Dari Seruput Kisah Kopi Luwak Vietnam, Jejak Bahasa Indonesia di Israel, hingga Kopi Lanang Toraja

Dwi Setijo Widodo

 

Bila saya diminta memilih antara hutan atau pantai untuk liburan, dengan pasti akan saya jawab hutan. Bukan karena takut kulit gelap saya tambah gulita, tetapi karena buat saya hutan selalu sarat dengan kesempatan mengenal dijelajahi. Kebetulan saya suka jagad tetumbuhan, menjelajahi hutan membuat saya selalu takjub betapa beragamnya karunia semesta.

Nah, bila ditanya, kalau liburan di suatu tempat, hal-hal apa saja yang selalu menarik perhatian saya, selain alam. Dengan pasti, jawabannya adalah budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Ya, dengan mengenal budaya dan kehidupan masyarakat setempat membuat liburan saya selalu kaya akan pengalaman, pengetahuan, dan wawasan. Liburan bagi saya, selain harus selalu menyenangkan dan tak terlupakan, di akhir perjalanan harus memperluas cara saya memandang dan menghargai berbagai perbedaan.

Bertemu, berbincang, dan mendengar kisah masyarakat setempat dalam perjalanan saya selalu memunculkan hal-hal unik, membuat terkejut, tersenyum, tertawa, bersyukur, bermacam rasa dan kesan yang menjadi kenangan hingga sekarang seperti cuplikan perjalanan di bawah ini.

 

Ibu Penjual Kopi dan Bapak Tukang Stempel dari Hanoi

Saat hari pertama sampai di Hanoi, Vietnam, berdua teman saya, kami menyusuri sebuah jalan di wilayah pelancong mancanegara yang meriah dengan biro perjalanan wisata, toko cinderamata, penginapan, rumah makan di sepanjang kiri-kanan jalan. Tiba-tiba mata saya melihat ada yang menarik di sebuah warung kecil menjual berbagai jenis kopi. Ada tulisan “KOPI LUWAK” dalam toples hitam besar menyeruak yang membuat saya berhenti. Ya, bagi penggemar kopi pasti tahu kalau Vietnam memang terkenal akan kopinya. Tapi bagaimana ada kopi Indonesia dijual di sini? Dengan rasa ingin tahu, saya melongok melihat isi warung. Ada ibu muda yang sedang memasak di dalam yang kemudian keluar dan mempersilakan saya untuk melihat isi warungnya.

“Apakah kopi ini dari Indonesia?” tanya saya hati-hati sambil menunjuk toples dengan tulisan kopi luwak. Ibu itu tersenyum dan menjelaskan kalau itu kopi asli dari Vietnam.  Ah, ternyata saya salah. Masih penasaran, saya tanya lagi, “Tapi Anda tahu kan arti kata dari kopi luwak dan itu dari Bahasa Indonesia?” Dijelaskan lebih lanjut oleh si Ibu bahwa kata “Kopi Luwak” sudah menjadi nama dagang di Vietnam.

Meski asli kopi dari Vietnam, kopi yang diambil dari kotoran musang atau luwak ini diberi label “Kopi Luwak” bukan “Civet Coffee”. Ah, saya jadi ingat kisah film “The Bucket List” yang dibintangi Morgan Freeman dan Jack Nicholson yang memang awalnya mempopulerkan kata “kopi luwak” sehingga dikenal mendunia istilahnya hingga sekarang dan sampai juga di Hanoi.

Karena tak bermaksud membeli, si Ibu memang baik hati, beliau menawari saya mencium aroma kopi luwaknya yang memang sangat harum dan membuat berlinang air mata begitu mengetahui harganya. Sebelas duabelas mahalnya dengan kopi luwak asli di Indonesia. Alhasil, menjaga kesopanan dan untuk berterima kasih atas informasi yang sangat menarik dari si Ibu, saya cukup membeli saringan kopi khas Vietnam (phin). Mungkin membaca dari mata saya yang ingin membeli tapi maunya gratis, kami ditawarin bonus gratis dua cangkir kopi “Vietnam Coffee Drip” panas-panas. Masing-masing untuk teman saya dan saya. Mata saya langsung berkelap-kelip, menyeruput menikmati kopi sambil melanjutkan obrolan. Hmm…rejeki nomplok mana lagi yang harus didustakan…

Hari berikutnya, masih di Hanoi, kami masih asyik menikmati blusukan di sekitaran penginapan kami. Setelah setengah hari keliling, kami sampai di pojok selasar Jalan Hang Quat dimana kami melihat seorang bapak dan anaknya sedang duduk mengukir stempel kayu di depan tokonya sementara ada dua anak muda menunggu mengelilinginya. Kami mampir. Si Bapak tersenyum melihat kehadiran kami.  Kami tertarik mengamati kelincahan tangan keduanya mengukir stempel-stempel unik dengan berbagai bentuk dan gambar disain khas Vietnam yang dipengaruhi oleh gaya seni ukir Cina itu. Saya jadi ingat dengan gaya kerajinan ukir di Toraja.

“Untuk apa sebenarnya stempel ini?, tanya saya ingin tahu karena juga melihat ada beberapa cetakan kue mochi di sana dengan disain gambar yang mirip. Sambil mengukir sebuah nama di stempel terakhir yang ternyata pesanan dari dua anak muda tersebut, sementara tangan saya tergerak memilah dan lincah menemukan beberapa disain menarik, si Bapak menjelaskan, “Ini suvenir khas dari Vietnam. Kalian bisa menggunakannya untuk penanda barang-barang pribadi, seperti di buku.” “Cukup dengan 5 Dollar Amerika untuk satu stempel. Ukiran nama gratis,” lanjutnya ketika saya tanya soal harganya setelah akhirnya memilih dua stempel dengan gambar ikan koki dan lotus. Keduanya lambang keberuntungan. Cinderamata yang cocok untuk saya sendiri dan satu orang sahabat saya. Unik, kreatif, ringan, dan cukup murah.

Saya pun meminta dibuatkan tulisan di kedua stempel itu. Sambil menunggu, kami melanjutkan obrolan dimana si Bapak menebak saya dari Indonesia. “Kok tahu?” sambut saya terkejut dan kemudian tertawa. Ternyata beliau sering bertemu orang Indonesia di sini.  “Saya tahu Indonesia. Soekarno. Indonesia adalah negara pertama  yang membangun hubungan diplomatik dengan Vietnam. Indonesia adalah sahabat Vietnam.” Ya, Bapak itu benar sekali. Sempat saya membaca berita bahwa saking bagusnya hubungan Vietnam-Indonesia, Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi dan bahasa kedua setelah bahasa Vietnam sejak 2007. Tak salah pas saya blusukan di Pasar Ben Thanh, Ho Chi Minh, para penjual cinderamata lihai menawarkan barangnya dengan Bahasa Indonesia. Yang jelas pula, Ciputra Group mempunyai properti besar di Hanoi. Dan buat saya, perjalanan di Vietnam, terutama di Hanoi, memberikan kenangan yang membuat saya ingin kembali. Nanti.

 

Jejak Bahasa Indonesia di Mesir, Israel, hingga Jordan

Bicara Bahasa Indonesia saat saya mengikuti sebuah tur ke Mesir, Israel, dan Jordan dengan grup dari Indonesia, perjalanan 13 hari yang dimulai dari Mesir ini memberikan banyak kejutan. Bukan karena berasa bermimpi akhirnya bisa menyaksikan piramida di Giza yang megah dengan patung Spinxnya, menyusuri Sungai Nil sambil disuguhi tarian perut nan seksi, trekking ke Gunung St. Chaterine tempat Nabi Musa menerima 10 perintah Tuhan, tempat Yesus dilahirkan, atau memandang lanskap dengan keindahan Masjidil Aqsa di Jerusalem, namun karena mendengar Bahasa Indonesia diucapkan dengan fasih oleh orang-orang setempat di sepanjang perjalanan kami. Dimulai oleh seorang pemandu lokal kami saat di Mesir, Said namanya, kami semua terpana karena Bahasa Indonesianya yang sangat fasih. Tidak hanya yang baku, Said bisa menggunakan berbagai lelucon Bahasa Indonesia dengan kami dan kami tergelak dibuatnya.

Ah, mungkin karena Said memang pemandu dan harus menggunakan Bahasa Indonesia yang ternyata dipelajarinya di Jogjakarta sebagai pengantar bagi grup yang dibawanya. Begitu pikir saya. Namun, tak berhenti di situ, tak hanya pemandu, seperti Ahmed Mousa yang saya temui di Gunung St. Chaterine, Sinai, yang belajar otodidak Bahasa Indonesia dengan kawan-kawan pemandu dari Mesir yang sering membawa wisatawan Indonesia, ternyata dari pemilik toko hingga para penjual suvenir asongan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sangat lihat menawarkan barang dalam Bahasa Indonesia. “Murah, murah. Hanya satu Dollar.”

Demikian juga di Israel. Meski hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel hingga hari ini tidak ada, ternyata jumlah kunjungan wisatawan Indonesia, terutama di jalur rohani, sepanjang tahun tidak pernah berhenti. Wisatawan Indonesia adalah wisatawan potensial karena suka membeli oleh-oleh di setiap tempat. Tak heran, Bahasa Indonesia menjadi makanan mereka sehari-hari.

Dari sekadar menyebut kata “murah” atau “satu Dollar”, berkembanglah kosa kata mereka dari mendengar dan berlatih otodidak. Begitupun geliat wisata rohani di Jordan. Bahasa Indonesia terdengar tidak asing di sepanjang langkah kami. Jejak wisatawan Indonesia terekam jelas pada para pelaku wisata lokal di sana. Hingga saya sempat ter-wow saat mengunjungi Gereja Pater Noster dimana ada “Doa Bapak Kami” dalam Bahasa Indonesia, Batak, Palembang, Toraja, Biak, Sunda, hingga Jawa.

Termasuk bangga melihat karya seniman keramik F. Widjajanto, Mozaik Bunda Maria, terpasang anggun di selasar Basilika Kabar Sukacita di Nazareth. Yang seru, saat kami beristirahat di sebuah rest area di wilayah antara Jerusalem dan Nazareth, kami disapa oleh seorang bapak paruh baya…dalam Bahasa Indonesia. Ternyata pernah lama tinggal di daerah Canggu, Bali. Juga saat jalan sore-sore di pasar senggol di Tiberias, saya diajak ngobrol dalam Bahasa Indonesia oleh seorang bapak paruh baya juga. Hampir sama ceritanya, hanya beliau tinggal di Jakarta waktu itu. Yang bikin tersipu, melihat pasangannya, saya langsung bertanya, “Ibu tinggal dimana di Indonesia?” yang ternyata langsung dijawab oleh si Bapak, “Oh, dia bukan orang Indonesia, tapi dari Filipina.” Walah, salah saya…habis mirip banget sih dengan perawakan perempuan Indonesia. “Maaf sekali,” saya menangkupkan tangan di dada sambil berpamitan melanjutkan perjalanan.

 

Bapak Suleman Miting dan Kisahnya Mengangkat Kopi Toraja

Berbicara tentang kopi Vietnam, tak lengkap bila tidak menyertakan kisah kopi Indonesia yang terkenal di dunia, salah satunya kopi Toraja. Berkunjung ke Toraja, bagi pecinta kopi, memang tak lengkap tanpa menikmati wanginya aroma dan sedapnya sesapan kopi Toraja. Saya diperkenalkan dengan Warung Kopi KAA oleh kawan kantor saya saat berada di Rantepao, Toraja Utara. Meski kecil, ternyata warung kopi yang terletak di Jalan Pongtiku di samping Hotel Misiliana ini menyediakan kopi pilihan, dari biji hingga bubuk, sesuai pesanan.

Buat saya, yang paling membuat kami betah waktu itu adalah cerita Pak Suleman Miting, sang pemilik Warung Kopi KAA tersebut. Sambil menikmati seduhan kopi lanang Toraja tanpa gula saya dipadu dengan renyah-manisnya kue deppa tori, saya belajar tentang proses dan istilah sangrai (roasting), dari light, medium, dark, dan fully dark. Bahwa orang Jepang lebih menyukai kopi jenis light roast, lamanya proses sangrai mempengaruhi keasaman biji kopi, hingga obrolan kami yang semakin jauh tentang sejarah kopi di Indonesia yang dibawa oleh pedagang dari Arab hingga Toraja. Termasuk kisah nama “Kaa” dari warungnya yang ternyata berasal dari kata Arab, “qahwa” yang berarti kopi. Saya yang hanya penikmat sosial kopi hari itu menjadi semakin memahami dan menghayati nikmatnya seduhan kopi lanang saya yang ternyata berkhasiat banyak.

Sementara anak Pak Suleman, Ayub, menggiling kopi pesanan kawan-kawan, dari kopi Awan, Sapan, Pulu Pulu hingga jenis kopi lanang atau peaberry yang harumnya menyeruak ke seluruh ruangan warung, obrolan kami bergulir hingga bagaimana beliau dulu memperjuangkan harga kopi Toraja di pasaran agar tinggi sehingga para petani mempertahankan kebun kopinya, menjaga kualitas kopinya, hingga kami diajak melihat alat sangrai kopi hasil karyanya yang unik, yaitu menggunakan kuali tanah liat sebagai tungku yang direka terhubung dengan komputer untuk mengatur suhu. Kuali inilah yang menjadi ikon dalam produk-produk kopi kemasannya. Di akhir kunjungan, saya merenung, ternyata menghargai seruputan kopi akan terasa lebih nikmat bila ada kisah di baliknya yang kita ketahui.

 

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Kalstar, Edisi Januari – Februari 2017)

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

12 Comments to "Dari Seruput Kisah Kopi Luwak Vietnam, Jejak Bahasa Indonesia di Israel, hingga Kopi Lanang Toraja"

  1. Dwi Setijo Widodo  21 April, 2017 at 17:15

    Terima kasih banyak, Mbak/Ibu Sierli.
    Salam jalan-jalan dan selamat Hari Kartini.

  2. Sierli FP  12 April, 2017 at 08:56

    Cerita jalan2nya sangat menyenangkan dan menggembirakan hati.
    Salam jalan2.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *