Buku Stranger at Home: Gegar Budaya Ketika Kembali ke Tanah Air

Linda Cheang

 

Penulis : Louisa Veronica dan Tessa Ayuningtyas Sugito

Tebal : xx +202

Tahun terbit : 2016

Penerbit : Fire Publisher

Harga : Rp90.000/- (2017)

Kedua penulis buku ini adalah warga Baltyra, maka saya khusus menuliskan ini juga untuk Baltyra. Tulisan ini isinya adalah kesan yang saya dapatkan dari hasil menikmati buku ini. Semoga berkenan.

Bagi para warga Indonesia yang pernah tinggal sekian waktu lamanya di luar wilayah Indonesia lalu memutuskan kembali lagi ke Tanah Air, tentunya mengalami perasaan terasing, sampai berbenturan dengan kebiasaan yang berbeda sama sekali dengan kebiasaan lingkungan di luar Indonesia. Keadaan ini disebut sebagai culture shock alias gegar budaya.

Gegar budaya itulah juga dialami oleh Nonik dan Tessa (alias Sasayu), dua saudari bersepupuan ini, yang dituangkan ke dalam buku yang mereka tulis bersama. Melihat tulisan “Gegar Budaya di Kampung Halaman” di tembok fesbuknya Nonik, saya bergegas membelinya, selain karena sayapun pernah mengalami juga hal gegar budaya ini setelah sekian tahun tinggal di luar Indonesia (walau secara bolak-balik, sih), alasan tepatnya adalah harga bukunya yang sengaja dibuat miring selama periode promosi bagi 50 orang pertama. Jurus cari yang lebih murah saja dan mumpung isi dompet saya masih cukup untuk beli buku :D

Setelah mengalami sedikit kendala dalam pengiriman karena kurir yang kurang sigap, akhirnya buku ini tiba di tangan saya dan saya atur waktu untuk membaca secara bertahap, sebab harus bergiliran dengan baca buku-buku yang lainnya. Ternyata dalam buku ini pun ada Kata Pengantar yang dituliskan oleh Pendiri Baltyra ini, Suhu Joseph Chen, plus seorang penulis senior Baltyra, Pak Handoko Widagdo di bagian Kata Mereka. Warga Baltyra baiknya perlu punya buku ini. :D

Sebenarnya waktu membaca buku ini memang tidak perlu lama-lama karena gaya penulisannya yang ringan dan enak, tidak membuat dahi berkerut, justru di beberapa bagian membuat saya ngakak. Sekiranya jika tidak harus diselingi kewajiban baca buku-buku lain, saya yakin buku ini bisa saya selesaikan bacanya dalam hitungan jam saja, bukan beberapa hari.

Menarik ketika saya mulai membaca secara sekilas dulu, saya sudah bisa mengikuti alur kisah Nonik dan Tessa ketika bersiap menjalani kuliah di luar negeri. Nonik yang melanjutkan kuliah S-2 di Swiss dan Tessa yang setelah lulus SMA, lalu sepenuhnya kuliah di luar negeri untuk S-1 dan S-2. Kondisi yang benar-benar membuat saya jadi iri karena saya tak seberuntung mereka. Termasuk kehebohan mereka ketika pertama kalinya berangkat ke luar negeri lengkap dengan kisah super noraknya dan kerepotan orangtua yang mendorong si anak untuk ambil program bea siswanya.

Saya melanjutkan membaca secara serius dan menyelesaikannya, saya menemukan bahwa saya bisa menikmati cara mereka bercerita tentang pengalaman mereka selama berada di Swiss untuk Nonik dan di Belanda serta Finlandia untuk Tessa. Saya jadi benar-benar ngerti kenapa Tessa suka disebut sebagai si tukang bakar restoran, dan Nonik yang harus terengah-engah bersama anggota kelompok yang lebih suka berbicara dengan bahasa ibu negara mereka yang kebetulan sama-sama bahasa Portugis walau dari negara berbeda. Tessa yang bisa menikmati niknatnya uap panas sauna lalu langsung bergulingan pada salju yang dingin, sampai Si Mboknya Tessa salah paham, mungkin karena kurang tahu seperti apa rasanya negeri di wilayah kutub itu.

Ada lagi juga kisahnya Tessa dengan teman senegara dengan cerita terasinya si teman yang agak berbau mistis, benar-benar bikin saya ngakak sambil geleng-geleng kepala, dan Nonik yang bertutur pengalamannya seru ketika bekerja di dua restoran yang dimiliki dua wanita Tionghoa berhubungan keluarga, lengkap dengan segala kendala bahasa karena kedua nyonya Tionghoa kurang fasih berbahasa Prancis, dan Nonik juga ada kendala berbahasa Mandarin. Kisah Nonik ketar-ketir tinggal dengan uang mepet di sisa waktu sebelum pulang ke Tanah Air, namun masih beruntung mendapatkan pekerjaan sebagai au pair.

Terima kasih buat Nonik dan Tessa yang bersedia berbagi kisah hidup mereka. Di bagian penuturan ketika mereka mengalami gegar budaya di kampung halaman, saya yakin bisa lebih seru lagi jika mereka berdua mau membuka beberapa detil hal ikhwal penyebab mereka mengalami gegar budaya. Sebab sejujurnya menurut saya, sebgaian besar isi buku dengan judul yang ditampilkan agak kurang klop. Bagian gegar budayanya masih kurang banyak diceritakan.

Saya sebenarnya tertarik dengan cerita Tessa ketika pulang kembali ke Si Mboknya yang tipe Asian Tiger Mom, satu dari sekian penyebab gegar budaya yang dialami. Sudah pasti banyak kisah menarik yang bisa dipaparkan di buku ini, dan pasti bisa juga dipahami oleh sesama anak-anak produk para Tiger Mom (termasuk saya). Saya juga bahkan kepingin bisa mendengar ceritanya Nonik ketika mendapati tidak nyambungnya komunikasi dan cara berpikirnya Nonik dengan kerabat dan orang sekitar setelah Nonik baru pulang dari Swiss. Pasti akan banyak kisah-kisah ajaib jika saja boleh dibagikan detilnya walau tidak harus ekstra detil.

Maaf, ya, Nonik, Tessa. Ini hanya sedikit pendapat saya, harapkan kalian tidak berkecil hati karenanya. Saya mengalami juga situasi hellish with Asian Tiger mom dan nggak nyambungnya pola komunikasi dengan keluarga/kerabat/orang-orang sekitar, sampai saat ini. Namun, saya sepakat dengan Nonik dan Tessa untuk menerima dan berdamai dengan situasi seperti itu.

Terlepas dari ditemukannya beberapa bagian yang harus dikoreksi dan saya sudah memberitahu Nonik akan hal itu, buku ini baik sekali dijadikan referensi bagi siapa saja, terutama bagi warga Indonesia yang baru mau akan tinggal di luar wilayah Indonesia dalam waktu yang cukup lama, dalam bilangan tahun. Pengalaman Nonik dan Tessa bisa menjadi panduan guna mempersiapkan diri lebih baik lagi dan untuk mengambil keputusan yang lebih bijak. Tidak lupa kedua saudari sepupuan ini juga menceritakan pentingnya bersandar pada hadirat Tuhan yang ikut andil dalam setiap peristiwa hidup, tentunya bagi Anda yang percaya akan Tuhan. Kisah-kisah ketika Nonik sempat marah kepada Tuhan, tentang Tessa yang sempat kurang dekat dengan Tuhan, namun Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka, boleh menjadi kesaksian yang menguatkan bagi kita semua, yang percaya adanya campur tangan Tuhan dalam setiap sendi kehidupan kita.

Buat Nonik dan Tessa, sei bravissima! Kiranya kita bisa ketemuan lagi, ya.

Bandung, 8 Februari 2017

Salam,

Linda Cheang

 

Juga bisa dibaca di:

http://lindacheang.blogspot.co.id/2017/02/buku-stranger-at-home-gegar-budaya.html

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

11 Comments to "Buku Stranger at Home: Gegar Budaya Ketika Kembali ke Tanah Air"

  1. Lani  18 February, 2017 at 10:08

    Linda, James: betul sekali, mmg begitu sebelum pindah ke LN kita semua telah menjalani kehidupan keseharian spt org Indonesia pd umumnya. Akan ttp dgn telah lamanya meninggalkan Indonesia yg dulunya dianggap biasa jd tdk biasa lagi, krn mmg berbeda.

    Bukan sok sombong atau apa, krn mmg berbeda la mau dibilang apalagi?

    Jd jgn ada yg bilang “ojo dumeh” atau “kacang lali karo lanjarane” klu itu mah ndak lupa, aku hanya memberikan pendapat yg aku alami kondisi dan situasinya mmg beda, jd bukan krn baik/buruk.

  2. Linda Cheang  18 February, 2017 at 08:18

    Oom Dj Oom Dj, kenapa namanya ilang? hehehehe

    Kalo hal pola pikir dan perilaku lebih tertib, ya, agak sulit di sini. Aku saja sampai detik ini masih suka terkaget-kaget dengan sitasi ketika aku menemukan masih banyak orang yang buang sampah seenaknya, sampai parkir sembarangan. Ketika rasanya cuma aku sendiri yang tertib, aku dipandang aneh oleh orang-orang.

    Namun di kotaku sendiri, sekaragn sudah mulai banyak timbul kesadaran dari kaum mudanya untuk berperilaku lebih baik, lebih tertib, walau baru mulai sedikit ajah.

    Moga-moga ke depannya nggak cuma di kotaku dan Jakarta warga bisa lebih tertib. Nantinya di seluruh Nusantara juga akan bisa tertib

  3. Linda Cheang  18 February, 2017 at 08:12

    Alvina VB iya, resensi buku cukup singkat saja supaya orang-orang pada penasaran ke isi bukunya lalu beli, deh, bukunya

    Hal benturan budaya setelah pulang dari tringgal lama di luar negeri, ya, di Indonesia sini p[asti akan selalu terjadi, namun saya juga bisa memberi apresiasi untuk beberapa tempat/kota yang sudah sadar mau bebenah supaya hidup lebih baik dan lebih tertib.

  4. .  17 February, 2017 at 23:15

    Hallo Linda . .
    Soal budaya itu memang Indonesia sangat kaya budaya .
    Jjadi kalau kita ” pernah ” melihat dan mengalami hidup dalam beberapa budaya di Indonesia,
    maka kita akan bisa menyesuaikan nya .
    Tapi tidak jarang , kalau kita hanya kenal satu budaya dan dengan berjalan nya waktu pasti akan berubah, mau sedikit atau banyak.
    Bukan hanya tempat saja, tapi juga budaya kehidupan masyarakatnya yang juga akan berubah .
    Ini semua karena pengaruh modernisasi .
    Tergantung apakah mereka sudah siap atau hanya mau ikut-ikutan saja agar dilihat tidak ketinggalan .

    Salam manis dari Mainz.

  5. Alvina VB  17 February, 2017 at 12:51

    Wah…congrats ya Nonik dan Tessa utk kelahiran buku perdananya.
    Linda thank you utk bedah bukunya walupun singkat aja euy…. Spt mbakyu Lani bilang, kita2 yg dah lama tinggal di LN, pasti tiap kali pulang kena gegar budaya, krn apa yg dulu juga biasa buat kita di tanah air, sudah jauh di mata selama tinggal di sini. Jadi pas pulang lagi, jadi kaya org bingung gitu…Contohnya di sini mall2, resto atau WC udah gak ada org yg ngerok lagi, udah di ban abis sama pemerintah hampir 10 thnan y.b.l., alhasil pas pulang batuk2 terus abis makan di resto org di belakang ngepul ngerokok, walaupun udah ada tanda dilarang merokok,mau ke WC kok bau rokok ya? Di dlm mall ada tuch yg berani ngerokok, walaupun keliatannya guanteng dan trendy abis. Hal yg dulu kayanya lumrah banget, sekarang kok gak terbiasa lagi ya…… Jangan ditanya cara berpikir dah, udah jauhhhhh beda. Kita mah di sini udah terbiasa yg namanya apa2 udah direncanakan jauh2 hari dan org biasanya tahu, kl mau batalin meeting seminggu sebelumnya atau kl darurat ya 24 jam/ 1 hari sebelumnya dah. Pas di Ind, wuih….masih seenak udelnya, minta meeting, ok….stl itu dibatalin, ok…. eh jadi meeting lagi, gimana sich ya, kaya kita gak punya kerjaan aza….udah gitu tamu disuruh kerja lagi, dengan alasan kekurangan org bu, hadew…..kl di sini mana ada tamu disuruh kerja, emang org gajiannya dia? Udah gitu ditinggalin aja dgn alasan mau Jumatan dulu ya Bu, ja…..itu kantor bisa dgn gampang diobrak-abrik komputernya kl mau nakal ya…abis ditanyain ini passwordnya apa mas? kita gak punya password, bebas aja….hadew…..kl saya jadi mata2 gampang aja kan copy semua program mereka. Nah yg kaya begini gak pernah kejadian di sini, makanya balik ke Jakarta lagi sampe bingung sendiri dah….Makanya di Jakarta, gak heran kl banyak con artistnya, lah wong kesempetan ada gitu loh, di depan mata, tinggal diambil aja, sekali lagi kl emang punya criminal mind.

  6. Linda Cheang  17 February, 2017 at 09:40

    Lani ya, gegar budaya di kampung halaman bagi kita yang pernah tinggal di luar Indonesia, itu sudah pasti. Boleh dikatakan, aku mengalaminya sampai hari ini.

    Perbedaan cara berpikir, cara berperilaku dengan lingkungan tempat kita tinggal, akan selalu ada saja hal-hal bikin aku gegar budaya setiap saat. Benar-benar bikin ‘makan ati’.

    Padahal seperti kata James, ketika kita belum ke luar negeri, cara hidup kita sama saja dengan cara hidup di Indonesia pada umumnya

  7. Linda Cheang  17 February, 2017 at 09:35

    Budi Margomulyo Terima kasih kembali. Ayo, beli bukunya, pesan ke Nonik/Tessa

  8. James  17 February, 2017 at 08:14

    he he ci Lani, kita nya sudah berubah mengikuti cara dimana kita tinggal, padahal dulu kita sebelum pindah juga sama dengan apa yang ada di Indonesia dalam segala hal

  9. Lani  17 February, 2017 at 01:41

    Linda: mahalo sdh diresensi bukunya……..mmg betul jg resensimu krn persis dgn pengalamanku sendiri tiap kali mudik ( tidak setiap tahun ) gegar budayanya semakin jauh dan semakin dalam tidak saja dilingkungan keluarga saja akan ttp secara umum, sptnya merasa sgt asing kembali ke negeri sendiri, dgn segala perubahannya akan ttp kendala terbesar adalah perbedaan cara berpikir yg semakin senjang……..kdg bikin mangkel, sebel, marah, apakah ini kesalahan diriku atau mereka ya hahaha………….

    Tidak bisa dipungkiri memang ada itu yg dinamakan “gegar budaya”

  10. Budi Margomuljo  16 February, 2017 at 11:52

    Terima kasih Linda buat resensinya..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *