan berbagai alasannya. Termasuk membatalkan tampilnya mereka dalam acara Mata Najwa beberapa hari lalu. Najwa Shihab bisa jadi ‘monster’ yang mengerikan melibas siapapun dengan pertanyaan-pertanyaan tajamnya. Sekiranya narasumber siapapun yang tidak siap atau tidak memiliki bekal yang cukup, jangan harap ‘selamat’ di acara Mata Najwa. Secara objektif nampak jelas bahwa kemampuan AHY-Sylvi untuk penampilan di depan publik dan kemampuan public speaking mereka masih jauh di bawah Paslon nomor 2 dan nomor 3, diakui atau tidak oleh kubu Paslon nomor 1; publik melihat dan menyimak dalam dua kali acara debat KPU.

Equality before the law, kesamaan dalam hukum itu adalah hak konstitusional setiap orang. Semangat dan jiwa UUD 1945 juga seperti itu. Dan melalui mimbar ini, saya juga mohon, agar transkrip percakapan telepon saya yang sekarang katanya dimiliki pihak Pak Ahok atau tim, saya juga bisa mendapatkan..

Karena saya khawatir kalau saya tidak mendapatkan sangat mungkin transkrip itu bisa ada tambah kurang yang tentu bisa berbeda dari isinya seperti apa.

Saya sungguh ingin mendapatkan transkrip itu, karena dikatakan kami punya rekamannya, dan kami punya transkripnya. Kurang lebih seperti itu.

Lho? Saya sekali lagi ubek-ubek seluruh pemberitaan dari beberapa media, tapi mungkin saya terlewat tidak menemukan indikasi pernyataan siapapun mengenai ‘transkrip percakapan telepon’. Dengan kalimat: “…transkrip percakapan telepon saya yang sekarang katanya dimiliki pihak Pak Ahok atau tim, saya juga bisa mendapatkan”. Tersirat dan tersurat jelas-jelas SBY mengakui bahwa percakapan yang dimaksud oleh Tim Kuasa Hukum Ahok memang ada. Dilanjutkan dengan kalimat: “Karena saya khawatir kalau saya tidak mendapatkan sangat mungkin transkrip itu bisa ada tambah kurang…”; sekali lagi konfirmasi bahwa percakapan itu memang ada.

Saya juga memohon Pak Jokowi, presiden kita, berkenan memberikan penjelasan, dari mana transkrip atau sadapan didapat itu, siapa yang menyadap. Supaya jelas. Yang kita cari kebenaran.

Dan teman-teman para wartawan, kesimpulan yang ingin saya sampaikan adalah, dengan penjelasan saya ini berangkat dari pernyataan pihak Pak Ahok yang memegang bukti atau tranksrip atau apapun yang menyatakan ada percakapan saya dengan Pak Ma’ruf Amin, saya nilai sebagai sebuah kejahatan.

Karena itu adalah penyadapan ilegal. Saya hanya mohon hukum ditegakkan. Bola sekarang bukan pada saya, bukan di Pak Ma’ruf Amin, bukan di Pak Ahok dan pengacaranya, tetapi di tangan Polri dan penegak hukum lain. Bola di tangan mereka.

Dan kalau yang menyadap institusi negara, bola di tangan Bapak Presiden Jokowi. Saya hanya memohon keadilan. Karena hak saya diinjak-injak dan privasi saya yang dijamin UU dibatalkan dengan cara disadap secara tidak legal.

Di bagian ini, sangat jelas dorongan SBY bahwa seluruh tuduhan ditimpakan ke Jokowi dan mendorong opini bahwa ini semua adalah konspirasi dimana Istana terlibat.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG

Dan hari ini, menurut berita ada ratusan orang ‘geruduk’ rumah SBY yang di Kuningan. (https://news.detik.com/berita/3414936/sby-rumah-saya-di-kuningan-digeruduk-ratusan-orang?_ga=1.65864038.938585985.1446724809) dan lagi-lagi SBY nge’twit dan melontarkan ke Jokowi dan Kapolri:

“Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*,” tulis SBY. “Saya hanya meminta keadilan. Soal keselamatan jiwa saya, sepenuhnya saya serahkan kpd Allah Swt. *SBY*,” sambungnya.

Kita lihat amunisi atau tembakan ngawur atau berondongan serabutan apalagi yang akan dilontarkan lagi oleh SBY semakin mendekati hari Pilkada serentak tanggal 15 Februari 2017 ini.

 

 

About J C

I’m just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

18 Comments to "Menelisik yang Tersirat dari Pernyataan SBY"

  1. Alvina VB  17 February, 2017 at 13:30

    Mbakyu Lani, he..he……kata muridku anak 1/2 Indonesia, di US ada si Trump yg bikin sensasi eh di Indonesia ada si SBY yg juga bikin sensasi, ya cuman alussss lah….tidak sekasar si Trump….both of them really need a psychologist, kaburrrrrr….

  2. Lani  16 February, 2017 at 00:57

    Al: jangan lupa orang Indonesia asal Jawa lagi…….benar/salah?

  3. Alvina VB  15 February, 2017 at 11:57

    Mbakyu Lani, aku kasih tahu temenku yg pinter lihat body language/ bahasa tubuh org dari gerak-geriknya di video, dia bilang ini sich org narsis dan nutupin kelemahannya dia spt si Trump aja, cuman ya….lebih alus…lah wong Indo, he…he……..kaburrrrr…..

  4. Lani  10 February, 2017 at 14:25

    Al: ada2 aja ngakak aku dgn komentarmu…….

  5. Alvina VB  10 February, 2017 at 13:42

    Masak iya sich pake acara nangis segala….hadew….bukan lebay lagi……itu mah ‘shed crocodile tears’ namanya mbak….

  6. Lani  10 February, 2017 at 01:19

    Al: simantan lebay banget dan kurang gawean……….nangis kesana kemari………hikkkkkkkks memalukan saja

  7. Alvina VB  9 February, 2017 at 13:40

    Satu lagi mbakyu Lani, si eks pres pengen tetep eksis dengan cara yg sama dgn si Donald Trump yg demen posting utk sekedar curhat dan juga nyerang lawan2nya di twitternya, wkkkkkkkkkk ….opo tumon toch…..

  8. Lani  9 February, 2017 at 10:30

    Al: komentar dan penjelasanmu betul adanya, Agus maju sbg calon gubernur DKI dan diperjuangkan agar menang dgn cara apapun sampai dikorbankan karirnya yg moncer di TNI, menurut sebagian orang yg pinter sgt kasihan utk memenuhi ambisi keluarga anak sampai dipaksa sbg tameng agar aman krn sdh ketakutan boroknya akan kebukak, keluarga lebay ini kan mmg korupsi mengular………kulit boleh berganti tp ularnya kan tetep sama oii

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *