Menjelajah Sulawesi Selatan 3: Londa dan Baby Grave

Handoko Widagdo – Solo

 

Artikel sebelumnya:

Menjelajah Sulawesi Selatan 1: Kota Pare-Pare

Menjelajah Sulawesi Selatan 2: Negeri di Atas Awan

 

Setelah puas menikmati awan, kami turun dan kembali ke Hotel untuk sarapan. Obyek berikutnya yang menjadi sasaran kami adalah Kompleks Pemakaman Londa. Londa adalah pekuburan bukit. Mayat-mayat yang diletakkan dalam peti disusun di rongga-rongga gua yang terdapat di sebuah bukit kapur. Di sebelah kiri mulut gua terpampang patung-patung almarhum yang dikuburkan di sana. Patung-patung tersebut dibuat dari kayu nangka. Patung-patung tersebut sangat mirip dengan wajah dan perawakan sang mati. Secara berkala, pakaian para patung tersebut diganti. Untuk mengganti pakaian para patung ini dibutuhkan upacara yang berbiaya mahal.

Masuk ke dalam gua kita bisa menyaksikan banyak peti mati yang diletakkan di sela-sela celah gua. Bahkan beberapa sudah dalam bentuk tulang-belulang karena petinya telah lapuk. Di salah satu sudut ada dua tengkorak yang bersandingan. Guide yang membawa kami menjelaskan bahwa dua tengkorak itu adalah sepasang kekasih yang bunuh diri karena cintanya bertabrakan dengan aturan tradisi. Mereka adalah sepupu yang menurut tradisi tidak boleh saling menikah. Namun karena sudah kadung cinta, maka mereka memutuskan untuk bunuh diri. Mayat keduanya disatukan dalam peti. Namun karena peti sudah lapuk maka tinggal dua tengkorak yang masih setia bersama. Itulah msiteri cinta.

Toraja memang terkenal dengan wisata kuburan. Selain Londa yang menyajikan kuburan gua di tebing, Toraja memiliki lokasi kuburan pohon. Bayi-bayi yang meninggal dan belum bergigi dikubur di batang pohon. Kepercayaan Aluk Todolo – kepercayaan orang Toraja pra Kristen, memandang bayi yang mati sebelum tumbuh gigi harus dikembalikan kepada rahim pohon Tarra sehingga bisa terus bertumbuh bersama pohon. Bayi yang meninggal saat masih menyusu akan diserahkan kepada ibu pohon supaya tetap bisa disusui. Memang pohon Tarra yang dipakai untuk mengubur adalah pohon yang bergetah putih seperti air susu. Upacara penguburan bayi disebut Passiliran.

Saat ini tinggal satu pohon yang masih tegak berdiri. “Dulu,” kata salah satu penduduk yang menyertai kami, “ada beberapa pohon yang dipakai untuk mengubur bayi. Namun sekarang tinggal satu yang masih hidup. Yang lain sudah tumbang karena umurnya sudah tua.” Memang tinggal hanya satu pohon yang masih tegak berdiri. Itupun pohonnya sudah merangas dan hampir mati.

Praktik mengubur bayi di pohon sudah tidak lagi dilakukan. “Sejak kami menjadi Kristen, kami tidak lagi mengubur bayi di pohon,” kata seorang ibu yang kami tanyai. Namun ibu ini tidak ingat kapan upacara penguburan bayi di pohon dilakukan di Kambira. “Sudah lama sekali,” jawabnya singkat.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia.

Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

17 Comments to "Menjelajah Sulawesi Selatan 3: Londa dan Baby Grave"

  1. Handoko Widagdo  25 February, 2017 at 16:16

    James, iya. Bagi sang mati yang pada saat hidupnya suka rokok akan selalu dikirimi rokok sebagai sesajinya. Demikian pula bagi yang suka dandan akan dikirimi lipstik dan bedak.

  2. Handoko Widagdo  25 February, 2017 at 16:13

    Avy, oh maaf, ternyata saya salah. Foto dengan langkan LOVE tidak ikut termuat dalam artikel ini.

  3. James  25 February, 2017 at 06:17

    mas Hand , itu dalam foto mas Hand bersama tenggkorak kok ada beberapa batang rokok ? apa itu sesajen ? wkwkwk….ngeri dong

  4. Alvina VB  24 February, 2017 at 01:36

    Yg mana Han? Foto no. berapa?

  5. Handoko Widagdo  23 February, 2017 at 06:50

    Avy, yang harus dilihat di foto saya jangan tengkoraknya. Tapi lihatlah batu yang membentuk langkan LOVE.

  6. Alvina VB  22 February, 2017 at 23:27

    Hadew…..Han, fotonya itu loh…..wah gak tahu mau ngomong apa dah…..Kl di sini, media lagi heboh dibilangnya selfie dgn org yg meninggal udah dianggap gak etis lah, mosok sich selfie di depan jenasah yg sedang berbaring di dlm peti mati, opo tumon…..

  7. Handoko Widagdo  22 February, 2017 at 08:42

    Kangmas Djoko belum pernah ke Baby Grave? Suatu hari harus ke sana sebelum pohonnya tumbang.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *