Pengalaman Pribadi Ikut Tax Amnesty

Fire – Yogyakarta

 

Saat masih periode pertama saya pernah iseng-iseng tanya lewat email. Kira-kira seminggu lebih baru dapat jawaban. Mungkin saja para staf pajak sendiri juga belum begitu mudheng sehingga lama njawabnya.

Tapi saya belum ikut saat periode pertama. Jadi belum bisa bareng sama para konglomerat. Mungkin karena saya hanya konglomelarat… wakakak…

Suatu pagi yang cerah, hati saya tergerak untuk melangkahkan kaki ke kantor pajak. Tadinya saya khawatir ada penggemar yang mengenali saya terus nanya yang aneh-aneh:

“Lama nggak syuting ya, Mas?”
“Iya, terakhir syuting sebelum Titanic …”
“Lho kalo yang pilem action bareng Eva Arnaz dan Barry Prima bagaimana …?”
“Bukan. Itu bareng Bo Derek dan Brigitte Bardot …”
Mbuh …. Taon piro …..?

Ruangan untuk tax amnesty tersedia sendiri. Total sekitar empat kali saya ke kantor pajak, dari sejak mulai konsultasi, karena awalnya saya “buta huruf” mengenai tax amnesty, sampe dengan kedatangan terakhir untuk menyerahkan berkas yang diperlukan. Awalnya memang saya telah mencari sejumlah informasi dari internet maupun berita di koran dan tipi, tapi tetap belum mudheng juga.

Saat pertama datang, ketemu petugas selain diberikan penjelasan, juga kita diberikan salinan file Excel berupa semacam template yang akan mempermudah kita dalam menyusun berkas-berkas yang diperlukan untuk tax amnesty. Saya memanfaatkan file template tersebut, yang sangat membantu, selain lebih cepat, juga mengurangi kesalahan. Tentu saja, tetap ada yang perlu dibuat secara manual. Saat menyesuaikan dengan format berkas yang diperlukan, Mbak-mbak petugas (kebetulan saya ketemunya mbak terus bukan mas), juga sigap membantu, karena memang dari template yang tersedia masih perlu di-edit lagi agar sesuai dengan format yang diperlukan. Jadi kalo mau konsultasi tax amnesty ke kantor pajak, saya sarankan siapkan bawa flasdisk sehingga bisa menyalin file template yang diperlukan.

Pada kedatangan ketiga, konsultasi mengenai pengisian berkas yang diperlukan untuk tax amnesty, karena ada sejumlah kolom yang saya belum pahami cara pengisiannya. Setelah selesai, akhirnya saya mendapat print kode billing. Nantinya, saya ke bank dengan berbekal kode billing tersebut, untuk menyetorkan tebusan tax amnesty.

Pada kedatangan terakhir, dengan membawa berkas-berkas yang sudah komplit, termasuk slip bukti setoran tebusan dari bank. Sebenarnya, waktu pertama konsultasi dulu, saya pernah menanyakan bagaimana menerima surat tax amnesty. Petugas pertama yang saya temui, mengatakan, bisa dikirim ke alamat, bisa juga kalo mau diambil sendiri ke Kanwil. Karena itu saat terakhir datang menyetorkan berkas, saya minta ke petugasnya, kalo surat tax amnesty mau saya ambil sendiri ke Kanwil, karena menurut saya ini berkaitan dengan faktor kerahasiaan isi surat. Tapi entah kenapa, petugasnya ngeyel, tetep kekeuh ini harus dikirim ke alamat. Yo wisss lah, sakarepmu mbak …… Nggak tahu, kenapa jawaban petugas bisa beda-beda gitu, entah pemahaman yang berbeda, atau petugasnya kurang mudheng ….

Dari rumah saya sudah print semua berkas laporan, tempel meterai yang diperlukan, diteken. Tapi saya sudah persiapan juga bawa meterai cadangan, siapa tahu nanti masih ada koreksi, jadi langsung print lagi dan teken di sana. Untunglah semuanya beres, nggak perlu nyetak lagi.

Dari pengamatan saya, ruang yang disediakan untuk keperluan tax amnesty cukup sepi. Saat saya datang ketika awal periode kedua, kursi tunggu melompong, dan saya hanya mengantri satu orang saja sebelumnya. Ada sekitar 5 petugas yang duduk menerima konsultasi. Sedang untuk jalur pelaporan berkas (bagi yang hendak menyerahkan berkas termasuk slip bukti setor tebusan), dipisahkan di jalur tersendiri. Baru pada saat saya datang terakhir, sekitar seminggu menjelang berakhirnya Periode II, mulai agak rame. Itu pun ramenya di bagian konsultasi, sedangkan di bagian pelaporan berkas, hanya beberapa antrian, padahal saya agak siang datangnya.

Berikut gambaran situasi ruang tunggu. Tersedia sekadar penganan kecil, minuman, dan free-wifi. Tapi kayaknya lebih banyak pengunjung yang maen wifi ketimbang ngemil … wakakak …. Yang saya lihat beberapa kali mondar-mandir sambil nyomot penganan di toples malah seorang petugas berbaju batik, mungkin OB di situ. Mungkin para pengunjung lebih haus wifi ketimbang air …. Seandainya saja Sharon Stone juga ikut tax amnesty, mungkin saya bisa ngantri bareng Sharon Stone ….. duduknya jegang lagi …. ngantri lama juga betah …. hiks … ngarep …

Oya, di kantor pajak ini toiletnya juga bersih. Jadi yang lagi perlu ke kantor pajak, jangan ragu-ragu mampir ke toiletnya. Yah, mungkin banyak dari kita yang hanya setahun sekali ke kantor pajak. Apalagi dengan ketersediaan bermacam layanan berbasis internet, nggak harus secara fisik datang ke kantor pajak. Jadi toiletnya makin sepi ….. eh loketnya ……..

Untunglah sekian kali ke kantor pajak nggak bertemu wartawan infotainment yang mewawancarai saya, ntar bisa ditanya wartawan macam gini:

“Lho, kalo penthouse yang di Miami itu bagaimana?”
“Oh, itu sudah lama dibeli ama Tom Cruise …”
“Kalo villa di Kona?”
“Itu sudah ditempati mantan saya …”
“Terus aset yang mau direpatriasi apa saja?”
“Nih, catat baik-baik yah: Salma Hayek, Demi Moore, Kim Bassinger …”
“Wah, tuwir kabeh …”

Yo ben tuwir, dulu juga pernah ngesir ….. Apalagi yang “9 1/2 Weeks” itu … Gara-gara “9 1/2 Weeks” terbayang-bayangnya sampe 9 1/2 bulan ….. gleks ….

Pengalaman saya beberapa kali datang untuk konsultasi dan laporan, semuanya bertemu dengan staf cewek. Apa mungkin kantor pajak sekarang lebih banyak ceweknya, ya? Dan sepertinya semua juga masih muda-muda, mungkin di bawah 30-an. Tapi baguslah banyak yang muda, sehingga mereka nampak sigap mencermati angka-angka, sementara saya juga sigap “mencermati” mereka ……. zinggg ….. plethak …..

Sekedar saran untuk pemerintah, Menteri Keuangan, dan Dirjen Pajak, mungkin lebih baik bila ada tahapan sosialisasi yang memadai untuk menjelaskan perihal seluk-beluk tax amnesty kepada masyarakat. Misalkan tax amnesty tahun depan, nah mulai tahun ini sudah disosialisasikan dulu. Kalo waktunya mepet kan masyarakat belum mudheng. Dulunya saya malah sempat mengira tax amnesty itu sekedar buat orang-orang kaya yang punya harta di luar negeri. Kadang di antara petugas sendiri yang saya ketemu, ada penjelasan yang berbeda. Saya mikirnya sederhana saja, kalo petugasnya sendiri belum benar-benar mudheng, gimana berharap masyarakat awam bisa mudheng ……

Sekedar saran lagi, mungkin ada baiknya di setiap kantor pajak tersedia mesin fotocopy yang bisa melayani wajib pajak yang kadang perlu mem-fotocopy berkas untuk keperluan pajak. Nggak harus gratis, kita mbayar juga mau, daripada mesti keluar dulu nyari tempat fotocopy. Karena pengalaman saya saat saya perlu mem-fotocopy berkas untuk keperluan tax amnesty, saya tanya Pak Satpam, beliau menunjukkan sebuah tempat fotocopy sekitar sekilo dari kantor pajak. Yah, moga-moga saja pemerintah dan menteri keuangan tergerak hatinya untuk menyisihkan sebagian dana yang diperoleh dari tax amnesty untuk menyediakan mesin fotocopy di setiap kantor pajak, sehingga mampu memberikan pelayanan lebih optimal lagi kepada wajib pajak.

Terakhir, saya amati, satpam di kantor pajak sekarang sudah lebih ramah. Meski terus terang “stamina” keramahannya perlu ditingkatkan agar bisa menyamai keramahan satpam di bank-bank swasta. Misal, saat kita datang ke bank-bank swasta, satpam di pintu akan menyapa, baik saat kita masuk atau keluar. Bahkan, meski saya amati, banyak nasabah yang cuek atau nggak merespon, tetapi Pak Satpam konsisten dengan keramahannya, dan juga helpful dan informatif. Mungkin persaingan yang ketat sehingga bank dipaksa mesti terus meningkatkan pelayanannya.

Moga-moga sajalah tax amnesty ini bisa benar-benar sukses seperti jargon yang sering didengungkan: “ungkap, tebus, lega”, sehingga wajah Bu Menkeu akan makin cerah, nggak kalah bening dibanding Tante Ira Koesno …. hayoohhh …

Baiklah teman-teman, sekilas pengalaman pribadi saya mengikuti tax amnesty, mungkin panjenengan mempunyai pengalaman yang berbeda. Ngomong-ngomong, kemarin di internet ada juga guyonan saat lihat berita mengenai kasus Dimas Kanjeng. Guyonannya, kalo Dimas Kanjeng ikut tax amnesty apa nggak mumet? Gimana caranya melakukan repatriasi duit, lha wong duitnya di alam ghoib?

 

 

About Fire

Profile picture’nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi.

Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

8 Comments to "Pengalaman Pribadi Ikut Tax Amnesty"

  1. Linda Cheang  17 March, 2017 at 17:34

    malah Fire yg bikin aku tambah nggak mudheng urusan pengampunan pajak, hehehehe

    terutama setelah baca apa saja yg mau direpatriasi, hihihi.

  2. Lani  11 March, 2017 at 13:23

    James: enak donk dpt pensiun tax free lagi………nah soal nama Kona dibawa-bawa bukan krn ikut Tax amnesty lo krn selama ini tdk ada yg aku sembunyikan dr pemerintah dgn kata lain sll bayar pajak

  3. James  11 March, 2017 at 06:49

    mbak Lani, sy sih sudah tidak pernah bayar pajak lagi sejak 5 tahun lalu malah dikasih duit sama Pemerintah Ozi tax free lagi

  4. Alvina VB  11 March, 2017 at 01:34

    Saya lagi mikir2 kok ternyata banyak org Inonesia yg “kelupaan”/ “lari” dari bayar pajak selama ini, sampe pem. kasih amnesti pajak. Jadi….. mas Fire sampean juga ngaku nich…kok panjenengan bisa2nya ‘kelupaan’ bayar pajak selama ini? Kl di sini gak bayar pajak didenda lah dan kl gak bayar juga itu dendanya bisa masuk bui euy…..

  5. Dewi Aichi  10 March, 2017 at 23:18

    Arep mbayar pajak kakehan konsultasi mas njenengan ki…

  6. Dewi Aichi  10 March, 2017 at 23:09

    kang fire ki jiannnnnnn gayaneeeeeeeeee…haha…mau bayar pajak aja pake sok jadi celeb takut dikuntit wartawan gosip gitu ya?

  7. Lani  10 March, 2017 at 08:09

    Kang Geni: pertama-tama urun ngakak sek…….bisa diambil kesimpulan klu kang Geni ikutan tax amnesty ini pasti betul2 konglomerat bukan konglomelaraaaaaaaat……….hahaha………

    Ngga mengira klu Baltyra punya salah satu member mungkin msh banyak member lainnya konglomerat…….atau billionaire2 lainnya………adal jgn disimpan di Panama kkkkkk……….

    ngakak lagi aku sgt ngeh klu sdh nonton 9 1/2 weeks njur ora iso turu blingsatan……..kiri kanan sambil mikir, dan ngimpi kapan iso ngeloni King Basinger……….kkkkkkkkk……..dgn catatan ktk msh muda dl…….

    Atau Sharon Stone nampaknya kedua bomb itu merupakan klangenan kang Geni…………

    Gimana James???

  8. James  10 March, 2017 at 08:04

    1…..pada kemana para Kenthirs nih ?

    ci Lani, ada Kona dibawa-bawa disini tuh, keren ikut beken

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *