Perceraian Membawa Kebahagiaan

Audry Djayasupena – Belanda

 

Perceraian itu pasti menyakitkan, tapi mempertahankan perkawinanpun menyakitkan. Kalau perceraian adalah yang terbaik demi kebahagian diri kita sendiri, kenapa nggak? Walau akhirnya anak-anak pasti akan menjadi korban dari perceraian itu, tetapi apa yang sudah kita putuskan untuk berpisah dari pasangan hidup kita itu juga demi kebahagian dan masa depan anak-anak kita.

Karena tentu kita tidak mau melihat anak-anak hidup penuh dengan ketegangan dalam rumah tangga. Melihat orangtuanya selalu ribut terus dari hari ke hari tidak ada kebahagiaan sama sekali. Apalagi kalau lagi ribut piring gelas dan barang-barang dalam rumah tangga berseliweran berterbangan hanya karena ingin saling menyakiti satu sama lain. Yang ada, anak-anak menjerit-jerit nangis melihat adegan itu. Alih-alih kita melindungi anak-anak yang sedang menangis ketakutan, malah anak kita itu juga menjadi korban kemarahan dengan memukulnya, mencubitnya agar tangisannya reda…

Wuiiih…bener-bener mengerikan. Kita seperti hidup dalam neraka dunia kalau punya rumah tangga seperti itu.

Saat kita menikah tentu kita memimpikan sebuah rumah tangga yang utuh dan harmonis. Membesarkan anak-anak bersama sampai mereka dewasa, menikahkan dan punya anak memberikan kita cucu yang manis-manis dan sehat. Tetapi ternyata impian kita hanya tinggal impian, ketika kita sudah menjalani sebuah biduk rumah tangga impian kita itu hilang karena masalah-masalah rumah tangga yang terjadi membuat diri kita tidak bisa lagi memutuskan bertahan membangun keluarga yang kita impi-impikan itu sampai tua menjadi Oma-Opa.

Mengambil keputusan untuk bercerai tentu adalah sebuah keputusan yang harus benar-benar kita pikirkan secara matang. Perceraian bukan keputusan main-main yang kita ambil dalam hidup kita. Tentu kita harus mempertimbangkan baik buruk dan untung ruginya jika memutuskan berpisah dari pasangan hidup kita.

Umumnya dalam sebuah rumah tangga, perempuan lebih ingin mempertahankan rumah tangganya, terlepas rumah tangganya bahagia atau tidak dengan alasan demi anak-anak, demi orangtua dan demi lingkungan. Tetapi untuk mengambil keputusan bercerai, wanita tidak pernah memikirkan demi dirinya sendiri.

Padahal diri kita juga berhak untuk berbahagia. Kenapa kita harus memikirkan kebahagian mereka, sedangkan tidak ada seorangpun yang memikirkan kebahagian diri kita sendiri. Oleh karena itu hanya diri kita sendirilah yang harus menyelamatkan kebahagiaan kita. Karena kita sendiri yang tahu jalan terbaik bagi masa depan kita sendiri bukan mereka.

Siapa sih, yang mau hidup dalam rumah tangga dengan penuh ketegangan, kekuatiran, dan selalu hidup dalam ketakutan? Apalagi kalau pasangan kita suka banget melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Apa mau selamanya kita hidup dalam ketakutan dengan orang yang kita cintai? Sementara orang yang kita cintai itu jelas-jelas tidak mencintai kita lagi. Karena kalau dia memang mencintai kita sebagai istrinya, dia nggak akan menyakiti kita. Bukan begitu?

Umumnya laki-laki makin kita bertahan bukan makin simpatik atas kesedihan kita, mereka malah semakin bertingkah menjadi-jadi. Dia berpikir kita nggak bisa hidup tanpa dia. Dia pikir bahwa kita nggak akan berani mengambil langkah untuk berpisah darinya. Dia pikir kita ini perempuan bodoh yang tergantung hidupnya dari dia.

Jika kita mempunyai pasangan hidup yang jelas-jelas suka menyiksa, tidak setia, atau apapun masalahnya, kalau pada dasarnya tidak membawa kebahagiaan lagi, sebaiknya kita memutuskan untuk berpisah saja.

Perceraian adalah jalan keluar yang terbaik jika kebahagian sudah tidak bisa diperoleh dalam berumah tangga. Ingat, bahwa kita juga berhak dan butuh kebahagian dalam hidup kita ini. Jadi buat apa kita bertahan menyiksa diri dalam sebuah rumah tangga kalau rumah tangga kita tidak membawa kebahagiaan? Sekali kita mengambil langkah untuk keluar dari rumah tangga seperti itu, jangan lagi kita menengok ke belakang. Mantapkan diri untuk melangkah keluar menuju kebahagian dan masa depan kita sampai tua dan mati. Jangan pernah salah jalan lagi. Kita bisa mengambil pengalaman hidup di masa lalu untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Awalnya kita memang penuh ketakutan dan kekuatiran untuk melangkah keluar dari sebuah rumah tangga seperti itu. Tetapi ketika kita sudah berani melangkah keluar dari sebuah rumah tangga seperti itu, tanpa kita sadari tiba-tiba ada kekuatan dalam diri kita untuk bangkit dan menghadapi semua prahara itu.

Pada akhirnya, ketika kita sudah memutuskan melangkah keluar dari kemelut rumah tangga seperti itu dan menemukan kebahagiaan yang baru, pasti dalam hati kita akan berkata, ”Kenapa tidak dari dulu saja minta cerai?”

 

Salam Bhineka Tunggal Ika

 

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Perceraian Membawa Kebahagiaan"

  1. Audry Djayasupena  4 March, 2017 at 16:29

    Buat semua temen2 yang sudah berkomentar ataupun yang cuma membacanya terima kasih appresiasinya.

    Setiap kehidupan manusia dalam berumah tangga keputusan terbaik ada pada diri kita sendiri karna kita yang merasakannya bukan orang lain. Jadi keputusan apapun itu mau cerai ataupun tetep bertahan dengan pasangannya itu juga hak setiap orang yang menjalaninya

    Salam Bhinneka Tunggal Ika

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *