Menjelajah Sulawesi Selatan 4 (Habis): Tongkonan

Handoko Widagdo – Solo

 

Artikel sebelumnya:

Menjelajah Sulawesi Selatan 1: Kota Pare-Pare

Menjelajah Sulawesi Selatan 2: Negeri di Atas Awan

Menjelajah Sulawesi Selatan 3: Londa dan Baby Grave

 

Dalam perjalanan kami di Toraja, kami menemukan banyak sekali rumah adat Toraja yang disebut Tongkonan. Tongkonan kami temui di sepanjang jalan dari Makale ke Rantepao dan ke tempat-tempat wisata yang kami kunjungi. Ukuran tongkonan yang kami temui ada berbagai macam. Ada yang besar dan beberapa bangunan di satu tempat, namun ada yang sederhana dengan satu bangunan utama berhadapan dengan dua tongkonan kecil saja.
Uniknya semua atap tongkonan selalu menghadap utara. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan orang Toraja bahwa leluhur mereka berasal dari utara dan ketika mereka mati, rohnya akan berkumpul kembali dengan roh-roh nenek moyang di utara.

Di kompleks tongkonan besar seperti kompleks Kete Ketsu dan Musium Ne’ Gandeng kita bisa menyaksikan bangunan tongkonan utama yang besar dan didampingi banyak tongkonan kecil-kecil.

Kete Ketsu adalah kompleks tongkonan kuno yang berfungsi salah satunya untuk menyimpan jenasah sebelum dilakukan upacara Rambu Solo. Di dekat Kete Ketsu ada kuburan bukit yang mirip dengan Londa.

Di Musium Ne’ Gandeng yang saat ini sedang dibangun, kita bisa menyaksikan patung-patung leluhur yang di simpan di atap. Patung yang dibuat dari kayu ini sangat mirip dengan sosok aslinya. Musium Ne’ Gandeng juga dipakai untuk melaksanakan upacara Rambu Solo, yaitu upacara penguburan mayat yang sangat besar, meriah dan sangat mahal. Upacara yang mengorbankan banyak kerbau belang (Tedong Bonga) yang harganya sangat mahal.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Menjelajah Sulawesi Selatan 4 (Habis): Tongkonan"

  1. Handoko Widagdo  28 February, 2017 at 06:56

    Avy, tongkonan memang indah. Bukan hanya ornamennya yang harus dibuat dengan tangan (dilukis), tetapi atapnya juga harus dibuat dengan tangan. Atapnya terdiri atas potongan-potongan bambu yang ditata sedemikian rupa untuk bisa saling berkait dan menumpuk secara stabil.

  2. Handoko Widagdo  28 February, 2017 at 06:55

    Kangmas Djoko, ayo segera berkunjung ke Toraja kembali. Sebentar lagi akan tersedia penerbangan langsung Jakarta – Toraja, tanpa harus lewat Makassar.

  3. Handoko Widagdo  28 February, 2017 at 06:54

    Lani, upacara kematian orang Toraja memang sadis dengan mengorbankan banyak kerbau. Lagi pula mahal. Seorang lelaki Toraja bekerja keras untuk orang mati, demikian ungkapan yang sering terujar. Sindhunata sangat menentang upacara ini.

  4. Handoko Widagdo  28 February, 2017 at 06:52

    Terima kasih James, sudah memperjakai.

  5. Alvina VB  28 February, 2017 at 04:57

    Thanks James….Hebring euy bangunannya, artistic banget, itu pasti dilukis pake tangan ya Han?

  6. Lani  28 February, 2017 at 01:21

    Hand: saking banyaknya kerbau yg dikorbankan utk upacara penguburan bisa dilihat ditiap rumah adat dipajang sungu kebo berderet-deret…………akan ttp yg jelas aku tdk akan berani melihat upacara adat dgn pembunuhan kerbau yg sgt sadis menurutku pribadi……….hujan darah dimana-mana…………aduh ngeriiiiiiiiiii

  7. .Dj. 813  28 February, 2017 at 01:09

    Mas Handodoko . . .
    Jadi ingin ke TaTor lagi nih . . .
    Bikin kangen saja . . .
    Hahahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Salam manis untuk keluarga dirumah ya.

  8. Lani  27 February, 2017 at 23:06

    James: Pesawatku telat………untung ada yg tanda tanganin mahalo

  9. James  27 February, 2017 at 14:28

    1….SulSel

    Kenthirs absenin…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *