Mesin Tik

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SAYA tidak paham mengapa dan bagaimana ayah saya bisa bersahabat baik dengan Om Gembel Soedijono sampai akhir hayatnya. Sampai seorang teman FB saya (belum pernah bertemu fisik), Mas Rahman Ardhianto mengirimkan buku saya (gratis). Judulnya “Riwayat Gembel Soedijono: Kisah Seorang Soekarnois Mengatasi Rintangan Jaman” (2006).

Ternyata, Oh, ternyata…ayah saya bersahabat dan berkenalan dengan Om Gembel sejak masih sesama tahanan politik 1966-67 di Gang Tengah Salemba. Di sana, dalam buku bio Om Gembel, dikurung seabreg tapol termasuk Pramoedya Ananta Toer dan beberapa sahabat baik ayah saya. Mereka satu blok. Di blok itu Om Gembel berkenalan dengan Pram dengan cara unik: bertubrukan.

Pram tiap pagi jalan kaki dan tak peduli orang di sekitarnya. Tiba-tiba Pram menabrak Om Gembel yang tak mau menyingkir. Hampir saja mereka berkelahi kalau tak dipisahkan sahabat ayah saya, Om Hasjim Rachman (pendiri Percetakan Hasta Mitra)

Dari tubrukan itu mereka akhirnya mereka bersahabat baik sampai akhir hayat. Pram menjadi bagian keluarga Om Gembel dan sebaliknya. Dari Om Gembel juga, setelah beliau bebas, mendesak sahabatnya, Ali Moertopo (orang dekat Pak Harto dan mantan Menteri Penerangan 1978-1983), agar Pram diberi mesin tik. Permintaan itu disetujui. Saat Om Gembel bebas dan juga ayah saya, sekitar 1967, Pram masih mendekam di Pulau Buru hingga bebas tahun 1979.

Dengan mesin tik itu, kita bisa menikmati karya-karya sastra Pramoedya Ananta Toer hingga kini. Sampai Google Doodle bergambar Pramoedya untuk menghormati HUTnya pada 6 Februari. Saya pernah baca waktu kuliah resensi di majalah TIME sebuah buku karya Pramoedya yang diterbitkan di Swedia. Ah bangganya…. Pram menuntaskan karya-karya dengan di bawah tekanan psikis. No google. No encyclopedia. No internet. No library.

Pram jadi seperti sekarang karena banyak pihak. Terima kasih kepada Om Gembel yang memberinya mesin tik. Terima kasih kepada Presiden AS Jimmy Carter yang mendesak pembebasan tapol Indonesia (Pak Harto tak menyukai presiden AS ini). Terima kasih juga dengan Hasta Mitra, penerbit pertama yang berani terbitkan karya tetralogi Pram.

Om Gembel Soedijono adalah ayah sahabat saya Ria Gembel dan Palupi Soedijono. Mereka berdua punya pengalaman menarik dengan Pram.

❤ Selamat Ulang Tahun Pram ❤

 

 

6 Comments to "Mesin Tik"

  1. Linda Cheang  8 February, 2017 at 12:10

    sebuah mesin tik yang amat berguna.

  2. Lani  8 February, 2017 at 10:48

    ISK: tanya saja mengapa namanya om Gembel? Apakah tdk punya nama yg sebenarnya? Pertanyaan ora mutu yo prof???

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 February, 2017 at 13:53

    Terima kasih Om Djoko atas apresiasinya. Senang dapat salam dari Der Familie Paisan.

  4. James  7 February, 2017 at 05:03

    Dpt dibayangkan kalau jaman skrg dah gak ada mesin tik lagi

    Para Kenthirs skrg ngetik di kompi yah?

  5. Dj. 813  7 February, 2017 at 02:39

    Satu kenangan, selalu indah , walau kenangan itu sendiri belum tentu indah .
    Ingat jaman masih sulit, semua serba kekurangan, tapi cukup indah untuk dikenang .
    Olehnya, nikmati setiap saat yang kita jalani dalam hidup ini .
    Yang jelas, nanti akan menjadi kenangan yang indah .

    Salam manis untuk keluarga dirumah .

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  6 February, 2017 at 21:26

    Terima kasih. Ini secuil mengenang Om Gembel yang memberi mesin tik kepada Pramoedya Ananta Toer.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *