Tur Malam Tahun Baru Imlek 2017

Linda Cheang – Bandung

 

Komunitas Jakatarub Bandung, bekerja sama dengan beberapa tempat ibadah di Jl. Kelenteng dan Jl. Cibadak, kembali menyelenggarakan tur malam Tahun Baru Imlek 2017 pada Jumat malam, 27 Januari 2017 lalu, sebagai upaya mengenalkan tradisi dan budaya Tionghoa di Indonesia dalam menghayati tahun baru, dari masing-masing sudut pandang tradisi dan teologi (Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme Tiongkok).

Tempat-tempat ibadah yang dikunjungi adalah :
1) Kelenteng Gede, (TITD) yaitu Vihara Satya Budi.
2) Vihara Dharma Ramsi (TITD)
3) Kong Miao, tempat ibadah Ajaran Konghucu
4) Vihara (Tao Kwan) Sinar Mulia, tempat ibadah Ajaran Tao (Taoisme)
5) Vihara Tanda Bakti, Buddha Mahayana

Semua tempat ibadah tsb menyambut kami hangat kecuali Vihara Sinar Mulia yang baru akan ada pengurusnya datang untuk ibadah Pk. 23.00, maka tidak ada fotonya. Di lokasi ini peserta hanya sempat diberikan penjelasan sekilas oleh seorang pengurus Jakatarub, tentang ajaran Taoisme dan perbedaannya dengan Konghucu.
Tempat yang benar-benar vihara yang benar-benar untuk agama Buddha dan ada biaranya yaitu Vihara Tanda Bakti.

Peserta datang dari berbagai kalangan lintas agama dan kepercayaan. Ada beberapa mahasiswa dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari jurusan Perbandingan Agama, ada rekan-rekan pendeta dan umat Kristen. Ada perwakilan dari pemeluk Katolik yaitu Pst. Agustinus Sugiharto, OSC dari KomHAK Keuskupan Bandung, perwakilan umat dari Gereja St. Laurentius termasuk dari Majalah Komunikasi Keuskupan Bandung, juga beberapa rekan umat Hindu dan bahkan ada perwakilan dari Muslim Tionghoa, diwakili anggota dari PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia), tak lupa warga awam lainnya yang tertarik untuk belajar dari acara ini.
Antusias tinggi dari para peserta yang mungkin beberapa diantaranya baru pertama kali mengunjungi tempat ibadah Tri Dharma dan vihara, yang bernuansa kebudayaan Tionghoa, berkenaan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sebagai perayaan budaya.

Menunjukkan bahwa di Kota Bandung, keberagaman merupakan satu dari sekian sumber kegembiraan pada perayaan budaya. Kiranya dari tur ini, setelah belajar mengenal lebih dekat,  sikap toleransi dan kerukunan dari setiap umat beragama akan lebih kokoh lagi di antara warga Kota Bandung.

Senang melihat antusiasnya para peserta yang mungkin beberapa diantaranya baru pertama kali mengunjungi tempat ibadah Tri Dharma, yang bernuansa kebudayaan Tionghoa. Walaupun di akhir acara ada sedikit “kekacauan” lebih karena kurang koordinasi, padahal sekian jumlah peserta sudah dibagai menjadi 4 kelompok agar lebih tertib.
Kiranya tur malam Tahun Baru Imlek yang akan datang akan lebih baik lagi.

1) Kelenteng Gede – Vihara Satya Budhi (Xie Tian Gong)

Lokasi ini menjadi titik kumpul awal bagi seluruh peserta. Jumlah peserta lumayan banyak, di atas 60 orang sehingga untuk menjaga ketertiban, perlu koordinasi.

Pengurus Jakatarub membagi peserta menjadi 4 kelompok agar mudah koordinasinya juga karena alasan pintu masuk di sebuah kelenteng tidak akan memuat ke semua peserta untuk masuk bersama-sama.

Lampion menyambut yang datang di gerbang Kelenteng Gede


bagian depan Xie Tian Gong


Patung Jenderal Guan Gong, tuan rumah di kelenteng ini


Pak Sugiri sebagai relawan sejarah, sedang menjawab pertanyaan dari para peserta tur

Kalender gabungan Masehi dan Lunar, termasuk hitungan hari terbaik, hari baik dan hari buruk

Foto bersama sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat ibadah lainnya

barisan lampion mengiringi para peserta

 

2) Vihara Dharma Ramsi

Di sini, para peserta masuk bergantian per kelompok. Para peserta pun dijamu dengan menu makanan vegetarian yaitu : bihun goreng, mie goreng, bubur kacang hijau dan ketan hitam serta roti selai kacang

barisan lilin di lokasi Vihara Dharma Ramsi


Para peserta dijamu dengan makanan vegetarian di bagian belakang vihara

 

3) Kong Miao

Para peserta diterima oleh pengurus Kong Miao dan diarahkan langsung ke aula di lantai atas bangunannya, yang ada altar pemujaan Konghucu, untuk mendengarkan penjelasan dan bertanya jawab tentang Ajaran Konghucu atau seputar hal ikhwal Tahun Baru Imlek dengan pengurus Kong Miao.

Perwakilan pengurus Jakatarub dan peserta tur berfoto bersama dengan pengurus Kong Miao dan wakil petugas aparat keamanan yang menjaga tempat ibadah

 

4) Vihara Tanda Bakti

Vihara ini adalah tempat ibadah yang benar-benar untuk beribadahnya para umat Buddha dari aliran Mahayana dan bangunan viharanya lengkap dengan biara tempat para bhiksu tinggal. Tidak digabung dengan ibadah Ajaran Konghucu dan Ajaran Tao.

Peserta tur terbagi-bagi antara yang mendengarkan penjelasan dari pengurus vihara, dengan yang memilih berkeliling melihat-lihat fasilitas vihara sekalian berswa foto.
Bagi peserta tur yang memerlukan energi tambahan sebelum pulang, boleh ikut menikmati sajian Bajigur, Bandrek, Ketan Bakar sampai Nasi Soto Ayam, dari para pedagang kaki lima yang sengaja disewa oleh pengurus vihara.

Lumayan, saya bisa puas meneguk bajigur hangat sebelum pulang. Beberapa peserta yang berstatus mahasiswa, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk makan.

itu bukan obat nyamuk bakar, tapi barisan dupa melingkar

Penjelasan dari seorang pengurus vihara didampingi seorang pengurus Jakatarub

lonceng dibunyikan menjelang tengah malam, tanda waktu ibadah Tahun Baru Imlek segera dimulai

Sebelum meninggalkan Jalan Kelenteng, saya sempat mengambil foto kegiatan pasar malam yang diadakan untuk memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek. Ada penjual es serut yang menawarkan hidangan es serut yang tinggi dan banyak, dilumuri sirup dan susu kental coklat. Kelihatannya enak, tapi entahlah, saya hanya memotret, tidak ingin membelinya :D

Sampai jumpa di kegiatan lintas agama lainnya.

 

SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2568

Bandung, 29 Januari 2017
Linda Cheang

 

Sumber foto :
– Koleksi pribadi
– Budi Yasri
– Majalah Komunikasi Keuskupan Bandung
– Jakatarub

Keterangan :
Jakatarub : Jaringan Kerjasama Antar Umat Beragama, merupakan sebuah komunitas yang pengurus dan para anggotanya adalah warga dari lintas agama/kepercayaan.

TITD : Tempat Ibadah Tri Dharma, yaitu tempat ibadah untuk kegiatan ibadah bagi Agama Buddha, Ajaran Konghucu dan Ajaran Tao alias Taoisme.

 

Bisa juga dibaca di:

Tur Malam Tahun Baru Imlek 2017

 

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

9 Comments to "Tur Malam Tahun Baru Imlek 2017"

  1. Linda Cheang  16 February, 2017 at 16:13

    Budi Margomulyo Terima kasih sudah mampir. Foto-foto bagusnya karena hasil kerja sama rame-rame bersama para kawan

  2. Budi Margomuljo  16 February, 2017 at 13:11

    Seru juga turnya Linda. Foto-fotonya bagus..

  3. Linda Cheang  8 February, 2017 at 11:47

    Lani mahalo sudah mampir. Soal adanya hari terbaik, hari baik dan hari baik yang aku temukan di kalender hariannya Kelenteng Gede, aku nggak tahu banyak karena selain harus baca benar-benar tulisan Hanzi (Chinese character) di kalender itu, juga semestinya yang berhak menjelaskan adalah ahli Feng Shui yang lebih paham hitungan tsb, karena memang dalam hitungan metafisika cara Feng Shui, ada hari sangat baik, hari baik dan hari buruk untuk melakukan kegiatan tertentu.

    Sekalian juga aku menanggapi hal Kelenteng yang bikin takut anak-anak kecil, (buat Oom Dj juga jawabannya), konon (namanya juga konon : bisa benar, bisa juga tidak benar) di dalam patung-patung di kelenteng itu ada penghuninya yang tak kasat mata, tapi bisa dirasakan. Contohnya, Kelenteng Gede yang dibangun untuk menghormati Jendral Guan Gong, dari beberapa orang yang “katanya” bisa melihat dengan mata batin, patung Guan Gong yang di dalam Kelenteng gede itu ada “isinya” berupa roh Guan Gong. DI kelenteng yang lain ada patung Sun Go Kong dan kabarnya ada roh Sun Go Kong dalam patungnya. Nah, roh-roh pengisi patung itu yang kayaknya membuat anak-anak kecil jadi tidak nyaman.

    Tapi yang bisa aku benarkan adalah mata pedes gara-gara kena asap dupa/hio. Apalagi buat pengidap sinusitis, asap dari dupa berbentuk apapun adalah satu dari biang bencana penyebab sinusitis

  4. Lani  8 February, 2017 at 10:44

    Linda: satu lagi klalen, aku ingin tanya mengapa dipenanggalan dikatakan “Kalender gabungan Masehi dan Lunar, termasuk hitungan hari terbaik, hari baik dan hari buruk”

    Pertanyaanku: apakah mmg ada hari terbaik, hari baik, hari buruk???

    Mengenai makanan vegetarian jd ingat ada kelenteng di kota Ukiah, northern California kelentengnya gede banget, orang berdatangan berziarah ke kelenteng ini, dibelakang kelenteng ada rumah makan vegetarian yg sgt laris, menunya juga sampai ratusan macam, aku bersama teman2 boleh dikatakan sering makan disana semuanya enak mereka jg menjual bakpao vegetarian dgn isian sesame, kacang merah, kacang hitam, kacang ijo, frozen. Mereka jg punya perkebunan anggur, krn aku tdk minum anggur jd hanya membeli juice anggur saja tanpa kandungan alcohol

  5. Lani  8 February, 2017 at 10:34

    Linda: mahalo atas liputan tour dr vihara/kelenteng satu ke kelenteng lainnya di wilayah Bandung.

    Inilah yg hrs digiatkan tdk memandang apa kepercayaannya, agamanya, krn Indonesia bukan milik satu agama saja.

    James: aku msh ingat ktk msh kecil diajak papa kelenteng, entah dlm acara apa, yg jelas aku tdk mau diajak lagi setelah yg pertama itu, krn papa sibuk kesana kemari membantu ini dan itu, aku ditinggal sendirian dgn mata pedes krn asap dr Hio yg dibakar tiada henti!

    Menanggapi komentar mas DJ, aku punya perasaan yg sama tiap kali mengunjungi/masuk kelenteng merasa tdk nyaman, tdk tahu apakah itu takut, atau apa yg tdk bisa dijelaskan dgn kata2, hanya bisa aku rasakan.

    Tidak tahu apakah perasaanku akan sama klu masuk ke masjid, pura, krn belum pernah akan ttp klu masuk kegereja ada perasaan suka cita, bukan berarti aku mengatakan gereja lebih baik dr rumah ibadat lainnya, mungkin krn aku belum pernah saja jd tdk bs membandingkan.

  6. Linda Cheang  7 February, 2017 at 08:08

    Alvina VB iya, kegiatan ini sudah jadi acara tahunan

    Oom Dj acara tur begini mulai diadakan sejak 2012 dan rencananya akan jadi agenda tahunan oleh Komunitas Jakatarub.

    Benar, Oom, kelenteng dulu amat menakutkan buat anak-anak kecil termasuk saya. Mungkin karena nggak ada penjelasan detil dari orangtua. karena orangtua saya juga jarang ke kelenteng dan nggak tahu banyak juga soal kelenteng. Maka, acara tur ini jadi sarana untuk belajar tahu.

    James Entah, deh, para kenthirs itu sudah/belum mengunjungi vihara, kong miao atau tao kwan.
    Nuhun sudah mampir.

  7. James  7 February, 2017 at 04:57

    38 tahun tinggsl dam tumbuh di Bandung tapi tidak pernah mengenal dekat spt ini, menarik utl dibaca

    Apa para Kenthirs suka mengunjungi Vihara ?

  8. Dj. 813  7 February, 2017 at 02:36

    Waaaaaw . . . . ! ! !
    Ada juga tour seperti ini .
    Dj. ingat dulu waktu masih kecil, kalau diajak oleh tetangga ikut ke klenteng .
    Selalu ada rasa takut .
    Mungkin suasanya yang tidak biasa, juga figur-figur dengan jenggot panjang dan membewa senjata .
    Juga saat lihat Liong, juga selalu ketakutan.
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !

  9. Alvina VB  6 February, 2017 at 22:19

    Wow….hebring bisa ada kegiatan spt ini di Bandung, kl jaman orba dulu pasti terlarang kan ya….
    Apa ini acara thnan?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *