Stranger at Home: Gegar Budaya di Kampung Halaman

Louisa Veronica Hartono (Nonik)

 

Akhirnya, setelah satu setengah tahun proses penulisan, kompilasi, koordinasi, edit, mengontak desainer, penerbit, pengeditan, percetakan, pengeditan lagi, akhirnya buku berjudul Stranger at Home: Gegar Budaya di Kampung Halaman pun terbit.

Buku ini merupakan karya kami berdua: saya dan Sasayu alias Tessa, yang menceritakan pengalaman suka duka kami selama berada di luar negeri (Belanda, Finlandia, dan Swiss) dan saat balik ke Indonesia. Berbagai tawa, air mata, hingga peristiwa konyol bin ajaib seperti dapur yang kebakaran di tempat magang, menyaksikan perampokan di hotel yang ditinggali saat sedang liburan, bus yang mogok berkali-kali dalam perjalanan ke Lourdes, kehilangan passport di Swiss, “kekancingan” di luar kamar kos, magang di dua restoran dan menjadi baby sitter, adalah sepenggal peristiwa yang tertulis di buku ini.

Tantangan belum selesai. Ketika di Indonesia, saya dan Sasayu ternyata memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan diri dengan pola pikir, kebiasaan, dan aturan yang berlaku di dalam negeri, setelah sekian lama tinggal di Eropa. Satu tahun lebih berjuang dengan depresi, belum mengalami guncangan keluarga dan kehilangan orang tercinta sangat menguras tenaga dan emosi kami untuk memulihkan diri.

Namun justru di negeri inilah kami mengalami self-discovery lebih dalam, bertemu dengan berbagai komunitas hingga peluang-peluang bisnis baru. Di Indonesia-lah kami mengalami transformasi hati (halaaaah), dari yang tadinya skeptis dan benci terhadap Indonesia – bahkan terhadap Tuhan – menjadi jatuh cinta lagi dan punya harapan terhadap Indonesia. Kami melihat perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia, salah satu yang terbesar adalah tumbuhnya kepedulian kaum muda, terutama generasi muda Tionghoa Indonesia, terhadap situasi politik dan sosial. Kami tidak lagi diam dan berpangku tangan, tetapi mau bangkit, belajar, dan melakukan sesuatu untuk Indonesia, di bidang yang kami bisa.

Terima kasih kami ucapkan untuk semua teman-teman, keluarga, dan handai taulan yang telah menemani kami di masa-masa suram hingga membantu penerbitan buku ini. Mulai dari membantu mengedit, menerbitkan, memberikan endorsement, mencetak, hingga membeli :D  Hohoho. Kami berharap, moga-moga lewat buku ini, para ex-overseas Indonesians tidak merasa kesepian lagi dalam pergumulannya saat kembali ke Indonesia, tidak skeptis lagi, dan bisa percaya serta punya harapan kembali atas bangsa ini (meskipun gak mudah!).

Let’s stand up for this nation, let’s do right for this country.

Dan gak lupa, beli buku dan promosiin buku kami yaaaaa wkwkwkwk ^o^

1 buku= Rp 85.000,00

3 buku= Rp 80.000,00 per buku

5 buku= Rp 75.000 per buku

(belum termasuk ongkos kirim).

Info pemesanan hubungi:

Nonik (081232807783)

Tessa (081311031960)

 

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

11 Comments to "Stranger at Home: Gegar Budaya di Kampung Halaman"

  1. Handoko Widagdo  19 February, 2017 at 10:07

    Selamat untuk Nonik dan Sesayu. Sharingmu melalui buku ini sangat bermanfaat bagi mereka-mereka yang berkesempatan untuk belajar di luar negeri dan tetap cinta Indonesia.

  2. Budi Margomuljo  18 February, 2017 at 13:10

    @Sasayu: sudah message pesan ke Nonik.. terima kasih ya..

  3. Sasayu  18 February, 2017 at 12:34

    @pak budi, monggooo, bs langsung message yaaa

    @tante alvina, thank youuuuuuu banyak2, iyaa belum bikin ebooknya, ngabisin dulu cetakan yg ini

  4. .  17 February, 2017 at 23:10

    Maaaf belum selesai nulis kok sudah terkorom . . .
    Hahahahahahahahaha . . .
    Bisa beli sate kerang atau apa saja yang disuka .
    Kenangan itu selalu ada dalam mimpi-mimpi Dj.
    Jelas, waktu telah berganti dan semua serba modern .
    Tapi Dj akan melihatnya sendiri, baru bisa berkata, sama atau tidak .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !

    Selamat berkarya dan Salam manis dari Mainz uzntuuk kalian berdua.
    Jadi ingat pertemuan dengan Sasayu di Air Port SuTa.
    TUHAN MEMBERKATI . . . ! ! !

  5. .  17 February, 2017 at 23:07

    Dj malah kangen ingin bernostalgi dengan naik KA atau bus biasa keliling Jawa .
    Mengenang perjalanan yang sering Dj. alami saat kecil bersama ayah .
    Misalnya dari Semarang ke Surabya dan dalam perjalanan beli wingko babat

  6. Swan Liong Be  17 February, 2017 at 19:24

    Menurut aku istilah culture shock atau gegar budaya itu dalam hal ini kurang tepat, karena culture shock terjadi kalo kita mengalami budaya lain yang berbeda dan asing, yang kita tidak kenal samasekali.
    Jika kita pulkam maka budaya yang kita tinggalkan itu kita kan sudah kenal, kita hanya memperluas pandangan hidup kita dan lebih mampu membandingkan baik buruknya dua macam budaya. Yang kita jalani sewaktu pulkam yakni membiasakan diri lagi dengan situasi sekeliling kita yang kita sudah kenal sebelumnya.

  7. Alvina VB  17 February, 2017 at 12:57

    Congrats Nonik dan Tessa…..dijual e-booknya gak? Spt mbakyu Lani bilang kl kita beli mah ntar mahal diongkosnya, he..he…musti nungguin pas pulkam thn depan ya…..sapa tahu saking suksesnya ada Part II, he..he…

  8. James  17 February, 2017 at 08:11

    mbak Lani, itu betul ongkir jadi lebih mahal dari harga bukunya

  9. Lani  17 February, 2017 at 01:34

    Welah dalah dua nonik ini merambah dunia dodolan buku to……..klu aku mau beli ongkirnya ora cucuk krn bertikel lipat ngirim ke Hawaii……….hikkkkkkkks……….

  10. Budi Margomuljo  16 February, 2017 at 12:04

    Nonik dan Sasayu, aku mau beli satu buku ya..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *