Sunset of My Life

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

DI minggu terakhir Februari 1967, ada pertemuan mendadak antara Presiden Soekarno yang sudah tidak populer dengan ‘guru spiritual’-nya, kakak Abdulrachim. Mereka sudah saling kenal sejak 1945 melalui dr. Soeharto, dokter pribadi Soekarno. Pertemuan berlangsung di sebuah Guesthouse, Istana Merdeka, siang hari.

“Saya akan bertaubat, Kak”, kata Soekarno sambil menitik air mata dengan kedua tangan diletakkan di pundak kakak Abdulrachim.

Ketika pulang dari Istana Merdeka ke rumahnya Jl Petojo Selatan 29, kakak Abdulrachim berkomentar; “Bung Karno sedang dalam ujian. Dia dililit oleh hawa nafsunya. Kalau perlawanan semakin besar terhadap dirinya, sebaiknya Bung Karno mengundurkan diri saja”

Eh, benar… pada 22 Feb 1967, malam hari pukul 19.30 WIB diumukan di hadapan kabinet Ampera tentang serah terima kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Sejak hari itu, berakhirlah halaman terakhir Soekarno dalam kehidupan Indonesia.

Hawa nafsu. Intinya.

Sekarang demi mengejar kekuasaan, apapun dipakai bukan sekedar hawa nafsu. Dari menjual ayat kitab suci sampai menginterogasi mayat demi kertas suara elektoral. Nanti malaikat dihimbau untuk tidak mencabut nyawa pendukung penista agama.

Senang banget saya.

 

 

3 Comments to "Sunset of My Life"

  1. Alvina VB  11 March, 2017 at 03:23

    Absen…di belakang James n mbakyu Lani….
    Saya respect Soekarno hanya sebagai negarawan tok, ttp no respect kl dilihat sebagai seorg pria, org yg gak punya self control, terutama kl ngeliat wanita cuantiq, lah dia ngaku sendiri kok…punya ‘hawa napsu’, he…he…..

  2. Lani  10 March, 2017 at 08:11

    ISK : hahahaha……………

    James mulai dr belakang ya bacanya? yg lainnya aku tanda tangankan hadir…………

  3. James  10 March, 2017 at 08:08

    1…foto Abdulrachim selewatan dipandang seperti sosok B.J Habibie

    mangabsenkan para Kenthirs dihari Jumat ini

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *