Bukan tentang lamaran tercepat, tapi hati harus terpikat

Wesiati Setyaningsih

 

Kemarin Dila kirim link di inbox saya. Dia memang suka begitu kalau ada yang ingin dia diskusikan dengan saya. Saya baca, isinya seorang cewek yang menikah dengan laki-laki yang melamarnya tiba-tiba padahal dia sudah pacaran dengan pria lain selama setahun.

Dila mengirim link itu karena hal ini menjadi pembicaraan antara dia dan temannya. Awalnya mereka bicara tentang pernikahan. Dila bilang, “kalau aku nggak diharusin Mamaku nikah, kok. Terserah aku aja.”

Temannya surprise. “Wah, enak amat!” katanya. “Kalo aku harus nikah. Bentar lagi mamaku pasti maksa-maksa aku nikah. Lha gimana? Mamaku juga pasti males dengerin omongan orang yang maksa-maksa Mamaku nyuruh aku nikah. Semua kena dampak dari lingkungan.”

Jelaslah. Saya bilang ke Dila, bahwa memberi dia kebebasan jelas bukan hal yang mudah di lingkungan di mana saya berada. Saya harus siap jadi bumper buat keputusan dia, apapun itu. Buat saya, kebahagiaan anak saya adalah segalanya. Omongan orang jelas di luar kuasa saya, juga sama sekali tidak ada relevansinya dengan kebahagiaan kami sekeluarga. Jadi saya siap saja menjawab dengan senyuman atau diamkan saja.

Nah, ketika Dila mengirim link kisah tersebut, saya bilang, “kalau memang niat awalnya cuma menjalin cinta, ngapain buru-buru pengen nikah, lantas menerima lamaran yang paling cepat datang?”

Cinta dan kecocokan tidak mudah didapatkan. Lamaran tercepat tidak menjamin apa-apa selain mengubah status dari single menjadi ‘menikah’ yang seolah menjadi tujuan paripurna para gadis. Kenapa harus terpesona pada dia yang buru-buru melamar?

Agak mengherankan buat saya, ketika jaman sudah demikian maju, perempuan punya begitu banyak pilihan, menikah tetap menjadi tujuan utama. Jadi menanggapi artikel tersebut, saya bilang, “nggak masalah juga akhirnya menikah sama orang lain. Cuma pastikan memang dia laki-laki yang berhasil merebut hati dan jelas secara karakter lebih mendekati kriteria. Kalau enggak, buat apa? Semua materi, pangkat, jabatan, pendidikan nggak akan menjamin apa-apa. Apalagi ketenaran Bapaknya. Jauh sekali dari jaminan kebahagiaan.”

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Bukan tentang lamaran tercepat, tapi hati harus terpikat"

  1. Lani  11 March, 2017 at 13:19

    Al: betul juga mind-set nya hrs diubah……….

    James: kamu juga benar, buat apa asal menikah takut klu dibilang ora payu/perawan tua dll…………..nabrak2 malah benjut dewe………..kkkkkk…….krn menurutku seandainya memilih tidak menikahpun klu bahagia why not???? Ya nggalah klu tdk menikah trs jadi lesbian…….

  2. James  11 March, 2017 at 06:56

    ci Lani, dari dulu sy selalu beri nasihat kepada Mendiang Kedua Adik Perempuanku, kalau tidak menemukan Pria yang baik bertanggung jawab JANGAN NIKAH, karena hanya akan membawa Bencana Berkepanjangan jadi ya artinya Tidak Semua Wanita Perempuan harus Menikah, jalan pikiran Kuno yang harus dilempar jauh-jauh, tapi disamping itu juga bukan berarti Boleh Lesbi loh

  3. Alvina VB  11 March, 2017 at 01:44

    Westi: di Indonesia mind-set org tua yg musti dirubah dulu. Wanita yg independent masih susah utk diterima di Indonesia. Pikiran org tua yg kuno – kl punya anak wanita, udah dewasa dikit langsung dech dicariin calon suami, opo tumon….Pendidikan buat anak wanita mustinya no.1 kawin ya no. ke sekian gitu loh…..Kl masyarakat mau maju, yg majuin kaum hawanya dulu.

  4. Dewi Aichi  10 March, 2017 at 23:22

    kalau soal pilihan tidak menikah pada anak sendiri buat aku sih gpp, ngga peduli ama omongan tetangga, tapi kalau seperti pengalaman seorang ibu langganan penjahitku, anaknya ganteng banget, desain baju2, umur 24 tahun….pacaran sama wanita yang cerai, umur 46 tahun, punya anak2 remaja…..

    aku ngebayangin sebagai ibunya kayaknya juga susah sih menerima, masak pacar si anak nyaris seumuran ibunya di anak.

  5. wesiati setyaningsih  10 March, 2017 at 18:43

    enggak mudah membiarkan anak memilih apa yg mereka mau kalo kita sendiri belum mampu melepaskan diri dari stigma orang.

  6. Lani  10 March, 2017 at 08:14

    Wesi: mmg kayaknya msh banyak disini bahwa perempuan itu KUDU harus menikah……….sulit ya jd perempuan, spt nya tdk punya suara utk memilih mau single/menikah…………kasian!

    Nah utk menjadi bahagia itu adl tanggung jawab masing2 pribadi orang itu sendiri, utk bahagia/tdk…………krn kebahagiaan itu ada didlm hati masing2

    James gimana menurutmu apakah wanita harus menikah??????

  7. James  10 March, 2017 at 08:13

    halo para Kenthirs bahagia ndak di Baltyra ?

  8. James  10 March, 2017 at 08:12

    1….kebahagiaan tidak dapat dibandingkan dengan hal lainnya, kebahagiaan itu mahal sekali tidak dapat dinilai dengan Uang atau apapun karena Kebahagiaan = Kebahagiaan

  9. Handoko Widagdo  10 March, 2017 at 08:03

    Menjadi independen memang susah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *